Beberapa pekan lalu, aku merapikan rak buku yang sudah berdebu dan mulai berantakan. Aku terpikir untuk mengubah pengelompokan buku agar terlihat lebih eye catching.
Awalnya, aku mengelompokkan buku berdasarkan genre tulisan, kemudian dikelompokkan lebih kecil lagi ke dalam penulis.
Nah, kali ini, aku ingin mengikuti beberapa influencer yang pernah kulihat di media sosial. Sepertinya lumayan sesuai dengan jiwa estetik yang bercokol di lubuk hatiku. Eciyee ...
Aku mulai menurunkan buku-buku dari rak. Setelah membersihkan debu pada rak dan bagian atas buku, aku rapikan kembali buku-buku tersebut sesuai dengan warna sampul bagian tepi. Ternyata tidak semudah itu memisahkannya. Aku sempat ragu mendekatkan warna putih dengan kuning atau dengan pink, atau malah justru lebih baik dengan orange. Tidak sampai di situ. Ternyata, mendekatkan warna orange pupus dengan pink pun menjadi PR tersendiri.
Kegalauanku mulai muncul ketika harus memisahkan tiga buku Rapijali. Ketiga sisi tepi buku Rapijali karya Dee Lestari membentuk pola huruf yang terbaca sebagai judul buku. Sayangnya, mereka harus berpisah karena perbedaan warna ketiga buku tersebut. Ketika mereka tidak dipersatukan, polanya tidak terbaca utuh.
Aku menjadi gamang dan mempertanyakan keputusan untuk perbuatanku hari itu.
Namun, jika aku ubah lagi, rasanya sudah lelah. Jadi, aku tetap meneruskan perjalanan merapikan buku dengan rencana semula.
Dan beginlah hasilnya.
Cakep, ya. Instagramable. Hanya saja, ketika bertemu pandang dengan buku Rapijali, aku sedikit kecewa.
Jika teman-teman berencana mengelompokkan buku berdasarkan warna, sebaiknya pikirkan kembali dampaknya. Terutama jika ada pola khusus yang dihasilkan oleh sisi samping buku. Atau, pertimbangkan juga buku-buku series seperti Supernova yang seri pertama hingga kelima berwarna hitam, eh, seri penutupnya malah berwarna putih. Rasanya sedih ketika memisahkan mereka.
Akan tetapi, jika teman-teman tidak keberatan dengan hal tersebut, atau tidak punya koleksi buku berseri yang memiliki warna berbeda, bisa dipertimbangkan untuk mengelompokkan buku berdasarkan warna.
Oh iya, satu lagi yang perlu dipertimbangkan adalah, pengelompokan buku berdasarkan warna, ternyata menyulitkanku dalam mencari judul buku jika tidak hafal warnanya.
Sebelumnya, aku bisa dengan mudah menemukan buku-buku menggunakan ingatan siapa penulisnya atau jenis buku (fiksi atau non-fiksi) serta genre buku (misal, novel romantis atau misteri).
Menilik lebih banyak kesulitan yang aku hadapi dengan pengelompokan buku berdasarkan warna, maka aku putuskan untuk mengembalikan buku-buku tersebut seperti sebelumnya saja. Namun, tunggu waktu yang tepat, ya. Tentu saja, ketika aku sudah mengumpulkan energi dan menguatkan niat.
Menyusun buku memang hiburan tersendiri untukku. Bisa membuatku lupa waktu dan umur. Haha … Dengan rak buku yang setinggi harapan orang tua, aku membutuhkan naik turun tangga untuk mengapai rak tertinggi.
Setelah rak buku rapi kembali, ada rasa puas yang tidak terkatakan dan juga rasa pegal di sekujur tubuh, terutama pinggang.
Ah, umur memang tidak bisa bohong!
merah itu aku,
Jogja, 8 Maret 2026

0 comments:
Post a Comment