Pages

Sunday, March 28, 2021

Jurnal Ulat-Ulat Pekan Ketujuh

Tak terasa sudah mendekati akhir perjalanan di tahap ulat-ulat Bunda Cekatan. Rasanya masih kurang dan membutuhkan banyak waktu untuk melahap makanan yang aku butuhkan. Hihi ... nampaknya aku merupakan ulat yang lambat bergerak 🙈.

Pada pekan ketujuh ini, aku akan membongkar isi tas yang aku dapat di Jungle of Knowladge dan melihat apa saja isinya. 

1. Manajemen waktu dan gadget ibu produktif -- FB live yang disampaikan oleh Mbak Icha Asmadi.

2. Mengatur kegiatan harian dengan Bullet Journal -- FB live yang disampaikan oleh Mbak Ismi Fauziah.

3. Potluck Manajemen waktu ala Ibu Erna -- kiriman dari Mbak Erna ketika bertukar potluck.

4. Potluck food preparation -- kiriman dari Mbak Nafrah saat bertukar potluck.

5. Potluck lembar kegiatan Ramadhan untuk anak-anak dari Mbak Violita -- kiriman potluck saat bertukar potluck.

6. KulZoom Keluarga Manajemen Waktu Ibu Produktif dengan tema Productive vs Busy "Hidup Lebih Mudah dengan Time Management" oleh Mbak Euis Kurniawati.

7. Bedah Ebook "The Book of Ikigai (untuk hidup seimbang, lebih bahagia, dan panjang umur)", karya Ken Mogi PhD di wag Keluarga Manajemen Waktu Ibu Produktif oleh Mbak Novya Ekawati.


Apakah makanan sesuai dengan peta belajar?

Mana yang lebih banyak didapatkan? Makanan utama atau camilan?

Ternyata tidak terlalu banyak juga isi tasku ya .. Dan alhamdulillah, semua sesuai dengan menu makanan utama yang ada dalam peta belajarku.

Aku memang tidak terlalu gelap mata untuk mengambil banyak makanan saat ada di Jungle of Knowladge. Aku melahap apa yang memang menjadi kebutuhan belajarku. Memang ada beberapa yang sempat menarik minatku. Namun, aku harus menahan diri untuk tidak melahapnya saat ini.


Apa yang membuat bahagia?

Hal yang membuatku bahagia adalah dapat kesempatan untuk ngobrol bareng ulat dari keluarga lain yang ketertarikannya berbeda denganku.

Aku bahagia karena dengan saling bertukar cerita, membuatku mengetahui bahwa ada hal menarik di luar yang aku inginkan selama ini. Aku juga ikut merasa bahagia ketika teman ulat bercerita dengan berbinar mengenai keluarga dan makanannya.

Selain itu, aku juga bahagia ketika dapat memberi potluck untuk teman ulat yang lain. Berbagi kebahagian yang semoga dapat membuat teman ulat merasakan kebahagiaan juga.


Strategi belajar

Dari beberapa pekan berada di Jungle of Knowladge, aku jadi menemukan strategi baru dalam belajar. Aku lebih cepat belajar dari orang lain, baik berupa kulwap, kulzoom, maupun FB live.


Yang harus ditingkatkan

Disiplin dalam belajar dan membaca literatur di luar yang sudah dibagikan oleh teman ulat.

Praktek manajemen waktu yang teorinya sudah aku dapatkan selama berada di Jungle of Knowladge.


Semangat menuju pekan terakhir di tahap ulat-ulat 🥰🥰.


Merah Itu Aku

CIlacap, 28 Maret 2021





Saturday, March 13, 2021

Jurnal Ulat-Ulat Pekan Kelima

Pekan kelima dari tahap ulat-ulat. Kami diajak menginap di camping ground. Para ulat-ulat diajak untuk berkenalan dengan ulat-ulat lain selama camping.

Kami mencari teman untuk berbagi cerita tentang keluarga yang kami pilih. Apa saja yang sudah diperoleh selama berada di kebun apel dan bagaimana keseruan keluarga yang sudah kami pilih.

Aku pribadi, saat ini masih berada di keluarga Manajemen waktu. Aku merasa bahagia berada di sana karena aku banyak belajar tentang tips dan trik manajemen waktu dan tool yang digunakan untuk mempermudah dalam melakukan manajemen waktu. 

Acara golive FB favorit adalah Manajemen Waktu dan Gadget yang dibawakan oleh Mba Icha Atmadi dan Mengatur Aktivitas Harian di Rumah dengan Bullet Journal oleh Mba Ismi Fauziah.

Keduanya sama-sama sesuai dengan makanan utamaku. Jadi, aku sangat excited sewaktu menonton (meskipun keduanya, tidak aku simak secata live).

Selama di kebun apel, ada makanan utama yang belum aku santap, yaitu food preparation. Saat ini, aku memutuskan untuk fokus di keluarga manajemen waktu dulu, sehingga food preparation akan aku pelajari di lain waktu.

Kumerasa tak sanggup mengambil banyak keluarga. Satu aja, aku ga bisa selalu tune in 🙈.

Bertemu Keluarga Lain

Pada pekan ini, aku berkesempatan untuk ngobrol bareng ulat dari keluarga lain. Ada enam ulat yang akan aku ceritakan di sini.


1. Inaya Rachmawati dari Regu 9 Dandelion IP Surabaya Madura.

Awalnya kami berkenalan melalui FB massenger, kemudian berlanjut ke wa.

Obrolan kami tidak begitu intens, tetapi info yang diperoleh sangat lengkap. Mba Inaya menggunakan g-form untuk mengumpulkan data, kemudian Mba Inaya menghubungiku melalui wa untuk sharing tentang keluarga yang saat ini ditinggalinya.

Saat ini, Mba Inaya bergabung di Keluarga Pendidikan dan Parenting Anak Grup C Sub topik Pendidikan & Parenting untuk Anak Usia 0-7 Tahun.

Makanan favorit Mba Inaya adalah Kelas Keluarga & Parenting. Ada 3 kelas yang sudah diikuti di sub keluarga parenting yaitu kelas: 

1. Know Your Self Find Your Way Through Talents Mapping 

2. Persiapan Parenting untuk Meningkatkan Keberhasilan Proses Stimulasi Anak 

3. Menumbuhkan Anak Selaras Fitrah Sejak Bayi Hingga Baligh 

4. Mengenal Ragam Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini 

Alasan menyukainya karena sesuai dengan peta belajar dan konsentrasi Mba Inaya saat ini di buncek. Mba Inaya ingin fokus dan bersungguh-sungguh untuk melahap 1 topik dulu yaitu Parenting dan Pendidikan Anak. Kalau difokuskan lagi adalah Parenting dan Pendidikan Anak untuk Usia 0-7 Tahun. 

Mba Inaya bersyukur karena mendapatkan suguhan yang luar biasa di kelas-kelas ini. Alhamdulillah bergizi semua makanannya. 

Pada akhir sharingnya, Mba Inaya membagikan oleh-oleh berupa materi yang pernah didapatkan dari keluarga parenting. Ih, so sweet banget kan ... Makasih, Mba Inaya 😘.


2. Isyana dari IP Jakarta.

Kami bertemu melalui FB massenger dan tidak berlanjut ke wa. Namun, kami saling sharing tentang keluarga yang sedang kami huni saat ini.

Mba Isyana berasal dari keluarga Literasi.  Dia bersyukur karena mendapatkan banyak ilmu seputar proses terbit buku, dll. Banyak makanan yang baru untuk membuka mata.

Wow, aku selalu berbinar jika berbicara tentang literasi. Namun, saat ini aku fokus dulu pada manajemen waktu agar dapat maksimal ketika sudah benar-benar menulis.

Golive favorit Mba Isyana adalah Rahasia Manajemen Waktu Rasulullah saw yang dibawakan oleh Mba Annur (uwuuu ... lumayan kembang kempis bangga karena seregu sama Mba Annur 🤭).

Btw, sejak temen-temen di WoluGopasS membahas golive Mba Annur, aku jadi tertarik buat nonton juga. Boleh dong ya ... kan masih sejalan dengan makanan utama aku 😁.


3. Cahya Masturina dari IP Yogyakarta (hihi ... temen seregu).

Mba Cahya masuk ke dalam keluarga parenting, group B pengasuhan, pendidikan, dan tumbuh kembang. Mba Cahya bersyukur karena ketemu keluarga yang cocok.

Awalnya Mba Cahya sempat bingung akan masuk keluarga parenting atau keluarga manajemen emosi. 

Mba Cahya banyak mendapatkan referensi baru dari sharing tentang pendidikan berbasis fitrah dari keluarganya. Makanan yang diperoleh sudah sangat begizi dan tidak merasa kekurangan.

Golive yang paling disuka Mba Cahya adalah dari Teh Elma tentang menumbuhkan anak sesuai fitrah sejak bayi hingga baligh.


4. Ernawati dari IP Jakarta

Aw ... aku bahagia banget bisa chit chat sama Mba Ketua Kelas KLIP. Aku sempat berpikir kalo Mba Erna masuk keluarga literasi. Ternyata Mba Erna masuk keluarga keuangan dan investasi.

Mba Erna bercerita bahwa selama ini jarang belajar ilmu keuangan. Jadi baru tahu sekarang detailnya. Kayak dana darurat ternyata butuh 12 x pengeluaran. Wow ... auto ngitung-ngitung deh 🙈.

Aku jadi tertarik buat nglirik-nglirik ilmu keuangan #labil. Etapi, suatu saat aku butuh juga buat pembukuan bisnis #ecieee.

Ohiya, Mba Erna sudah merasa sudah berlimpah makanan investasi dan manajemen keuangannya. Semoga lain waktu, kita bisa sharing lebih banyak lagi ya, Mba 😘.


5. Nafrah Angela Mutiara Silalahi dari IP Sumut

Sesungguhnya aku dan dedek emesh adalah kawan lama 😁.

Mba Nafrah masuk keluarga makanan 🌭🍔 (anggota keluarga Mba Aling, nih 😍). Mba Nafrah memang hobby dan udah merasa cocok banget dengan perbogaan. Menurutnya, makanan ini luas, terus berkembang, dan selalu dibutuhkan. 

Apalagi di rumah, semua masalah bisa diatasi dengan lebih santai kalau perut kenyang 😆😆(can not agree more).

Meskipun yang mau dipelajari banyak, untuk saat ini, Mba Nafrah memilih fokus ke makanan dulu. Dan berharap ada ilmu yang lebih ke pengetahuan bahan dasar, dari tingkat ekonomis dan sederhana. Juga status halalnya. 

Kan ... kan ... aku langsung kebayang foto-foto masakan Mba Nafrah 😅.


6. Violita Siska Mutiara dari IP Yogyakarta (temen seregu lagi 😁).

Baru sadar deh kalo namanya ada Mutiara juga kayak Mba Nafrah #penting.

Mba Vio ini masuk keluarga Kedato yaitu Tumbuh Kembang Anak. Sub keluarga yang dipilih adalah tumbuh kembang dan pendidikan anak usia > 7 tahun. Selain itu, Mba Vio juga masuk keluarga parenting. Kedua keluarga itu sama-sama membahas tentang tumbuh kembang anak, parenting, dan pendidikan anak.

Di keluarga Kedaton, Mba Vio belajar tentang pendidikan berbasis fitrah, kurikulum anak, portofolio anak. Bahkan kemarin terakhir, diskusi tentang kapan dan bagaimana mengajari anak merawat diri.

Aku tertarik dengan portofolio anak. Pas banget sama topik iPedia Obrolan Dapur Ibu Eps. 112 pagi ini jam 10 pagi, yaitu "Portofolio Anak Untuk Siapa?"

Mba Vio merasa bahwa untuk parenting dan tumbuh kembang anak sudah tercukupi. 


Diagram Kelas Favorit

Data diagram ini diperoleh dari teman-teman di WoluGopasS. Thanks to Mba Anggi yang sudah membuatkan grafiknya 😘


Dari diagram di atas, dapat terlihat bahwa keluarga parenting adalah yang paling banyak diminati oleh taman-teman. Urutan kedua diduduki oleh keluarga manajemen waktu, kemudian diikuti oleh keluarga literasi, manajemen keuangan dan investasi, cooking, serta manajemen emosi dengan tingkat kefavoritan yang sama.

Demikianlah jurnal tahap ulat-ulat pekan kelima. Masih menunggu kejutan lain di pekan-pekan selanjutnya.


Merah Itu Aku

Jogja, 13 Februari 2021

Tuesday, March 9, 2021

(Saling) Mengobati Luka

Hari Senin kemarin, aku mendapat kunjungan dari dua sahabat. Rasanya sudah lama juga kami tidak bertemu. Kami melepas rindu dan berbagi cerita.

Aku dan seorang sahabat, baru saja mengalami kehilangan yang begitu besar. Aku kehilangan Bapak, sedangkan dia kehilangan kakak lelakinya. Hanya selang beberapa hari saja. Saat itu, kami saling menguatkan. Begitu juga kemarin, ketika kami bertemu.

Berbagi cerita dengan tetesan air mata yang tak bisa kami bendung. Sahabatku, pernah beberapa kali bertemu Bapak. Selebihnya, dia mengenal Bapak dari ceritaku. Ya, aku memang banyak bercerita tentang Bapak kepadanya. Cerita bagaimana aku sangat mengagumi sosok Bapak yang memiliki banyak keahlian dan begitu perhatian pada anak-anak dan cucu-cucunya.

Untuk kesekian kali, aku mengingat saat pertemuan terakhirku dengan Bapak. Ah, perasaanku sungguh tak bernama. Mungkin perpaduan antara sedih, perih, terluka, bangga, dan entah perasaan apa lagi yang ada dalam diriku saat itu. Kehilangan ini begitu menyesakkan. 

Begitu pun dengan sahabatku yang juga mengalami kehilangan besar. Kenangan-kenangan bersama sang kakak juga terekam jelas dalam ingatan. Kepergiannya yang begitu mendadak, meninggalkan luka yang cukup besar dan dalam.

Aku berkata ikhlas, meskipun kadang masih mempertanyakannya dalam hati. Ya, aku masih berusaha untuk mengikhlaskan rasa ini. 

Kami berusaha untuk memendam rasa rindu yang tak bisa terpuaskan dengan bertemu. Sungguh, ini memang tidak mudah.

Saling menguatkan dan berbagi rasa yang ada. Berusaha saling menghibur meskipun hati sama-sama sedang terluka dan berduka. Aku tak tahu, apakah luka ini akan sembuh atau tetap tinggal. 

Berjam-jam pertemuan kami, rasanya masih saja kurang. Ingin sekali berbagi pelukan, tetapi apalah daya, kami masih harus saling menjaga. 

Sedih. Ketika dulu pelukan dapat mengalirkan rasa sayang, justru saat ini, rasa sayang diberikan dengan menjaga jarak. 

Seakan bumi ikut merasakan kesedihan kami, hujan turun semakin deras, ketika sahabatku berniat untuk pamit pulang.  

Terima kasih karena sudah berbagi cerita dan air mata. Saling menyembuhkan dan saling mendoakan. 

Semoga Allah mudahkan kita dalam menghadapi kehilangan ini. Entah sampai kapan, tetapi kehilangan ini memang sungguh menyakitkan. 


Merah Itu Aku

Jogja, 9 Maret 2021




Sunday, March 7, 2021

Jurnal Ulat-Ulat Pekan Keempat

Sudah pekan keempat di kelas Ulat Bunda Cekatan. Pekan ini, kami masih berkumpul di bawah pohon apel untuk melahap makanan yang sesuai dengan peta pelajar yang sudah dibuat sebelumnya.

Aku masih bertahan di keluarga management waktu. Sebenarnya, tiap ulat boleh tinggal di dua keluarga. Namun, aku memilih untuk setia, tinggal di satu keluarga saja. Padahal karena ga sanggup mengikuti dua keluarga 😁.

Pekan ini, keluarga kami mengundang narasumber dari luar untuk berbagi tentang management waktu.

Narasumbernya adalah mba Euis. Beliau sedang menempuh perkuliahan Bunda Produktif, dan tinggal di Cluster Managemen Waktu Hexagon City.

Aku tertinggal zoom live, tetapi alhamdulillah ada rekamannya. Jadi, para ulat yang tertinggal zoom live, dapat mengejar ketertinggalannya. Meskipun memang feel-nya beda ya dengan mengikuti siaran langsungnya.


Notulensi Sharing On Zoom

Keluarga Manajemen Waktu Ibu Produktif (Fase Ulat Pekan 4) 

Waktu/Tanggal : Kamis, 4 Maret 2021 

Pukul : 16.00-15.30 WIB 

Tema : Busy VS Productive. “Hidup Lebih Mudah dengan Time Management” 

Narasumber : Euis Kurniawati 

Moderator : Novya Ekawati 

Kehadiran : 15 orang 

Hasil Sharing : 

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam Manajemen Waktu :


 1. Strong why

Tentukan strong why terlebih dahulu. Jika strong why kuat alarm otomatis akan muncul, maksudnya kita akan lebih aware terhadap distraktor-distraktor yang menghampiri kita dan aware ketika ternyata kita tidak on track.


2. Menentukan prioritas aktivitas

Aplikasikan 4 Kuadran Aktivitas.

Berikut uraian untuk setiap kuadran : 

1. Aktivitas yang Penting mendesak 

Harus segera dilakukan. 


2. Aktivitas penting tapi tidak mendesak maka rencanakan segera dengan matang. 

Contoh penerapan : 

• Buat sticky notes tempel di tempat yang bisa kita lihat. Tulis target dan deadline-nya, sehingga kita bisa tahu urutan kapan harus menyelesaikannya. 

• Antara point 1 dan 2 kadang ambyar itu karena caranya…yaitu pilih cara yang sesuai 

• Bisa membuat alarm untuk reminder di HP, menggunakan google calendar.


3. Aktivitas tidak penting tetapi mendesak maka silakan didelegasikan. 

• Mendelegasikan ke orang lain, ke mesin, dll. Selain delegasi kita juga bisa berkolaborasi dengan anggota keluarga (bisa suami, anak-anak atau lainnya yang ada di rumah). 

• Terkadang kolaborasi gagal tidak sesuai target, tidak sesuai harapan maka bisa didelegasikan ke orang lain di luar rumah (penyedia jasa). Yang terpenting dalam pendelegasian yaitu kita harus memastikan bahwa kegiatan tersebut sudah terdelegasikan 

• Mental keberlimpahan (abundant mentality). Terkadang kita merasa, “Aduh eman ya bayar laundry habis 30 ribu, kan bisa hemat jika bisa kita kerjakan sendiri.” 

Nah, perasaan seperti ini namanya abundant mentality, padahal sebenarnya ketika kita melakukannya sendiri kita sangat kesulitan waktunya. Maka, bahagiakan diri dengan merubah sudut pandang ke hal yang positif, “Saya melondrikan baju biar bisa menambah perekonomian si Mas Laundry, jd bisa belikan susu anaknya, dll.” 


4. Aktivitas tidak penting tidak mendesak 

Aktivitas ini suka-suka kita aja mau melakukan atau tidak karena memang tidak penting dan tidak mendesak. Boleh dilakukan boleh tidak, tergantung diri kita sendiri. 


3. Tools (alat bantu)

Tools yang digunakan banyak sekali bisa bullet journal, time blocking, pomodoro, dll. Yang perlu digarisbawahi, tools yang digunakan oleh orang lain belum tentu cocok bagi kita, begitu sebaliknya. Jadi pilih tools yang sesuai dengan diri kita. 


4. Kolaborasi/delegasi 

Kolaborasi/delegasi aktivitas dengan anggota keluarga, anak-anak dan suami sekaligus bisa menjadi ajang untuk masa latih bagi anak-anak.  


5. Pilih perencanaan aktivitas kegiatan 

Buat perencanaan aktivitas kegiatan. Ada yang disiplin mengerjakan sesuai waktu namun ada juga mengerjakan yang penting selesai, itu tidak menjadi masalah karena ini terkait dengan bakat seseorang.


6. Mengelola stress

Kenali dan kendalikan stress. Agendakan untuk me time (melakukan hal-hal yang kita suka) karena aktivitas yang rutin dan monoton akan membuat bagian otak PFC (Pre Frontal Cortex)/ubun-ubun rentan stagnan/panas. Jika PFC stagnan maka bagian otak Amygdala (otak emosi) bisa naik frekuensinya sehingga kita menjadi emosi (marah) 


Kunci bahagia dan produktif dalam manajemen waktu : 

1. Mengelola aktivitas 

2. Mengelola waktu 

3. Mengelola stress 

• Kita harus menjadi Ibu yang bahagia, namun lebih jauh tidak hanya menjadi ibu yang bahagia tetapi juga ibu yang produktif (bisa memberikan kebermanfaatan sebanyak-banyaknya bagi sekitar/manusia lainnya).


Masya Allah banget, ya, sharing dari Mba Euis 🥰.

Pekan ini, keluarga kami juga melakukan go live di FBG Hutan Kupu-Kupu. Mba Dyah menyampaikan tentang Management Waktu dan Multitasking.

Yang perlu digarisbawahi dan diberi cetak tebal, agar kita ingat, bahwa multitasking, ternyata dapat mengurangi produktivitas sebanyak 40%. Namun  memang ada orang yang benar-benar dapat menjalani kegiatan dengan multitasking. Jumlahnya tidak banyak. 

Jadi, kalau ada yang bilang bahwa ibu-ibu harus multitasking, itu tidak selamanya benar. Tidak perlu bimbang dan risau. Tidak bisa multitasking bukan kekurangan, kok.


Pekan ini, aku melahap makanan yang disajikan oleh subkeluarga Managemant Waktu Domestik yang dibawakan oleh Mba Ismi Fauziah tentang Mengatur Aktivitas Harian Rumah dengan Bullet Journal. Sesuai banget dengan makanan utamaku.

Mba Ismi menunjukkan BuJo yang sudah menemaninya dua tahun belakangan. Dari Mba Ismi, kita bisa melihat bahwa BuJo pun bisa digunakan sebagai salah satu tool mengatur waktu bagi kegiatan domestik. 

Pada akhir go live, Mba Ismi membagikan template BuJo yang dapat kita unduh dari tautan yang disematkan pada deskripsi event.

Template yang dibagikan ada beragam, kita bisa menyesuaikan dengan kebutuhan dan style kita masing-masing.


Pekan ini, aku masih belum memakan makanan lain selain management waktu. Semoga pada pekan-pekan mendatang, aku dapat melahap makanan lain yang sesuai dengan peta belajar yang telah aku buat.


Merah Itu Aku,

Jogja, 7 Maret 2021

Saturday, March 6, 2021

Daftar Keinginan

Namanya keinginan, bukan permintaan karena memang Bapak bukan orang yang suka meminta. Setelah Bapak meninggal, kami menyadari bahwa banyak hal yang menjadi keinginan Bapak, pada akhirnya terlaksana.

Hari ini, tiga pekan yang lalu, aku bertemu Bapak untuk terakhir kalinya. Hari ini juga, beberapa jam setelah pertemuan terakhir kami, Bapak menghembuskan napas yang terakhir. Nyeri mengingatnya. 

Setelah lebih dari sebulan berada di Cilacap, sore tadi, kami kembali ke Jogja. Rencana awal, anak-anak akan menjalani PTS (Penilaian Tengah Semester) dari Cilacap saja. Nyatanya, pengambilan soal Kakak Zidan, baru bisa dilakukan Senin besok. Dengan menata hati, aku pun menyampaikan kabar ke Ibu. 

Tanpa air mata, aku berpamitan. Tidak ingin membuat Ibu bertambah sedih. Justru Ibu yang menenangkanku dengan berkata bahwa beliau akan baik-baik saja tanpa kami di sana.

Tanpa aku sadari, aku sudah menahan perasaan selama tiga pekan. Begitu sampai rumah, aku benar-benar tak tahan lagi untuk mengeluarkan semuanya. Ah, belum semuanya. Pasti akan ada air mata lagi saat aku mengenangnya.

Perjalanan menuju Jogja, benar-benar penuh kenangan akan Bapak. Jalanan yang kian mulus, sudah tak mungkin lagi Bapak lewati. Aku sudah tak bisa lagi berbagi cerita tentang jalanan baru yang memudahkan Bapak berkendara. Aku rindu ...

Sudah tidak ada lagi Bapak yang berkata, "Kalo Ayah ga bisa jemput, nanti Eyang Kakung yang anter."

Atau, "Kalo ada yang ketinggalan, besok-besok Eyang Kakung bawain pas ke Jogja."

Ah, Eyang Kakung selalu membuat kami semua tenang. 

Ketika sedih melanda, aku mengingat banyak hal tentang keinginan-keinginan Bapak yang sudah terwujud. Insya Allah, Bapak sudah tenang ...

1. "Bapak mau disolatin di ruang tamu."



Belasan tahun yang lalu, Bapak merenovasi rumah. Ruang tamu yang awalnya seuprit, Bapak pindah lokasinya dan dibuat sangat luas. Saat obrolan singkat yang kami lakukan, Bapak pernah berkata, "Bapak bikin ruang tamu segede ini, biar kalo meninggal, disolatin di situ. Lantainya juga lebih tinggi dari ruangan yang lain."

Saat mendengar itu, aku cuma iya-iya aja. Bapak memang selalu membicarakan kematian dengan ringan.

Ketika tiga minggu yang lalu, orang-orang menanyakan tempat Bapak pulang ke rumah untuk terakhir kalinya, maka tanpa ragu, aku mengatakan, "Di ruang tamu."

Tak menyangka akan secepat itu kami berpisah untuk selama-lamanya.


2. "Bapak ga mau hidup sampe tua banget. Sampe susah ngapa-ngapain dan harus bergantung sama orang lain."

Bapak tidak bisa dibilang muda. Beliau meninggal di usia 67 tahun 1 bulan 20 hari. Namun, pada usianya yang senja, beliau masih sanggup nyetir Cilacap - Jogja - Semarang sendirian. 

Aku masih ingat ketika beberapa bulan lalu mengantarkan Bapak ke rumah sakit. Saat beliau melihat ada orang tua yang berjalan pelan-pelan dengan kruk, Bapak bergumam, "Bapak ga mau kayak gitu. Kasian banget liatnya."

Ah, Bapak, sebegitu tidak inginnya dibantu dan dipandang kasihan oleh orang lain.


3. "Bapak ga mau minum obat seumur hidup."

Beberapa bulan lalu, Bapak terdiagnosa memiliki kadar gula yang cukup tinggi. Untuk orang yang rajin memeriksakan diri, kabar ini cukup mencengangkan. Tidak hanya untuk Bapak sendiri, tetapi juga bagi kami, keluarganya.

Bapak cukup sadar, bahwa penderita diabetes kronis, harus meminum obat secara teratur untuk menormalkan kadar gula dalam darahnya. Setelah mengetahui potensi kadar gula darah tinggi, Bapak langsung diet rendah gula. Beliau tidak mau bergantung pada obat seumur hidupnya.

Ironisnya, kadar gula dalam darah Bapak merupakan faktor yang memperparah kondisi beliau di saat terakhir. Namun, itu sesuai dengan salah satu keinginan Bapak yang tak mau bergantung pada obat seumur hidupnya.


4. Bapak nggak mau nyusahin orang lain.

Hingga meninggal, Bapak tidak memperbolehkan anak-anaknya pulang. Beliau hanya minta didoakan untuk kesembuhannya saja. 

Tapi aku tetap pulang dan meyakinkan Bapak kalo aku bisa mengurus diri serta anak-anak. Aku juga meyakinkan Bapak bahwa aku yang butuh untuk ada di dekatnya agar aku tenang. Bapak tak pernah memintaku pulang. Bahkan ketika terakhir kali bertemu, itu karena Ibu yang menawarkan pada Bapak. 

Bapak tak pernah meminta apa-apa kepada anak-anaknya. Bahkan ketika memendam rindu, beliau akan dengan suka rela mengunjungi kami, alih-alih meminta kami datang.


Bapak sudah memilih jalannya untuk pulang.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu.



Merah Itu Aku

Jogja, 6 Maret 2021

Thursday, March 4, 2021

Bagaimana Jika ...

Kemaren, aku dapat info dari sepupu, kalau akta kematian Bapak sudah jadi. Sepupuku itu memang yang ngurus beberapa kebutuhan Ibu selama ini. Sepertinya, aku tak akan bisa membalas kebaikan yang sudah dia lakukan. 

Kemudian aku sampaikan ke Ibu, dan sewaktu dicek ke email Ibu, ternyata memang sudah dikirim soft file nya. Saat aku buka dan baca, rasanya campur aduk tak karuan. Sediiiihhh banget. 



Pagi tadi, sepupuku nganterin hasil print out akta kematian yang dijanjikan kemaren. 

"Beneran, ya ...," kataku pelan.

Kadang ada rasa tak percaya kalau semua ini benar-benar terjadi. Rasa ini sungguh entah. Tak bernama.

Aku jadi teringat pembicaraan dengan kakakku, minggu lalu. Tentang air mata yang tak mungkin habis sekaligus untuk menangisi kepergian Bapak.

Mungkin, kami butuh waktu sebulan untuk menangis ketika teringat beliau. Mungkin juga setahun, sepuluh tahun, atau bahkan seumur hidup. Ya ... Tidak ada yang tahu. Namun, aku yakin jika ini akan sulit.

Awal-awal kepergian Bapak, mungkin aku butuh banyak waktu untuk menerima. Tangisan itu kerap kali muncul kala mengingat Bapak. Mungki, setelah beberapa lama, tangis itu tetap akan muncul, dengan nama rindu. Bukankah rindu akan semakin berat ketika semakin lama tidak bertemu? Ah, apapun namanya, rasa itu tetap memilukan.

Obrolan bersama Ibu, sering membuatku berkaca-kaca. Kami berdua sama-sama terluka atas peristiwa yang terjadi. Kami berdua berusaha untuk tegar dan ikhlas. Namun, hati kerap kali berkhianat. Terkadang kami begitu yakin bahwa jalan Bapak memang sudah yang terbaik, namun terkadang, rasa kehilangan begitu menguji keikhlasan kami. Astaghfirullah ... semoga kami benar-benar ikhlas dengan takdir Allah.

Jebakan pengandaian yang menyiksaku dan semakin membuatku semakin terluka. Andai aku tetap berada di sana ketika terakhir pertemuan kami, andai aku berdoa lebih khusu' lagi, andai ... andai ... andai ...

Terjebak dalam perangkap pengandaian.

Berdasarkan penuturan Ibu, Bapak pernah bercerita bahwa manusialah yang menjemput kematian. Ketika ada kecelakaan yang terjadi, kita tidak bisa mengatakan bahwa sendainya dia tidak lewat situ. Seandainya dia lebih berhati-hati ...

Kematian itu sudah dituliskan. Bahkan ketika kita tidak pernah melintasi jalan tersebut, saat harus menjemput kematian di jalan itu, kita akan mendatanginya.

Ya, takdir. Kita harus percaya tanpa ragu.

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.” (HR. Muslim)

Sumber https://rumaysho.com/693-jangan-berkata-seandainya.html


Maksud dari membuka pintu syaithon adalah membuat kita was-was, gelisah, sedih, dan tidak bersyukur.

Semoga Allah memudahkan kami dalam menghadapi rasa kehilangan ini. Kerinduanku terhadap Bapak memang begitu besar. Namun, sesungguhnya, kami yakin bahwa jalan ini memang takdir dan sesuai dengan keinginan Bapak. Insya Allah. Aamiin.


Merah Itu Aku

Cilacap, 4 Maret 2021




Wednesday, March 3, 2021

Teman Bicara dan Bercerita

Hubunganku dengan Bapak belasan tahun yang lalu, mungkin memang tidak dekat. Bapak yang tidak banyak bicara, menyulitkan komunikasi kami saat itu. Namun, ketika  aku sudah menikah, Bapak merupakan teman bercerita yang menyenangkan.

Bukan karena Bapak pandai menenangkan atau mengeliarkan kalimat-kalimat panjang nan lebar. Beliau tetap tidak banyak bicara, tetapi justru membuatku senang bercerita dengannya. Lama kelamaan, hubunganku dengan Bapak mulai menghangat.

Sebenarnya, kenangan bersama Bapak tidak berupa obrolan-obrolan panjang. Hanya kejadian-kejadian yang muncul bagai potongan adegan yang disiarkan ulang.

Waktu SMP, aku suka menemani Bapak nonton pertandingan bola di televisi. Yang membuatku senang, karena Bapak hampir selalu memasak mie instan rebus untuk menemani kami menonton. Beliau selalu memasukkan berbagai macam sayuran seperti caisim dan kobis. Selera kami memang tidak berbeda jauh. All you can eat. Satu panci kecil, kami makan bersama. Bapak selalu memintaku untuk menghabiskannya dan tentu saja, aku mendapat bagian lebih banyak.

Tak banyak kata, tapi aku merasakan cinta.


Saat kuliah dan jauh dari rumah, aku masih jarang ngobrol. Berkali-kali Ibu cerita jika Bapak sering menanyakan kabarku tetapi tidak pernah mau menelepon. Bapak yang mudah tersentuh, melindungi hatinya sendiri agar tidak terlalu bersedih ketika menghubungiku langsung. 

Beberapa hari yang lalu, aku dan Ibu mengenang Bapak dengan berbagi cerita. Tentang Bapak yang berusaha mengganti waktu kebersamaan yang hilang ketika beliau masih bekerja. Ya, saat aku kuliah, Bapak dan Ibu hanya pernah mengunjungiku 2 atau 3 kali dalam 5 tahun aku kuliah. Beruntung, aku bukan orang yang menuntut perhatian. Jadi, aku tak pernah mempermasalahkan ketika Bapak jarang menelepon dan mengunjungiku.

Setelah Bapak pensiun, beliau sering mengunjungi kami di Jakarta. Saat aku sudah pindah ke Jogja, Bapak semakin sering mengunjungi kami. Sebelum pandemi, Bapak dan Ibu lebih sering ke Jogja naik bus, meskipun jika ada acara khusus, Bapak memilih menyetir sendiri.

Setelah pandemi, Bapak menyetir sendiri tanpa berhenti di tengah perjalanan. Demi kehati-hatian dalam situasi seperti ini.

Pada usianya yang sudah di atas 65 tahun, tubuh Bapak terbilang kuat. Awal Januari lalu, Bapak masih menyetir sendiri ke Jogja, bahkan berencana lanjut ke Semarang, tetapi tidak jadi. Itu adalah terakhir kali, Bapak mengunjungi kami di Jogja.

Kata Ibu, mungkin Bapak ingin mengganti waktu yang telah lalu. Saat ini, tentu saja aku tak bisa mengonfirmasi langsung 😥. 

Ibu bercerita bahwa Bapak sangat patuh pada aturan perusahaan. Jika harus sering mengunjungiku, tentu saja Bapak harus sering pula ambil cuti. Itu alasan kenapa Bapak sangat jarang berkunjung ketika aku kuliah di Surabaya. Sungguh, aku tak pernah mempermasalahkan itu. Bagiku, sudah cukup ketika beliau hadir saat aku wisuda dan pengambilan sumpah profesi. Saat penting dalam perjalanan hidupku. Bapak, terima kasih 💕.

Ketika aku kuliah, tak terbersit sedikit pun keinginan untuk dikunjungi. Selain jarak yang terlalu jauh untuk mereka mengunjungiku, aku lebih memilih pulang ketika ingin bertemu.

Ah, Bapak ... aku tahu betapa besar rasa sayangmu kepada kami, meskipun itu tak pernah terucap dari bibirmu. Dari semua sikap yang engkau tunjukkan, sudah lebih dari cukup untuk membuktikannya.

Terima kasih sudah mendengarkan segala ceritaku, tanpa banyak menginterupsi.

Bapak, aku rindu ...



Merah Itu Aku

Cilacap, 3 Maret 2021

Monday, March 1, 2021

Menyetrika



Setelah aku berada di Cilacap, aku kembali melakukan beberapa tugas domestik. Salah satunya adalah menyetrika.

Sesungguhnya, aku hobi banget menyetrika. Sebelum aku menjalani operasi caesar yang berimbas pada perekrutan Bu Agus, aku selalu menyetrika baju sendiri. Meskipun style nyetrikaku terbilang ribet dan lama, tetapi aku sangat menikmati. 

Ketika aku menyetrika, aku akan mengelompokkan kain-kain itu berdasarkan pemilik, pakaian dalam dan luar, besar kecil, dan warna. Setelah jam terbang menyetrika yang sudah aku lalui, banyak sekali trik yang digunakan agar kegiatan menyetrika senantiasa menyenangkan dan sesuai dengan styleku.

Salah satu yang aku lakukan agar kegiatan menyetrika bisa mindful, adalah dengan memilah-milah pakaian sambil memanaskan setrika. Karena jika tidak, aku akan menghabiskan banyak waktu untuk mencari pasangan baju atau kaos kaki. Aku pun akan bete ketika menemukan kaos dalam yang berada di antara tumpukan baju setelah sesi penyetrikaan pakaian dalam sudah berganti dengan kategori baju lainnya.

Ribet? Mungkin... tapi aku hepi 😁.

Belakangan ini, kegiatan menyetrika membuatku mengenang sosok Bapak. Beliau adalah inspiratorku dalam menyetrika. Ternyata, demikian pula bagi kakak dan adikku.

Bapak selalu teliti dalam melakukan penyetrikaan. Kalo ada lipatan lengan atau celana yang double, maka Bapak akan menyetrika ulang. Yang sering aku lihat adalah sarung. Bapak sangat memperhatikan sarung yang akan beliau pakai untuk salat. Ketika ada kekusutan pada sarung, maka beliau akan menyetrikanya lagi. 

Akhir-akhir ini, aku melepaskan rindu pada Bapak dengan menyetrika. Aku merasa dekat karena beliau paling rajin menyetrika. Apalagi, letak meja setrika ada di dekat mesin jahit tempat Bapak biasa menyalurkan hobi menjahitnya. Ah, kapan-kapan aku ceritakan tentang Bapak dan menjahit.

Kembali ke menyetrika.

Ba'da duhur, biasanya Bapak menyetrika, sehingga aku pun melakukannya di saat-saat itu. Dulu, setiap aku pulang, aku akan cepet-cepet nyetrika sebelum keduluan Bapak. Sehari dua hari disetrikain Bapak ga masalah. Tapi kalo kelamaan di rumah dan membiarkan Bapak nyetrika bajuku, rasanya ga tega juga. Hihi...

Sekarang, aku menyetrika baju sebelum keduluan Ibu. Aku tidak ingin melihat Ibu sedih mengingat Bapak. Biar aku saja yang mengambil alih tugas menyetrika sementara ini. 

Aku tak menyangka akan menyetrika dengan mindful dan sesekali teringat pada kenangan-kenangan bagaimana Bapak mencontohkan cara menyetrika yang halus dan mulus.

Rindu ini masih terasa memilukan. Setiap teringat saat pertemuan terakhir kami, tenggorokanku terasa sakit dan dengan susah payah, harus menahan air mata agar tak mengalir.


Merah Itu Aku

Cilacap, 1 Maret 2021