Monday, March 16, 2026

Langit Mengambil: Novel Karya Ika Natassa Terfavorit

Aku menobatkan Langit Mengambil sebagai novel karya Ika Natassa terfavorit. Ceritanya tidak seperti karya-karya Ika Natassa yang pernah aku baca sebelumnya.

Aku menjadi penggemar Ika Natassa setelah membaca The Architecture of Love. Cerita yang ditulisnya romantis, tapi nggak kekanak-kanakan. Menghadapi masalah pelik, tapi unik.

Penyelesaian konflik yang sesuai dengan harapanku, tapi ada juga yang cukup menggangguku. Yah, meski pada akhirnya, aku setuju dengan keputusan para tokoh.

Aku suka dengan paduan kata-kata yang dirangkainya menjadi kalimat yang cantik. Menghanyutkan perasaan. Membuat ikut merasakan sedih dan bahagia.


Sebagai pengikut Ika Natassa di Instagram, jujur saja, aku merasa kecolongan. Bagaimana bisa, aku ketinggalan info launching buku Langit Mengambil, padahal sudah dispill sejak awal-tengah tahun lalu. Hah? Bagaimana mungkin? 🥲


Akhir tahun 2024, aku ikut PO Satine. Setelahnya, karya terbaru Ika Natassa tidak sekalipun muncul di beranda Instagramku.

Aku baru mengetahui hadirnya buku ini karena terpajang di Gramedia salah satu mall di dekat rumah. Tanpa perlu membaca blurb pada sampul belakang buku, aku langsung mengambilnya.





Langit Mengambil

Ika Natassa

PT. Gramedia Pustaka Utama, Januari 2026

336 hlm


Tara, seorang jurnalis, menikah dengan Raka, dokter spesialis anak. Sebuah tragedi merenggut paksa impian mereka untuk memiliki anak. Rahim Tara harus diangkat. Dia merasa sudah tidak utuh lagi sebagai perempuan.

Kehidupan setelahnya, tidak pernah sama bagi Tara, juga untuk Raka.

Segala bentuk pura-pura dilakukan Tara untuk menutupi luka yang tidak akan pernah sembuh.


Sewaktu membaca blurb, aku membayangkan bagaimana konflik di dalam buku ini. Seperti novel Ika Natassa sebelumnya, akan ada ketegangan dalam hubungan Tara dan Raka. Ternyata, ketegangan yang ada dalam Langit Mengambil begitu dalam dan gelap. 


Di awal membaca novel ini, aku senyum-senyum mengikuti keromantisan Tara dan Raka. Menuju tengah cerita, aku berkali-kali menahan tangis. Ikut terhanyut dalam rasa yang dialami keduanya. Bagaimana cara Tara menghadapi traumanya, bagaimana Raka berusaha untuk mendampingi istrinya.

Penolakan Tara sangat bisa dimengerti. 

Mereka berdua sama-sama terluka dengan cara yang berbeda.

Menuju bagian akhir, aku ikut tegang menunggu apa kejutan yang disajikan.


Sekali lagi, novel Langit Mengambil sangat berbeda dengan karya Ika Natassa sebelumnya. Bukan hanya tentang hubungan romantis, kehilangan, tapi juga misteri yang harus dipecahkan.


merah itu aku

Semarang, 16 Maret 2026




Continue reading Langit Mengambil: Novel Karya Ika Natassa Terfavorit

Sunday, March 8, 2026

Me Time: Menata Rak Buku

Beberapa pekan lalu, aku merapikan rak buku yang sudah berdebu dan mulai berantakan. Aku terpikir untuk mengubah pengelompokan buku agar terlihat lebih eye catching.

Awalnya, aku mengelompokkan buku berdasarkan genre tulisan, kemudian dikelompokkan lebih kecil lagi ke dalam penulis. 

Nah, kali ini, aku ingin mengikuti beberapa influencer yang pernah kulihat di media sosial. Sepertinya lumayan sesuai dengan jiwa estetik yang bercokol di lubuk hatiku. Eciyee ...


Aku mulai menurunkan buku-buku dari rak. Setelah membersihkan debu pada rak dan bagian atas buku, aku rapikan kembali buku-buku tersebut sesuai dengan warna sampul bagian tepi. Ternyata tidak semudah itu memisahkannya. Aku sempat ragu mendekatkan warna putih dengan kuning atau dengan pink, atau malah justru lebih baik dengan orange. Tidak sampai di situ. Ternyata, mendekatkan warna orange pupus dengan pink pun menjadi PR tersendiri.

Kegalauanku mulai muncul ketika harus memisahkan tiga buku Rapijali. Ketiga sisi tepi buku Rapijali karya Dee Lestari membentuk pola huruf yang terbaca sebagai judul buku. Sayangnya, mereka harus berpisah karena perbedaan warna ketiga buku tersebut. Ketika mereka tidak dipersatukan, polanya tidak terbaca utuh. 

Aku menjadi gamang dan mempertanyakan keputusan untuk perbuatanku hari itu.

Namun, jika aku ubah lagi, rasanya sudah lelah. Jadi, aku tetap meneruskan perjalanan merapikan buku dengan rencana semula.

Dan beginlah hasilnya.



Cakep, ya. Instagramable. Hanya saja, ketika bertemu pandang dengan buku Rapijali, aku sedikit kecewa.


Jika teman-teman berencana mengelompokkan buku berdasarkan warna, sebaiknya pikirkan kembali dampaknya. Terutama jika ada pola khusus yang dihasilkan oleh sisi samping buku. Atau, pertimbangkan juga buku-buku series seperti Supernova yang seri pertama hingga kelima berwarna hitam, eh, seri penutupnya malah berwarna putih. Rasanya sedih ketika memisahkan mereka.

Akan tetapi, jika teman-teman tidak keberatan dengan hal tersebut, atau tidak punya koleksi buku berseri yang memiliki warna berbeda, bisa dipertimbangkan untuk mengelompokkan buku berdasarkan warna.

Oh iya, satu lagi yang perlu dipertimbangkan adalah, pengelompokan buku berdasarkan warna, ternyata menyulitkanku dalam mencari judul buku jika tidak hafal warnanya.

Sebelumnya, aku bisa dengan mudah menemukan buku-buku menggunakan ingatan siapa penulisnya atau jenis buku (fiksi atau non-fiksi) serta genre buku (misal, novel romantis atau misteri).

Menilik lebih banyak kesulitan yang aku hadapi dengan pengelompokan buku berdasarkan warna, maka aku putuskan untuk mengembalikan buku-buku tersebut seperti sebelumnya saja. Namun, tunggu waktu yang tepat, ya. Tentu saja, ketika aku sudah mengumpulkan energi dan menguatkan niat. 


Menyusun buku memang hiburan tersendiri untukku. Bisa membuatku lupa waktu dan umur. Haha … Dengan rak buku yang setinggi harapan orang tua, aku membutuhkan naik turun tangga untuk mengapai rak tertinggi.

Setelah rak buku rapi kembali, ada rasa puas yang tidak terkatakan dan juga rasa pegal di sekujur tubuh, terutama pinggang.

Ah, umur memang tidak bisa bohong!


merah itu aku,

Jogja, 8 Maret 2026


Continue reading Me Time: Menata Rak Buku

Wednesday, February 19, 2025

Reviu Buku Home Sweet Loan (Almira Bastari)

Tertarik membaca Home Sweet Loan karena cukup ramai di caption Instagram, yang menyebut nama Kaluna, setelah filmnya tayang di bioskop. Aku membeli novelnya pada bulan Oktober.

Selama baca novel tersebut, perasaanku seperti dipermainkan. Ada lucu, tetapi ada bagian yang menyayat hati.


Aku lumayan dikejutkan dengan informasi di Instagram Netflix.id yang mengumumkan bahwa Home Sweet Loan akan mereka tayangkan pada akhir Januari 2025. 

“Wow, aku harus mereviu novelnya sebelum nonton filmnya!” Niatku dalam hati, supaya reviu novelnya tidak terpengaruh oleh film. Biasanya, film yang diangkat dari novel, lebih sering mengecewakan.

Ternyata niat tinggallah niat. Nyatanya, hingga selesai menonton filmnya di akhir Januari, aku baru tergerak menulis reviu hari ini. Haha ….




Home Sweet Loan

Almira Bastari

Penerbit Gramedia Pustaka Utama, 2022

Cetakan kedua: Februari 2022

312 halaman

Rating usia 17+


Kaluna, seorang pegawai Bagian Umum berusia 31 tahun, tinggal bersama keluarga besarnya. Dalam rumah orang tuanya, ada dua kakak beserta dua kakak ipar, serta dua keponakan. Masing-masing kakak, memiliki satu anak. Tinggal satu atap dengan mereka, Kaluna selalu dianggap sebelah mata. Paling tidak berpengalaman dan selalu menyelesaikan masalah yang timbul di keluarga tersebut.

Kaluna ingin keluar dari sana dan membeli rumah sendiri. Selain sebagai pegawai, dia juga menjadi model bibir. 

Dia rela hidup hemat demi mengumpulkan pundi-pundi kekayaan, sebagai modal untuk membeli rumah.


Kaluna tidak sendiri. Ada tiga teman lain yang juga berjuang untuk memiliki tempat tinggal idaman dengan alasan masing-masing. Mereka berempat sudah berteman sejak SMA.


Tanisha, ibu satu anak yang menjalani Long Distance Marriage, tinggal di apartemen. Dia ingin memiliki rumah agar lebih lega menampung mertuanya.


Kamamiya, seorang selebgram yang ingin memiliki apartemen cantik untuk mendukung ambisinya. Bukan seperti Kaluna dan Tanisha yang ingin memiliki rumah, bagi Kamamiya, apartemen adalah pilihan terbaik. Segala fasilitas yang menyertai, dapat dijadikan konten untuk diunggah ke media sosialnya.


Danan, satu-satunya lelaki dalam kelompok tersebut, yang sebenarnya merupakan anak tunggal dan sudah kaya secara keturunan. Pada akhirnya, dia pun ingin memiliki aset dan berhenti menghambur-hamburkan uang.


Dari novel ini, Kaluna mengajarkan pentingnya mengatur keuangan dan hidup hemat. Hanya saja, Kaluna terlalu keras pada diri sendiri.

Keluarga Kaluna cukup membuatku kesal. Kedua kakaknya sangat tidak dewasa. Ibunya pun terlalu melindungi mereka, sang ayah juga kurang memiliki kekuatan untuk mengatur keluarganya.


Novelnya cukup ringan dan menarik sehingga bisa selesai dibaca dalam dua hari saja. 

Bagi pembaca yang menyukai cerita metropop, novel ini bisa menjadi pilihan.


Tentang filmnya, aku sangat menikmati. Cerita sesuai dengan novelnya dan aku sama sekali tidak kecewa. Settingnya cakep, pemainnya keren, dan yang paling tidak disangka, emosiku saat menonton, hampir sama dengan saat membaca novelnya.



Merah Itu Aku

Jogja, 19 Februari 2025

Continue reading Reviu Buku Home Sweet Loan (Almira Bastari)

Tuesday, February 18, 2025

Reviu Buku The Silent Patient (Alex Michaelides)

The Silent Patient menjadi buku pertama yang aku mulai baca dan selesaikan di tahun ini. Butuh waktu cukup lama untuk membacanya. Hampir satu setengah bulan. Selain karena cerita awal yang lambat, aku juga agak kecewa dengan cerita yang tidak sesuai dengan dugaan semula.

Aku sempat mengira bahwa novel ini menceritakan penyelidikan detektif untuk mengungkap kasus pembunuhan. Nyatanya, jauh dari itu.


Sampe lecek, saking lamanya dibawa ke mana-mana 😁 


The Silent Patient (Pelukis Bisu)

Alex Michaelides

PT. Gramedia Pusaka Utama, 2019

Cetakan kesepuluh: November 2024

400 halaman

Rating usia 17+


Menceritakan tentang Alicia Berenson yang dituduh membunuh suaminya, Gabriel. Tidak ada saksi yang melihat Alicia menembak suaminya. Senjata yang digunakan untuk membunuh, tergeletak di lantai. 

Ketika ditemukan, Alicia berdiri di hadapan Gabriel yang telah tewas dengan kondisi terikat di kursi.

Alicia tidak menyangkal maupun mengiyakan segala tuduhan. Dia tetap membisu hingga bertahun-tahun kemudian. Hanya ada lukisan potret diri yang dilukisnya setelah kematian Gabriel, yang menjadi petunjuk kejadian di malam itu.

Oh, dan ada buku harian Alicia Berenson, yang entah bagaimana caranya bisa disembunyikan dengan sangat baik.

Alicia tidak dimasukkan penjara karena dianggap mengalami gangguan kejiwaan setelah kematian suaminya.


Theo Faber, seorang psikoterapis yang terobsesi untuk membuat Alicia berbicara, mengungkap kebenaran yang terjadi pada malam penembakan Gabriel.

Theo mendatangi orang-orang yang memiliki hubungan dengan Alicia. Mewawancarai mereka untuk mengetahui apa yang sedang dialami oleh Alicia, sebelum kejadian pembunuhan tersebut.

Aku mulai mencurigai banyak orang sebagai pembunuh Gabriel yang sebenarnya. Dan membuat skenario tentang alasan pembunuhan itu. Haha ….


Selain tentang kehidupan Alicia, cerita masa lalu Theo juga memiliki porsi yang cukup seimbang.

Theo, sebagai psikoterapis ternyata membutuhkan bantuan profesional lain untuk menyelesaikan masalah di hidupnya. Masa lalu membentuk Theo menjadi dirinya sekarang. Bagaimana mengendalikan emosi dan cara menyelesaikan masalah.


Salah satu kutipan di awal bab. Dan ada kutipan-kutipan menarik lainnya.


Cerita semakin seru setelah melewati setengah buku. Plot twist yang sungguh tidak terduga. Ya, namanya juga plot twist, kan? 

Setelah sampai bagian tersebut, aku langsung membalik kembali lembaran yang telah lewat, saking merasa melewatkan banyak hal.

Meski agak kecewa di awal, tetapi menjelang akhir, aku mulai menikmati ceritanya. Rasanya tidak ingin berhenti untuk mengetahui bagaimana akhir dari cerita dan alasan-alasan di baliknya.


Bagi pembaca yang menyukai misteri dan kesehatan mental, buku ini sangat menarik untuk dibaca.


Merah Itu Aku

Jogja, 18 Februari 2025

Continue reading Reviu Buku The Silent Patient (Alex Michaelides)

Saturday, August 31, 2024

Reviu Buku 1Q84 - Haruki Murakami

Aku membutuhkan waktu sekitar setengah bulan untuk menyelesaikan tiga jilid novel 1Q84. Ketiga bukunya tebal. Aku tidak menyangka bahwa bahwa buku tiga jilid setebal itu, rela aku beli tanpa mencari tahu ceritanya terlebih dahulu.

1Q84, Haruki Murakami

Aku mendapat rekomendasi dari @bukuakik. Ternyata, cerita dalam novel ini bukan genre yang aku suka. Akan tetapi karena sudah terlanjur beli, aku tuntaskan juga membacanya.

Awalnya aku happy karena tokoh utama wanitanya keren banget. Pelatih bela diri dan pembunuh bayaran. Aku berharap bahwa ceritanya lebih action dibanding drama. Ternyata aku hanya terlalu positive thinking.

Jilid pertama begitu lambat alurnya. Aku membutuhkan waktu paling lama ketika membaca jilid tersebut. Bikin ngantuk juga. Aku pikir, banyak bagian yang bisa dihilangkan. Meski setelah aku selesai membaca, jika banyak bagian dihilangkan, dapat mengurangi bagian-bagian yang berhubungan dengan cerita selanjutnya.

Untuk buku kedua dan ketiga lebih cepat alurnya karena sudah mulai terlihat benang merah antar bab.


Penulis Jepang memang paling pintar memberikan detail dalam penggambaran setiap tokoh dan kejadian serta tempat. Membuat para pembaca lebih mudah membayangkannya.


1Q84, Haruki Murakami


1Q84

Haruki Murakami
Kepustakaan Populer Gramedia
Jilid 1
Cetakan pertama, Mei 2013
Cetakan keempatbelas, Februari 2024
vi + 516 hlm
Jilid 2
Cetakan pertama, Mei 2013
Cetakan kedelapan, Februari 2024
vi + 452 hlm
Jilid 3
Cetakan pertama, November 2013
Cetakan kedelapan, Februari 2024
vi + 556 hlm

1Q84 menceritakan kejadian di tahun 1984. Ada dua dunia sejajar yang terjadi dengan pintu masuk di sebuah tangga di jalan keluar darurat sebuah jalan tol.


Masing-masing bab menceritakan tokoh yang berbeda. Pada jilid 1 dan 2, bergantian antara dua tokoh utama, Aomame dan Tengo. Pada jilid 3, ada bab yang menceritakan tokoh lain.


Aomame dan Tengo, karena suatu hal memiliki hubungan. Kejadian demi kejadian yang mereka lewati, semakin menegaskan hubungan keduanya. Entah karena takdir, setelah terpisah puluhan tahun, mereka dipertemukan kembali.

Aku kecewa karena mengharapkan cerita action alih-alih drama cinta.

Bagi yang menyukai cerita drama percintaan dibalut sci-fi dan multiverse, buku ini untuk kalian.



Merah Itu Aku

Yogyakarta, 31 Agustus 2024



Continue reading Reviu Buku 1Q84 - Haruki Murakami

Friday, May 31, 2024

Reviu Buku A Good Girl’s Guide to Murder - Holly Jackson

Beberapa pekan yang lalu, aku menyelesaikan buku A Good Girl’s Guide to Murder atau dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Panduan Membunuh dari Anak Baik-Baik. Buku ini ditulis oleh Holly Jackson.

Aku tertarik membaca buku ini karena membaca tautan yang dikirim Mbak Alfi di Whatsapp Group KLIP. Ada sebuah challenge yang diadakan oleh Gramedia. Aku tidak berminat ikut, tapi kemudian penasaran dengan bukunya. Bagiku, judulnya terlalu panjang. Jika melihat di toko buku saja, rasanya aku tak akan tertarik membacanya.

Saat membeli buku ini secara daring, aku sedang menyelesaikan buku lain. Jadi, aku tidak berharap bukunya segera datang. Eh, ternyata kilat sekali, pagi hari aku pesan, siangnya sudah diantar ke rumah. Khawatir tergoda langsung membaca, aku memutuskan untuk menunda unboxing paket hingga menyelesaikan buku yang sedang aku baca.

Buku yang menurutku, judulnya nggak banget ini, ternyata bikin aku nggak bisa berhenti membaca. Aku sampai menahan diri untuk mencari tahu ataupun membaca ulasan buku ini sebelum selesai membacanya. Tidak rela jika mendapat spoiler. Mengurangi kenikmatan dalam membaca.





A Good Girl’s Guide to Murder (Panduan Membunuh dari Anak Baik-Baik)

Holly Jackson

Gramedia Pustaka Umum

480 hamalan

Rating usia: 17+


Buku ini menceritakan seorang anak SMA bernama Pippa Fitz-Amobi yang sedang mengerjakan proyek sekolah. Dia tertarik pada kejadian pembunuhan yang terjadi di daerah tempat tinggalnya untuk dijadikan bahan proyek tersebut.

Kasus yang terjadi lima tahun yang lalu sudah ditutup. Pembunuh Andie Bell yang tidak pernah ditemukan tubuhnya adalah Sal Singh, kekasihnya.

Sal Singh ditemukan bunuh diri di sebuah hutan dengan surat pengakuan.

Semua orang percaya bahwa Sal Singh adalah pelakunya. Namun, tidak dengan Pip. Dia yakin bahwa pelaku sebenarnya masih berkeliaran.

Banyak plot twist yang disajikan dalam buku ini.

Satu per satu kebenaran terkuak. Bagaimana Pip menghadapi berbagai teror yang datang menghadang? 


Cerita Pip membuatku berpikiran liar tentang kejadian pembunuhan yang sedang viral belakangan ini. 

Bagaimana jika kejadian sebenarnya tidak seperti yang sudah diyakini banyak orang selama delapan tahun ini?

Bagaimana jika pelaku sebenarnya belum tertangkap? Atau malah belum terungkap?

Ada banyak asumsi aneh yang berputar di kepalaku.


Tampaknya kita membutuhkan orang seperti Pip untuk menyelesaikan kasusnya.



Merah Itu Aku

Jogja, 31 Mei 2024


Continue reading Reviu Buku A Good Girl’s Guide to Murder - Holly Jackson

Thursday, May 23, 2024

Reviu Buku Ancika - Pidi Baiq

Jujur saja, aku baca buku ini by ujug-ujug. Nggak ada rencana dan terkesan impulsive

Awalnya, aku liat Instagram Netflix yang baru saja menayangkan Posesif. Film yang dibintangi oleh Putri Marino dan Jefri Nichol. Tanpa pikir panjang, aku nonton ini sampe abis. Karena udah lama nggak marathon nonton, kayaknya kalau berhenti di satu film aja agak kurang, akhirnya aku melanjutkan nonton Ancika, yang merupakan film baru juga yang tayang di Netflix.

Ketika nonton, aku baru tau kalau Ancika merupakan lanjutan dari kisah Dilan.

Sudah bisa dipastikan, abis nonton Ancika, aku jadi tertarik baca bukunya.

Biasanya aku lebih milih baca buku daripada menonton filmnya. Selain karena merusak imajinasi tentang para tokoh, biasanya film yang diadaptasi dari buku, kurang maksimal dalam penceritaan. Yah, film memang terbatas oleh waktu. Dan aku pribadi, merasa kurang puas. Apalagi jika bukunya bagus, tapi filmnya kureng.

Aku punya buku Dilan 1990, Dilan 1991, dan juga Milea. Merasa kecolongan karena baru tau ada buku keempat, Ancika. Aku baca dalam bentuk e-book karena sudah terlalu pengen baca setelah selesai nonton filmnya.

Menurutku, filmnya kurang oke karena beberapa pemain yang ada di film sebelumnya berganti. Seperti pemain Dilan dan Milea.

Kalau yang jadi Dilan agak mirip meski berasa jadi versi lebih dewasa dan berisi. Sedangkan yang jadi Milea, beuh, jauh banget bedanya. Aku nilai beda, ya, bukan membandingkan kecantikan atau kegantengan para tokoh.


Spoiler Alert‼️

Ancika: Dia yang Bersamaku Tahun 1995

Pidi Baiq
Digitalisasi: Rakata
Diterbitkan oleh Pastel Book
PT. Mizan Pustaka
291 halaman

Ancika, seorang siswa SMA yang tinggal di Bandung. Dia berwajah manis dan sedikit tomboi. 

Buku ini menggunakan point of view 1, dengan Ancika sebagai pencerita.

Menggunakan latar tahun 1995, Dilan sudah menjadi mahasiswa di ITB dan tidak lagi menjadi anggota genk motor.

Ancika merupakan kekasih Dilan setelah Milea.

Jika jadi Ancika, aku pasti tidak bisa menghapus bayang Milea selama hidup bersama Dilan. Pasti akan aku ungkit setiap bertengkar dengan Dilan. Bagaimana mungkin Milea diceritakan dalam 3 buku, sedangkan Ancika hanya 1 buku. Aku nggak bisa digituin 😌.

Yah, untungnya, aku bukan Ancika. Dan kisahku tidak ada mirip-miripnya dengan Ancika.

Ada bagian yang mengganjal saat membaca buku ini. Penggambaran waktu yang sangat mengganggu. Bagaimana mungkin, pada tanggal 2 Oktober 1998, mereka membicarakan tentang rencana untuk menikah, tetapi pernikahan terjadi pada pertengahan 1998?

Sumber: Ancika: Dia yang Bersamaku Tahun 1995


Masa, sih, bisa-bisanya begini?


Akhirnya, aku baca ulang kembali. Kemudian aku berasumsi, mungkin pembukaan pada bab menikah itu, hanya menjelaskan tentang awal mula krisis moneter, bukan waktu pernikahan.

Dan berimbas pada pernikahan yang mereka langsungkan di tahun berikutnya.


Sumber: Ancika: Dia yang Bersamaku Tahun 1995



Akan tetapi, ada bagian yang menceritakan bahwa setelah lamaran, Dilan ditangkap bersama beberapa mahasiswa karena dianggap lantang menentang pemerintah pada saat itu. Bukankah itu terjadi pada awal tahun 1998?

Atau mungkin, lamaran terjadi tahun 1997?

Ah, sudahlah.


Seperti tiga serial Dilan sebelumnya, cerita di buku ini membuat aku sedikit bernostalgia dengan masa lalu. Sebagai anak yang beranjak remaja di tahun tersebut, aku bisa membayangkan bagaimana kondisi saat itu. 

Akan tetapi, aku tidak berniat untuk melengkapi 3 buku serial Dilan dengan Ancika. Cukup saja dibaca dalam bentuk e-book.


Jika ditanya, bagusan mana buku dengan filmnya, tentu aku pilih bukunya. Bukan karena filmnya tidak layak tonton, tetapi banyak cerita yang terlewatkan. Seperti yang aku tuliskan di awal bahwa kekurangan film yang diadaptasi dari buku adalah durasi yang terbatas.



Merah Itu Aku,

Jogja, 22 Mei 2024


Continue reading Reviu Buku Ancika - Pidi Baiq