Thursday, August 13, 2020

Hujan

Beberapa hari ini, Jogja sudah mulai diguyur hujan. Kabarnya, hujan turun merata membasahi Jogja. Alhamdulillah... pohon salam yang ditanam Bapak minggu lalu mendapat siraman air hujan setiap hari. Semoga tumbuh subur ya... 😁.

Salah satu yang aku rindu dari hujan adalah bau tanah basah. Khas dan 'ngangeni'. Hujan juga selalu mengantarkanku ke adegan-adegan romantis di cerita-cerita cinta. 

Ada banyak adegan-adegan di bawah gerimis hingga hujan lebat yang bikin baper 😆. Dari yang tiba-tiba datang mengantarkan payung, merelakan payung untuk orang terkasih -sementara dia rela kehujanan-, meminjamkan jaketnya agar orang terkasih tidak kedinginan, sampai adegan naik motor berdua di bawah derasnya hujan. Jangan lupakan adegan makan jagung bakar di kala gerimis turun. Uwuuu.. siapa yang ga ikutan baper cobak..

Adegan itu ada di cerita aja sih... di kehidupan nyata yang penuh onak dan duri, adegan hujan lebih relate dengan perjuangan menyelamatkan jemuran yang sudah setengah kering 🤣🤣🤣. Atau menyelamatkan keset dan sapu yang masih ada di teras. Duh... aku ibuk-ibuk sekali 😌.

Buat anak-anak, hujan membuat mereka rindu bermain air. Berlarian di bawah derasnya hujan hingga pakaian mereka basah dan tubuh sedikit menggigil kedinginan. Jika ibuknya sedang baik, ketika mereka pulang akan disiapkan air hangat untuk mandi dan segelas teh hangat untuk menghangatkan tubuh. Namun jika ibuk sedang kesal, maka anak-anak akan kena omel panjang pendek, tinggi rendah karena bermain hujan dan membuat lantai basah 😆.

Padahal coba ingat masa kecil kita. Bagaimana bahagianya bisa berlarian di bawah derasnya air hujan. Nikmat sekali kan... udah pernah merasakan segarnya minum air hujan yang langsung turun dari langit? Atau ingat bagaimana pedihnya kena air hujan yang turun dengan derasnya, tetapi tidak menyurutkan langkah untuk tetap bermain hujan... 🤩🤩. Ah.. masa lalu...

Untuk saat ini, anak-anak memang belum diizinkan bermain hujan. Apalagi kalau bukan karena pandemi covid 19. Kalau aku izinkan anak-anak keluar bermain hujan, bisa membuat anak-anak tetangga kepingin ikutan hujan-hujanan juga. Oh covid.. covid... semoga engkau lekas pergi dari kehidupan kami...

Allahumma soyyiban naafi'an.

Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat.


Merah Itu Aku

Jogja, 13 Agustus 2020

Continue reading Hujan

Sunday, August 9, 2020

Pajak Motor 5 Tahunan

Setelah hari Selasa kemaren aku ngurus perpanjangan SIM, hari Rabu nya aku ngurus pajak motor 5 tahunan. Karena pajak 5 tahunan, aku bawa lah motor yang mau dibayarin pajaknya.

Samsat Sleman


Rabu pagi jam 8, aku menuju kantor Samsat Sleman yang berlokasi di Jalan Magelang KM. 13, Triharjo, Sleman, DI Yogyakarta. Sampai di pintu masuk, aku disambut petugas parkir yang ngasih tiket parkir dan mengarahkanku ke basement untuk cek fisik pajak 5 tahunan. Ajaib ya... sepertinya petugas parkir sudah hafal betul dengan maksud pengunjung kantor Samsat, hanya dengan melihat plat nomor nya saja 😁.

Sesuai arahan bapak penjaga pintu parkir, aku menuju basement. Di sana, sudah ada antrian motor. Aku langsung mengikuti antrian tersebut. Tiba-tiba, seorang petugas keamanan mendekatiku dan mengarahkan untuk menuju tempat parkir motor untuk cek fisik kendaraan. Ah, ternyata antrian itu adalah pembayaran pajak drive thru, dan hanya untuk pajak tahunan saja.

Nampaknya, para petugas di kantor Samsat sudah terbiasa menscanning plat nomor kendaraan ya 😄. Tetapi sungguh, kebiasaan mereka amat sangat membantuku 😁.

Aku langsung memarkir motor di tempat cek fisik. Sudah banyak motor yang ada di lokasi. Aku menuju tempat fotocopy yang berjajar tak jauh dari situ. Niatnya mau fotocopy di pinggir jalan, tapi ternyata sepanjang jalan tadi ga nemu tempat foto copy. Alhamdulillah, di dalam kantor Samsat menyediakan tempat fotocopy. Dan ga cuma 1 kios lho. Jadi, kalian ga perlu khawatir kalo belum nyiapin fotocopian kelengkapan berkas.

Aku menyerahkan berkas untuk di fotocopy:

1. KTP

2. STNK

3. BPKB

Semua di fotocopy sebanyak 1 lembar. Ibu fotocopy nya udah pinter. Setelah semua berkas di fotocopy, ibu fotocopy langsung merapikannya. KTP asli dimasukkan ke dalam plastik bekas tempat STNK, kemudian distapler dengan berkas lainnya. Kita tinggal terima rapi. Ibu fotocopy pun memberitahukan loket mana yang harus aku tuju.

Aku mengikuti arahan ibu fotocopy, menuju loket pendaftaran. Aku berbaris mengikuti antrian. Ternyata ada nomor antrinya dong 🤣. Aku dapet nomer antrian 91. Tapi aku tetep ikut barisan. Khawatir disela 🤭🤭. Dari loket pendaftaran, aku dapat form dan nomor antrian untuk cek fisik. Aku dapat nomor antrian 81.

Antrian di loket pendaftaran. Tidak social distancing meskipun sudah ada tanda garis untuk mengantri.

Persyaratan pendaftaran bayar pajak 5 tahunan.


Dapet antrian cek fisik nomer 81


Aku kembali ke tempat parkir cek fisik untuk menunggu antrian. Ada 2 petugas yang melakukan cek fisik. Lumayan cepet sih ngantrinya. Abis di cek fisik, hasilnya ditempel di formulir yang didapet dari loket pendaftaran.

Petugas cek fisik

Setelah memindahkan motor ke tempat parkir, aku menuju ke loket pengesahan, yang berlokasi di samping loket pendaftaran. Petugas di loket pengesahan mengisi form yang sudah ditempeli hasil cek fisik.

Loket pengesahan


Selanjutnya, aku menuju loket di samping kanannya. Dan aku mendapat formulir yang harus diisi. Aku lupa foto. Tapi isinya tentang informasi kendaraan yang bisa dicontek dari BPKB atau form cek fisik.

Loket pengambilan formulir

Dengan membawa formulir yang sudah diisi lengkap, aku menuju loket pendaftaran berkas di lantai 1. Selanjutnya mendapat nomor antrian pembayaran. Pembayaran dilakukan di lantai 1 juga. 

Loket pendaftaran berkas


Ada 3 counter pembayaran di lantai 1:

Counter 1: untuk pajak mobil dan pajak 5 tahunan motor

Counter 2 dan 3: untuk pajak motor tahunan


Setelah nomor antrian dipanggil, aku menuju counter 1 untuk memasukkan berkas (tanpa BPKB asli). Menunggu panggilan lagi sampai berkas selesai dicek. Barulah aku dipanggil kembali untuk melakukan pembayaran. Pembayaran pertama sebesar Rp 191.000,- untuk pajak. Pembayaran kedua di loket sebelahnya, untuk biaya STNK dan TNKB (Tanda Nomor Kendaraan Bermotor a.k.a plat nomor).

Counter 1


Biaya STNK dan TNKB


Kemudian, aku menunggu panggilan lagi untuk pengambilan STNK. Loket pengambilan STNK ada di sebelah kanan loket pembayaran. penyerahan STNK bersamaan dengan pengembalian KTP asli.

Dan yang terakhir, aku tinggal menunggu TNKB. Pengambilan TNKB di basement, bersebelahan dengan loket pendaftaran, pengesahan, dan loket pengambilan formulir.


Syarat pengambilan TNKB:

1. Bukti bayar pajak asli + fotocopy (1 lembar) - dimasukkan keranjang

2. STNK asli untuk ambil TNKB (dikeluarkan dari plastik)

Pemanggilan berdasarkan tumpukan bukti pajak asli yang diletakkan di keranjang. Setelah dipanggil, kita serahkan STNK untuk diberi stempel. Kemudian bukti bayar pajak asli, STNK asli, dan TNKB diserahkan kepada kita. Sebelum meninggalkan loket, kita menulis di logbook pengambilan TNKB.

Total waktu pengurusan kurang lebih 1 jam 30 menit. Alhamdulillah mudah dan ga ribet. Terima kasih semua petugas Samsat Sleman yang telah membantu dalam pengurusan pajak motor 5 tahunan 💕💕💕.

Kalo kalian ada waktu, lebih baik urus sendiri pajaknya. Ayo bayar pajak💸💸💸


Merah Itu Aku

Jogja, 9 Agustus 2020


Continue reading Pajak Motor 5 Tahunan

Thursday, August 6, 2020

Perpanjang SIM di SIM Corner Jogja City Mall


Tahun ini aku harus melakukan beberapa agenda besar, salah satunya adalah perpanjangan SIM. Kalo dihitung-hitung, aku pertama kali bikin SIM di usia 17 tahun dan sudah mengalami perpanjangan sebanyak 4 kali untuk SIM C. Untuk SIM A, ini perpanjangan ke-2.


Alhamdulillah, Bapa dan Ibu begitu pengertian. Mereka sengaja datang untuk jagain anak-anak di rumah karena aku harus perpanjang SIM dan ngurus pajak motor 5 tahunan. Yah, ngurus pajak kendaraan juga termasuk agenda besar di tahun ini. Motor dan mobilnya kompak minta pajak 5 tahunan di tahun yang sama. Mari kekepin dompet.



Singkat cerita, hari Senin siang, Bapa dan Ibu sampe di Jogja. Misi utamanya, nganterin daging kurban beserta olahannya. Misi terselubung, mau jagain anak-anak di rumah karena tau kalo aku harus perpanjang SIM dan ngurus pajak kendaraan. Ah.. mereka sangat pengertian😍😍.



Hari Selasa pagi, aku sudah siap-siap perpanjang SIM di SIM corner Jogja City Mall (JCM). Sengaja ngurus di JCM yang deket rumah, penasaran sama proses ngurus di gerai, dan harapannya ga seramai di kantor polisi. Karena lokasi di mall, aku jadi agak santuy. Aku pikir kan buka jam 10 mengikuti jam buka mall. Ternyata aku salah, Romeo.. jam 9 gerai udah buka. Aku sampe lokasi jam 9.45 udah dapet nomer antrian 72 dan 74. Aku perpanjang SIM A dan C, jadi dapet 2 formulir dengan nomor berbeda.



Begini alur perpanjangan SIM di gerai JCM:


1. Loket pendaftaran 

Pertama-tama, kita menuju loket pendaftaran untuk mendapatkan formulir perpanjangan SIM. 

Berkas yang diserahkan di loket ini:
- SIM asli dan fotocopy 2 lembar
- KTP asli dan fotocopy 2 lembar


KTP dan SIM asli ditinggal, fotocopy dipegang kita kembali dalam kondisi sudah distapler bersama formulir pengajuan perpanjangan SIM.



Sebaiknya kita sudah menyiapkan berkas lengkap karena di gerai SIM ga ada tukang fotocopy. Dan menurut informasi yang aku peroleh, tempat fotocopy terdekat berada di luar mall.



Jangan lupa juga bawa bolpoin buat ngisi formulir. Apalagi di saat pandemi Covid begini, lebih baik bawa sendiri. Tapi kemaren aku lupa ga bawa bolpoin, sementara toko di dalam mall belom buka. Akhirnya aku pinjem punya security 😭. Alhamdulillah security nya baik. Makasih ya, Pak.



Biaya ambil formulir: -




2. Tes psikologi

Setelah formulir diisi lengkap, kita menuju loket tes psikologi. Di loket tes psikologi, aku mengisi logbook dan membayar biaya tes. Setelah itu diberi lembar jawaban beserta briefing singkat bagaimana cara pengisiannya. Soal tes psikologi sudah diletakkan di atas meja ujian. Sudah disediakan pensil dan bolpoin. Iya.. ada pensil karena ada tes gambar.


Ternyata perpanjangan SIM ada tes psikologinya lho sekarang. Gampang sih.. cuma bikin grogi. Aku langsung bersyukur karena ga bawa Dek Lou pas perpanjangan SIM. Tak terbayangkan gimana rusuhnya kalo aku bawa Dek Lou 😆.



Tes psikologinya gampang kok. Cuma disuruh gambar dan menjawab ya/tidak untuk pernyataan yang ada di buku soal. Kalo ga salah, ada 30 soal ya/tidak. Untuk gambar, yang model 8 kotak. Aku ga tau namanya. Anak psikologi harusnya tau (etapi ga harus juga sih 😆).



Biaya tes psikologi: Rp 75.000,- (untuk SIM A dan C padahal ngerjakannya cuma sekali😁)

Kalo cuma SIM C aja, Rp 50.000,-. Kebetulan denger pas bayar, yang duduk di sebelah tes buat SIM C aja.



3. Tes kesehatan


Setelah menyelesaikan tes psikologi dan dinyatakan lulus, aku menuju ke loket tes kesehatan. Ga tau kenapa bisa cepet banget koreksinya. Mungkin sudah berpengalaman ya 😁. Berkas awal plus hasil tes psikologi diserahkan ke loket kesehatan.


Pada loket kesehatan, aku mengisi logbook lagi dan bayar biaya tes.

Tesnya gampang juga. Cuma tes buta warna dan wawancara BB/TB serta ditanya pake kacamata minus atau plus, besarnya berapa. Trus lanjut ke loket berikutnya..


Biaya tes kesehatan: Rp 70.000,-

Ga tau berapa biaya kalo cuma perpanjangan 1 SIM.



4. Loket pembayaran


Bayarnya ke BRI. Loketnya ada di situ juga. Berkas semua diserahkan ke loket pembayaran. Dari situ, aku dapet nomer antrian foto.


Biaya pembuatan SIM A dan C: Rp 165.000

(Belum biaya total plus tes sebelumnya)



5. Foto SIM


Setelah nomor antrian dipanggil, aku menuju petugas foto. Data dicek ulang. Kemudian pengambilan sidik jari dan tanda tangan. Terakhir foto. Jangan lupa lepas masker dan ga boleh pake kaca mata. Cheeeesss ☺️


Aku melakukan cek data hingga foto sebanyak 2 kali untuk SIM A dan C.



Setelah foto, aku menunggu SIM selesai dicetak. SIM yang telah selesai, diberi lapisan plastik di meja depan gerai.

Biaya masing-masing SIM: Rp 10.000,-



Penampakan SIM model baru. Tumben foto SIM lumayan kece.


Total waktu perpanjangan SIM kurang lebih 1 jam 30 menit.

Total biaya perpanjangan SIM A dan C: Rp 330.000,-



Catatan tambahan:

Gerai SIM di JCM hanya melayani perpanjangan SIM saja. Untuk pembuatan SIM baru, langsung ke Polres.


Masa berlaku SIM akan habis sesuai dengan tanggal pembuatan. Udah ga ngikut tanggal lahir lagi. 


Di setiap pos pelayanan terdapat handsanitizer yang bisa digunakan oleh pemohon yang datang. 



Selamat memperpanjang SIM bagi yang masa berlakunya hampir habis... tetap ikuti protokol kesehatan. Pakai masker dan jaga jarak 🤗





Merah Itu Aku

Jogja, 6 Agustus 2020
Continue reading Perpanjang SIM di SIM Corner Jogja City Mall

Monday, August 3, 2020

Macrame

DEFINISI
Menurut KBBI V
mak.ra.me /makramé/
n bentuk seni kerajinan membuat berbagai simpul pada rantai benang sehingga terbentuk aneka rumbai dan jumbai
n  kerajinan tangan simpul-menyimpul dengan menggunakan berbagai macam benang

mak.ra.me /makramê/
n teknik menyimpul tali untuk menciptakan motif geometrik yang digunakan sebagai hiasan, dekorasi, atau aksesori lainnya, terbuat dari berbagai jenis bahan tali, seperti katun, wol, kulit, sutra, atau bahan sintetis


SEJARAH
Cikal bakal macrame diyakini berasal dari tradisi ikat simpul para penenun Arab sekitar abad ke-13. 
Macrame berasal dari bahasa Spanyol. Namun, istilah ini dipercaya merupakan kata serapan dari bahasa Arab, migramah, yang bermakna pinggiran ornamen atau sulam-tepi kerudung. Masyarakat Spanyol mulai membuat macrame sejak penaklukan negeri itu oleh bangsa Moor pada abad ke-15. Perpaduan dua budaya, Moor yang melegenda dan Spanyol, membantu menyebarkan macrame di Prancis pada abad ke-16 dan dari sini, macrame dikenalkan kepada penduduk di Italia pada abad ke-17 dan 18, sebelum akhirnya menyebar ke seluruh penjuru Eropa.


TALI MACRAME
Sebenarnya, semua tali dapat digunakan untuk membuat macrame. Namun, ada beberapa tali yang biasa digunakan, antara lain:

1. Tali kur
Keunggulan tali kur adalah harganya lebih murah, mudah di dapat.
2. Tali katun
Keunggulan tali katun adalah lembut di tangan, mudah dibentuk, tampak lebih elegan.

3. Tali rami
Keunggulan tali rami adalah lebih kuat.


Berdasarkan lilitannya, tali macrame ada 3 jenis:
1. Kepang (seperti sumbu kompor. Jumlah lilitan paling banyak)
2. Tiga lilitan (paling mudah dicari)
3. Satu lilitan (single strand)

Pemilihan tali berdasarkan lilitan lebih kepada selera masing-masing orang. Tetapi untuk untuk membuat jumbai/tassel, disarankan menggunakan tali dengan lilitan kepang. Meskipun sulit disisir, tali kepang lebih bagus dan rapi.


Ukuran tali macrame pun beragam. Yang umum digunakan adalah ukuran 2 mm, 3 mm, 4 mm, dan 5 mm. Ukuran 2 mm biasanya digunakan untuk membuat gantungan kunci.


JENIS IKATAN DASAR MACRAME
1. Lark's head knot
2. Square knot
3. Spiral square knot
4. Double half hitch


Untuk lebih jelasnya, silakan tonton video ini
👇👇👇👇👇👇





BEBERAPA CONTOH MACRAME

 
                   


Daftar Pustaka
KBBI edisi V
Harnas.co
Pinterest
Continue reading Macrame

Friday, July 17, 2020

Generasi Sadar Kamera

Beberapa hari yang lalu, aku dan Mr. Right sempat membahas pembelajaran jarak jauh anak-anak yang masih berlanjut hingga saat ini. Sudah lebih dari empat bulan mereka 'dirumahkan'. Dan kondisi akhir-akhir ini bukannya membaik, malah justru semakin menyedihkan saja 😭

Senin kemaren, anak-anak sudah masuk tahun ajaran baru. Tapi mereka ga terlalu merasakan bedanya dengan tahun ajaran lalu. Ga kayak udah naik kelas aja. Biasanya kan kalo naik kelas, ruangan kelas mereka pindah. Kali ini ruangan kelasnya masih tetap sama. Di ruang tamu 😆😆.

Uhuhu... aku mengkhawatirkan nasib seragam anak-anak juga. Kayaknya saat kondisi sudah memungkinkan untuk kembali belajar di sekolah, baju-baju itu sudah menyusut saking lamanya ga dipakai. Ah..anak-anak cepat sekali besar. Atau pandemi ini yang berlangsung terlampau lama? 🤧
Padahal ada sepasang seragam yang baru dibagikan dan belum sempat dipakai. Seragam pramuka yang ditunggu-tunggu oleh Kakak Zidan sejak lama. Karena dia merasa bakalan ganteng dan keren kalo pake baju pramuka. Astagaaa.... 

Kegiatan seminggu ini baru MOS (Masa Orientasi Siswa) daring. Mereka diperkenalkan dan saling memperkenalkan diri dengan ustaz dan ustazah yang memegang kelas. Dengan MOS daring ini, orang tua jadi lebih kenal ustaz dan ustazahnya. Hihi... karena yang nonton video bukan cuma anaknya, tapi orang tuanya juga.

Untuk kegiatan tahfiz, anak-anak masih setoran hafalan melalui voice note atau video. Kemudian, untuk Kibar (belajar membaca Al Quran), Kakak Zidan ber-video call dengan ustazahnya.

Semua kegiatan belajar daring membutuhkan support jaringan internet yang lancar. Selain itu, menuntut anak-anak untuk berani tampil, paling tidak di depan kamera. 
Kakak Zidan yang awalnya alergi banget untuk divideo, gara-gara setoran hafalan pake video malah jadi ketagihan 😂😂.

Sebelumnya, anak-anak 'dipaksa' untuk sadar kamera untuk mengisi konten media sosial orang tuanya. Namun saat ini, pembelajaran jarak jauh 'memaksa' anak-anak menjadi sadar kamera karena memang tuntutan pembelajaran di sekolah.

Semoga selain menjadi sadar kamera, anak-anak menjadi lebih percaya diri. Asal tidak menjadi generasi narsis saja 😂.



Merah Itu Aku
Jogja, 17 Juli 2020
Continue reading Generasi Sadar Kamera

Tuesday, July 7, 2020

Mudik

Setelah setengah tahun ga mudik ke Cilacap, -alhamdulillah- akhirnya kami mudik juga. Yieeeyyyy!!!! 🎉🎉🎉🎉

Rencananya awal, kami mudik dua minggu lalu. Tapi karena Mr. Right ada acara mendadak, mudik pun diundur Sabtu kemaren. 

Kenapa kami memutuskan untuk berani mudik?

1. Perbatasan antar daerah sudah terbuka untuk keluar masuk. 
Artinya, bepergian sudah dianggap aman. Atau,  masyarakat sudah dianggap mengetahui protokol kesehatan. Atau, masyarakat sudah dianggap mengetahui resiko bepergian di saat seperti ini. 
Memang tetap lah keputusan itu ada di tangan kami ya... mau pergi, atau tetap berada di rumah.

2. Beberapa minggu yang lalu, Eyang Putri dan Eyang Kakung sudah melakukan perjalanan Cilacap - Semarang - Jogja - Cilacap, yang alhamdulillah lancar, sehat, selamat.
Sebenarnya, sebagai orang yang termasuk beresiko karena usia sudah di atas 60 tahun, beliau-beliau sebaiknya di rumah saja. Daripada nanti beliau-beliau yang bepergian lagi, lebih baik kami tetap mudik.
Terlepas dari kemungkinan kami yang lebih muda membawa virus, akan lebih beresiko ketika para orang tua yang melakukan perjalanan.

3. Insya Allah kemungkinan kami membawa virus cukup kecil karena selama di Jogja pun kami di rumah saja. Dan jika ke luar rumah, mengikuti protokol kesehatan. Yang beresiko membawa memang Mr. Right yang sejak awal tidak pernah mengenal WFH.
Sempat mau rapid test dulu sebelum mudik. Tapi kami ga melakukannya. Kenapa? Ga ada alasan khusus sih... engga aja 😁


Kami berangkat setelah salat duhur dan makan siang. Sempet kesel karena menunggu Mr. Right yang belum juga pulang dari sepedaan. Saking lamanya, aku udah berniat mau nguras lautan dulu 😌😌. Menjelang duhur, beliau baru pulang cobak. 

Persiapan kami lakukan sebelum berangkat supaya ga perlu mampir ke mana-mana sepanjang perjalanan. Bawa air minum, maianan anak, masker cadangan, handsanitazer, tissue kering, dan tissue basah. Anak-anak disuruh ke toilet dulu sebelum berangkat biar ga mampir-mampir toilet juga.

Yang biasanya kami mampir ke minimarket buat beli jajanan, pada perjalanan kali ini, kami tidak berniat melakukannya. Pun tidak mampir di mie nyemek langganan, padahal aku sangat merindukannya 🤧🤧. Tak apalah...mie nyemek buatan Eyang Kakung tidak kalah enak kok 🤤🤤.

Alhamdulillah perjalanan lancar. Ohiya, kami terpaksa berhenti sekali di pom bensin karena mau ke toilet. Meskipun sudah diantisipasi, tetap saja ya ada hal-hal di luar kuasa kita. Setelah dari toilet, langsung bersihkan tangan pakai handsanitizer. Semoga kami terlindungi.

Sepanjang perjalanan, kendaraan sudah mulai ramai berlalu lalang. Tidak semua orang yang keluar rumah memakai masker. Aku sampai bertanya-tanya, apakah wabah corona tidak sampai ke daerah yang aku lalui tersebut. Sedih, heran, dan takjub menjadi satu.
Bahkan ada anak-anak yang sudah mulai latihan sepak bola. Duh..duh...


Bulan purnama di atas rumah Eyang

Kami sampai Cilacap menjelang maghrib. Alhamdulillah... akhirnya kami mudik juga... 


Merah Itu Aku
Cilacap, 7 Juli 2020

Continue reading Mudik

Wednesday, July 1, 2020

Semester Dua di Dua Ribu Dua Puluh

Haiii...

Memasuki semester baru, bulan baru, selalu punya rencana baru. Bukan rencana yang benar-benar baru sih... malah hampir selalu jadi rencana di akhir bulan, untuk bulan berikutnya. 

D.I.E.T 😆😆😆

Berasa ga maju-maju kalau udah ghibahin si diet ini. Sebenernya, niat engga sih? Katanya    niat.. tapi mau menjalankannya selalu ada banyak alasan untuk lupa 🤭.
Awal bulan makannya dikit, tapi kalau lagi kesel, makannya sebakul 🤣🤣.

Selanjutnya..

O.L.A.H.R.A.G.A

Ini sebelas duabelas sama diet 😁. Di awal bulan rajiinnn...tar makin lama kendor 😂. Padahal kan di masa pandemi macam sekarang, olahraga itu penting banget. 

Kalau yang selanjutnya lagi, 

Rajin masak, rajin bikin menu mingguan, rajin food preparation.

Kalau awal bulan, rajin bener bikin menu. Trus kulkas rapiii.. biar rajin masak. Semangat rajin masak karena evaluasi bulan lalu yang masih seimbang antara masak dan beli jadi 😆. Sejak ngikutin Rumah Belajar Boga, aku merasa menyedihkan kalo ga masak sendiri 🤭.
Btw, hari ini aku masak soto betawi lho (akhirnya ya...setelah minggu lalu ga jadi bikin 😆).

Rajin nulis

Targetnya bulan ini mau nulis 30. Hihi... padahal bulan kemaren, nulis 20 aja hampir ga sampai. Mepet banget. Bulan Juni kemaren, tulisan yang disetor di KLIP ada batas minimal yaitu 300 kata. Jadi, aku memaksa diri untuk memenuhi target 300 kata. Perjuangan banget ih..beneran deh... Kadang sampe malem belom ada ide mau nulis apaan yang bisa panjang lebar sampe 300 kata.
Postingan di instagram udah ga bisa membantu. Paling kalo ga nangkring di sini ya pindah ke gdrive untuk tulisan yang ga layak publish 😄. Kayak yang di sini udah layak aja... ya..menurutku sih udah.. ga tau Mas Anang *krikkrik.

Rajin journaling

Ah ya..bulan ini aku bikin jadwal harian baru yang disesuaikan dengan kondisi. Maksudnya biar semua bisa mendapatkan waktu dan perhatian yang adil dan bijaksana. Karena jadwal harian yang sebelumnya, sudah tidak bisa diaplikasikan secara baik dan benar.

Bulan ini, kabarnya anak-anak mulai awal tahun ajaran baru tanggal 13. Tapi pembelajaran masih di rumah saja. Mungkin jadwal harian akan menyesuaikan. Seperti refleksi akhir bulan kemaren, aku akan berusaha untuk menghabiskan banyak waktu untuk anak-anak.

Ah, banyak sekali keinginannya ya...

Tapi seperti biasa, nulis segala rencana di Bujo. Dipecah jadi rencana dan disertai target. Semangat di awal bulan, semakin mengendor seiring berjalannya waktu 😂. Semoga bulan ini ada peningkatan ke arah yang lebih baik.

Yang pasti, aku selalu berusaha untuk tetap rajin dan konsisten. Karena konsisten itu berat, Jendral 😌😌.


Merah Itu Aku
Jogja, 1 Juli 2020
Continue reading Semester Dua di Dua Ribu Dua Puluh