Pages

Thursday, May 28, 2020

Beberapa Kegiatan yang Kembali Dilakukan Saat Pandemi Covid 19


Berita tentang perpanjangan masa tanggap darurat Covid 19 untuk Jogja dan sekitarnya sudah dikeluarkan. Dari yang awalnya sampai tanggal 29 Mei 2020, diperpanjang sampai 30 Juni 2020. Wacana new normal untuk wilayah Jogja dan sekitarnya, tampaknya tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Ya sudahlah...untuk kebaikan bersama, mari kita sabar-sabar dulu😌.

Hari kesekian berada di rumah, aku sudah mulai mati gaya. Beberapa hal yang pernah aku lakukan di masa lalu, yang kemudian aku lakukan lagi untuk membunuh rasa bosan:

1. Main games

Dulu...saat baru-barunya games bikinan King hits di facebook, aku ikutan main. Yah, gara-gara sering dapet notifikasi permintaan nyawa dari jamaah perfacebookan. Akhirnya aku tergoda. Tak tanggung-tanggung, aku langsung install tiga permainannya. Ada Candy Crash Saga, Candy Crash Soda Saga, dan Farm Heroes Saga. Ketiga games itu mirip-mirip. Meskipun demikian, masing-masing games tersebut punya ciri khas, yang tidak bisa ditemui di games sodaranya. Lain kali aku review games nya ya 😁.

Aku memutuskan untuk uninstall games itu beberapa tahun yang lalu, karena aku merasa kecanduan banget. Mau ngapa-ngapain bawaannya nanggung kalau lagi main. Selain itu, kalau ketauan anak-anak, bisa bikin mereka minta main juga 😌. Tar bubar me time emak. Menimbang berbagai permasalahan yang timbul, akhirnya aku hapus semua games itu. Waktu itu ada sudoku dan beberapa games lain juga yang ikut terimbas dihapus.

Kira-kira dua pekan yang lalu, aku install lagi games punya King. Gara-gara ngliat Mr. Right main🀣🀣. Eh, dulu itu, Mr. Right ikutan main gara-gara liat aku main. Sekarang malah kebalikannya. Coba aku inget-inget lagi, apakah di masa lalu aku pernah ngetawain beliau gara-gara ngikutin main games nya King? 🀧🀧

Singkat cerita, kini ada dua games King yang terinstal. Kenapa cuma dua? Ya..aku cuma instal Candy Crush Saga dan Candy Crush Soda Saga aja. Karena permainan kan sejatinya bikin kita happy, kalau bikin stres, mending ga usah mainan aja. Buatku, Farm Heroes Saga itu ngeselin di bagian buah dan sayur kena lumpur. Yang main ini pasti ngerti deh πŸ˜†πŸ˜†.

Oh iya, ternyata setelah sekian tahun ga main games ini, ada banyak yang baru lho.. contohnya, hanya dengan menonton video iklan, kita bisa nambah nyawa atau langkah, juga senjata. Ada juga rangking melewati level per minggu. Jadi, semua perhitungan dimulai hari Senin. Setiap kita melewati 1 level, kita dapat 1 nilai. Kita jadi tahu nih, siapa-siapa aja temen facebook kota yang sering main. Sebenernya ga connect ke facebook bisa juga. Cuma kalo ga connect, kita ga bisa minta bantuan temen. Udah gitu, kalo kita instal ulang, levelnya balik ke 1. Haha… aku begitu main langsung ke level ratusan. Mr. Right main ga connect facebook, jadi dia levelnya masih dasar. Hihi...

2. Menjahit baju boneka

Sejak pindah ke Jogja, aku memutuskan untuk membawa serta boneka kesayangan aku. Boneka hadiah ulang taun yang ke-11. Tahun 1994 πŸ˜„πŸ˜„. Bahkan usianya jauh lebih senior dibanding ketiga anakkuπŸ˜†.
Sampai hari ini, sudah ada enam atau tujuh baju baru untuk boneka kesayanganku. Bukan cuma baju, aku juga me make over rumahnya. Hihi… aku buatkan rumah dari kotak kardus berupa lemari dan tempat tidur. Rumahnya bisa ditutup sebagai tempat penyimpanan. Aku juga sudah membuatkan jendela beserta tirainya. Ampun dah… kegabutan ini sudah mendekati puncaknya.

3. Membaca komik

Wohooo… ini udah lebih dari setahun ga aku lakukan. Aku penggemar berat komik Detective Conan dan One Piece. Kalo Detective Conan emang udah lama banget. Dari jaman masih sewa komik, sampe yang sekarang baca komik online. Tapi yang One Piece baru-baru aja beberapa tahun belakangan. Awalnya aku sebel banget ngliat One Piece selalu lebih banyak pembacanya daripada Detective Conan. Apa gara-gara gambar cewenya terlalu sexy? Haha… suudzon banget ya… Kakak, adek, dan suamiku juga baca. Dan mereka semua cowok. Nah, makin kuatlah kecurigaankuπŸ˜„πŸ˜„. Tapi suatu waktu, aku mulai membuka diri buat baca. Lha..kayaknya aku udah pernah baca nih..tapi ga inget kenapa memutuskan untuk berhenti. Makin dibaca, aku semakin takjub dengan alur cerita yang dibikin si Oda. Dan...tiba-tiba aku suka gambar karakter komiknya 🀣🀣🀣. Aku mudah sekali diluluhkan.

Nah, kenapa tahun kemaren aku memutuskan untuk berhenti baca komik? Karena Detective Conan hiatus. Ga dimensyen secara jelas sih… tapi mungkin sampe beberapa bulan ga ada update. Yang One Piece agak membingungkan kalo baca sedikit-sedikit. Akhirnya keterusan ga ngikutin. Beberapa hari yang lalu, aku mulai baca lagi maraton. Ternyata aku ketinggalan banyak. Dan kedua komik itu semakin seru πŸ˜…πŸ˜….

4. Mainan flanel

Mainan flanel ini membutuhkan tingkat ketelatenan yang cukup tinggi. Kadang aku membuat target yang ketinggian. Dengan detail yang tidak boleh terlewatkan. Dan sangat menghindari penggunaan lem. Sebisa mungkin dijahit. Paling oke, ya jahit pake tangan. Bukan mesin 🀣🀣.

Beberapa project flanel mulai aku buka. Memperhatikan detail, masih aku lakukan. Tapi aku agak membuka diri untuk menerima mesin jahit untuk menemani hari-hariku bersama flanel. 

Project yang sedang berjalan adalah mainan anak. Hihi… selama ini project crafting terasa egois karena hanya membahagiakan diriku sendiri. Semoga project flanel kali ini bisa membahagiakan anak-anak juga 😁.
----

Yaaa...demikianlah kegiatan lama yang dihidupkan kembali karena pandemi Covid yang tak kunjung usai. Mari kita mencari kegiatan yang membuat kita tetap waras 😘😘.

Merah Itu Aku
Jogja, 28 Mei 2020

Sunday, May 24, 2020

Lebaran #dirumahaja

Taqobbalallohu minna wa minkum

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H.


Lebaran kali ini memang istimewah sekali, sodara-sodara. Kita semua dihimbau untuk salat Ied di rumah saja dan tidak mudik, baik lokal maupun interlokal 😌. Sesungguhnya, ini bukan pertama kalinya aku dan Mr. Right ga mudik saat Idul Fitri. Lebaran pertama kami setelah menikah, dihabiskan di Jakarta. Tapi kami tetap bisa salat Ied berjamaah di lapangan. Itu terjadi 10 tahun yang lalu saat aku hamil besar. Kala itu, mau mudik nanggung karena sudah berencana cuti melahirkan beberapa minggu lagi.

Lain dulu, lain pula sekarang. Kondisi yang belum kondusif, meminta kita semua untuk bersabar. Sebenarnya, ada beberapa keistimewaan yang aku rasakan saat berlebaran di rumah saja. Apa sajakah itu?

1. Mr. Right jadi Imam salat Ied 😍😍😍
Wah, kapan lagi coba para suami di dunia ini berbondong-bondong jadi imam salat Ied kalo bukan karena harus salat di rumah aja 😁😁.

2. Berusaha menyediakan santapan khas lebaran di rumah.
Saking niatnya bikin opor yang layak dimakan saat lebaran, aku melakukan beberapa kali trial di bulan Ramadan. Oh, tentu saja aku tidak mencoba resep opor yang bergentayangan di internet. Aku melakukan trial terhadap beberapa merek bumbu instan, yang nantinya akan dipilih untuk dimasak saat lebaran πŸ˜†πŸ˜†. Dan hasilnya sangat di luar harapan. Yang harusnya terpilih satu saja, ternyata semua bumbu instan yang aku coba saat Ramadan cocok dengan lidah Mr. Right dan anak-anak. Jadi, hari ini aku masak opor 2 sesi dengan bumbu instan yang berbeda.
Ah, aku juga menyiapkan ketupat dan lontong. Semua aku pesan dari Ustadzah Kakak Zidan. Terima kasih sudah menyelamatkan hidangan lebaran kami 😘😘

3. Tidak mengunjungi kerabat dan handai taulan
Yah...namanya di rumah aja, kelas ga ke mana-mana. Bahkan ke sebelah rumah pun engga. Tadinya aku berniat ketemuan di jalanan komplek. Tapi kata Mr. Right ga usah. Silaturahminya lewat wa aja. Oke siyap, Komandan πŸ‘Œ

4. Mendadak melek teknologi
Ini masih berhubungan dengan tidak bisanya silaturahmi langsung. Para eyang mendadak diperkenalkan dengan berbagai jenis kecanggihan teknologi komunikasi.

5. Menyediakan kueh lebaran di meja tamu meskipun ga open house
Ini sih palingan juga diabisin sama yang punya rumahπŸ˜…. Biasanya juga gitu sih. Tapi biasanya, kueh lebaran baru nyampe rumah setelah pulang mudik. Baru sekarang ini lah beli kueh lebaran buat dipajang di meja tamu🀭.

Kira-kira begitulah keistimewaan lebaran tahun ini yang aku rasakan. Kalo lebaran kalian, gimana? 😁


Merah Itu Aku
Jogja, 24 Mei 2020

Sunday, May 10, 2020

Pesantren Ramadan Daring

Tanggal 9-10 Mei 2020, pihak sekolah anak-anak mengadakan Pesantren Ramadan. Tentu saja pelaksanaan pesantren Ramadan tersebut dilakukan secara daring.

Jadwal Pesantren Ramadan dibagikan beberapa hari sebelum pelaksanaan. Tujuannya agar orang tua sudah mempersiapkan apa saja yang dibutuhkan saat pesantren dilaksanakan. Bukan hanya perlengkapan alat penunjang, tapi juga persiapan strategi dalam membuat pesantren di rumah menjadi seru.

Sungguh bagiku merupakan tantangan dalam menahan diri dari gejolak emosi yang meletup-letup. Bahkan sejak menit-menit awal pesantren dimulai.
Thanks to Mr. Right yang selalu bisa menyelamatkanku dari situasi yang tidak mengenakkan. Alhamdulillah ada beliau yang bisa mengambil alih anak mbarep, sementara aku mesti bergerak ke jadwal selanjutnya bersama anak tengah. 

So far, penyelenggaraan Pesantren Ramadan secara daring sudah baik. Pihak sekolah sudah menyiapkan banyak video untuk mempermudah para orang tua mendampingi anak-anak di rumah. Support dari Ustadzah juga sangat baik. Sangat terasa ketika aku sudah agak emosi menghadapi tingkah polah anak-anak, kalimat demi kalimat dari Ustadzah menenangkanku.

Jadwal Pesantren Ramadan Daring

Banyak hal baik yang terjadi selama Ramadan. Yang pasti, anak-anak lebih terjadwal dalam beribadah dan melakukan amalan-amalan harian. Selain itu, anak-anak lebih gampang dibangunin. Malam sebelumnya, Mr. Right memprediksi kalau waktu sahur akan menjadi panggung drama seperti biasa. Alhamdulillah perkiraannya tidak terbukti 😁😁. Anak-anak lebih gampang bangun dan lebih pagi. Aku juga bangun lebih pagi sih buat nyiapin makan sahur. Kayaknya besok mesti bangun sepagi tadi biar bisa mengkondisikan anak-anak lebih pagi lagi 🀧🀧.

Akhirnya siang tadi, acara Pesantren Ramadan sudah ditutup. Orang tua aku pun begitu lega πŸ˜†. Semoga wabah COVID 19 segera berlalu supaya anak-anak bisa beneran ikut Pesantren Ramadan bareng teman-temannya. Aamiin...


Merah Itu Aku
Jogja, 10 Mei 2020


Saturday, May 9, 2020

Bertamu di Jogja

Disclaimer: mungkin kejadian ini bukan cuma di Jogja. Tapi karena aku mengalaminya di Jogja, jadi aku beri judul demikian. Kalau ada kesamaan di daerah lain, feel free to comment ya, gaes 😁😁

----

Pertengahan tahun 2014, kami sekeluarga pindah ke Jogja. Tepatnya di distrik Sleman. Setelah pindah, maka kami mulai memiliki lingkungan sosial baru. Lingkungan sosial pertama yang aku cemplungi adalah perkumpulan emak-emak di sekolah Kakak Zidan. Iya, bukan lingkungan perumahan tempat kami tinggal karena saat itu masih 'gersang'. Baru ada beberapa rumah yang berpenghuni. Jadi belum ada kerumunan emak-emak 😌.

Kehidupan berjalan normal dengan kegiatan perkumpulan emak-emak. Sebelumnya, aku memang belum pernah merasakan kehidupan menjadi wali murid dengan segala keseruannya. Banyak kegiatan yang kami lakukan sebagai emak-emak. Selain pertemuan wali murid di sekolah, kami juga sering berombongan untuk menengok orang sakit. Baik guru, murid, maupun wali murid. Kadang juga menengok bayi yang baru lahir. Ada juga kegiatan suka-suka, misal nyoto atau ngebakso bareng, berenang, atau nongkrong di rumah sesama wali murid. Selow banget emang sih kegiatan emak-emak pada masanya. Catet ya...ini kegiatan emak-emak yang anaknya masih TK πŸ˜†.

Kegiatan menengok yang pertama kali aku ikuti benar-benar berkesan. Pada akhir kunjungan sebelum kami berpamitan, ada semacam pidato singkat dari perwakilan rombongan yang menengok. Biasanya dilakukan oleh orang yang dituakan di rombongan tersebut. Isi pidato singkat tersebut adalah ucapan terima kasih atas jamuan yang sudah diberikan, tujuan kami berkunjung, dan doa-doa baik untuk orang yang kami kunjungi.
Yang kemudian dibalas oleh tuan rumah dengan ucapan terima kasih beserta alasan-alasannya. Biasanya ada balasan doa juga dari sang empunya rumah.

Berasa familiar ga dengan tata cara itu? Kalo aku, pertama kali mengikuti kegiatan menengok berasa kayak ikut acara lamaran 🀭🀭. Keherananku ditanggapi langsung oleh tetua rombongan. 
"Mba Fir, di sini emang kalau mengunjungi orang, diakhiri dengan tembungan." (istilahnya apa ya...aku lupa. Tembungan kok jadi makin lamaran banget πŸ˜…).

Aku teringat saat baru pindah ke Jogja. Dulu, aku juga pernah diperlakukan sama. Tapi oleh Pakde yang asli Jogja dan tentu saja sudah seumuran orang tuaku. Aku pikir pidato singkat penutupan sebelum pamit, hanya dilakukan oleh orang-orang tua saja. Ternyata tidak lho.

Hampir 6 tahun di Jogja, aku masih belum terbiasa dengan pidato singkat itu. Pasalnya, aku selalu merasa bukan jadi tetua rombongan. Kalo saatnya pamit, aku udah  pengen salaman dan pergi aja. Haha...

Beberapa hari yang lalu, aku mengantarkan donasi ke salah satu Rumah Sakit di Jogja. Setelah menyelesaikan segala prosedur dan foto bersama (tentu saja), perwakilan rumah sakit memberikan ucapan terima kasih dalam kalimat yang panjang lebar. Dan tanpa merasa bersalah, aku hanya senyum-senyum (yang ga keliatan karena tertutup masker), mengangguk-angguk, dan ditutup dengan kata 'sama-sama' πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ. Selama perjalanan pulang, aku baru menyadari ada yang salah dari sikapku. Yaa...seharusnya ada sepatah dua patah kata yang aku sampaikan untuk membalas pidato beliau.
Ya Allah...aku sungguh malu. Semoga kejadian tersebut tidak terulang lagi. Semoga aku semakin terbiasa dengan kebiasaan berkunjung di Jogja ❤πŸ˜„❤.


Merah Itu Aku
Jogja, 9 Mei 2020

Thursday, May 7, 2020

Aku -- Perempuan, Istri, dan Ibu

Perempuan kerap kali menjalani 3 peran sekaligus. Yaitu sebagai diri sendiri, istri, dan juga ibu. Ketiganya memiliki tantangan tersendiri. Mari kita lihat bagaimana kita berinteraksi dengan teman-teman dalam komunitas: kita sebagai diri sendiri, sebagai istri di lingkungan kantor atau keluarga besar suami, dan sebagai orang tua murid. 

Sebagai diri sendiri, menurutku akan lebih mudah dijalani. Karena kita berperan, berpikir, dan bertindak apa adanya kita, sebagai diri sendiri. Bukan social make up - yang terpampang dalam potret bahagia social media 😁. Kita cukup menerima kelebihan dan kekurangan diri sendiri. Tidak perlu menetapkan standar yang terlalu tinggi terhadap diri sendiri, yang pada akhirnya justru membuat kita tertekan dan tidak bahagia. 

Kemudian bagi perempuan yang telah menjadi istri, tantangan yang dihadapi akan sedikit berbeda. Sebaiknya, kita tetap menjadi diri sendiri, menghargai dan mencintai diri sendiri. Namun, kadang menjadi diri sendiri ketika berperan sebagai istri, membuat kita khawatir. 
Apakah hal yang kita lakukan akan mempermalukan suami di lingkungan kantor? Atau akan mempengaruhi karir sang suami di kantor? 
Atau jika dalam keluarga besar suami, apakah akan membuat suami dianggap salah memilih istri? 
Haha...kekhawatiran yang kadang tidak penting, tetapi nyata adanya. Kalau suami, pasti lah sudah mengenal dan menerima istrinya apa adanya. Tapi orang di sekitar suami? Kan belum tentu πŸ˜….

Sebagai ibu, kita dituntut untuk berperangai pantas dan tidak pecicilan. Pasti akan ada batasan-batasan untuk berperilaku. Masa iya kita berkata ceplas-ceplos seperti saat bersama teman sekolah, di grup wali murid. Selain tidak pantas, itu bisa mempermalukan anak-anak kita πŸ˜†.

Sebenarnya, ada satu lagi peran perempuan yaitu sebagai anak. Tapi semenjak menikah, biasanya seorang perempuan akan lebih dikaitkan dengan suami dan anak-anaknya. Apalagi jika kehidupan perempuan itu sudah jauh dari lingkungan tempat tinggal orang tuanya.

Peran apapun yang kita jalani, semestinya tetap membuat kita nyaman. Batasan-batasan yang ada, bertujuan untuk memantaskan diri kita. Tidak ada salahnya berubah ke arah yang lebih baik. Kita yang harus bisa menempatkan diri dalam berbagai peran yang kita jalani. Semangat wahai para perempuanπŸ’ƒπŸΌπŸ’ƒπŸΌπŸ’ƒπŸΌ.


Merah Itu Aku
Jogja, 7 Mei 2020

Monday, May 4, 2020

4 Hal yang Dilakukan Ketika Tidak Sahur

Bangun kesiangan yang berdampak kelewatan waktu sahur, sejatinya dialami oleh banyak orang di dunia ini πŸ˜†. Dan beberapa hari yang lalu, kami pun mengalaminya 😌. Tentu yang dikhawatirkan adalah anak-anak. Kalau kami yang sudah berumur ini, insya Allah kuat puasa tanpa sahur 🀧.

Kemudian, apa yang bisa kita lakukan untuk menjaga situasi dan kondisi anak-anak agar tetap kondusif selama berpuasa ketika terlewat sahur? Aku bagikan beberapa tips untuk para orang tua:

1. Minta maaf.
Minta maaf dengan tulus, dari hati yang terdalam kepada anak-anak.

2. Katakan dengan jujur, kenapa kita bisa kelewat sahur.
Supaya mereka tahu bahwa hidup ini tak selalu mulus. Acap kali, ada saja kejadian yang di luar rencana kita. Sudah mengatur alarm hp, eh... hp dicharge di luar kamar. Mana denger kan πŸ˜…πŸ˜….

3. Berikan semangat.
Meskipun tidak sahur, kita tetap harus bersemangat puasa. Yakinkan bahwa kita pasti kuat menjalani sampai maghrib πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ.

4. Beri kompensasi.
Tawarkan kebahagiaan yang tidak beririsan dengan prinsip keluarga. Misal boleh buka puasa pake fastfood. Ga apa-apa sesekali makan fastfood 😁😁.
Atau buatkan mainan yang sudah lama mereka inginkan (ini jurusku banget πŸ˜†).

Kenyataan yang terjadi beberapa hari yang lalu saat kami ga sahur.

πŸ‘¦ (Kakak Zidan): "Bun, tadi pagi aku ga sahur ya?"

πŸ§• (Aku a.k.a Bunda): "Iya, Kak... maaf ya.. Bunda ga denger alarm hp.. Kakak harus tetep semangat puasa ya... Kakak pasti kuat."

πŸ‘¦ : "Iya.. gapapa kok, Bun.. kan udah biasa ga sahur. Yang pas Ramadan taun kemaren juga ga sahur tapi tetep kuat puasa kok."

πŸ§• : -- antara lega dan gondok. Astagah... dia bilang udah biasa ga sahur... padahal taun kemaren cuma sekali. Dan yang ini baru sekali. Dia bilang biasaaaa 🀣🀣🀣🀣🀣 ---

Alhamdulillah mereka sukses puasa sampe sore. Dan sepanjang hari ga mengeluh laper atau mengungkit-ungkit perkara tidak sahur yang terjadi. Aahhh... kekhawatiranku terlalu berlebihan. Ternyata mereka sudah besar 😷😷.

Tetap semangat berpuasa ya, anak-anak kesayangan Bunda πŸ₯°πŸ₯°πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜


Merah Itu Aku
Jogja, 4 Mei 2020

Saturday, May 2, 2020

((Tidak)) Mudik

Sebelum muncul larangan mudik dari pemerintah, kami sudah berencana salat Idul Fitri di Jogja tahun ini. Rencana mudik, beberapa hari setelah Idul Fitri. Hal ini berkaitan dengan tugas baru Mr. Right sebagai abdi negara. Setelah ada larangan (atau himbauan?) Untuk tidak mudik, kami pun ikhlas.

Seperti yang sudah pernah aku tulis sebelumnya, tidak mudik saat lebaran, bisa menjadi suatu penghematan. 
Selain itu, beberapa hal yang bisa kita nikmati dengan tidak mudik saat lebaran antara lain:

1. Menghindari pertanyaan-pertanyaan yang tidak mungkin dijawab dengan benar

- Kapan lulus?
- Kapan nikah?
- Kapan nambah anak?
- Kok kurusan?
- Kok gendutan?
--- dan lain-lain, dan sebagainya, dan sejenisnya.

Tahun ini, kita bebas. Ada waktu untuk mempersiapkan jiwa dan raga untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan sejenis tahun depan πŸ˜†.


2. Istirahat di rumah saja, menikmati hari-hari kemenangan tanpa ke mana-mana

Kalo untuk silaturahmi ke rumah sodara yang ga mesti ketemu setahun sekali, pasti menyenangkan. Tapi kalo disusupi harus bertamasya atau memaksakan makan di luar, duh yung... lebaran pasti semua tempat wisata ruame buanget. Begitu pula tempat belanja dan restoran-restoran. Aku mending istirahat di rumah.
Tahun ini, minusnya ga bisa silaturahmi, plusnya bisa rebahan di rumah πŸ˜„.


3. Tidak perlu pusing mikirin pake baju apa

Hihi... kebahagiaan yang receh. Aku males aja ya digunjingkan masalah baju seragaman lebaran 🀭🀭. Kemaren sempet diskusi sama Mr. Right, apakah untuk video conference lebaran besok, kami perlu pakai baju sarimbit? πŸ˜…πŸ˜…
Berlebihan ga sih? 😝


4. Menghindarkan anak-anak dari kemungkinan dibandingkan dengan anak-anak lain.

Nah...siapa yang gemas saat anaknya atau bahkan diri sendiri dibandingkan dengan orang lain? Kalo aku sih iyes... ga tau Mas Anang ((krikkrik))
Mau tidak mau, suka tidak suka, kita acap kali mendengar kalimat-kalimat yang membandingkan keadaan kita dengan orang lain. Hal itu akan menyakitkan salah satu pihak yang merasa lebih kecil dari yang lainnya.
Alhamdulillah, tahun ini Insya Allah kita dapat menghindarinya.

Segini dulu aja ya... kalo ada lagi, silakan ditambahkan. 


❗❗Tulisan ini mengandung curhatan❗❗
πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†



Merah Itu Aku
Jogja, 2 Mei 2020

Friday, May 1, 2020

Ramadan dan Covid 19

Telat banget ya nulis tentang Ramadan dan Covid 19 saat ini πŸ˜†. Baru tersadar, ternyata aku belom nulis tentang kedua hal yang heitz banget saat ini.

Memasuki pekan kedua Ramadan, aku dan banyak orang lainnya masih terpaksa mengurung diri di dalam rumah. Entah sampai kapan. Tetapi semoga kondisi ini cepat berlalu dan kembali seperti sedia kala.

Banyak hal baru yang terjadi setelah adanya Covid 19 ini. Cara menyambut bulan Ramadan salah satunya. Sebelumnya, masjid-masjid sangat ramai didatangi jamaah. Entah untuk salat, mengaji, atau berbuka puasa bersama. Wabah Covid 19 ini menjadikan suasana begitu memprihatinkan. Tapi memang harus begitu ya... demi kebaikan bersama.

Supaya tetap waras, sebaiknya kita lihat sisi positif dari kondisi saat ini. Jujurly, sebagai anak rumahan, aku tidak terlalu sedih hanya gara-gara tidak bisa keluar rumah. Aku malah seneng berlama-lama di rumah. Maaf ya buat orang-orang yang bisa travelling...kalian pasti udah gemes pengen ke mana-mana lagi. Mohon bersabar... ini ujian... πŸ€—πŸ€—.

Ada banyak hal yang bisa kita peroleh dengan di rumah saja:

1. Meningkatkan bounding dengan keluarga
Hihi... udah sebulan lebih, sejak bangun sampe tidur lagi, yang ditemui orang itu lagi. Suara yang didenger juga suara-suara dia lagi. Teriakan-teriakannya. Nangis-nangisnya πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†. Sejatinya, itu membuat kami saling mengerti dan menerima kondisi masing-masing. Aku stres? Ga usah tanya deh...

2. Rajin masak
Sebelum puasaan, aku masak demi meredam kericuhan yang terjadi tatkala anak-anak lapar. Meskipun aku tak serajin makgaes di luar sana yang bisa masak sehari 5 kali, buatku masak sehari 2-3 kali udah prestasi banget πŸ˜…πŸ˜…

3. Rajin ikut challenge
Ini salah satu kegabutan di rumah aja. Challenge apa aja diikuti. Ga semua sih... tapi banyak. Dari challenge yang ga mutu, sampe yang lumayan bisa meningkatkan kemampuan diri.

4. Rajin nulis
Ini masuk challenge juga sih ya yang nulis sebulan kemaren di instagram. Agak berimbas pada intensitas nulis di sini ya 🀭🀭. Bulan lalu, aku juga daftar kelas menulis. Insya Allah, bulan depan sudah terbit, buku antologi ketigaku🀧🀧... ((((terharu))))

5. Salat berjamaah bareng keluarga
Sebelumnya, aku selalu jaga rumah ketika anak-anak dan ayahnya salah tarawih di masjid. Kali ini, aku bisa barengan salat berjamaah bareng mereka.

6. Hemat karena ga mudik dan bagi-bagi angpau 
Bagi beberapa orang, mudik kala lebaran terasa menakutkan. Merasa serba salah akan bersikap seperti apa. Tahun ini...tenanglah...di rumah saja dan jadilah pahlawan.


Yah...ini sekelumit kondisi yang bisa bikin kita bersyukur. Selalu ada hikmah. Memang kondisi yang kita harapkan adalah kembali membaik seperti sedia kala. Namun, ketika itu belum terjadi, kita tetap harus melanjutkan hidup dengan sebaik-baiknya.

Tetap di rumah aja ya...

Merah Itu Aku
Jogja, 1 Mei 2020