Pages

Tuesday, May 18, 2021

Twin

Ada suatu masa dalam hidupku, di mana begitu ingin punya saudara kembar. Rasanya takdir sering kali seimut itu 😂.



Beberapa tahun yang lalu, aku bertemu dengannya. Seperti aku yang tidak mudah disukai saat pertama melihat, begitulah yang aku rasakan kala pertama melihatnya. Pandangan tak bersahabat. Hihi... atau aku yang berpikiran begitu. Perasaan kompetitif yang sungguh aku rasakan. 

Aneh ya... padahal baru pertama kali bertemu. 

Kami sama-sama penyuka crafting. Meskipun pada perjalanan waktu, kami memiliki ketertarikan yang berbeda. Dia, mendalami segala hal yang berhubungan dengan menjahit kanvas, sedangkan aku, lebih tertarik dengan tali temali.

Ketertarikan yang sama dalam dunia crafting, membuat kami sering bertemu dalam acara komunitas. Kami bertemu, jauh sebelum Covid19 menyerang. Jadi, kami punya banyak kesempatan untuk bertemu dalam satu acara.

Takdir juga yang membuat kami sering bertemu dan dekat. Tidak hanya berdua. Ada teman lain juga yang terlibat. Semakin lama, pertemuan kami tidak hanya urusan komunitas. Kadang, hanya haha hihi bersenang-senang. Atau bertemu hanya karena ingin bertemu saja.

Berbulan-bulan hingga mencapai tahun berganti, tanpa sengaja, mataku tertuju pada tanggal kelahiran yang sama persis denganku. Bahkan hingga tahun kelahiran pun sama. Tidak pernah menduga sebelumnya, saat aku melihat nama pemiliknya. Ya, takdir memang terkadang seimut itu. Ternyata dia, yang selama ini dekat dengaku, memiliki hobby yang tak jauh berbeda denganku, memiliki tanggal, bulan, dan tahun lahir yang sama 🤩.

Aneh, tapi nyata. Entah ada berapa kemungkinan di dunia ini untuk hal serupa. Kami yang awalnya tidak saling mengenal, kemudian dekat, memiliki banyak kesamaan, ternyata lahir di hari yang sama. 

Mendadak aku ingin menceritakan ini karena beberapa hari yang lalu, aku menemukan kesamaan lain dengannya.

Dia, yang semula memiliki 2 putera, tetiba muncul dengan mengejutkan bahwa baru saja melahirkan putera yang ke 3. Iya, putera yang artinya anak laki-laki. Haha... fix ya, kami pun sama-sama punya 3 anak laki-laki.

Mengejutkan sekali. Setelah pandemi, kami memang tidak pernah bertemu. Praktis, kami juga tidak punya acara yang digarap bersama-sama. 

Semoga, ketika ada sesuatu yang sama lagi di antara kami, adalah hal-hal yang baik ❤❤❤.


Merah Itu Aku

Cilacap, 18 Mei 2021

Saturday, May 15, 2021

Selamat Idul Fitri 1442 H

Selamat Idul Fitri 1442 H

Taqabbalallahu minna wa minkum

Mohon maaf lahir dan batin 🙏🙏



Alhamdulillah, Idul Fitri kali ini, kami dapat menemani Ibu di Cilacap. Jangan ditanya bagaimana perasaan kami berlebaran tanpa Bapak.

Sedih. Kehilangan. Sepi. Kosong. Apa sajalah yang terasa menyesakkan dada. Bahkan, Ibu sudah lebih sering menangis beberapa hari sebelumnya. Semakin sering ketika berada di dapur untuk menyiapkan sambal goreng kentang ati. Ya, satu-satunya hidangan lebaran yang Ibu masak. Selain kerupuk dan emping.

Aku yang kebagian kupas-kupas kentang aja sedih banget. Apalagi Ibu yang masak dan nyiapin sebagian besar bahan-bahannya. Enggak kebayang kalau Ibu memutuskan buat masak opor dan bikin ketupat sendiri.

Selama kami masak, eh, Ibu yang masak, aku nemenin doang, banyak cerita bahagia tentang Bapak. Tentang mereka yang menyiapkan hidangan hari raya. Ohiya, waktu beberapa hari yang lalu, beres-beres freezer, aku menemukan bawang merah dan bawang putih halus yang sudah disiapkan Bapak untuk menyambut Ramadan dan persiapan lebaran. Uuuhhh.. gimana enggak makin terkenang-kenang kan...

Bagaimana baiknya Bapak, sudah menyiapkan semuanya untuk mempermudah Ibu dalam memasak.

Saat membeli emping, Ibu hanya membeli sedikit karena tidak ingin Bapak makan terlalu banyak. Ibu lupa kalau Bapak sudah tidak mungkin makan emping lagi. Aku speechless.

Sponsor utama kami di hari raya kemarin adalah opor ayam dan ketupat yang disiapkan oleh Embah. Yang menyedihkan, akhirnya kami memakai panci yang dibeli Bapak dan belum pernah dipakai sebelumnya. Kata Ibu, Bapak sangat senang ketika membelinya. Beliau berniat untuk memakainya saat ada arisan di rumah. Ah, kami kembali pada kenangan.

Kedatangan saudara-saudara ke rumah, menambah keharuan yang kami rasakan. Niat berbagi kebahagiaan, tetapi rasa sedih masih sering terasa. Ya, bukan hanya kami yang kehilangan. Apalagi dengan kebiasaan Bapak yang siap sedia mengunjungi mereka dengan segala sajiannya. Kami kembali mengenang saat-saat beliau masih ada.

Entah berapa sesi menangis yang kami lalui. 

Selamat berhari raya. 

Selamat mengenang masa-masa bahagia bersamanya.

La tahzan, Innallaha Ma’ana


Merah Itu Aku

Cilacap, 15 Mei 2021


 

Wednesday, May 12, 2021

Opor Ayam dan Ketupat

Seperti masyarakat Indonesia pada umumnya, Bapak Ibu selalu masak opor ayam dan ketupat untuk menyambut Idul Fitri.

Untuk opor ayam, biasanya, mereka menyiapkan dua ekor ayam hidup yang akan disembelih Bapak, pada hari terakhir bulan Ramadhan. Seekor ayam akan dimasak pada hari tersebut, dan seekor lagi akan dimasak pada dini hari Idul Fitri. 

Untuk ketupat, biasanya Bapak membeli janur yang akan dibuat ketupat oleh Ibu. Beberapa kali lebaran, aku ikut membantu membuat ketupat. Aku harus selalu belajar ulang untuk membuat ketupat pertama. Meskipun tahun sebelumnya pernah membuat, tetapi tetap saja aku tak ingat bagaimana cara menganyam janur untuk bisa dibentuk menjadi ketupat. Biasanya kami akan membuat sekitar 20-an ketupat.

Memang sebanyak itu karena masakan Bapak adalah favorit saudara-saudara kami di Wangon. Jadi, setelah solat ied, sebagian opor ayam dan ketupat akan dibawa ke Wangon, rumah Embah dari Ibu, untuk disantap bersama-sama saudara yang ada di sana.

Kebiasaan ini berlangsung hingga tahun kemarin. Tahun terakhir Bapak bertemu Ramadhan dan Idul Fitri.

Opor Terakhir Bapak


Dua tahun yang lalu adalah kali terakhir, aku menikmati opor ayam dan ketupat buatan Bapak. Tahun lalu, covid 19 sudah menyerang dan larangan mudik sudah berlangsung menjelang Idul Fitri. Tentu saja kami tidak ke Cilacap. Harus cukup puas dengan opor ayam menggunakan bumbu instan dan ketupat yang dipesan sehari sebelum lebaran.

Beberapa hari yang lalu, Ibu memutuskan untuk memesan saja opor ayam, sambal goreng kentang ati, dan ketupat. Terlalu banyak kenangan yang membuat pilu jika memasak semua itu sendiri. Aku setuju. Aku pun pasti akan mengingat bagaimana dengan cekatannya, Bapak mempersiapkan dan memasak semuanya bersama Ibu.

Qodarullah, murid Ibu yang semula mempersiapkan opor ayam dan sambal goreng kentang ati, mengabarkan tidak dapat memenuhi pesanan. Ibunya meninggal dunia kemarin. Innalillahi wa inna ilaihi roji'un.

Akhirnya, kami pesan opor ayam dan ketupat ke adik Embah dari Bapak, yang tinggal tidak jauh dari sini. Untuk sambal goreng kentang ati, Ibu putuskan untuk memasak sendiri.

Hari ini, rumah terasa sepi. Padahal esok adalah hari raya Idul Fitri. Mendadak aku merindukan kesibukan menjelang lebaran di rumah ini seperti sebelum-sebelumnya. 

Aku merindukan menganyam ketupat. Aku merindukan suara kokok ayam dan gembiranya anak-anak melihat ayam, serta menantikan proses pemotongan ayam oleh Eyang Kakung. Aku merindukan aroma opor ayam yang menyeruak dari dapur. Aku rindu keriuhan itu. Aku rindu masakan Bapak.

I miss him so bad!

Sejak semalam, Ibu sudah tampak sedih. Begitu pula hari ini. Entah bagaimana esok hari.

Sungguh, Idul Fitri kali ini begitu berat untuk kami semua 💔.


Merah Itu Aku

Cilacap, 12 Mei 2021


Friday, May 7, 2021

Hari Jumat

Hari ini adalah Jumat terakhir di bulan Ramadan tahun ini. Ternyata, anak-anak sudah mulai libur. Kemarin dapet pengumuman dari sekolah. Tapi entah gimana, aku bacanya, hari ini adalah hari terakhir masuk sebelum liburan Idul Fitri 😅.



Setiap hari Jumat, aku teringat cerita Ibu tentang Jumat terakhir Bapak. Sehari sebelum Bapak meninggal.

Seperti hari Jumat sebelum-sebelumnya, Bapak terbiasa menjalankan keutamaan ibadah di hari itu. Bapak mengingatkan diri sendiri untuk memperbanyak shalawat di hari Jumat. Kemudian, Bapak meminta Ibu untuk membaca surat Al Kahfi di samping beliau. Karena Bapak sudah kesulitan untuk duduk dan membaca Al Quran, maka beliau menyimak bacaan Ibu. Betapa romantis mereka berdua.

Beberapa amalan istimewa di hari Jumat :

1. Memperbanyak Shalawat

Dari Abu Umamah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


Perbanyaklah shalawat kepadaku  pada setiap Jum’at. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku pada setiap Jum’at. Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.”


2. Membaca surat Al Kahfi

Dari Abu Sa’id Al Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


Barangsiapa membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, maka ia akan disinari oleh cahaya di antara dua jum’at


3. Memperbanyak doa

Sumber: https://rumaysho.com/917-amalan-istimewa-di-hari-jumat.html


Kata orang, meninggal di hari Jumat adalah baik. Lantas, apakah jika bukan di hari Jumat artinya tidak baik? Sepertinya tidak begitu. Semua hari adalah baik. Ah, hati kecilku berkata, meninggal di hari apa pun, tidak akan terasa baik bagi orang-orang yang ditinggalkan.

Aku pun mencari artikel yang berkenaan dengan hal tersebut. Aku menemukan artikel ini

https://muhammadiyah.or.id/benarkah-meninggal-di-hari-jumat-dan-rabu-memiliki-keutamaan/

Dari artikel tersebut, aku baru tau, ternyata selain hari Jumat, ada orang yang percaya bahwa meninggal di hari Rabu juga baik. Kabar baiknya, kepercayaan itu tidak sahih. Allah Maha Adil. Tidak mungkin Allah akan menghapuskan azab kubur bagi orang yang meninggal di hari Jumat, jika orang tersebut tidak memiliki amalan yang menyelamatkannya. Begitu pula sebaliknya.

Tentu saja Allah Maha Adil, akan memberikan balasan terhadap orang yang sudah meninggal berdasarkan pada amal perbuatannya. 

Ada hal yang selama ini mengganjal dan akhirnya terlepaskan. Aku tidak mungkin menyesali, kenapa Bapak tidak meninggal di hari Jumat saja jika memang itu baik. Kalau bisa, Bapak tidak usah meninggal saja, bisik hatiku. Tidak di hari Jumat, atau pun di hari Sabtu. Atau di hari apa pun.

Namun, hatiku yang lain merasa bersyukur karena Bapak sudah melewati hari Jumat terakhirnya dengan melaksanakan amalan istimewa. 

Beberapa hari ini, rasa rindu pada Bapak kembali membuatku pilu. Entah sampai kapan 💔



Merah Itu Aku

Cilacap, 7 Mei 2021



Thursday, May 6, 2021

Day 30 - Tantangan 30 Hari Kepompong

Excellent!!



Menutup tantangan 30 hari di tahap kepompong dengan badge Excellent!! merupakan pencapaian yang patut diapresiasi diri sendiri. 😆

Berjuang sampai akhir. 

Kamu harus menyelesaikan apa yang sudah kamu mulai. Karena berhenti di tengah-tengah, akan menyisakan penyesalan.

Ya, meskipun aku tahu bahwa di tahap kepompong ini udah jelas kalau harus setor 30 hari berturut-turut, enggak boleh bolong dan enggak ada rapel, sedangkan beberapa kali aku ada rapel, aku tetep aja nyusulin setoran sampai 30 hari 😁.

Akan sangat tidak indah kalau tiba-tiba ada hari yang kosong, padahal judulnya tantangan 30 hari. Setuju, ga? Setuju, ga? Ya setuju lah, masa engga 😌.


Aktivitas Hari Ini

Menyelesaikan edit video Kakak yang belum beres juga karena banyak yang mesti dipotong. Gitu deh kalo pas divideoin banyak salahnya dan kepanjangan. Mana sinyal di sini ngajak ribut dan kadang menguras keringat dan air mata 🤣.

Meskipun dengan tertatih-tatih, akhirnya video-nya bisa layak (?) tayang juga. Hihi... 





Merah Itu Aku

Cilacap, 6 Mei 2021


Wednesday, May 5, 2021

Day 29 - Tantangan 30 Hari Kepompong

Very Good!!



Emang bener ya, konsisten itu berat. Enggak lebih berat dari rindu sih 😌.

Semalem, alhamdulillah, Kakak Zidan, dengan sukarela minta ditemani buat tilawah. Meskipun pada akhirnya ga selesai seperti targetnya karena ada yang udah ngantuk dan mulai bertingkah. 


Aktivitas Hari Ini

Aku berhasil nyelesein setrika yang menumpuk. Dan sorenya, jemuran udah berubah jadi tumpukan setrikaan baru lagi 😆. Sejak memindahkan jadwal nyetrika di pagi hari, aku memang jadi kesel tiap malem liat tumpukan setrikaan buat besok hari. Kayaknya, setelah lebaran, jadwal setrika aku kembalikkan ke sore hari aja biar ga ngeselin 😌.

Rencana bikin video kakak Zidan belum selesai. Nyobain ngedit pake laptop malah jadi lama banget dan bikin emosi jiwa. Akhirnya pake hp aja, nanti agak maleman atau besok 🙈.


Merah Itu Aku

Cilacap, 5 Mei 2021

May, Please Be Nice



May, please be nice to me

Bulan ini, aku memasuki sesi kedua KLIP. Pada sesi pertama (bulan Januari-April), alhamdulillah aku full badge, meskipun pada tiga bulan terakhir, aku hanya memperoleh badge You're good. Padahal, aku menargetkan, paling tidak mendapat badge You're Excellent dengan minimal 20 setoran setiap bulan. Bahkan, pada bulan April, aku hanya menyetorkan 10 tulisan, yang merupakan batas bawah dari perolehan badge You're Good 🙈. Kalau salah hitung, aku bakalan kehilangan badge di bulan lalu dan dikeluarkan dari wag 😓.

Kabar terbaru, jumlah kata setoran KLIP yang awalnya 'hanya' 300 kata, akan dinaikkan menjadi 350 kata pada bulan Juni. Aku hanya tertawa miris melihat rekap raport sesi pertama. Apakah aku bisa bertahan, sementara jumlah 300 kata saja, sudah membuatku ngos-ngosan 😝.

Mohon maaf, ini pic-nya buruk rupa sekali 🙈


Bulan Januari, aku menyetorkan 21 tulisan, mendapat badge You're Excellent, dengan jumlah total 14.044 kata, rata-rata per setoran 669 kata, dan setoran terbanyak 1.450 kata.

Bulan Februari, aku menyetorkan 13 tulisan, mendapat badge You're Good, dengan jumlah total 5.643 kata, rata-rata per setoran 434 kata, dan setoran terbanyak 932 kata.

Bulan Maret, aku menyetorkan 11 tulisan, mendapat badge You're Good, dengan jumlah total 5.866 kata, rata-rata per setoran 533 kata, dan setoran terbanyak 1.061 kata.

Bulan April, aku menyetorkan 10 tulisan, mendapat badge You're Good, dengan jumlah total 3.589 kata, rata-rata per setoran 359 kata, dan setoran terbanyak 452 kata.

Total setoran dalam sesi pertama sebanyak 55 tulisan.

Semakin bulan, jumlah setoran semakin berkurang. Pun dengan rata-rata jumlah kata dan kata terbanyak. Semoga sesi kedua lebih baik lagi. Semakin semangat menambah kata supaya bulan depan ga kaget dengan jumlah minimal kata yang dinaikkan 💪.

Awalnya, aku sempat berpikir bahwa aku sanggup menulis konsisten setiap hari karena aku membutuhkan menulis untuk menyembuhkan luka. Nyatanya, kalimat-kalimat itu hanya bermain-main di dalam kepalaku tanpa sanggup aku tuliskan.

Ada banyak kesedihan yang ingin aku keluarkan. Namun, aku tidak sesanggup itu. Padahal, berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, menulis adalah obat terbaik untukku. Yah, ada kalanya, kesedihan yang begitu sangat membuatku sulit untuk mengungkapkannya, meskipun itu hanya dalam bentuk tulisan.

Aku ingat, hampir tidak pernah bercerita tentang rasa ini kepada Mr. Right. Bukan karena dia adalah orang yang tidak tepat untuk tempat bercerita. Hanya aku yang tak sanggup berkata-kata untuk perasaan kehilangan ini. Yang terjadi terakhir kali, aku justru menangis sesenggukan di belakang punggungnya. Dia yang tak pernah bisa melihatku menangis, hanya diam membiarkan hingga aku berhenti.


May, please be nice to me

Sejak memasuki bulan Mei, aku sudah diliputi rasa khawatir menghadapi lebaran. Ini adalah lebaran pertama kami tanpa Bapak. Masuk bulan puasa, kami sudah mulai diliputi kesedihan. Menjelang lebaran pun demikian.

Buatku, lebaran tidak bersama keluarga besar memang bukan hal baru. Namun, benar-benar tanpa Bapak yang sudah tidak bisa ditemui bahkan dengan video call, akan sangat berat.

Untuk pertama kalinya, aku takut menghadapi hari-hari menjelang lebaran.


May, please be nice to me

Ramadan tahun lalu, Ramadan terakhir Bapak. Kami tidak bertemu sama sekali. Mungkin seharusnya kami bersyukur atas kondisi yang memaksa semua orang harus menahan diri untuk tetap di rumah. Berdua saja di rumah dengan Ibu, Bapak bisa beribadah dengan lebih fokus. Menurut cerita Ibu, tahun lalu, Bapak bisa mengkhatamkan Al Quran sebanyak empat kali. Artinya, beliau khatam setiap pekan sekali. Masya Allah.

Ramadan tahun lalu, merupakan Ramadan terakhir bagi Bapak untuk bersama Ibu. Sebulan lamanya, mereka salat tarawih berjamaah di rumah. Hal yang belum pernah mereka lakukan sepanjang usia karena biasanya mereka akan salat di masjid.

Kalau ada yang paling sedih dan kehilangan, sudah pasti Ibu lah orangnya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Ibu, sementara aku yang tidak selalu bersama Bapak saja masih kerap kali menangis ketika mengingat beliau.


May, please be nice to me

Sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan, kerap menggoda kami untuk memanggil kenangan-kenangan bersama Bapak. Kadang, aku dan Ibu bercerita dalam canda yang selalu berakhir dengan kalimat, "Jadi sedih, ya."

Ya, kami belum sepenuhnya merasa bahwa Bapak benar-benar sudah pergi. Rasanya, Bapak masih ada bersama kami. Entah sampai kapan. Kadang, kami sama-sama berpikir, "Masa Bapak meninggal ya..."

Ah, sungguh menyedihkan.

Sungguh sangat kehilangan.

Sungguh, kami masih dalam tahap denial

Membohongi perasaan, yang justru semakin membuat rasa sedih ini semakin mendalam.


May, please be nice to me


Merah Itu Aku

Cilacap, 5 Mei 2021



Tuesday, May 4, 2021

Day 28 - Tantangan 30 Hari Kepompong

Satisfactory!!



Sisa dikit lagi, dan aku makin sering bablas buat setor tugas 😓. Ya udah lah ya...


Aktivitas Hari Ini

Sepagian aku harus beresin pengumuman lomba dan bikin ebooklet. Padahal udah nyicil sejak Sabtu. Tapi tetep aja berasa bikin ulang. Apresiasi buat diri sendiri karena berhasil menyelesaikannya setelah duhur.

Siang menjelang sore, nyicil setrikaan yang udah numpuk sejak kemaren karena beberapa hari ini, memang nyetrikanya ga pernah selesai 😆.

Agenda yang terlewat adalah bikin video tugas kakak yang harus dikumpul paling lambat hari Jumat. Ampun dah 😌.


Merah Itu Aku

Cilacap, 4 Mei 2021

Monday, May 3, 2021

Day 27 - Tantangan 30 Hari Kepompong

Satisfactory!!



Menjelang akhir tantangan 30 hari, rasa-rasanya energi ini makin terkuras. Mungkin karena sudah memasuki puasa 10 hari terakhir yang butuh perhatian khusus. Jadi, memang urusan lain, terasa kurang penting. Ada beberapa hal yang harus segera diselesaikan agar tidak mengganggu kegiatan di 10 hari terakhir Ramadan.


Aktivitas Hari Ini

Siang tadi, kami mengantar Dek Musa beserta Mama dan Papanya ke stasiun. Kondisi stasiun nampak sepi. Jadilah kami menunggu di luar peron hingga panggilan dari pengeras suara menginformasikan bahwa kereta yang akan ditumpangi Dek Musa, memasuki stasiun.

Sepulang dari stasiun, Dek Lou minta ikut Eyang Umi, alih-alih ikut turun bersamaku di depan rumah. Dengan penuh keraguan, aku melepas Dek Lou untuk ikut Eyang Umi. Terbiasa dengan rumah yang ramai, aku khawatir anak kecil itu malah merepotkan karena minta diantar pulang.

Nyatanya, keraguanku tidak terbukti. Bukannya merengek minta diantar pulang, Dek Lou justru meminta untuk menginap di sana 😆. Tentu saja aku yang paling khawatir jika Dek Lou beneran menginap.

Rumah semakin sepi setelah kepulangan Dek Musa dan kepergian Dek Lou. Hihi... meskipun terkadang ada perasaan kesel karena anak-anak kecil dan besar kerap kali ribut, ternyata tanpa kericuhan yang mereka buat, rumah ini sangat terasa sepi. Enggak bisa aku bayangkan bagaimana kesepiannya Eyang Putri kalau sendirian di rumah. 

Dengan berbagai rayuan, Dek Lou pun mau pulang juga. Pas sampai di rumah, kami sudah selesai salat tarawih. Kak Zidan yang dengan gantengnya bertindak sebagai imam. Masya Allah Tabarakallah.

Sepagian hingga siang menjelang, aku mendapat tugas negara untuk mengetik surat-surat untuk pencairan tabungan Bapak. Selama aku mengetik, aku sungguh tak habis pikir jika ada anak yang berebut harta warisan dari orang tuanya. Entah ada di mana perasaan mereka ketika melakukannya. Membuat surat ahli waris saja sudah sangat menyedihkan. Bagaimana bisa orang-orang itu dengan teganya berebut harta waris 😓.

Somoga, anak keturunanku tidak ada yang melakukan hal menyedihkan itu. Aamiin...



Merah Itu Aku

Cilacap, 3 Mei 2021


Sunday, May 2, 2021

Day 26 - Tantangan 30 Hari Kepompong

Very Good!!



Empat hari lagi menuju akhir tahap kepompong. Dan habit tidurku semakin tampak di seputaran jam berapa saja.


Aktivitas Hari Ini

Anak-anak libur, tapi tetep aja aku berasa lelah banget. Ada beberapa agenda yang terlewat. Beberapa tugas sekolah yang perlu diedit dan urusan lomba yang masih belum beres.


Merah Itu Aku

Cilacap, 2 Mei 2021

Saturday, May 1, 2021

Day 25 - Tantangan 30 Hari Kepompong

Very Good!!



Welcome May ...

Puasa udah tinggal 12 hari lagi. Rasanya cepet banget. Tahap kepompong pun sudah memasuki hari ke-25. Sedangkan badge yang diperoleh, masih belum konsisten 🙈.


Aktivitas Hari Ini

Ada dua agenda yang tidak berhasil aku selesaikan hari ini. Tapi sejauh ini, semua masih dalam batas yang bisa dimaafkan 😁.


Merah Itu Aku

Cilacap, 1 Mei 2021