Pages

Saturday, November 28, 2020

Refleksi Sebelas Tahun

Assalamualaikum 💕💕

Hai... hai...

Hari ini, sebelas tahun yang lalu, aku resmi menjadi seorang istri... yiey!!! 

Kami ga pernah ngraya-ngrayain wedding anniversary sebenernya. Jadi, ketika aku kepikiran buat pesen cupcake lucu, rasanya agak gimanaaa gitu 😆. Entahlah ya, tetiba aku pengen aja, mengungkapkan perasaan cinta melalui kueh 🤭.

Ecieee... 💕💕💕

Salah satu cara mengungkapkan perhatian adalah dengan memberi hadiah. Critanya, kueh ini hadiah lah ya buat Mr. Right dan aku?. Meskipun pada kenyataannya, yang hepi tentu saja anak-anak 😆😆.

Gemes banget ga sih 😍😍

Ya ampuunnn... melihat lucunya cupcake ini, rasanya sayang banget buat dimakan. Aku cuma bilang kalo aku suka warna merah. Dan hasilnya bener-bener aku banget. Mana ada mawarnya kan... huhu... terharu banget aku tuuu...

Makasih Farida, kawan SMA kami berdua, juragan kueh Skadifa. Cupcake nya cakep banget dan aku puas banget...nget..nget... 😘😘😘.


Refleksi sebelas tahun

Sebelas tahun, untuk ukuran manusia udah bukan usia 'anak-anak' lagi ya... Udah ga cengeng 😆.

Menurut Pak Cahyadi dalam buku Wonderful Family, usia pernikahan di atas lima tahun, sudah melewati masa romantis. Memang antara satu pasangan dengan lainnya, memiliki waktu yang berbeda untuk melewatinya. 

Nah, kalo sebelas tahun, pasti udah lewat banget. Aku malah merasa, setelah kelahiran anak pertama, yang mana ketika usia pernikahan kami menjelang satu tahun, kami sudah melewati masa romantis dan masuk ke masa penuh konflik 😆. 

Duh, bentar banget ya ngrasain jadi pengantin baru 😂. Ya..ya.. kami memang terpaksa melewati dengan secepat kilat karena dua bulan setelah menikah, kami menjalani LDM (Long Distance Married). Berat? Ya gitu deh...

Kalo saat ini, mengingat konflik-konflik yang pernah terjadi, aku sudah bisa menertawakannya. Haha... padahal, saat mengalaminya, aku bisa nangis-nangis saking ga tahannya.

Ya, semua pasangan pasti punya konflik berbeda dengan cara penyelesaian yang berbeda pula. Alhamdulillah, masa-masa penuh konflik bisa kami lalui meskipun penuh air mata (buatku).

Sebelas tahun, sudah banyak sekali kejadian yang membuat kami lebih dewasa bersikap. Kami seperti bertransformasi menjadi sosok baru yang lebih baik. Kami saling berusaha untuk mempersempit jarak yang ada. Ya, menikah adalah menyatukan dua pribadi yang berbeda. Bertahun-tahun kami berusaha untuk saling memahami dan mempersempit perbedaan itu. 

Perbedaan pasti ada. Hingga saat ini, kami pun masih terus belajar untuk saling memahami. Cuma setelah sebelas tahun bersama, rasa kesel ketika ada perbedaan yang muncul, bisa kami hadapi dengan lebih santai.

Mungkin masa-masa romantis di awal menikah sudah tidak kami rasakan lagi. Mungkin perhatian-perhatian yang awalnya hanya untuk kami berdua, sudah harus terbagi dengan anak-anak. Tapi kami yakin, bahwa cinta kami sudah semakin dewasa. Selain sebagai sepasang kekasih, kami adalah sahabat yang saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Sebagai sahabat, kami sudah sampai pada tahap begitu nyaman untuk berbagi apa pun. Semoga kami akan selamanya saling memberi kenyamanan.

Hai, Mr Right...

Hari ini sebelas tahun yang lalu, kita mengikat janji yang disaksikan oleh seluruh penghuni langit.

Terima kasih atas sebelas tahun yang penuh warna.

Terima kasih sudah menerima dan memahami segala yang ada pada diriku.

Terima kasih sudah membuatku begitu nyaman.

Terima kasih sudah melindungiku selama ini.

Terima kasih, suamiku, ayah dari anak-anakku.

I love you more and more...


Merah Itu Aku

Jogja, 28 November 2020




Friday, November 27, 2020

Review Buku Kupilih Jalan Terindah Hidupku



Assalamualaikum 💕

Entahlah kenapa kalo mau nge-review buku jatuhnya pake nginep-nginep di draft 🤣🤣. Padahal begitu bukunya nyampe rumah langsung aja dibaca😆. Ataukah harus dibuat challenge menulis review buku di tahun 2021? Haha... kita nantikan saja 😁.

Buku ini udah lama banget pengen aku baca. Penulisnya Mba Ernawati Nandhifa. Aku kenal Mba Erna karena kami bareng di Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP). Secara diam-diam, aku sering baca setoran tulisannya 😁. Aku pun menjadi salah satu followers di akun instagramnya.

Awalnya, buku Kupilih Jalan Terindah Hidupku ini, aku pikir merupakan buku non-fiksi yang menceritakan perjalanan hidup Mba Erna. Makanya aku maju mundur mau beli, sejak terjadinya niat yang sudah lama, hingga eksekusi 😁. Aku anaknya suka yang fiksi-fiksi sebenernya 🤭.

Tersebutlah, di suatu hari, aku lihat postingan Mba Erna di ig yang memajang foto buku yang udah lama aku pengen baca itu. Langsung aku kirim pesan ke Mba Erna untuk menanyakan cara mendapatkan buku tersebut.

Tak perlu menunggu lama, buku tersebut sampai di tanganku. Waktu aku baca blurb di sampul belakang, aku terbelalak karena ternyata ini buku fiksi. Ya ampuuun.... tau gini kan aku ga perlu maju mundur untuk beli. Pasti aku ga akan pikir-pikir lagi buat memilikinya 😍😍.

Seperti cerita-cerita khas Mba Erna, buku ini menceritakan kehidupan suami istri millenial, dengan tingkat kesejahteraan menengah ke atas.

Buku ini menceritakan tentang Mia yang memutuskan untuk resign dari pekerjaannya karena lebih memilih untuk mengurus anak-anaknya di rumah.

Baru baca awalnya, sudah sanggup menarikku lebih dalam untuk membaca. Aku seperti bertemu diriku di masa lalu. Ketika resign, aku juga sedang 'lucu-lucunya' menancapkan cangkul untuk mendaki karier. Jetlag yang dialami Mia, mirip-mirip denganku. Bingung menghadapi anak-anak sendirian. Stress karena harus bersama anak kecil tanpa ada orang dewasa yang membantu.

Suami Mia yang seharusnya bisa membantu Mia, paling tidak bisa mengurangi rasa rindu bertemu orang dewasa lain, justru tidak bisa didapatkan. Karakter suami Mia, bener-bener membuatku emosi.

Salah satu adegan yang paling bikin aku pengen nguleg suami Mia adalah ketika dia pulang kerja dan mendapati rumah dalam keadaan berantakan, dia langsung marah-marah ke Mia. Memang sih aku juga kesel sama temen kantor suaminya yang ikut mempengaruhi pikirannya. Tapi ya, tapi... masa iya sih nuduh istrinya begitu aja. Mbok ya ditanya baik-baik dulu baru menilai. Iya ga sih?

Coba buibu, mana suaranya?

Bagaimana rasanya ketika kita sudah susah payah beresin rumah, eh, pas waktunya suami pulang, mendadak rumah menjadi seperti baru kena tornado?

Kan kesel ya... ditambah lagi, dengan suami yang maunya ketika dia pulang, rumah rapi, anak-anak wangi dan cakep-cakep, makanan tersedia di meja makan. Haha... itu tidak akan terjadi ketika ada anak-anak kecil di rumah, Pak.

Intinya adalah komunikasi. Jika komunikasi antara suami istri lancar, insya Allah hal-hal semacam itu tidak akan terjadi. Suami mengetahui kondisi istrinya, dan istri mengetahui keinginan suaminya.

Di dalam buku ini, aku bisa menemukan beberapa tips dalam mengurus rumah. Dan aku merasa ada temennya 😁.

Tips yang dibagikan di buku ini, beberapa sudah aku terapkan. Seperti cara menjemur baju, menyetrika, dan mencuci piring.

Tadinya, aku merasa bahwa apa yang aku lakukan itu ribet bagi orang lain. Aku paling ga bisa kalo jemur baju berantakan. Aku terbiasa mengelompokkan jemuran sesuai dengan jenis dan ukuran. Misal baju, ya aku sebelahin sama baju. Kaos dalem, aku jemur sebelahan sama kaos dalem. Pun ketika menyetrika. Aku akan mengelompokkan pakaian sebelum mulai menyetrika.

Melalui buku ini, aku jadi tau bahwa apa yang aku lakukan bukan sesuatu yang aneh. Bukan karena aku mengidap suatu kelainan. 

Mungkin, kadang memang aku agak keterlaluan ya dalam mengelompokkan pakaian-pakaian itu. Selain besar kecil, aku juga punya kecenderungan untuk mengelompokkannya berdasarkan warna. Kalo ada warna yang ga sesuai, aku sering kesel sendiri 😆😆.

Kehidupan yang Mia alami di dalam buku ini memang sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Setiap orang pasti punya medan perang masing-masing. Sebagai ibu pekerja atau ibu yang selalu mendampingi anak-anak di rumah, semuanya ingin memberikan yang terbaik bagi keluarganya.

Kadang, keriwehan justru datang dari luar. Iya, ketika kita sudah tenang di dalam, tak jarang ada keriwehan dari luar yang mengganggu perjalanan kita mendampingi keluarga.

Untuk kalimat-kalimat yang digunakan dalam buku ini, sangat mengalir dan mudah dipahami. Namun, ada satu kejadian yang sepertinya terlewat, pada halaman 103. Saat itu, Mia sedang telepon mamanya. Tiba-tiba ada kalimat yang menggambarkan kontak fisik Mia dan mamanya yaitu 'Mama mengelus pundak Mia'.

Semoga untuk cetakan berikutnya, bisa diperbaiki 😉.

Dari keseluruhan, aku suka cerita di buku ini. Dengan cerita dan bahasa yang ringan, Mba Erna berhasil memasukkan nilai-nilai perjuangan perempuan, kasah sayang ibu dan anak, nenek dan cucu, serta pentingnya komunikasi suami dan istri.

Bagi teman-teman yang galau, baik karena mau resign atau baru resign, buku ini pas banget untuk dibaca. Dari sini, teman-teman bisa sedikit banyak membayangkan situasi seperti apa yang kira-kira akan dihadapi setelah resign.

Tetap semangat semuanya... pilihan ada di tangan kita dan kita harus siap menghadapi segala resiko yang ada.


Judul Buku      : Kupilih Jalan Terindah Hidupku

Penulis Buku   : Ernawati Nandhifa

Penerbit       : Metagraf, Creative Imprint of Tiga Serangkai

Cetakan          : I, November 2018

Ketebalan       : 212

ISBN                 : 978-602-6328-75-5


Merah Itu Aku

Jogja, 27 November 2020

Thursday, November 26, 2020

Petualangan Wahana Banana Boat



Assalamualaikum 💕💕
Haiiii... akhir-akhir ini, hujan seringkali turun. Udara terasa dingin banget. Selain masalah cucian, aku pun mulai merasakan tidak enak pada tubuhku. Semoga semua tetap sehat ya...

Meskipun sudah memasuki musim penghujan, wahana-wahana di Transcity Harmoni tetap buka dan menyajikan petualangan-petualangan seru bagi pengunjungnya.

Hari Selasa kemarin, kami diajak jalan-jalan ke wahana Banana Boat. Di wahana tersebut, kami ditemani oleh Biyung Ratna Palupi sebagai tourguide. Biyung, I miss you...

Biyung mengajak kami untuk mengingat kembali CoC Ibu Profesional yang pernah didapatkan sebelumnya. Ya, CoC atau Code of Conduct Ibu Profesional memang selalu diberikan pada awal jenjang perkuliahan. Bahkan, ketika awal masuk keranjang komunitas, CoC ini juga diberikan. Kalau begitu, pastilah CoC ini sesuatu yang penting untuk selalu kita pegang dan jalankan.

CoC Ibu Profesional sejatinya dibuat untuk memuliakan semua member. Hal itu untuk mencegah terjadinya kesalahpahaman yang kadang terjadi dalam suatu komunitas. 

Setelah menikmati persembahan di Wahana Banana Boat, kami bertemu dengan misi kedua. Waaa.. apaan tuuuh? 

Jeng...jeng...jeng... ini misi kedua di wahana Banana Boat.




Adakah peran lain yang ingin dan/atau sedang kamu mainkan?
Untuk saat ini, aku memilih untuk mengambil peran sebagai mahasiswa saja.
Rasanya memang ingin mengambil peran lainnya. Hanya saja, saat ini aku sedang mendapat amanah di keranjang komunitas sebagai Manajer Aktivitas Regional. Aku khawatir jika terlalu banyak peran yang aku mainkan, membuatku tidak fokus dan justru malah mengabaikan kewajiban utamaku dalam mengurus keluarga.


Bagaimana saat kamu menjalankan peran tersebut?
Saat aku menjadi mahasiswa Bunda Cekatan nantinya, aku akan berusaha bersungguh-sungguh mengikuti perkuliahan dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan. Aku akan melakukannya karena merasa bahwa aku membutuhkan ilmu itu untuk kehidupan yang aku jalani saat ini. 
Tentu semua itu harus dilakukan dengan penuh kesadaran karena mengikuti perkuliahan Bunda Cekatan merupakan pilihan yang aku buat sendiri.

Aktivitas apa yang sedang/akan kamu lakukan untuk memegang prinsip CoC dan adab berkomunitas?
Aktif dalam mengikuti perkuliahan. Berusaha datang sebelum perkuliahan dimulai. Menjadi ember kosong yang siap menerima ilmu yang diberikan.

Bagaimana jika kamu menemukan teman komunitas yang tidak memegang prinsip dan adab berkomunitas?
Aku akan mengajaknya berbicara secara pribadi, untuk mengingatkan tentang CoC dan adab berkomunitas kepada yang bersangkutan.

Alhamdulillah sudah masuk misi kedua. Semoga aku diberi kelancaran dalam mengikuti kegiatan pra-BunCek 💪💪. Aamiin...



Merah Itu Aku
Jogja, 26 November 2020

Wednesday, November 25, 2020

Tips Membersihkan Cermin Kamar Mandi

Haiii... Assalamualaikum 💕

Udah lama banget pengen bagi tips-tips bebersihan begini. Cuma kok yang biasanya aku lakukan receh banget ya 🤭.

Nah, kebetulan banget, weekend kemaren, aku berhasil membersihkan cermin kamar mandi dengan sukses. Enggak sukses-sukses banget sih, karena masih ada sisa-sisa cipratan air yang belum menghilang dengan tuntas. Tapi, sejauh ini, aku merasa cukup puas.

Menyesal banget, aku enggak foto before dibersihkan. Karena awalnya, aku ga terlalu berharap akan berhasil. 

Jadi, perjalananku membersihkan cermin kamar mandi sudah berjalan cukup lama. Segala daya upaya sudah aku coba untuk menghilangkan bekas cipratan air yang makin lama makin menutup area cermin dan membuatnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Ya, separah itu sampe cerminnya buram banget dan ga bisa buat ngaca.

Hihi... idealnya, setiap hari cermin itu kita keringkan supaya tidak ada jejak-jejak cipratan air yang membekas dan semakin membandel. Tapi ya karena eh karena... jadinya emang jadi separah itu kondisi cermin kamar mandiku.

Beberapa cara yang aku dapatkan dari hasil browsing, sudah aku coba. Misalnya menggunakan pasta gigi, menggunakan baking soda, dan terakhir aku mencoba menggunakan face toner. Rasanya ingin aku ganti saja cermin di kamar mandi itu saking putus asanya 🤣.

Bagi manteman yang mengalami masalah serupa denganku, jangan khawatir, bimbang, atau pun galau. Ada kabar gembira bagi kita semua. Untuk membersihkan cermin dari sisa-sisa cipratan air yang menempel secara membandel, kita hanya membutuhkan sedikit bahan dan usaha. Tenang saja, bahan-bahan yang dibutuhkan pun ada di sekitar kita.

Sesungguhnya, formula ini digunakan untuk membersihkan aquarium yang kusam menjadi baru kembali. Karena sesama perkacaan, aku pun mencoba untuk membersihkan cermin.

Langsung saja ya aku bagikan tips membersihkan cermin dari sisa-sisa cipratan air.

Teman-teman siapkan bahan-bahan sebagai berikut:



1. Asam sitrat (sitrun).

2. Sabun cuci piring.

3. Deterjen bubuk.

4. Kawat pencuci piring.

Catatan: takaran suka-suka 😄


Yang selanjutnya teman-teman lakukan adalah::

1. Campur sitrun dengan air. Balurkan pada permukaan cermin. Diamkan selama 3-5 menit.

2. Campurkan deterjen bubuk dan sabun cuci piring. Aduk rata. Balurkan pada permukaan cermin. Diamkan selama 10 menit.

3. Gosok permukaan cermin menggunakan kawat pencuci piring secara merata. 

4. Bilas dengan air.

5. Jika masih kurang bersih, ulangi lagi mulai dari langkah pertama.

Cermin kembali kinclong


Alhamdulillah, kombinasi ketiga bahan itu sukses membuat cermin di kamar mandi dapat kembali menjalankan tugas sebagaimana mestinya. Ohiya, tips tambahan ya, untuk kawat pencuci piring, jangan diganti pake spons biasa. Karena ternyata kawat pencuci piring ini sangat ampuh membantu mengangkat sisa-sisa kerak yang membandel 😄.

Sebelumnya aku pake spons biasa, ternyata cerminnya masih buram aja.

Tips selanjutnya adalah, jaga cermin di kamar mandi untuk senantiasa kering. Rajin-rajinlah mengeringkan cermin setelah selesai menggunakan kamar mandi (ini tips juga buat diri sendiri 😁).

Semoga tips ini bermanfaat ya... bagi temen-temen yang menghadapi masalah yang serupa denganku, bisa mencoba tips ini.

Selamat bersih-bersih 💕💕💕


Merah Itu Aku

Jogja, 25 November 2020


Monday, November 23, 2020

Mencintai Diri



Dih, judulnya gitu amat, sih?

Mungkin begitulah yang terlintas di pikiran, ketika pertama kali membacanya. Oke.. oke.. sebenernya, akulah yang sempat berpikir demikian 😂.

Pertama kali aku berkenalan dengan mencintai diri sendiri, rasanya geli-geli gimanaaa... gitu. Semacam kurang kasih sayang dari orang lain, sampai harus mencintai diri sendiri. Menyedihkan sekali.

Please STOP! Jauhkan pikiran nyinyir itu dari dirimu, Laksmini 🧕.

Setelah mengikuti kelas Self Healing, aku baru mendapat pencerahan tentang mencintai diri sendiri.

Dari cerita beberapa teman yang sudah lebih dulu belajar tentang self healing, mencintai diri sendiri adalah salah satu cara untuk bisa mencintai orang lain. Jika kita sudah bisa mencintai diri sendiri, maka kita akan lebih mudah mencintai orang-orang di sekitar kita.

Akhir-akhir ini, aku sering sekali bersinggungan dengan materi self healing. Mungkin sekitar setahun belakangan ini. Aku merasa mendapat colekan mesra untuk melihat ke dalam diri sendiri. Sudahkan aku mencintai diri? Menerima diri?

Bulan lalu, materi self healing lebih santer lagi. Ternyata tanggal 10 Oktober merupakan hari kesehatan mental dunia. Beberapa kuliah dan event online bertemakan kesehatan mental pun banyak digelar.

Dua pekan yang lalu, aku mengikuti Jumagi via Zoom yang diselenggarakan oleh Gemar Rapi. Temanya adalah mengenal diri untuk dapat mencintai diri. Pas banget kan... Jumagi ini disampaiakan oleh Mba Diwien Hartono, seorang Holistic Healing Practitione.

Oh iya, seperti yang pernah aku ceritakan sebelumnya, Gemar Rapi Madya yang sedang aku ikuti, saat ini sedang mempelajari dan mempraktekkan ilmu menata jiwa. Jadi, yang kami lakukan adalah bagaimana cara menata jiwa. 

Mencintai diri ini, bisa aku bilang sebagai salah satu jalan untuk menata jiwa. Mencintai diri adalah mengenal diri kita sendiri dengan baik, kemudian menerima dengan ikhlas penuh kesadaran, segala kekurangan dan kelebihan yang ada dalam diri kita.

Mengenal diri tidak hanya dari kulitnya saja. Misal siapa nama kita, tinggal di mana, apa pekerjaannya. Akan tetapi, kita juga harus melihat ke dalam diri kita juga. 


Manusia terbentuk atas tiga hal, yaitu:

1. Diri sejati/ruh (sudah ada sebelum tubuh manusia terbentuk, dirawat oleh Tuhan)

2. Batin (pikiran dan perasaan).

3. Energi (dan tubuh)


Untuk mendapatkan sehat secara holistik, kita harus merawat diri secara menyeluruh. 


Saat itu, Mbak Diwien juga menyampaikan tentang teori sebab akibat penyakit:

1. Faktor primer. Berkaitan dengan batin.

2. Faktor sekunder. Berkaitan dengan diet, gaya hidup, alam, dan eksternal.


Dari penjelasannya, batin merupakan faktor penyebab yang sering menimbulkan penyakit. Oleh karena itu, jika kita sakit, coba lihat dulu ke dalam diri. Apa yang sedang kita pikirkan? Karena pengobatan secara fisik hanya akan mengobati gejalanya saja, jika penyebab sebenarnya berasal dari batin.

Beberapa orang mengalami peningkatan produksi asam lambung hingga mengalami GERD (Gastroesophageal Reflux Diseases) ketika sedang stres. Jika pengobatan hanya pada GERD saja, besar kemungkinan GERD itu akan kembali menyerang tak berapa lama berselang.

Untuk itu, selesaikan urusan batin dulu. Jika sudah selesai urusan batin, barulah obati gejala yang tampak.

Ada quote menarik dari Jumagi bersama Mbak Diwien saat itu:

Jadilah lentera yang menghangatkan dan menerangi diri sendiri dan orang sekitarnya. -Anonymous-

Maksudnya adalah, jangan mengorbankan diri sendiri untuk membahagiakan orang lain.


Merah Itu Aku

Jogja, 23 November 2020

 

 





Tuesday, November 17, 2020

Menghijaukan Halaman Rumah


Sekitar sebulan yang lalu, aku mendapat challenge dari seorang sahabat di Facebook. Bunyinya begini :

Tantangan buat posting tanaman 😆

Berhubung aku ga punya banyak tanaman dan ga begitu aktif di dunia per-facebook-an, akhirnya aku tidak langsung menerima tantangan tersebut 😆.

Beberapa hari setelahnya, aku dapet challenge serupa dari Mbak Luki di instagram. Aku pun belum tergerak untuk mengikuti challenge yang diberikan. Selain karena ga pede dengan tanaman yang aku miliki, aku juga masih mengikuti sarkat* saat itu. Jadi, feed intagram udah aku atur buat setoran sarkat dulu 🤭.

*sarkat (sarapan kata): tugas mengunggah cerita bersambung selama 30 hari, di antara pukul 7-10 pagi, di aplikasi menulis KBM app, dan selanjutnya harus di-posting di feed instagram. Sarkat ini merupakan salah satu syarat kelulusan Kelas Menulis Online (KMO). 

Tak lama berselang, aku dapet challenge yang sama dari Mbak Army, melalui instagram. Akhirnya, aku memutuskan untuk menerima challenge dari ketiganya sekaligus 😄. Alasannya, karena tugas sarkat sudah selesai dan aku khawatir dapet challenge serupa lagi. Dih geer 🤣🤣. Sebenernya, sebagai banci challenge, aku paling ga tahan kalo ga menerima challenge dari orang lain 😆.

Jadilah aku mulai mengikuti challenge di hari pertama dengan mengunggah foto tanaman soka. Setelah aku hitung, tenyata jumlah tanaman yang aku miliki cuma sembilan 😄. Sementara itu, tantangan ini berlangsung selama sepuluh hari, dengan sepuluh tanaman. Sungguh aku begitu total mengikuti tantangan ini 🤣. Tapi ga apa-apa kan? Ini juga demi menghijaukan halaman rumah 🤭.

Hari-hari setelahnya, aku selalu menantikan tukang tanaman lewat depan rumah. Seperti yang sudah-sudah, ketika kita tunggu, dia tidak datang 😄. Aku pun gemas dan mulai browsing untuk mencari penjual tanaman yang ada di dekat rumah. Sepertinya, dunia sedang berpihak kepadaku. Jari jemariku menuntunku pada akun penjual kaktus yang hanya berjarak kurang dari 5 menit perjalanan dari rumah 😍😍.

Sehari sebelum challenge berakhir, aku mendatangi tetanggaku yang jualan kaktus. Di sana, aku nyaris kalap belanja. Alhamdulillah kemaren naik motor, jadinya agak memperhitungkan kemampuan mengangkut tanaman 🤭. Hari itu, aku membawa pulang tiga pot tanaman dari Tuskaktus (nama tokonya).

Salah satu tanaman yang aku bawa pulang

Sepulang dari belanja di Tuskaktus, penjual tanaman yang aku nantikan sejak seminggu yang lalu, datang juga lewat depan rumahku 🤣🤣. Kesel banget kan yaaa... 😌

Apakah aku membiarkannya lewat begitu saja? Tentu tidak, Mantili... aku langsung mencegatnya dan berbelanja tanaman lagi, sebanyak tiga pot 😄😄. 

Semua tanaman yang aku beli, insya Allah mempunyai kemampuan bertahan hidup yang cukup tinggi. Berdasarkan penjelasan penjualnya ya.. dan aku percaya 😂. Tapi, kalo diliat dari bentuknya memang tampak kuat dan mudah perawatannya sih. Semoga mereka tetap survive setelah berada di dalam dekapanku 😘😘.

Terima kasih kepada teman-teman yang sudah memberikan challenge ini kepadaku. Terima kasih juga kepada siapa pun yang pertama kali memiliki ide untuk membuat challenge ini. Semoga kesukaanku pada tanaman tidak hanya saat ada challenge saja. Doakan agar aku bisa lebih menghijaukan pekarangan rumah yang cuma seuprit ini 😁.


Happy planting

Happy gardening

Happy greening (oposeh? 😂)


Merah Itu Aku

Jogja, 17 November 2020

Friday, November 13, 2020

Wahana Perahu Kano

Assalamualaikum,

Hai..hai...

Beberapa saat yang lalu, kami diundang menjadi wisatawan di Transcity Harmony. Tiket masuknya adalah penjurusan yang kami lakukan di bulan Agustus.

Apa sih Transcity itu?

Jadi, seperti yang bisa kita tebak dari namanya, Transcity adalah tempat singgah atau transit (duh, eijk maksa banget ga sih? 😄). Wisatawan yang transit di Trancity Harmoni adalah mahasiswi institut Ibu Profesional yang sedang cuti kuliah atau sedang menunggu perkuliahan selanjutnya.

Kalau aku, menjadi wisatawan di Transcity karena sedang menunggu perkuliahan Bunda Cekatan. Aku dan teman-teman yang sedang menunggu kuliah Bunda Cekatan dijamu di Hotel Asyik. 

Tiket masuk Hotel Asyik

Ada tiga hotel lain, yaitu Hotel Bahagia (untuk mahasiswi yang menanti Matrikulasi), Hotel Mentari (untuk mahasiswi yang sedang menanti kuliah Bunda Sayang), dan Hotel Cemerlang (untuk mahasiswi yang sedang menanti kuliah Bunda Produktif).

Beberapa malam yang lalu, ada Wahana Perahu Kano di Balai Kota. Kami semua, para wisatawan di Transcity, diberi tiket gratis untuk masuk ke sana 😍.



Sepertinya, masa menunggu perkuliahan akan sangat seru. Ada banyak keseruan yang ditawarkan. Selain fasilitas hotel yang menyenangkan, kami juga dimanjakan dengan berbagai makanan enak dan pemandangan yang menarik.

Saat ini, kami diajak untuk menyusuri pantai menggunakan perahu kano, menuju perkuliahan Bunda Cekatan. Aku bertanya-tanya kepada diri sendiri, alasan apa yang mendorongku berkeinginan untuk mengikuti perkuliahan Bunda Cekatan.

Setelah lulus dari Bunda Sayang, aku memilih untuk beristirahat dengan mengambil keranjang komunitas saja, tanpa memilih institut. Kala itu, aku memang ingin fokus ke satu keranjang saja. Qodarullah, pembukaan kuliah Bunda Cekatan batch ke-2 belum dilakukan pada setengah tahun lalu. 

Ketika ada penjurusan lagi, aku memantapkan diri untuk memilih keranjang institut dengan tetap mengikuti kegiatan komunitas. Berdasarkan informasi dari seorang teman, perkuliahan Bunda Cekatan batch ke-2 akan dibuka tahun depan. Aku seperti mendapat petunjuk agar tidak berlama-lama beristirahat. 

Alasan terkuat kenapa aku memilih untuk melanjutkan kuliah di Bunda Cekatan karena aku ingin memantaskan diri sebagai perempuan. Kalau dari namanya, mungkin kami akan mendapatkan ilmu bagaimana menjadi Bunda yang cekatan. 

Cekatan dalam hal apa? Belum tau 😁. Kalau tebakan aku, setelah di Bunda Sayang, kami belajar tentang menghandle keluarga, maka di Bunda Cekatan, kami akan belajar mengenali potensi diri, untuk persiapan mengambil peran di luar rumah, tanpa mengabaikan peran sebagai ibu dan istri di rumah.

Nothing to lose sih sebenernya. Maksudnya, kalaupun bukan itu yang akan aku pelajari di Bunda Cekatan, aku tetap akan belajar sampai akhir. Karena aku yakin, setiap ilmu pasti ada manfaatnya. 


Merah Itu Aku

Jogja, 13 November 2020



Tuesday, November 10, 2020

Tempat Tissue Kering dan Basah




Hai...

Assalamualaikum,

Siapa yang udah kangen dengan tutorial DIY? 😁😁

Setelah mengumpulkan niat dan semangat yang sempat tercecer dan terserak, akhirnya aku bikin tutorial juga. 

Kali ini aku mau kasih tutorial pembuatan tempat tisu kering dan basah. Dulu... dulu banget, aku udah pernah bikin yang serupa. Kali ini, aku bikin yang new version dengan kain kanvas dan beberapa perbaikan biar lebih kece dan mantep 😌. 

Baiklah... mari kita mulai saja sebelum aku semakin memuji-muji diri sendiri, eh, maksudnya memuji-muji tempat tisu buatanku 😆.

Semoga mudah dipahami dan bermanfaat ya 🥰🥰

Oh iya, mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa ga bikin 3 in 1 (dengan tambahan tempat handsanitizer) kayak yang lagi hits itu? Jawabannya adalah engga pengen aja sih 😂. Kalo kalian mau nambahin kantong buat botol handsanitizer, silakan 😁.

Oke... berikut adalah langkah-langkah pembuatan tempat tisu 2 in 1.


Langkah 1.

Mari kita ucapkan niat supaya diberi kelancaran dalam membuat tempat tisu ini.


Langkah 2.

Siapkan alat dan bahan.


1. Kain kanvas ukuran 22 cm x 45 cm

2. Kain blacu ukuran 22 cm x 10 cm

3. Kain blacu ukuran 22 cm x 8 cm

4. Kancing

5. Karet

6. Tutup tisu basah

7. Lem tembak

8. Gunting dan alat jahit 


Langkah 3.

Lubangi kain kanvas (lihat gambar). Ukuran yang disesuaikan dengan tutup tisu basah. Kemudian jahit keliling lubang supaya rapi


Langkah 4.

Jahit bagian tepi kain kanvas dekat lubang yang telah dijahit pada langkah 3.



Langkah 5.

Satukan kain blacu, beri lubang di tengah.



Langkah 6.

Lipat kain kanvas yang berlubang ke arah tengah. Sisi baik berada di dalam. Jahit bagian kanan dan kiri hingga membentuk kantong.



Langkah 7.

Satukan kain blacu dengan kain kanvas. Sisi baik berada di dalam. Sisipkan karet di bagian tengah.

Jahit kanan dan kiri hingga membentuk kantong.


Langkah 8.

Balik kain hingga sisi baik berada di luar.



Langkah 9.

Jahit kancing kemudian tempelkan tutup tisu basah menggunakan lem tembak. 

Supaya lebih cantik, tempelkan kain kanvas pada tutup tisu basah.






Langkah 10.

Masukkan tisu kering dan tisu basah. Tempat tisu 2 in 1 siap diajak jalan-jalan 😁


Alasan kenapa aku pake kombinasi kain blacu adalah karena aku terkendala untuk mengepaskan motif di bagian dalam. Kalo motifnya aman, bisa menggunakan kain kanvas dengan motif yang sama.


Silakan bertanya jika ada langkah yang belum jelas.

Happy crafting 💕


Merah Itu Aku

Jogja, 10 November 2020



Thursday, November 5, 2020

Habit Tracker

Hai ... hai ...

Assalamualaikum,

Sejak bulan Oktober, aku mulai kelas Gemari Madya #2. Kelas yang udah aku tunggu pembukaannya sejak setaun yang lalu. Eh, malah lebih ya ....

Materi pertama dari Gemari Madya adalah menata jiwa. Pas banget nih ya buat mengurangi berbagai clutter jiwa yang mengganggu.

Banyak hal baru yang aku dapat dari kelas menata jiwa. Pada awal kelas, aku diperkenalkan dengan Brain Dumping. Sebenernya banyak istilah yang dipake untuk menamai kegiatan itu.

Brain dumping adalah suatu cara menuliskan semua yang kita rasakan, kita alami, dan kita rencanakan. Tuliskan semuanya. Setelah itu, kita kelompokkan ke dalam kelompok-kelompok tertentu. Hal ini penting untuk mengenali apa yang ada dalam pikiran dan perasaan kita.

Brain dumping, bisa dilakukan secara berkala untuk membawa beban jiwa ke level sadar, agar dapat kita regulasi dan tidak menjadikan kita overwhelmed. Aku langsung memasukkan brain dumping ke dalam salah satu agenda rutinku 😁.

Salah satu tugas di kelas Gemari Madya adalah membuat habit tracker. Satu habit saja untuk dilakukan selama empat belas hari. Setelah itu, boleh ditambahkan habit baru, dengan tetap meneruskan habit sebelumnya.

Mengenai habit trakcer, sebenernya aku sudah lama melakukannya. Sebelumnya, aku menuliskan habit tracker dengan banyak habit langsung. Yang terjadi, kadang aku jadi kurang fokus melakukan karena saking banyaknya habit yang mesti aku tracking. Akhirnya banyak yang bolong 😆

Bersama kelas Gemari Madya, aku mulai dari awal, dengan mentracker satu habit saja. Memang yang aku rasakan jadi lebih fokus dalam melakukannya. Semoga istiqomah.

Habit tracker bulan Oktober 2020


Habit pertama yang aku lakukan adalah membaca buku minimal sepuluh halaman sehari. Buku non-fiksi ya, Gengs. Soalnya aku masih mengalami kesulitan dalam membaca buku bergenre ini.

Dan ternyata, sejak bulan Oktober, KLIP bikin reading tracker lho. Kan aku jadi semakin semangat baca😁. Kalo reading tracker KLIP, membaca selama 15 menit. Hwaaa... berita baiknya, aku bisa baca lebih dari sepuluh halaman tiap hari 😍😍.

Setelah habit pertama dilakukan selama 14 hari, aku menambah satu habit baru, yaitu workout minimal 10 menit tiap hari. Walaupun pada kenyataannya, bisa lebih dari 10 menit 😂. 

Habit tracker bulan November 2020

Selain menuliskan habit, aku juga menuliskan perasaan dan kondisi tubuh. Dengan mengisi tracker ini, aku semakin mengenal emosi yang berkecamuk di dalam jiwa. Tsah 😆.

Setiap hari, ada form yang harus diisi untuk menyetorkan habit. Hihi... kalo udah begini, tingkat kerajinanku akan meningkat berkali-kali lipat 🤣🤣. Padahal dulu pernah bikin mood tracker tapi banyak bolongnya karena ga harus laporan 🤭.

Untuk template habit tracker ini, sebenernya sudah disediakan oleh tim Gemari Madya. Tapi mereka membebaskan kami untuk menuliskan dengan cara yang paling kami suka. Aku pun memilih membuat sendiri 😁.

Semoga aku semakin rajin, semangat, dan istiqomah dalam melakukan habit-habit baik 💕💕.



Merah Itu Aku

Jogja, 5 November 2020



Wednesday, November 4, 2020

Berkunjung ke Desa Wisata Nglinggo



Hari Kamis kemaren, kami mengunjungi Desa Wisata Nglinggo di Kulon Progo. Acara sebenernya adalah nemenin Mr. Right ngliat lokasi yang mau dibikin jalan. Ya udahlah, daripada anak-anak nge-game dan nonton tivi melulu di rumah, akhirnya kami ikutan.

Karena hari libur, jadi kami ga ngrasa bersalah juga ngintilin sesebapak kerja 🤣. Eh, tapi kan emang diajak ya 😁.

Kami berangkat dari rumah sekitar jam 9 pagi. Ga menyengajakan buat mruput juga. Pokoknya santuy banget lah.

Perjalanan ke Desa Wisata Nglinggo dari rumah, tidak sampai 1 jam. Jalanan menuju ke sana lumayan bikin degdegan karena menanjak dan berliku. 

Kami semua baru pernah berwisata setelah pandemi. Lumayan khawatir juga karena libur panjang, lokasi wisata bakalan ramai. Alhamdulillah, lokasi wisata ga begitu ramai. 

Kami menuju ke kebun teh yang lumayan luas. Dari tempat parkir, kami berjalan kaki dengan jalan yang menanjak. Semakin merasa sudah berumur dan kurang olah raga karena napas jadi ngos-ngosan.

Kami sempet foto-foto sebentar di kebun teh. Sekalian mengatur napas dan mempersiapkan diri manjat lagi ke gardu pandang.

Foto di kebun teh tingkat pertama

Selanjutnya, kami meneruskan perjalanan menuju gardu pandang. Nampaknya desa wisata ini baru dibuka karena jalan menuju gardu pandang masih dalam pembangunan. 

Sebelum naik, kami mampir ke area kemping. Kurang tau juga sih, lokasi ini beneran untuk kemping atau properti foto aja. 

Camping area

Di area kemping ini, ada beberapa ayunan dan spot foto. Sebenernya ada tempat api unggun di tengah hamparan batu putih pada foto di atas. Tapi ternyata ga kefoto 🙈.

Salah satu ayunan di camping area 


Salah satu spot foto di camping area


Awalnya aku ragu buat manjat ke gardu pandang. Ngliat gardu dari bawah, udah bikin jiper duluan. Tapi tanggung ya, udah sampe sini kok ga naik. Akhirnya memantapkan diri buat naik.

Jalan menuju gardu pandang ada 2. Semuanya melewati tangga yang banyak. Jalan yang satu sudah jadi, sedangkan jalan satunya masih dalam tahap pembangunan. 

Kami naik melalui tangga yang belum jadi. Bukannya sengaja, tetapi karena salah jalan 😆. Aku pun kembali galau. Berdasarkan info dari Pak Tukang yang sedang bikin tangga, gardu pandang udah deket. Ya sudahlah, kami pun melanjutkan perjalanan kembali melalui jalan yang masih berupa tanah dan membelah semak-semak.

Tangga naik masih dalam pembangunan


Akhirnya kami sampai juga ke gardu pandang 😍😍

Gardu pandang Nglinggo, baru diresmikan tahun 2019

Foto di gardu pandang


Setelah puas foto-foto dan menikmati pemandangan dari gardu pandang, kami turun. Jalan yang kami lalui lebih manusiawi karena tangga sudah jadi. Tapi tetep ga berani jalan cepet 😆.

Penampakan gardu pandang dari bawah

Waktu udah di bawah dan ngliat gardu pandang begitu kecil, aku terharu banget karena berhasil naik ke atas bareng anak-anak 😍😍.

Sampe bawah, anak-anak menagih janji untuk ditraktir mie instan cup 😂. Anak-anak memang jarang banget makan mie instan. Jadi, aku dan Mr. Right membuatnya sebagai rewards karena mereka berhasil naik ke gardu pandang 😌

Di dekat tempat parkir, tersedia banyak warung makan berupa gubugan-gubugan makan lesehan. Jadi, kami bisa pilih tempat yang sekiranya lapang. Alhamdulillah, kami dapet tempat yang kosong 😁.

Rata-rata gubugan makan, menyediakan meja kecil tiga buah. Masing-masing bisa lah untuk 2 orang dewasa. 

Kami makan di sini

Nyicipin teh sangrai petani Nglinggo, dengan gula aren 💕



Spot foto di dekat tempat makan


Spot foto di dekat tempat makan

Setelah bersitirahat, makan, dan foto-foto, kami meninggalkan desa wisata Nglinggo. Kami melanjutkan perjalanan menjelajahi Kulon Progo. Melewati beberapa tempat wisata dan hutan pinus. Tapi lewat doang ya. Insya allah, kapan-kapan main ke situ 😁.

Desa wisata Nglinggo dapat menjadi salah satu tujuan wisata keluarga. Udara khas pegunungan dan hamparan kebun teh, bisa menyegarkan pikiran 🤗.


Desa Wisata Nglinggo

Lokasi:
Nglinggo Barat, Pagerharjo, Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta 55673

Tiket masuk:
Gerbang masuk: Rp. 6.000,-/ orang dewasa
Gardu pandang: Rp. 5.000,-/ orang dewasa


Merah Itu Aku

Jogja, 4 November 2020