Thursday, March 7, 2019

Handmade Artisan Soap

Artisan soap ini lagi hits banget di timeline ig aku. Setelah aku googling, ternyata udah lama juga muncul artisan soap. Aku aja yang baru tauπŸ˜†
Awal ngliat artisan soap, aku ga tau kalo itu sabun. Soalnya bentuknya lucu-lucu banget. Ada yang kayak kueh, es krim, agar-agar. Pokoknya yummy banget lah😌. Dan menurutku terlalu sayang untuk dipakeπŸ˜„.

Artisan soap yang aku tau, biasanya handmade dan menggunakan bahan-bahan natural. Trus harganya mahal.
Siapa menyangka dibalik kelucuannya itu, ternyata handmade artisan soap ini punya banyak keunggulan. Dengan menggunakan bahan-bahan natural, sabun ini lebih aman untuk kulit sensitif, lebih sehat untuk menjaga kelembapan kulit, dan ramah lingkungan.

Hari ini aku mengikuti workshop soap crafting (pembuatan handmade artisan soap😍😍😍) yang diadakan rumah belajar crafting IIP Jogja. Seru banget acaranya. Kami diajari dan praktek langsung membuat sabun lucu yang lagi hits itu. 


Ini handmade artisan soap buatan kelompok kami😍
Hasilnya belum sempurna karena ternyata tidak mudah bikinnya. Tapi aku sukaaaa... Kami bisa mencampur dengan bahan-bahan tambahan yang kita inginkan. Tadi kami memilih bubuk kopi, bubuk kayu manis, dan bubuk kunyit sebagai tambahan. Sabun ini baru bisa dipakai mandi, setelah 4 minggu. Kalo enak dipake buat mandi, aku mau bikin lagi ah😁.

Merah Itu Aku
Jogja, 7 Maret 2019
Continue reading Handmade Artisan Soap

Wednesday, March 6, 2019

Clutter

Clutter merupakan kata benda, diambil dari bahasa Inggris yang artinya kebisingan; kekacauan; kekusutan; keributan. Jika aku diterjemahkan secara bebas dalam bahasa berbenah, clutter aku artikan sebagai benda-benda yang tidak jelas fungsinya berada dalam rumah, yang jika benda tersebut tidak ada, hidup kita sebenarnya masih tetap baik-baik saja. Atau benda itu bermanfaat, tapi ketika kita cari, benda itu tidak tau di mana, atau bahkan kita lupa memilikinya, akhirnya kita beli lagi saat membutuhkannya.

Usaha menghilangkan clutter di rumah atau yang disebut declutter dapat diawali dengan mencari tahu penyebab clutter. Aku melibatkan Mr. Right dan anak-anak besar untuk mengidentifikasi penyebab dan dampak clutter di rumah.

List penyebab dan dampak clutter di rumah:

1. 
Penyebab: aku penimbun karton dan botol bekas yang berdalih suatu saat benda-benda tersebut akan berguna
Dampak: terjadi penumpukan kardus dan botol bekas di beberapa titik di rumah

2.
Penyebab: aku pengkoleksi kain flanel, kain perca, benang, dan bahan craft lain
Dampak: meskipun sudah ada craft corner, nyatanya masih banyak bahan craft yang bergeletakan karena storage ga muat.πŸ˜“πŸ˜“

3.Penyebab: aku berpikir bahwa baju kakak pertama bisa diturunkan hingga adek terakhir. Mereka semua cowo yekan?πŸ˜†πŸ˜†
Dampak: lemari kak Athar penuh karena dapet hibah dari kak Zidan, sedangkan baju-baju dia yang kekecilan belum pindah ke lemari dek Lou karena jarak mereka terlalu jauh.

4.Penyebab: Mr. Right baru setahun ini tinggal bersama kami setelah LDM 8 tahun. Jadi barang-barang pindahannya masih ada yang belum punya tempat saking banyaknya.
Dampak: ada 2 box kontainer yang teronggok manis di pojokan ruang tamu karena ga punya tempat buat nyimpen barang-barang itu

5.Penyebab: Mr. Right sangat mudah tergoda belanja karena ingin bukan butuh
Dampak: meskipun udah banyak yang dikasihkan ke orang, barang-barang dia ga pernah berkurang. Ajaib banget dah😌

6.
Penyebab: anak-anak suka koleksi kertas yang berisi gambar buatan mereka
Dampak: storage khusus buat nyimpen koleksi mereka sudah penuh saking hobinya gambar dan koleksi (ga boleh dibuang). Akhirnya di setiap sudut rumah bisa ditemukan kertas berisi gambar yang mereka bikin. Udah lumayan banyak yang aku buang-buang. Tapi jumlahnya masih menakjubkan saja.

7.Penyebab: anak-anak terlalu mencintai mainannya
Dampak: mainan yang udah rusak-rusak tetep ga boleh dibuang. Kotak mainan udah ga muat menampung. Tiap laci ada mainan yang tergeletak. Dan mereka pun kesulitan mencari mainannya.

8.
Penyebab: para lelaki hobi sekali meletakkan barang-barang tidak pada tempat semula
Dampak: seringkali kesulitan mencari barang. Yang bisa berakhir dengan membeli lagi barang yang samaπŸ˜’πŸ˜’πŸ˜’πŸ˜’

Huhu...list nya kok panjang ya.. jadi ketauan deh rumahnya mirip-mirip gudangπŸ˜†πŸ˜†.

Dalam 5 - 10 tahun mendatang, aku ingin menjadikan rumah kami menjadi hunian yang :
1. Rapi dan teratur. Agar kami tidak kesulitan dalam menemukan barang di dalam rumah.

2. Aman dan nyaman. Agar tidak terjadi kecelakaan menginjak mainan atau tersandung tumpukan barang yang tidak jelas. Kami pun merasa nyaman berada di rumah.

3. Sehat dan bersih. Ingin sekali mengucapkan selamat tinggal onggokan barang-barang unfaedah yang bisa menjadi sarang hewan-hewan yang tidak diinginkan kehadirannya di dalam rumah. Ingin menjadikan rumah sebagai obat stress setelah seharian beraktivitas di luar.

4. Alami dan berkelanjutan. Ingin menjadikan gemar rapi sebagai gaya hidup sehingga menjaga kerapian rumah bukanlah suatu beban.

Hal yang memotivasi aku untuk bergaya hidup gemar rapi:
1. Aku ingin memberikan suasana rumah yang selalu dirindukan untuk pulang.
2. Aku ingin memiliki tempat yang nyaman untuk berkreasi.
3. Aku ingin anak-anak tumbuh sehat di rumah yang sehat.

Semoga kami bisa menata rumah seperti yang kami impikan. Aamiin😍😍😍

Merah Itu Aku
Jogja, 6 Maret 2019



Continue reading Clutter

Tuesday, March 5, 2019

Eyang dan Cucu

Ini cerita tentang hubungan cucu (anak-anakku) dengan eyangnya (orang tuaku). Mereka emang begitu akrabπŸ˜„. Kalo udah ketemu, ada aja cerita yang bisa mereka bagikan. Anak-anakku emang ceriwis ke eyangnya.

Aku teringat bagaimana pesan eyang wannabe saat aku hamil Zidan, 9 tahun yang lalu. Beliau berpesan bahwa sebaik-baik pengasuhan anak-anak adalah dilakukan oleh orang tuanya. Sebisa mungkin jangan terlalu sering berada di dekat eyangnya apalagi dalam kurun waktu yang panjang dan lama. Bukan karena eyangnya ga mau deket-deket sama cucunya. Justru sebaliknya. Begitu besar rasa sayang mereka ke cucu-cucunya dikhawatirkan justru membuat cucu-cucu menjadi manja. Dan akan ada pola asuh yang sangat dimungkinkan berbeda antara kami (aku dan Mr. Right) dengan eyangnya, yang dapat membuat mereka bingung.

Mungkin ada orang tua yang terpaksa mengandalkan eyang dari anak-anaknya untuk menjaga sementara waktu. Hidup adalah pilihan. Dan setiap pilihan pasti sudah dipikirkan baik dan buruknya.

Merah Itu Aku
Jogja, 5 Maret 2019
Continue reading Eyang dan Cucu

Monday, March 4, 2019

Ujian

Hari ini Kakak Zidan mulai ujian tulis tengah semester. Dan sebagai ibu, ternyata aku lebih heboh dari anaknya. Dari yang mencari bahan ujian, sampai berusaha memastikan kalo kakak bener-bener udah paham. Lebih degdegan dan grogi dibandingkan dengan yang menjalani ujian. Yang ujian santaiiii... Kakak Zidan memang baru kelas 2 SD. Apakah itu wajar, pemirsah?

Dulu, waktu belum punya anak SD, aku selalu heran ngliat emak-emak yang heboh tiap anaknya ujian. Dih..lebay..πŸ˜†. Dan sekarang, mungkin aku lebih lebay dari emak-emak itu. Rasain😌😌

Selamat mendampingi anak-anak yang lagi musim ujian ya, buibu... Jaga kesehatan, makan yang teratur buat ibu dan anaknya😘😘😘

Merah Itu Aku
Jogja, 4 Maret 2019
Continue reading Ujian

Sunday, March 3, 2019

Sepi

Aku suka sepi, jauh dari keramaian. Mungkin karena aku berasal dari keluarga yang sedikit bicara dan lebih banyak bertindak. Ibu yang identik dengan kebawelan pun ga aku lihat dari ibuku. Memang lebih sering berbicara dibanding bapak, tapi tidak cukup banyak untuk bisa dikatakan cerewet. Apalagi bapak yang jarang bicara jika tidak perlu-perlu amat. Bapak lebih banyak bergerak untuk ini itu. Dari pada nyuruh orang, beliau lebih suka mengerjakan sendiri. Dalam diam tentu saja.

Menyukai sepi bukan berarti aku anti sosial. Aku tetap menyukai berkumpul bersama teman-teman maupun menyambut kedatangan saudara-saudara di rumah. Apalagi sebenernya dengan tiga anak saja sudah cukup rame sih rumah kami. Menyepi seperti untuk menemukan kedamaian πŸ˜€πŸ˜€.

Waktu aku resign dan ditawari untuk tetap tinggal di Jakarta, Jogja, atau Cilacap, tanpa ragu-ragu aku pilih Jogja. Jauh dari keramaian ibu kota, dan jauh dari kebisingan suara-suara yang tidak perlu.

Meskipun suka sepi, aku bukan seperti ibuku yang tak pernah bersuara menggelegar di rumah. Mungkin karena ibu seorang guru yang kebutuhan pengeluaran ribuan kata per hari sudah terpenuhi di sekolah. Sedangkan aku, memenuhi kebutuhan ribuan kata dengan lumayan bawel ke anak-anak, dan menulis. Intonasi suara pun kerap kali meninggi untuk mengimbangi kegaduhan di rumah.

Saat malam tiba dan sudah sepi, kerap kali penyesalan datang kenapa aku masih saja belum bisa menahan diri untuk tidak berteriak. Menyesal dalam sepi. Dan aku masih menyukai sepi.

Merah Itu Aku
Jogja, 3 Maret 2019


Continue reading Sepi

Saturday, March 2, 2019

Takut

Beberapa minggu ini, anak-anak besar bertingkah luar biasa menguji kesabaran. Biasanya juga sih. Cuma yang terakhir benar-benar di luar nalar.

Mereka jadi lebih penakut dari biasanya. Ke kamar, ke dapur, ke belakang, jalan ke kulkas, minta ditemenin. Kan bikin gregetan. Kayak rumahnya segede-gede apaan. Orang dari depan tv aja udah bisa ngliat sebagian besar ruangan di rumah. Duh, si emak bener-bener dibikin emosi jiwa.

Gara-garanya tuh mereka lagi demen-demennya cerita horor-horor gitu sama temen-temennya. Ya kalo mereka jadi berani sih ga papa. Lha ini kalo cerita sama temen-temennya semangat banget. Begitu pulang ke rumah, udah kayak rombongan aja ke sana ke mari bareng-bareng. Kan ngeselin.

Waktu aku masih kecil, aku juga penakut. Tapi ga sok-sokan cerita-cerita horor sama temen-temen.
Dan seingetku, meskipun aku penakut dan kalo malem-malem pengin ke kamar mandi selalu minta ditemenin, orang tuaku ga pernah lho marah-marahin aku. Setelah segede juga berani-berani aja kok aku😁
Kalo menurut Mr. Right, itu karena aku perempuan. Lha anak-anak besar ini kan laki-laki, masa penakut... Jadi emang harus diomongin dengan keras dan tegas. Gender banget ya..

Entah sampe kapan masa-masa mereka takut akan berakhir. Dan entah harus bagaimana caranya bikin mereka jadi berani. Apakah dengan bertambahnya usia mereka akan menjadi pemberani? Atau tuntutan kehidupan yang akan menuntun mereka ke jalan keberanian? Kita tunggu saja beberapa tahun lagiπŸ˜‹πŸ˜‹

Merah Itu Aku
Jogja, 2 Maret 2019


Continue reading Takut

Friday, March 1, 2019

Lulus Home Educator

Hari ini pengumuman kelulusan kuliah Home Educator. Setelah mengikuti 4 pekan perkuliahan dengan 4 materi dan 4 tugas, akhirnya aku dinyatakan lulus. AlhamdulillahπŸ’•πŸ’•πŸ’•

Masih banyak yang harus diperbaiki. Berusaha berkomitmen dan terus praktek. Aku masih terseok-seok dan tertatih-tatih jadi home educator. Kurang sabar aku tu orangnya. Harus banyak belajar lagi.

Bismillah... ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan. Semoga tetap berkomitmen menyusun kurikulum untuk anak-anak😍😍😍.

Merah Itu Aku
Jogja, 1 Maret 2019
Continue reading Lulus Home Educator