Pages

Saturday, November 27, 2021

Jurnal Zona E Pekan ke-2

Masih berada di zona E, pekan ini, aku berjalan-jalan mengunjungi fasilitas kota. Yiey!!!

Sudah siap, Teman-teman?

Ada lima fasilitas Hexagon City yang kece abis. Hexamarket, Hexalink, Fanpage Hexagon City, Youtube Hexagon City, dan Instagram Hexagon City.

Yuk, ikuti gimana serunya jalan-jalan pekan ini.



1. Hexamarket

Menggunakan platform facebook, Hexamarket merupakan marketplace co-housing. Sebagai Hexagonia, kita dapat melakukan kegiatan jual beli di tempat ini.

Begitu masuk, aku langsung disuguhi berbagai macam produk menarik dengan kalimat pengantar yang sangat menarik hati. Hexamarket melabeli diri sebagai one stop shopping. Sangat memanjakan jiwa-jiwa belanja dan jualan emak-emak.

Ada mainan edukasi untuk anak, ada buku resep, ada hasil crafting, dan masih banyak produk lainnya. Kesemuanya itu dikemas apik dalam bentuk visual berupa foto-foto produk dan copywriting yang cantik.

Para calon pembeli sudah diberi panduan lengkap, bagaimana cara berbelanja di Hexamarket. Bagi yang berencana menjadi vendor juga sudah ada penjelasan lengkap bagaimana cara dan persyaratannya.

Berjalan-jalan di Hexamarket, membuatku bersemangat membayangkan bagaimana produk dari project passion co-house ArtaCraft, turut tampil di sana. Makin berbinar, ya ...


2. Hexalink

Selanjutnya, aku mengunjungi ke Hexalink. Masih menggunakan platform facebook, Hexalink menawarkan berbagai pelatihan yang dapat diikuti para Hexagonia.  

Dikutip dari penjelasannya, Hexalink merupakan grup untuk para Hexagonia yang memerlukan tenaga ahli untuk project passion-nya. Selain itu, Hexalink juga memberikan peluang bagi para Hexagonia untuk berkontribusi di project passion co-housing lain secara personal dan profesional.

Uwow banget, kan ... semacam lapak untuk mencari pekerjaan. Masya Allah ... banyak sekali peluang yang diberikan Hexagon City kepada warganya.

Bisa nih, buat cari tenaga pemasaran jikalau kami kebanjiran order. Ecieee ... optimis manis 💃🏼.


3. Fanpage Hexagon City

Melanjutkan perjalanan ke Fanpage Hexagon City, aku menemukan berbagai informasi terkait kegiatan yang akan diselenggarakan di Hexagon City. 

Sering-sering kunjungi Fanpage Hexagon City, agar tidak ketinggalan agenda-agenda menarik yang akan terselenggara 😘.


4. Youtube Hexagon City

Siapa yang suka jalan-jalan ke Youtube? 

Nah, Hexagon City punya acara-acara kece yang disiarkan melalui youtube. Ada tentang edukasi, acara-acara yang diselenggarakan Hexagon City, dan yang rutin adalah breakingnews.

Kalau enggak mau ketinggalan acara terkini di Hexagon City, segera subscribe youtube chanel-nya. Setelah nonton, tinggalkan like dan komen. Karena semua itu gratis, Gaes … 😄


5. Instagram Hexagon City

Kalau yang ini, sesungguhnya sudah aku follow lama. Bahkan, sebelum perkuliahan Bunda Produktif dimulai. 

Jalan-jalan ke akun instagram Hexagon City, kita akan disambut dengan berita-berita singkat tentang kegiatan di Hexagon City.

Yuklah, kamu udah follow, belom? 😁


Selain jalan-jalan ke fasilitas kota, pekan ini, aku mendapat raport dari leader co-house ArtaCraft, yaitu Mbak Arin. Beberapa pekan yang lalu, Mardika dan Teh Erni sudah sedikit membocorkan tentang rapot ini. Namun, ketika mendapatkannya pagi tadi, rasanya tetep terkejut dan happy banget.

Membaca report dari Mbak Arin membuatku sangat amat terharu. Sebagai co-house leader, Mbak Arin membaca semua jurnal yang sudah dibuat warganya. Masya Allah banget, ya …

Selain mendapat raport, para warga juga diberi kesempatan untuk memberikan aliran rasa kepada co-house leader. Bagiku, Mbak Arin benar-benar leader yang sangat bertanggung jawab. Saat sedang hamil dan segala hal yang mengikuti, beliau tetap menjalankan tugasnya dengan sangat baik.

Terima kasih banyak, Mbak Arin 😙


Kegiatan co-housing semakin sibuk dengan persiapan awal produksi. Rencananya akan mulai cetak kain. Bismillah. Semoga dimudahkan.

Ohiya, Jumat sore, jajaran city leader dalam format lebih lengkap, mendatangi co-house ArtaCraft. Sayangnya, aku ada agenda yang berbarengan. Jadi, hanya mengikuti obrolan setelah beliau-beliau pulang.


Merah Itu Aku

Jogja, 27 November 2021



Thursday, November 25, 2021

Selamat Hari Guru

Selamat Hari Guru, untuk semua Bapak dan Ibu Guru di seluruh Nusantara. Semoga ilmu yang Bapak dan Ibu berikan dapat menjadi pahala yang terus mengalir. Aamiin ...



Setiap tanggal 25 November, diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Sebenarnya, aku baru merasakan peringatan Hari Guru, sejak anak-anakku bersekolah. Pada hari tersebut, biasanya mereka diliburkan. 

Saat aku sekolah dulu, rasa-rasanya tidak pernah mengalami libur di Hari Guru. Usut punya usut, ternyata Hari Guru baru ditetapkan tahun 1994. Dan memang, tidak pernah diperingati secara khusus ketika aku sekolah dulu.

Hari ini, aku begitu terharu mengikuti acara live streaming peringatan Hari Guru di sekolah Kakak-Kakak. Meskipun murid-murid diliburkan, ternyata para ustaz dan ustazah tetap datang ke sekolah. Ada acara yang diselenggarakan murid kelas 4 beserta para wali, berupa persembahan bagi para ustaz dan ustazah.

Bagian paling mengharukan adalah saat para murid memberikan souvenir untuk ustaz dan ustazah. Ah, aku memang mudah tersentuh 😭❤.

Seharusnya, kegiatan menonton live streaming itu merupakan tugas anak-anak kala libur. Kenapa jadinya justru aku yang nonton, sih? 😌

Membahas tentang guru, aku selalu terngiang kalimat, "Guru iku digugu lan ditiru."

Digugu artinya dipercaya. 

Ditiru artinya diikuti.

Guru adalah sosok yang kata-katanya dipercaya dan tingkah lakunya diikuti.

Tumbuh besar di lingkungan keluarga yang kebanyakan guru, membuatku memiliki cita-cita menjadi seperti mereka. 

Ibu merupakan seorang guru agama Sekolah Dasar. Beberapa tahun sebelum pensiun, beliau menjadi pengawas.

Ketiga adik kandung Ibu, berprofesi sebagai guru SD. Bahkan, para suami mereka pun tidak jauh-jauh berkecimpung dalam dunia pendidikan.

Ada dua adik Embah Putri dari Ibu, yang menjadi dosen. 

Seingatku, adik Embah Putri dari Bapak pun, ada yang menjadi guru. Bahkan, kami memanggilnya dengan sebutan Mbah Guru. Mungkin karena profesi sebagai guru begitu mulia di mata masyarakat sana.

Benar-benar, aku sudah dikelilingi para guru sejak kecil. Tak heran jika menjadi guru, sudah menjadi cita-citaku. Ketika teman-teman lain bercita-cita sebagai dokter, aku tidak menginginkannya. Duniaku tidak dekat dengan profesi tersebut.

Namun, belum juga menapaki jalan, impian itu kandas. Atau mungkin, aku yang kurang gigih. Kemudian, aku justru terdampar menjadi apoteker. Meskipun itu tidak jauh dari profesi Mbah Buyut yang seorang peracik jamu tradisional.

Bagiku, guru merupakan profesi yang sangat mulia. Mengajarkan kebaikan kepada anak-anak, yang bahkan tidak memiliki ikatan darah dengan mereka.

Aku sempat terheran-heran ketika ada berita tentang orang tua yang menuntut guru karena mendapat laporan dari sang anak, bahwa ada guru yang bertindak tegas padanya. Si orang tua itu marah dan tidak terima.

Coba saja jika hal tersebut terjadi saat aku kecil dulu. Melapor kepada orang tua dimarahi guru di sekolah? Yang akan didapat, justru kemarahan tambahan dari orang tua kepada diri ini. Ah, jangan berani-berani.

Guru memang seseorang yang harus kita hormati. Mereka begitu ikhlas mengajari murid-muridnya. Kadang, mereka tidak menghitung, berapa gajinya dibandingkan dengan waktu bekerja.

Kesederhanaan guru begitu melekat. Dibesarkan di lingkungan guru, memudahkanku belajar tentang kesederhanaan. 

Ngomong-ngomong tentang guru, ada hal yang sungguh menggelitik. Menurut beberapa murid, wajah Ibu tidak pernah berubah sejak mengajar mereka SD, hingga sekarang, sudah beranak cucu. Sepertinya, berinteraksi dengan anak-anak memang membuat awet muda, ya 😁.

Sehat-sehat terus ya, Bapak dan Ibu Guru ... jasa kalian sungguh tiada tara ❤❤❤.



Merah Itu Aku

Jogja, 25 November 2021


Wednesday, November 24, 2021

Non-Scale Victories

Dalam sebuah perjalanan diet, non-scale victories ini penting, lho ... Apa sih, non-scale victories?

Berdasarkan pemantauan, non-scale victories, bisa diartikan sebagai pencapaian yang tidak dapat diukur dengan alat. 

Sumber: Google


Kebanyakan dari kita, menganggap bahwa penurunan atau kenaikan angka pada timbangan menjadi tolak ukur keberhasilan program diet atau olahraga. Begitu pula dengan pengurangan atau penambahan lingkar tubuh.

Sudahlah, ini bukan tentang berapa persen lemak tubuh, berapa usia sel, berapa lingkar perut, paha, ataupun lengan. Bukan tentang itu.

Karena sesungguhnya, tidak semua keberhasilan dari suatu program, dapat diukur menggunakan alat berupa angka-angka pasti. Ada banyak hal yang dapat kita lihat. Inilah yang disebut sebagai non-scale victories.

Sumber: Google


Setelah lebih dari dua bulan mengikuti program diet tanpa pantangan, berikut ini non-scale victories aku:

1. Melatih habit baik

Sejak memutuskan istiqomah dalam menjalankan hidup sehat, ada kebiasaan-kebiasaan baik yang aku lakukan setiap harinya.

- Rajin olahraga

Sebelumnya, aku udah lumayan rajin olahraga sih. Tapi jenisnya suka-suka dan tidak terprogram. Setelah mengikuti kelas, aku lebih disiplin dan teratur dalam menjalankan olahraga.

Program workout yang sudah disusun sedemikian rupa, membuatku merasa lebih kuat dengan cara yang tidak membosankan.


- Disiplin makan

Bukan disiplin dalam konteks yang menakutkan dan menegangkan. Setelah mendapat ilmu tentang kalori, aku jadi rajin menghitung kalori masuk.

Kenapa sih repot-repot ngitung makanan? 

Karena aku belum mampu menghitung secara manual. Dan memang cara ini sangat efektif untuk mencukupkan kebutuhan kalori harian. Dengan menghitung, aku jadi dapat lebih mengontrol asupan yang masuk ke dalam tubuh. Tidak berlebih, tetapi juga tidak kekurangan. Pas.

Aku juga sudah mulai disiplin dalam makan sesuai jadwal.

Terbukti, hal ini dapat menghindarkan dari ngemil berlebihan. Dengan mematuhi jadwal tersebut, sebelum merasa lapar, kita sudah tiba pada jam makan selanjutnya.

Ini adalah jadwal makan harianku:

Sarapan 07.00 - 09.00

Camilan pagi 10.00

Makan siang 12.00 - 14.00

Camilan sore 16.00

Makan malam 18.00 - 20.00


Peningkatan yang aku lakukan dalam hal makan adalah menuju makanan sehat. Aku mulai mengurangi memasak menggunakan minyak, seperti gorengan dan kawan-kawan. 

Dengan berbagai macam godaan makanan yang menerpa, aku bisa mengapresiasi diri karena cukup hebat dalam menahan keinginan. Seperti halnya berbelanja, dalam hal makan, kita juga harus bisa memilah mana yang masuk sebagai keinginan dan kebutuhan.


- Rajin minum

Setiap orang, memiliki kebutuhan air minum yang berbeda. Berdasarkan berat badan, aku membutuhkan minum, minimal 2.7 liter per hari.

Sejak menyetorkan laporan jumlah air minum yang dikonsumsi setiap hari, aku jadi lebih tertantang untuk minum dengan jumlah yang sesuai dengan target.

Tak mengapa jika saat ini, aku melakukan karena tantangan. Semoga, aku akan terbiasa.


2. Lebih berbahagia

Hormon yang dihasilkan tubuh setelah berolahraga adalah endorfin yang merupakan hormon kebahagiaan. Tak heran ketika kita selesai berolahraga, rasa bahagia itu meningkat.

Bahagia itu, kita sendiri yang menentukan. Kita tidak bisa menggunakan standar orang lain untuk mengukur kebahagiaan kita.

Bahagiaku adalah ketika bisa menaklukkan tantangan workout pada hari itu. Tantangannya bukan hanya jumlah set yang dapat aku lakukan, tetapi lebih kepada seberapa konsisten dapat workout setiap hari.


3. Lebih percaya diri

Kebahagiaan itu akan memancarkan percaya diri. Tidak usah menunggu body goal untuk bisa tampil percaya diri. 


4. Mendapat banyak teman perjuangan

Berkumpul dengan orang-orang yang memiliki visi dan misi sama memang sangat menyenangkan. Kami dapat saling menyemangati dan juga introspeksi diri.

Bentuk lain dari rezeki adalah teman-teman baik yang ada di sekeliling kita.


5. Ilmu kesehatan dan kebugaran dari Coach maupun teman sekelas

Dalam obrolan yang random, seringkali terselip ilmu-ilmu baru yang dapat menambah pengetahuan perdietan dan kebugaran.

Selain itu, kami juga mendapat ilmu seputar kebugaran dari Coach. Sejauh ini, banyak sekali ilmu-ilmu penunjang yang dapat mendukung program yang sedang aku jalankan.


Merah Itu Aku

Jogja, 24 November 2021



Sunday, November 21, 2021

Jurnal Zona 4E

Dua pekan ini, kami berada di zona 4E (Easy, Enjoy, Excellent, Earn). Kami diminta untuk menuliskan aktivitas yang selama ini dilakukan sebagai Hexagonia. Baik untuk diri sendiri, maupun co-house, terkait dengan project passion.

Masuk ke zona 4E, bukan berarti berhenti menjalankan habit yang sudah dibuat pada zona sebelumnya. Habit adalah kebiasaan baik yang harus dilakukan terus menerus. Sebagai crafter, aku selalu melakukan sesuatu yang berhubungan dengan crafting setiap hari. Baik yang berhubungan dengan project passion co-house, maupun terkait passion pribadi.

Jika menilik dari yang dilakukan, maka aku masuk yang identity based habit. Semoga memang benar begitu, ya 😁.

Sebelum melangkah lebih lanjut, aku melakukan check in. Saat check in, aku kembali merenung, apakah yang dilakukan selama menjadi Hexagonia, sudah benar-benar sejalan dengan passion yang aku ambil? Atau justru semakin jauh?

Bagaimana perasaanmu?

- Galau. Entahlah, semakin ke sini, aku makin merasa jauh dari apa yang ingin aku capai. Satu sisi, aku berkomitmen untuk melakukan project passion co-house. Namun, sisi yang lain, hal tersebut agak jauh dari yang aku bayangkan sebelumnya. 

Aku memutuskan untuk melanjutkan project passion co-house, dengan melatih habit baik sebagai crafter dan menjalankan tanggung jawab sebagai warga co-house.


Untuk ice breaker, ada beberapa pertanyaan yang aku jawab:

1. Sejak menjadi warga Hexagon City, kegiatan rutin apa yang baru darimu?

Berdiskusi project passion di wag.


2. Coba sebutkan tetangga yang paling berkesan di co-housing-mu?

Mbak Siti. Beliau yang paling bersemangat dan menularkan kepada tetangga.


3. Hal apa yang paling challenging yang kamu temukan dalam project passion ini?

Banyaknya macam produk yang direncanakan untuk diproduksi. Karena kemampuanku sebatas crafting, aku ambil bagian yang kecil-kecil saja.

Di sini, kadang aku merasa sebagai penghambat. 


4.  Siapakah tetangga favoritmu?

Semua favorit 😆.


5. Habit apa yang paling kamu sukai saat ini?

Membuat scrunchie 😂.


Nah, sekarang kita masuk pada jurnal yang terkait dengan 4E.



Aktivitasku sebagai Hexagonia:

1. Mengikuti diskusi dalam FBG Bunda Produktif -- Easy

2. Mengikuti diskusi co-housing ArtaCraft -- Enjoy


Aktivitas prioritas untuk tim:

1. Menjahit masker -- Earn

2. Menjahit aksesoris -- Earn

3. Copywriting -- Enjoy


Aku memilih copywriting sebagai prioritas. Akan tetapi, aku juga akan tetap mendukung produksi.

Semua aktivitas yang aku jalankan, tidak ada yang kuberi label excellent. Karena memang belum merasa sampai seperti itu 😁.


Kami juga melakukan brainstorming terkait aktivitas yang dilakukan masing-masing warga.


Aktivitas kami, dibagi menjadi 3 action.

Action 1 (Fokus pada desain)

Desain: 

Gambar icon: Novi, Reni, Ayu

Printing: Novi


Action 2 (Fokus pada produksi)

Menjahit baju: Siti

Menjahit topi: Arin, Indy

Menjahit pouch/ masker kain: Arin, Indy, Firda

Menjahit slingbag: Indy

Menjahit aksesoris: Ais, Ayu, Riska, Firda


Action 3 (Fokus pada pemasaran)

Free class: (diselenggarakan sebagai awalan pengenalan produk)

- Fasilitator : Novi (Textile Printing), Reni (Seamless Pattern)

- Moderator : Ayu, Riska

Marketing:

- Flyer: Reni

- Copywriting: Firda

- Admin PO: Arin

- Bendahara: Ais


Banyak dari kami yang memutuskan untuk double, triple, maupun multijob. Meskipun demikian, kami tetap memutuskan untuk fokus pada satu aktivitas. Misalnya, aku yang akan fokus di action 3, tetapi tetap terlibat dalam produksi di action 2.





Dari ketiga aktivitas tersebut, ada yang kami sepakati sebagai aktivitas yang kami butuhkan, tetapi belum kami miliki. Meskipun justru aktivitas itu yang menjadi fokus untuk kukerjakan.



Merah Itu Aku

Jogja, 21 November 2021






Tuesday, November 16, 2021

Drama Korea 2021

Hai ... hai ...

Kalau ada yang menyangka bahwa aku akan me-review drakor-drakor sepanjang tahun 2021, Anda salah 😁. Ya iyalah ... aku baru nonton satu drakor di tahun ini. Mmm ... dua sih, kalau Full House yang aku tonton ulang, masuk hitungan. Atau tiga, dengan Hometown Chachacha yang baru aku tonton 1 episode.

Ngomong-ngomong tentang Full House, ya, aku baru selesai nonton ulang 16 episode beberapa hari yang lalu. Ceritanya, aku lagi lihat-lihat film di Vidio, sebelum akhirnya menemukan bahwa ada drakor di sana. 

Mataku langsung tertuju pada Full House. Dulu, aku nonton drakor itu, tentu saja akibat diracuni oleh Mr. Right. Aku tonton ulang karena kayak-kayaknya, aku kurang inget dengan ceritanya. Hihi ... penting, ya ... padahal 16 episode, Buk ...

Untuk Hometown Chachaca, aku diajakin nonton bareng Mr. Right. Mungkin dia penasaran karena drakor itu masuk dalam jajaran yang banyak ditonton. Namun, baru 1 episode, rasa-rasanya butuh alasan yang kuat untuk meneruskannya.

Nah, aku mau cerita tentang drakor yang baru aja aku tamatkan dengan maraton delapan episode dalam semalam. My Name.

Sumber: Google


Alasan aku nonton

Jelas saja, yang pertama adalah diracuni Mr. Right. 

Alasan yang kedua, jumlah episodenya cuma delapan 😁.

Biasanya, aku nonton drakor itu karena pemainnya ganteng dan cantik versi aku. Pemain di My Name, engga ada yang aku banget. Kalau bukan karena Mr. Right, drakor ini jelas bukan pilihan yang akan kutonton.

(Dih, biasanya ... kayak yang aku rajin nonton drakor aja 😆.)

Awalnya, dia tanya-tanya ke aku, udah nonton atau belom. Tentu saja belum. Tau drakor itu aja engga, pada saat itu.

Ternyata, malam itu juga, dia nonton tanpa mengajakku. Sampai episode keempat, barulah kami nonton bareng. Selama nonton, aku bertanya-tanya karena belum nonton gimana awalnya dan memang engga cari sinopsisnya. Sowry, aku no spoiler spoiler club, ya ...

Nonton loncat tiga episode memang sesuatu banget. Beneran engga nyambung dan mengganggu karena jadi banyak tanya.

Besokannya, aku belum lanjut nonton. Mr. Right pulang malam dan aku males nonton sendirian. Beberapa malam selanjutnya, waktu aku ajakin Mr. Right nonton, ternyata dia udah kelar dong.

Ih, aku benar-benar merasa dikhianati. Aku pun ngambek beberapa malam enggak tergerak buat nonton.

Barulah kemaren malam, aku selesaikan secara maraton delapan episode. Sendirian.

Gosah nanya siapa aja pemainnya. Aku engga hafal 😆.


Bagus ga?

Karena no spoiler spoiler club, aku engga akan kasih tahu ceritanya di sini 😁.

Menurut penilaian orang yang engga terlalu suka drakor, aku cukup puas dengan ceritanya. Meskipun ada beberapa cerita yang aku sesali.

My Name, memang masuk genre action yang lumayan sadis. Banyak banget adegan berantem yang begitu jelas diperlihatkan. Darah ada di mana-mana dan kesadisan-kesadisan lain.

Karena itu, tidak disarankan menonton di siang hari, ketika anak-anak berpotensi menonton secara tidak sengaja.

Untuk ceritanya, banyak banget kejutan-kejutan. Plot twist-nya dapet. Bener-bener dipelintir ke sana ke mari. Aku merasa dipermainkan 😌. 

Justru itu yang membuat penilaianku terhadap My Name, cukup memuaskan.

Sampai menjelang episode terakhir, barulah misteri-misteri yang ada, mulai terkuak satu per satu.


Apakah setelah nonton My Name, aku akan meneruskan Hometown Chachaca?

Belum tahu. Sampai saat ini, aku belum tergerak buat nerusin nonton. Entah esok atau lusa 😆.


Sekian cerita tentang menonton My Name, sebagai drakor baru yang aku tonton pertama kali di tahun 2021.

Kalau tahun lalu, aku nonton dua drakor, tahun ini belum keliatan hilalnya 😂.

Yah, aku sih bakalan rajin nonton, asal ditemenin Mr. Right 😅. Haha ... dasar tidak punya pendirian. Eh, malah justru berpendirian, ya ...

Kalau kamu, udah berapa drakor yang ditonton sepanjang tahun 2021?


Merah Itu Aku

Jogja, 16 November 2021

Sunday, November 7, 2021

Jurnal Zona Habit Pekan 1

Setelah libur setor jurnal pekan kemarin, akhirnya aku kembali menjurnal lagi. 

Hexagonia co-house ArtaCraft melakukan perkenalan lebih mendalam. Dari perkenalan yang dilakukan, ternyata ada beberapa yang merupakan alumni sebuah universitas negeri di Jogja. Ah, rasanya kami semakin dekat saja sebagai tetangga. Yang paling mengharukan, ternyata ada yang seangkatan sama aku loh 🙌.

Libur pekan kemarin, sebenarnya adalah untuk melakukan habit yang sudah kami pilih, dua pekan yang lalu. Aku memilih habit: Konsisten Crafting, termasuk menjahit masker sesuai pola yang sudah diberikan, sehari minimal 30 menit.



Selama dua pekan, kami semua melatih kebiasaan baik yang sudah dipilih, sesuai dengan pembagian peran yang dilakukan sebelumnya. Tentu saja, peran yang kami ambil, sesuai dengan passion masing-masing.

Habit masing-masing Hexagonia co-house ArtaCraft, akan mendukung passion project WISE (Wonderful Indonesia Signature). Masing-masing dari kami, berusaha untuk memberikan terbaik yang bisa dilakukan. 



Dalam melaksanakan habit yang aku pilih, ternyata masih mengalami kendala. Pada pekan pertama, aku fokus pada persiapan workshop macrame. Jadi, sebenarnya aku tetap melakukan crafting, hanya saja bukan merupakan hal yang mendukung project passion.

Untuk pekan kedua, aku juga masih belum menemukan ritme yang pas. Bekerja dengan mesin jahit memang memerlukan dukungan bagi orang sekitar. Karena setiap aku mulai menjahit, ada supporter yang setia berada di sampingku dan ikutan sibuk.



Mudah-mudahan, semakin hari, habit pendukung project passion yang aku lakukan lebih konsisten lagi.

Dari habit yang sudah kami pilih, kami berdiskusi menentukan milestone untuk memudahkan kami dalam melaksanakan passion project.

Kami berdiskusi dan memutuskan untuk membagi menjadi tiga milestone. Rencananya, untuk masing-masing milestone, akan dilakukan selama dua bulan.



Berikut adalah milestone passion project Wonderful Indonesia Signature dari co-house ArtaCraft:

Milestone 1

Desain 

Kami sudah mendiskusikan elemen apa saja yang akan dimasukkan ke dalam desain dan juga pemilihan warna dasar. Tim desain sudah mulai bergerak.

Produksi untuk pengenalan produk (membuat contoh produk) 

Rencananya akan menggunakan kain dengan desain yang sudah jadi. Kain dipesan dengan minimum order, atau sesuai dengan kebutuhan minimal kami.


Habit baik: 

- konsistensi belajar 

- saling urun ide untuk desain 

- atur waktu untuk praktek produksi 

- mulai membuat contoh produk (bisa dibagi-bagi siapa yang bikin contoh bucket hat, contoh masker, baju dll) 


Penghambat: 

- tidak konsisten


Solusi: 

- atur waktu lebih baik 

- saling mengingatkan 

- pekan depan bisa disetorkan contoh produk yang sudah dibuat. 


Milestone 2

Promosi 

Promosi diperlukan untuk menarik pembeli. Sepanjang masa promosi, kami akan sekaligus membuka pra pesan.

Free Class Digital Drawing & Printing 

Kegiatan workshop secara daring dilakukan sebagai salah satu bentuk promosi produk ArtaCraft.


Habit baik: 

- konsisten promosi di sosial media 

- diskusi menyusun acara workshop 

- membuat personal branding projek ArtaCraft 


Penghambat: 

- tidak berkontribusi 


Solusi:

- saling support 


 Milestone 3 

Pra produksi (pencetakan dan pemesanan kain sesuai jumlah PO) 

Setelah pemesanan ditutup, kami akan mulai order kain. Jika memungkinkan, kami bisa melakukan pemesanan kain di tengah masa PO untuk mencicil produksi.


Produksi 

Pembagian tugas sudah dilakukan pada awal perencanaan project passion. Jadi, jika ada perubahan, pasti tidak terlalu signifikan.


Penjualan 

Setelah semua pesanan jadi, kami akan mengirimkan secara serentak.


Habit baik: 

- pembagian tugas produksi 

- menyelesaikan tugas sesuai jadwal 


Penghambat:

- tidak bisa membagi waktu dengan baik 

- ketidakselarasan waktu penyelesaian tugas antar anggota team 


Solusi: 

- pembagian tugas produk yang jelas dan deadline produksi (siapa yang bikin baju siapa yang bikin masker dll) 

- koordinasi yang baik


Milestone yang sudah kami susun, sejatinya menuju pada goal project passion co-house ArtaCraft, Wonderful Indonesia Signature, yaitu:

- mencipta produk

- konsumen puas dan nyaman dengan produk

- pemesanan berulang

- produk bisa meluas dan menebar manfaat tidak hanya di Hexagonia tapi juga ke luar Hexagonia.

Diskusi dalam co-house, dilakukan melalui whatsapp group. Awalnya akan digunakan zoom, tetapi ada beberapa Hexagonia yang tidak bisa mengikuti, termasuk aku. Alhamdulillah, aku tidak banyak ketinggalan karena bisa mengikuti meskipun terlambat.


Merah Itu Aku

Jogja, 7 November 2021