Pages

Friday, September 11, 2020

Writing for Healing



Awal bulan September, aku mendaftar kelas menulis selfhealing. Kelas ini di selenggarakan oleh @nuliskeroyokan berkolaborasi dengan @literasi.sahabat. 

Sebelumnya, aku sudah pernah mengikuti beberapa project menulis bersama @nuliskeroyokan. Ada 4 antologi yang segera terbit 🤭. #promosi.

Pengalaman pertama menulis bareng @nuliskeroyokan adalah antologi cerita mini dengan tema Ramadan Kala Pandemi. Kemudian ambil kelas bikin cerita rombongan langsung 3 antologi, yaitu dongeng, thriller, dan story telling. Dongeng dan thriller bener-bener baru buat aku. Kalau yang story telling sudah pernah, tapi aku ga terlalu menguasai. Jadi memang belajar banyak banget dari kelas menulis itu.

Kembali ke kelas menulis selfhealing.

Aku tertarik ikut kelas ini karena memang dari awal aku menulis, tujuannya adalah mengobati diri sendiri. Sebenernya sudah kebaca ya dari isi blog ini, yang hampir 90 persen, isinya curhatan 🤣. Ga cerita bucin sih... lebih ke cerita emak lyfe aja dengan segala keriwehannya 🤭.

Sebelum ikut kelas menulis selfhealing, aku pernah beberapa kali ikut kelas selfhealing yang lain. Cuma untuk yang menulis, ini yang pertama. Dulu pernah ikut kuliah whatsapp tentang writing for healing. Tapi karena waktunya singkat (cuma 1 atau 2 jam), jadi pemaparannya pun hanya sebatas permukaannya saja.

Kesempatan ikut kelas menulis ini, jelas tak aku sia-siakan. Begitu ditawari Mba @ayumungil (founder @nuliskeroyokan), aku langsung memutuskan untuk ikut. 

Ada 4 materi yang diberikan setiap Kamis malam jam 19.00. Tiga materi selfhealing dan 1 materi menulis. Materi selfhealing diberikan oleh Mba @put3renata, founder @literasi.sahabat.


Lalu, kenapa sih menulis bisa jadi salah satu cara selfhealing?


1. Me time

Untuk beberapa orang, termasuk aku, menulis merupakan me time yang paling mudah dan murah. Media menulis, bebasssss.... kalau mau dibaca orang, silakan tulis di media sosial atau blog. Kalau buat konsumsi pribadi, bisa di mana pun. Ada lho, orang yang mengeluarkan perasaannya dengan menulis di kertas, kemudian membuang kertas itu setelah lega.

Kalau aku lebih suka menulis di blog atau di buku harian yang menjadi satu dengan bullet journal 😁.


2.  Meningkatkan self compassion

Kita dapat menuliskan keadaan emosi pada saat ini, kemudian tuliskan bagaimana reaksi tubuh terhadap emosi tersebut. Dengan self compassion, kita dapat lebih mengenal diri sendiri.


3. Jurnal syukur

Menulis jurnal syukur, dapat membuat kita lebih menghargai hidup. Tentu saja kita akan lebih bersyukur dengan apa yang kita miliki.


Nah, sekarang tahu kan kenapa setelah menulis, ada perasaan lega dan bahagia? 😘

Selamat menulis dan mencurahkan isi hati, ya ❤️❤️❤️


Disclaimer

Aku bukan ahli selfhealing. Jadi, jika ada kesalahan penyampaian, boleh banget memberi masukan. Dengan senang hati, aku akan menerima segala saran dan masukan yang diberikan❤❤❤.



Merah Itu Aku

Jogja, 11 September 2020




7 comments:

  1. Woaaw seru juga ya mba ada kelas menulis selfhealing 😍😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mba. Membuat kita lebih mengenal diri sendiri 😊❤

      Delete
  2. Masya Allah mba', aq jd pingin ikutan kelas menulis 😁

    ReplyDelete
  3. mbaaa, aku di ajak dong, caranya gmna sih?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa dilihat di IG yang aku tulis di atas, Mba.. biasanya kalo buka kelas, ada pengumumannya di IG. Tapi, kelas menulis yang lain juga banyak kok, Mba 😘😘.

      Delete
    2. Makasih infonya mbak..... Tertarik ikut kelasnya 😍

      Delete