Pages

Tuesday, December 15, 2020

Aliran Rasa Wisatawan Asyik di Transcity Harmoni

Alhamdulillah, akhirnya aku berhasil mengumpulkan dua stamp sebagai persyaratan untuk memasuki Hutan Kupu-Kupu. Rasanya super duper excited plus degdegan. Antara bersemangat dan grogi πŸ˜†.




Bersyukur banget, sebelum memasuki Hutan Kupu-Kupu, calon mahasiswa Bunda Cekatan sudah diberi kesempatan untuk melakukan pemanasan di hotel Asyik, Transcity Harmoni.

Meskipun masih bertanya-tanya bagaimana dan seperti apa kuliah Bunda Cekatan, tetapi kami sudah mulai dibiasakan menggunakan platform belajar yang baru, yaitu Facebook Group (FBG).

Tentunya hal baru akan terasa sulit pada awalnya. Dan pemanasan selama menjadi wisatawan hotel Asyik, sudah mengurangi kesulitan itu.

Sedikit banyak, kami dikenalkan dengan ruangan kelas berupa unit. Untuk lebih memudahkan belajar, ada tombol 'Done' yang bisa kita tap ketika sudah selesai mencerna informasi yang ada di sana.

Ada pula sedikit kendala ketika ada kuliah live di FBG. Selain terkadang sulit mendapatkan notifikasi, kendala jaringan sering menghambat dalam menerima perkuliahan. Apalagi, aku lebih mudah menerima informasi dengan membaca daripada mendengarkan. Hihi... aku bukan orang auditory.

Sebagai orang yang jarang mengikuti perkembangan FB, aku sering kali lupa membuka FB dan berakibat pada telatnya mendapat informasi. Aku mengatur strategi agar tidak terlalu ketinggalan informasi dengan menyematkan FBG pada homesrceen ponsel agar terpampang nyata setiap aku menyalakan ponsel. Selain itu, aku menjadwalkan, paling tidak sehari sekali membuka FBG.

Memang belum sepenuhnya terbiasa. Apalagi dua jenjang kuliah sebelumnya, Matrikulasi batch #6 dan Bunda Sayang batch #5, masih menggunakan ruang kelas whatsapp group dan google classroom.

Ada hal yang sedikit aku rindukan selama menggunakan FBG. Interaksi antar teman sekelas, dirasa kurang akrab. Mungkin supaya kita lebih fokus belajar. Tapi tetap saja ada sedikit rasa ingin bisa lebih akrab dalam berinteraksi dengan teman sekelas.

Semoga perjalanan kami di Hutan Kupu-Kupu diberi kemudahan dan kelancaran. Semoga ilmu yang akan kami peroleh selama perjalanan tersebut mendapat berkah dan manfaat.

Selamat menyongsong petualangan baru bersama di Hutan Kupu-Kupu, teman-teman seperjuanganku. Semoga kita semua berhasil mendapatkan apa yang kita cari selama ini. Semangat πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ


Merah Itu Aku

Jogja, 15 Desember 2020

Friday, December 11, 2020

KLIP 2020

Bulan Desember 2020 adalah akhir tahun keduaku di KLIP. Tahun lalu, pertama kali masuk KLIP, banyak sekali perubahan besar dalam sejarah menulisku. Blog yang sempat berdebu tebal karena lama tak terurus, mulai aku bersihkan. Bahkan aku sampai takjub dengan jumlah tulisanku di blog selama setahun kemarin.

Tahun ini, jujur saja aku mengalami penurunan dalam pencapaian badge KLIP. Tak ada satu pun badge outstanding yang aku peroleh. Aku malah sempat tertatih-tatih untuk sampai pada jumlah minimum setoran agar mendapat badge dasar.

Tapi aku sadar bahwa tantangan yang aku hadapi saat ini tidaklah sama. Mungkin, jumlah setoran tulisanku tidak sebanyak tahun lalu. Namun, aku dipaksa untuk meningkatkan jumlah kata dalam sebuah tulisan. Buatku, itu adalah salah satu pencapaianku dalam menulis tahun ini.

KLIP tetap menjadi kelas favorit yang berhasil menjaga konsistensiku dalam menulis. Kala malas melanda, ide menulis yang mendadak menghilang entah ke mana, KLIP selalu berhasil membuatku 'terpaksa' membuka gawai untuk mulai menulis sambil mengais-ngais ide tulisan.

Banyak motivasi yang membuatku selalu ingin mendapat badge minimal setiap bulannya. Salah satu motivasiku adalah agar tidak terdepak dari whatsapp group KLIP. Hihi... meskipun aku jarang nimbrung di grup, tapi aku selalu mengikuti obrolan para senior. Agak kurang sopan memang ya cuma jadi SR. Tapi ya kadang aku tak tahu harus berkata apa πŸ˜†.

Oh iya, tahun ini KLIP semakin seru dengan adanya terobosan untuk meningkatkan kebiasaan baik bagi anggotanya.


1. KLIP memberi batas minimum kata untuk disetorkan, yaitu 300 kata.

Awalnya, tidak ada batasan minimum kata. Jadi, kita bisa saja menyetorkan status pendek di media sosial 😁.

Dengan adanya batas minimum ini, aku tidak pernah menyetorkan link instagram lagi🀭. Instagram membatasi jumlah karakter dalam caption nya. Sehingga aku belom pernah berhasil menulis caption sebanyak 300 kata. Mungkin kalau kata-katanya pendek, bisa sampai 300 ya, entahlah... aku belom pernah mengalaminya.

Jika jumlah kata yang disetorkan tidak mencapai batas minimal yang ditetapkan, gform otomatis menolak setoran kita. Canggih banget ya... thanks to mba Humaira πŸ€—


2. KLIP membantu dalam meningkatkan minat membaca.

Hoho... ada form khusus buat habit tracker membaca. Jika kita sudah membaca minimal 15 menit sehari, maka kita bisa mengisi form yang sudah disediakan. Ini membantu banget untuk mengingatkan dalam membaca.

Tapi karena baru dan aku agak kebanyakan form harian yang harus diisi, maka aku masih sering skip meskipun aku berusaha untuk membaca setiap hari.

Terima kasih, KLIP... tahun depan, aku berencana lebih rajin lagi membaca dan mengisi form πŸ’ͺ.


3. KLIP memberikan pilihan minat pada anggotanya.

Pada bulan September, sesi terakhir di tahun 2020, KLIP membagi kami ke dalam empat peminatan. Ada kelas fiksi, non-fiksi, blogger, dan free writing. Pada kesempatan ini, aku memilih kelas blogger. Alasannya apa? Karena sebagian besar tulisanku ada di blog πŸ˜…. Ternyata setelah masuk kelas blogger, aku banyak banget bingung menemui banyak istilah-istilah asing dalam blogging. 

Apakah tahun depan aku akan berpindah kelas? Atau akan menuntaskan rasa ingin tahuku? Kita lihat saja 😁.


Semoga tahun depan KLIP semakin baik lagi, dan semoga aku juga semakin konsisten dalam menulis. Semangat πŸ€—πŸ€—


Merah Itu Aku

Jogja, 11 Desember 2020

Monday, December 7, 2020

Semua Akan Terdrakor Pada Waktunya

Ish... judulnya menggambarkan keadaanku saat ini πŸ˜†πŸ˜†. Gara-gara nonton Start Up, aku jadi nyari-nyari drakor lain yang pas di hati untuk ditonton 🀭. 

Terakhir aku ngikutin drakor adalah jaman Fullhouse. Duh, so old yah 😌. 

Ada 3 drakor masa lalu yang pernah aku ikuti. Selain Fullhouse, ada Coffee Prince dan Princess Hours. Aku nonton pas masih kuliah. Dan yang berperan sebagai supplier adalah Mr. Right πŸ˜†πŸ˜†. Hihi... jadi ya, yang ngeracunin aku ngedrakor pertama kali ternyata Mr. Right. Bukan cuma drakor sih, dorama juga πŸ˜‚.

Lebih gemesnya, setelah dia ngasih aku segepok cd drakor (serta dorama) dan memastikan aku kelar nonton, kami akan mendiskusikan pesan moral yang ada di dalamnya. Ya ampuun... aku berasa pendadaran. Jujurly, aku termasuk penonton yang ga bisa nonton cuma sekali untuk melihat detail drama yang aku tonton. Jadi, aku agak degdegan kalo ga nyambung πŸ˜†.

Terus nih, kenapa coba setelah lama ga ngikutin drakor dan drama-drama begitu, mendadak nonton Start Up? Padahal kalo lihat rating drakor, sebelumnya juga ada banyak drakor yang ratingnya tinggi. Mungkin ini yang dinamakan jodoh, yang datang pada waktu yang tepat. Eaaa...

Haha... sebenernya, pada awalnya aku cuma penasaran gara-gara dengerin siarannya Desta sama Gina di Prambors. Hampir tiap pagi, mereka bahas Start Up. Kayaknya mereka kompak banget pengen mempengaruhi aku buat ikutan nonton. *eh gimana? πŸ˜†

Singkat cerita, aku googling drakor itu dan kemudian tergoda untuk nonton 1 episode. Kemudian godaan itu semakin mendorongku untuk melanjutkan ke episode selanjutnya dan selanjutnya. Dengan rela, aku terjebak dalam maraton drakor selama beberapa hari, demi menuntaskan 14 episode yang sudah rilis kala itu 😌.




Selain pemain-pemainnya yang ganteng dan cantik, tentu saja cerita yang disuguhkan begitu menarik. Aku ga akan mengulas atau memberi spoiler bagi yang belom nonton karena udah banyak yang melakukannya. Aku cuma akan menceritakan bagaimana perasaanku saat terjebak mengikuti drakor pada akhirnya.

Aku benar-benar terhanyut dalam ceritanya. Ada tangis dan juga tawa yang mengiringi, selama aku nonton. Benar-benar mengaduk perasaan. Aku sudah lupa bagaimana rasanya saat aku nonton drakor bertahun-tahun silam πŸ˜„.

Tapi memang setelah aku membaca beberapa artikel yang mengulas Start Up ini, aku setuju kalo cerita yang disajikan benar-benar berbeda. Ada pelajaran tentang bisnis dan pengembangan teknologi di sana. Tentu saja dengan dibumbui cerita roman dan juga komedi. Ah, aku makin susah move on kalo begini caranya.

Alhamdulillah ya, aku mulai nonton saat episodenya kurang 2 lagi. Jadi ga perlu nunggu kelamaan buat menamatkannya πŸ˜„. Tapi emang PR banget sih nonton maraton. Kayaknya penasaran banget kalo ga dilanjutkan. Padahal mata udah sepet dan harus ngerjain yang lainnya. Huhu... aku jadi inget saat maraton jaman kuliah dulu.

Setelah beres nonton 2 episode terakhir, bayang-bayang adegan dalam drakor itu masih sering berkelebat dalam kepala 🀣. Aku beneran susah move on. Salah satu usaha biar bisa move on adalah mencari drakor lain yang perlu ditonton secara maraton. Haha... solusi macam apa itu? 😌

Ternyata, pencarian drakor yang pas di hati tidak mudah juga aku temukan. Dari beberapa referensi yang aku dapat, belum satu pun yang bisa membuatku rela maraton nonton 😁. Uh, pesona Start Up memang warbyasak.

Apakah Start Up menjadi awal bagiku untuk mengikuti drakor yang lain? Kita nantikan saja bagaimana hasil pencarianku dalam menemukan drakor yang pas di hati πŸ’•πŸ’•.


Merah Itu Aku

Jogja, 7 Desember 2020


Sunday, December 6, 2020

Merangkai Kata 2020

Sudah bulan Desember, saatnya melihat apa yang sudah terjadi sepanjang 2020. Tahun ini, tampaknya masih merupakan tahun menulis untukku. Ada banyak hal yang terjadi, banyak hal yang membuatku bahagia, tetapi ada juga yang masih menyisakan kecewa.

Mari kita telusuri πŸ’…πŸ’…


Konsisten menulis di KLIP

Tahun ini adalah tahun keduaku di KLIP. Jika dibandingkan dengan tahun lalu, badge yang aku peroleh tahun ini tidak lebih baik. Artinya, jumlah tulisan (yang aku setorkan ke form setoran KLIP) sepanjang tahun ini, tidak sebanyak tahun sebelumnya.

Memang tiap bulan berhasil memperoleh badge, tapi jumlah setoran begitu mepet untuk mencapai badge dasar (10 tulisan dalam sebulan) πŸ™ˆ. 

Mungkin hal ini dipengaruhi oleh persyaratan jumlah minimal kata dalam tulisan yang disetorkan (300 kata). Atau bisa jadi karena adanya pilihan minat menulis yang membuatku memaksa menyetorkan tulisan dari blog (walopun kadang tetep setor tulisan di g-drive juga sih 😁).

Aku memilih jurusan blogger. Niatnya supaya aku lebih rajin nulis di blog, menghindari menyembunyikan tulisan di g-drive πŸ˜‚.

Tapi aselik, semua hal baru di KLIP membuatku banyak belajar untuk meningkatkan kemampuan dan konsistensiku dalam menulis.


Buku antologi

Tahun ini, aku bertemu mainan baru, yaitu jadi kontributor buku antologi. Alhamdulillah, sampe bulan Desember ini, aku berhasil menulis di 12 buku antologi yang sudah terbit 😍😍.

Buku antologi pertama terbit di awal Januari. Benar-benar menjadi awal ketertarikanku menulis buku antologi 😁.

Bukan hanya jumlahnya yang patut disyukuri, tetapi juga ilmu dan pengalaman yang begitu banyak aku dapatkan. Sungguh, aku tak pernah menyangka bisa terlibat dalam dunia penulis antologi seperti sekarang.


KMO (Kelas Menulis Online) club

Pada bulan September, aku mengikuti KMO. Di sana, aku mendapat banyak pengalaman. Salah satunya yang paling membekas adalah kegiatan sarapan kata (sarkat) yang memaksaku untuk menulis selama 30 hari berturut-turut. 

Jumlah kata minimal adalah 300. Sama kayak di KLIP, tetapi ga semua tulisan di sarkat, aku setorkan juga di KLIP πŸ˜‚. Entah karena lupa setor di gform, atau karena sudah berniat menulis di blog.

Dipaksa menulis setiap hari, membuatku memutar otak untuk menuangkan ide-ide dalam tulisan. Ada rasa tidak puas dengan alur ceritanya. Banyak plot hole di sana sini. Tapi aku tetap memberi apresiasi terhadap pencapaian yang telah aku raih.

Ternyata jika dipaksa, aku bisa juga menulis setiap hari πŸ˜†.


Mulai kuliah Gemari Madya

Setelah menunggu lebih dari setahun sejak lulus Gemari Pratama, akhirnya Gemari Madya batch kedua dibuka juga. Alhamdulillah, aku bisa keangkut 😁.

Aku merasa berat banget mengikuti kuliah ini karena harus membuka banyak kenangan di awal perkuliahan. Banyak beban jiwa yang aku angkat ke alam sadar supaya bisa aku regulasi. Berat pada awalnya, tetapi memudahkanku untuk melangkah lebih jauh lagi.

Mengobati jiwa yang pernah terluka, memaafkan, dan menerima diri dengan ikhlas. Aku masih harus banyak belajar untuk mengurangi beban yang ada dalam jiwaku.


Menjadi Srikandi Ibu Profesional Yogyakarta New Chapter

Dalam setahun ini, aku sudah dua kali pindah posisi. Di awal New Chapter, aku menjadi Manajer Operasional. Beberapa bulan setelahnya, aku digeser menjadi Manajer Aktivitas.

Jujurly, aku masih sering oleng πŸ˜‚. Tapi aku menikmati segala keriwehan dan privilege nya. Hihi... gimana ga happy coba, sebagai Manajer Aktivitas, aku bisa masuk semua Rumah Belajar di Komunitas IP Yogyakarta. Sedangkan member lainnya hanya boleh memilih maksimal 2 rumbel. Hoho...

Tapi ya konsekuensinya, kadang banyak yang terlewat karena kebanyakan notifikasi grup 🀭. Aku tetep fokus di dua rumbel pilihan untuk diikuti. Rumbel lainnya aku intip-intip untuk nambah pengetahuan 😁.


Covid 19

Hwaaa... ini bener-bener ga pengen aku tulis. Tapi wabah ini bikin kehidupan berubah. Sempat bertahan di rumah saja hampir selama setengah tahun. Sampe urusan belanja bulanan di-handle Me. Right πŸ™ˆ.

Merasakan kekhawatiran yang luar biasa untuk keluar rumah. Sampe akhirnya aku dan Mr. Right sepakat buat kasih tab ke anak-anak biar mereka ga bosen di rumah.

School From Home (SFH) yang bikin anak-anak dan orang tua senewen. Bayangkan saja, anak-anak yang biasa ketemu banyak temen, tiba-tiba harus dikurung di dalam rumah. Ga ketemu temen sekolah dan ga ketemu juga sama tetangga samping rumah. 

SFH masih berlangsung hingga saat ini. Mungkin sudah 8 bulan lebih. Kemaren-kemaren sempet ada kegiatan di sekolah sebentar, sebelum daerah kami 'memerah' kembali.

Entah kondisi seperti ini akan bertahan hingga kapan 😭😭.


Kira-kira itulah sekelumit kejadian di tahun 2020 yang tertangkap oleh ingatan.

Ada banyak hal yang terjadi. Ada bahagia dan ada juga kecewa. Bahagia karena beberapa passion punya kesempatan untuk dilakukan.

Harapan di tahun 2021 adalah semakin konsisten menulis yang berbobot (ga cuma curhat-curhat belakaπŸ˜‚). Aku juga akan berusaha untuk menjalani pola hidup yang lebih sehat. Selain itu, aku ingin menjadi teman yang baik untuk anak-anakku.


Merah Itu Aku

Jogja, 6 Desember 2020



Wednesday, December 2, 2020

PAS dan Komunikasi Produktif

Beberapa hari ini, aku bertugas menjadi pengawas ujian anak-anak di rumah. Jangan ditanya bagaimana rasanya. Meskipun bukan pertama kalinya anak-anak ujian take home selama kurun waktu delapan bulan belajar dari rumah, aku tetep senewen dibuatnya.

Ya, delapan bulan lebih mereka 'dirumahkan'. Entah sampai kapan, belum ada kepastian. Tadinya sempat berharap bahwa awal 2021 bisa kembali sekolah tatap muka. Namun, peningkatan jumlah kasus akhir-akhir ini, sedikit banyak membuatku ragu.

Hari ini, anak-anak baru memasuki hari ketiga Penilaian Akhir Semester (PAS). Tapi drama yang terjadi sudah menguras emosi jiwa dan ragaku πŸ˜†. Terutama drama si sulung.

Berdasarkan hasil diskusi dengan Mr. Right, Kakak Pertama memang sedang dalam masa-masa 'ngeyel' yang kebangetan. Prediksi Mr. Right, hal ini akan terjadi sampe dia SMA. Bhaique... dan aku masih harus menghadapi dua anak laki-laki lagi setelahnya 🀣.

Beberapa hari menjelang PAS, aku sudah menyiapkan diri untuk menghadapi keajaiban anak-anak. Aku fokuskan pada kakak pertama karena untuk kakak kedua, aku sudah bisa sedikit melepasnya.

Aku ajak kakak pertama ngobrol dan mendiskusikan beberapa kesepakatan. Kami juga membahas masalah hak dan kewajiban. Aku berusaha menekan ego dan emosiku ketika berhadapan dengannya. Thanks to komunikasi produktif.

Ada beberapa hal yang aku terapkan dalam membuat kesepakatan bersama kakak:

1. Menjadi pendengar yang baik

Ketika kakak mengungkapkan kegelisahan dan perasaannya, aku menahan diri untuk melontarkan komentar. Aku biarkan kakak berbicara hingga selesai. Berusaha menjadi pendengar yang baik, meskipun aku sangat ingin mengeluarkan kalimat sanggahan πŸ˜„.


2. Gunakan intonasi suara yang lembut.

Jangan terpancing emosi meskipun keinginan untuk menggunakan nada tinggi begitu menggodaku. Hihi... coba saja kamu berhadapan dengannya. Pasti kamu akan tahu bagaimana perasaanku.

Tapi, demi kebaikan semua, aku harus menahan diri. Ternyata memang efektif lho... ketika aku tidak terpancing untuk marah, kakak tidak terlalu ngotot untuk menyampaikan pikirannya.

Kalo kata kakak, selow 😌😌.


3. Posisikan wajah, sejajar dengan lawan bicara.

Ini juga efektif. Ketika berada pada posisi sama tinggi, aku lebih bisa berempati pada emosi yang dirasakan oleh kakak. Hal ini juga bisa membantuku untuk lebih menahan gejolak emosi.

Selain itu, posisi sejajar memudahkanku untuk melakukan kontak mata dengan kakak.


4. Ambil jeda.

Jangan over'reaktif terhadap setiap kata-kata yang keluar dari mulut kakak. Setelah kakak selesai mengungkapkan perasaannya, tarik napas dulu sebelum berbicara. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa kakak sudah selesai mengungkapkan perasaanya. Selain itu, memberi waktu kepadaku untuk mengatur emosi yang ingin meledak setiap saat πŸ˜†.


5. Beri sentuhan.

Sesekali, sentuh rambutnya, lengannya, punggungnya... salurkan emosi positif untuk mengurangi gejolak perasaannya. Dengan sentuhan, kita bisa mempersempit jarak tak kasat mata yang terbentuk.


6. Pilih kalimat yang mudah dipahami.

Jangan gunakan kalimat yang panjang dan berbelit. Langsung pada intinya. 


Alhamdulillah, beberapa hari ini, aku berhasil mengendalikan emosiku. Aku tidak terlalu meledak-ledak menghadapi drama kakak. Aku masih harus banyak belajar mengendalikan emosi. Dan praktek dengan kakak memang salah satu tantangan pengendalian emosi yang cukup berat πŸ˜„.

Aku jadi teringat pada materi Jumagi (Jumat Berbagi) di Gemari Madya pekan lalu. Materinya sangat menarik, yaitu menghadapi anak yang mulai beranjak remaja. Salah satu kuncinya adalah menjadi teman bagi sang anak. Setelah mendapat materi langsung dari praktisi, aku jadi termotivasi untuk memperbaiki hubungan dengan kakak.


Merah Itu Aku

Jogja, 2 Desember 2020