Wednesday, November 25, 2020

Tips Membersihkan Cermin Kamar Mandi

Haiii... Assalamualaikum 💕

Udah lama banget pengen bagi tips-tips bebersihan begini. Cuma kok yang biasanya aku lakukan receh banget ya 🤭.

Nah, kebetulan banget, weekend kemaren, aku berhasil membersihkan cermin kamar mandi dengan sukses. Enggak sukses-sukses banget sih, karena masih ada sisa-sisa cipratan air yang belum menghilang dengan tuntas. Tapi, sejauh ini, aku merasa cukup puas.

Menyesal banget, aku enggak foto before dibersihkan. Karena awalnya, aku ga terlalu berharap akan berhasil. 

Jadi, perjalananku membersihkan cermin kamar mandi sudah berjalan cukup lama. Segala daya upaya sudah aku coba untuk menghilangkan bekas cipratan air yang makin lama makin menutup area cermin dan membuatnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Ya, separah itu sampe cerminnya buram banget dan ga bisa buat ngaca.

Hihi... idealnya, setiap hari cermin itu kita keringkan supaya tidak ada jejak-jejak cipratan air yang membekas dan semakin membandel. Tapi ya karena eh karena... jadinya emang jadi separah itu kondisi cermin kamar mandiku.

Beberapa cara yang aku dapatkan dari hasil browsing, sudah aku coba. Misalnya menggunakan pasta gigi, menggunakan baking soda, dan terakhir aku mencoba menggunakan face toner. Rasanya ingin aku ganti saja cermin di kamar mandi itu saking putus asanya 🤣.

Bagi manteman yang mengalami masalah serupa denganku, jangan khawatir, bimbang, atau pun galau. Ada kabar gembira bagi kita semua. Untuk membersihkan cermin dari sisa-sisa cipratan air yang menempel secara membandel, kita hanya membutuhkan sedikit bahan dan usaha. Tenang saja, bahan-bahan yang dibutuhkan pun ada di sekitar kita.

Sesungguhnya, formula ini digunakan untuk membersihkan aquarium yang kusam menjadi baru kembali. Karena sesama perkacaan, aku pun mencoba untuk membersihkan cermin.

Langsung saja ya aku bagikan tips membersihkan cermin dari sisa-sisa cipratan air.

Teman-teman siapkan bahan-bahan sebagai berikut:



1. Asam sitrat (sitrun).

2. Sabun cuci piring.

3. Deterjen bubuk.

4. Kawat pencuci piring.

Catatan: takaran suka-suka 😄


Yang selanjutnya teman-teman lakukan adalah::

1. Campur sitrun dengan air. Balurkan pada permukaan cermin. Diamkan selama 3-5 menit.

2. Campurkan deterjen bubuk dan sabun cuci piring. Aduk rata. Balurkan pada permukaan cermin. Diamkan selama 10 menit.

3. Gosok permukaan cermin menggunakan kawat pencuci piring secara merata. 

4. Bilas dengan air.

5. Jika masih kurang bersih, ulangi lagi mulai dari langkah pertama.

Cermin kembali kinclong


Alhamdulillah, kombinasi ketiga bahan itu sukses membuat cermin di kamar mandi dapat kembali menjalankan tugas sebagaimana mestinya. Ohiya, tips tambahan ya, untuk kawat pencuci piring, jangan diganti pake spons biasa. Karena ternyata kawat pencuci piring ini sangat ampuh membantu mengangkat sisa-sisa kerak yang membandel 😄.

Sebelumnya aku pake spons biasa, ternyata cerminnya masih buram aja.

Tips selanjutnya adalah, jaga cermin di kamar mandi untuk senantiasa kering. Rajin-rajinlah mengeringkan cermin setelah selesai menggunakan kamar mandi (ini tips juga buat diri sendiri 😁).

Semoga tips ini bermanfaat ya... bagi temen-temen yang menghadapi masalah yang serupa denganku, bisa mencoba tips ini.

Selamat bersih-bersih 💕💕💕


Merah Itu Aku

Jogja, 25 November 2020


Continue reading Tips Membersihkan Cermin Kamar Mandi

Monday, November 23, 2020

Mencintai Diri



Dih, judulnya gitu amat, sih?

Mungkin begitulah yang terlintas di pikiran, ketika pertama kali membacanya. Oke.. oke.. sebenernya, akulah yang sempat berpikir demikian 😂.

Pertama kali aku berkenalan dengan mencintai diri sendiri, rasanya geli-geli gimanaaa... gitu. Semacam kurang kasih sayang dari orang lain, sampai harus mencintai diri sendiri. Menyedihkan sekali.

Please STOP! Jauhkan pikiran nyinyir itu dari dirimu, Laksmini 🧕.

Setelah mengikuti kelas Self Healing, aku baru mendapat pencerahan tentang mencintai diri sendiri.

Dari cerita beberapa teman yang sudah lebih dulu belajar tentang self healing, mencintai diri sendiri adalah salah satu cara untuk bisa mencintai orang lain. Jika kita sudah bisa mencintai diri sendiri, maka kita akan lebih mudah mencintai orang-orang di sekitar kita.

Akhir-akhir ini, aku sering sekali bersinggungan dengan materi self healing. Mungkin sekitar setahun belakangan ini. Aku merasa mendapat colekan mesra untuk melihat ke dalam diri sendiri. Sudahkan aku mencintai diri? Menerima diri?

Bulan lalu, materi self healing lebih santer lagi. Ternyata tanggal 10 Oktober merupakan hari kesehatan mental dunia. Beberapa kuliah dan event online bertemakan kesehatan mental pun banyak digelar.

Dua pekan yang lalu, aku mengikuti Jumagi via Zoom yang diselenggarakan oleh Gemar Rapi. Temanya adalah mengenal diri untuk dapat mencintai diri. Pas banget kan... Jumagi ini disampaiakan oleh Mba Diwien Hartono, seorang Holistic Healing Practitione.

Oh iya, seperti yang pernah aku ceritakan sebelumnya, Gemar Rapi Madya yang sedang aku ikuti, saat ini sedang mempelajari dan mempraktekkan ilmu menata jiwa. Jadi, yang kami lakukan adalah bagaimana cara menata jiwa. 

Mencintai diri ini, bisa aku bilang sebagai salah satu jalan untuk menata jiwa. Mencintai diri adalah mengenal diri kita sendiri dengan baik, kemudian menerima dengan ikhlas penuh kesadaran, segala kekurangan dan kelebihan yang ada dalam diri kita.

Mengenal diri tidak hanya dari kulitnya saja. Misal siapa nama kita, tinggal di mana, apa pekerjaannya. Akan tetapi, kita juga harus melihat ke dalam diri kita juga. 


Manusia terbentuk atas tiga hal, yaitu:

1. Diri sejati/ruh (sudah ada sebelum tubuh manusia terbentuk, dirawat oleh Tuhan)

2. Batin (pikiran dan perasaan).

3. Energi (dan tubuh)


Untuk mendapatkan sehat secara holistik, kita harus merawat diri secara menyeluruh. 


Saat itu, Mbak Diwien juga menyampaikan tentang teori sebab akibat penyakit:

1. Faktor primer. Berkaitan dengan batin.

2. Faktor sekunder. Berkaitan dengan diet, gaya hidup, alam, dan eksternal.


Dari penjelasannya, batin merupakan faktor penyebab yang sering menimbulkan penyakit. Oleh karena itu, jika kita sakit, coba lihat dulu ke dalam diri. Apa yang sedang kita pikirkan? Karena pengobatan secara fisik hanya akan mengobati gejalanya saja, jika penyebab sebenarnya berasal dari batin.

Beberapa orang mengalami peningkatan produksi asam lambung hingga mengalami GERD (Gastroesophageal Reflux Diseases) ketika sedang stres. Jika pengobatan hanya pada GERD saja, besar kemungkinan GERD itu akan kembali menyerang tak berapa lama berselang.

Untuk itu, selesaikan urusan batin dulu. Jika sudah selesai urusan batin, barulah obati gejala yang tampak.

Ada quote menarik dari Jumagi bersama Mbak Diwien saat itu:

Jadilah lentera yang menghangatkan dan menerangi diri sendiri dan orang sekitarnya. -Anonymous-

Maksudnya adalah, jangan mengorbankan diri sendiri untuk membahagiakan orang lain.


Merah Itu Aku

Jogja, 23 November 2020

 

 





Continue reading Mencintai Diri

Tuesday, November 17, 2020

Menghijaukan Halaman Rumah


Sekitar sebulan yang lalu, aku mendapat challenge dari seorang sahabat di Facebook. Bunyinya begini :

Tantangan buat posting tanaman 😆

Berhubung aku ga punya banyak tanaman dan ga begitu aktif di dunia per-facebook-an, akhirnya aku tidak langsung menerima tantangan tersebut 😆.

Beberapa hari setelahnya, aku dapet challenge serupa dari Mbak Luki di instagram. Aku pun belum tergerak untuk mengikuti challenge yang diberikan. Selain karena ga pede dengan tanaman yang aku miliki, aku juga masih mengikuti sarkat* saat itu. Jadi, feed intagram udah aku atur buat setoran sarkat dulu 🤭.

*sarkat (sarapan kata): tugas mengunggah cerita bersambung selama 30 hari, di antara pukul 7-10 pagi, di aplikasi menulis KBM app, dan selanjutnya harus di-posting di feed instagram. Sarkat ini merupakan salah satu syarat kelulusan Kelas Menulis Online (KMO). 

Tak lama berselang, aku dapet challenge yang sama dari Mbak Army, melalui instagram. Akhirnya, aku memutuskan untuk menerima challenge dari ketiganya sekaligus 😄. Alasannya, karena tugas sarkat sudah selesai dan aku khawatir dapet challenge serupa lagi. Dih geer 🤣🤣. Sebenernya, sebagai banci challenge, aku paling ga tahan kalo ga menerima challenge dari orang lain 😆.

Jadilah aku mulai mengikuti challenge di hari pertama dengan mengunggah foto tanaman soka. Setelah aku hitung, tenyata jumlah tanaman yang aku miliki cuma sembilan 😄. Sementara itu, tantangan ini berlangsung selama sepuluh hari, dengan sepuluh tanaman. Sungguh aku begitu total mengikuti tantangan ini 🤣. Tapi ga apa-apa kan? Ini juga demi menghijaukan halaman rumah 🤭.

Hari-hari setelahnya, aku selalu menantikan tukang tanaman lewat depan rumah. Seperti yang sudah-sudah, ketika kita tunggu, dia tidak datang 😄. Aku pun gemas dan mulai browsing untuk mencari penjual tanaman yang ada di dekat rumah. Sepertinya, dunia sedang berpihak kepadaku. Jari jemariku menuntunku pada akun penjual kaktus yang hanya berjarak kurang dari 5 menit perjalanan dari rumah 😍😍.

Sehari sebelum challenge berakhir, aku mendatangi tetanggaku yang jualan kaktus. Di sana, aku nyaris kalap belanja. Alhamdulillah kemaren naik motor, jadinya agak memperhitungkan kemampuan mengangkut tanaman 🤭. Hari itu, aku membawa pulang tiga pot tanaman dari Tuskaktus (nama tokonya).

Salah satu tanaman yang aku bawa pulang

Sepulang dari belanja di Tuskaktus, penjual tanaman yang aku nantikan sejak seminggu yang lalu, datang juga lewat depan rumahku 🤣🤣. Kesel banget kan yaaa... 😌

Apakah aku membiarkannya lewat begitu saja? Tentu tidak, Mantili... aku langsung mencegatnya dan berbelanja tanaman lagi, sebanyak tiga pot 😄😄. 

Semua tanaman yang aku beli, insya Allah mempunyai kemampuan bertahan hidup yang cukup tinggi. Berdasarkan penjelasan penjualnya ya.. dan aku percaya 😂. Tapi, kalo diliat dari bentuknya memang tampak kuat dan mudah perawatannya sih. Semoga mereka tetap survive setelah berada di dalam dekapanku 😘😘.

Terima kasih kepada teman-teman yang sudah memberikan challenge ini kepadaku. Terima kasih juga kepada siapa pun yang pertama kali memiliki ide untuk membuat challenge ini. Semoga kesukaanku pada tanaman tidak hanya saat ada challenge saja. Doakan agar aku bisa lebih menghijaukan pekarangan rumah yang cuma seuprit ini 😁.


Happy planting

Happy gardening

Happy greening (oposeh? 😂)


Merah Itu Aku

Jogja, 17 November 2020

Continue reading Menghijaukan Halaman Rumah

Friday, November 13, 2020

,

Wahana Perahu Kano

Assalamualaikum,

Hai..hai...

Beberapa saat yang lalu, kami diundang menjadi wisatawan di Transcity Harmony. Tiket masuknya adalah penjurusan yang kami lakukan di bulan Agustus.

Apa sih Transcity itu?

Jadi, seperti yang bisa kita tebak dari namanya, Transcity adalah tempat singgah atau transit (duh, eijk maksa banget ga sih? 😄). Wisatawan yang transit di Trancity Harmoni adalah mahasiswi institut Ibu Profesional yang sedang cuti kuliah atau sedang menunggu perkuliahan selanjutnya.

Kalau aku, menjadi wisatawan di Transcity karena sedang menunggu perkuliahan Bunda Cekatan. Aku dan teman-teman yang sedang menunggu kuliah Bunda Cekatan dijamu di Hotel Asyik. 

Tiket masuk Hotel Asyik

Ada tiga hotel lain, yaitu Hotel Bahagia (untuk mahasiswi yang menanti Matrikulasi), Hotel Mentari (untuk mahasiswi yang sedang menanti kuliah Bunda Sayang), dan Hotel Cemerlang (untuk mahasiswi yang sedang menanti kuliah Bunda Produktif).

Beberapa malam yang lalu, ada Wahana Perahu Kano di Balai Kota. Kami semua, para wisatawan di Transcity, diberi tiket gratis untuk masuk ke sana 😍.



Sepertinya, masa menunggu perkuliahan akan sangat seru. Ada banyak keseruan yang ditawarkan. Selain fasilitas hotel yang menyenangkan, kami juga dimanjakan dengan berbagai makanan enak dan pemandangan yang menarik.

Saat ini, kami diajak untuk menyusuri pantai menggunakan perahu kano, menuju perkuliahan Bunda Cekatan. Aku bertanya-tanya kepada diri sendiri, alasan apa yang mendorongku berkeinginan untuk mengikuti perkuliahan Bunda Cekatan.

Setelah lulus dari Bunda Sayang, aku memilih untuk beristirahat dengan mengambil keranjang komunitas saja, tanpa memilih institut. Kala itu, aku memang ingin fokus ke satu keranjang saja. Qodarullah, pembukaan kuliah Bunda Cekatan batch ke-2 belum dilakukan pada setengah tahun lalu. 

Ketika ada penjurusan lagi, aku memantapkan diri untuk memilih keranjang institut dengan tetap mengikuti kegiatan komunitas. Berdasarkan informasi dari seorang teman, perkuliahan Bunda Cekatan batch ke-2 akan dibuka tahun depan. Aku seperti mendapat petunjuk agar tidak berlama-lama beristirahat. 

Alasan terkuat kenapa aku memilih untuk melanjutkan kuliah di Bunda Cekatan karena aku ingin memantaskan diri sebagai perempuan. Kalau dari namanya, mungkin kami akan mendapatkan ilmu bagaimana menjadi Bunda yang cekatan. 

Cekatan dalam hal apa? Belum tau 😁. Kalau tebakan aku, setelah di Bunda Sayang, kami belajar tentang menghandle keluarga, maka di Bunda Cekatan, kami akan belajar mengenali potensi diri, untuk persiapan mengambil peran di luar rumah, tanpa mengabaikan peran sebagai ibu dan istri di rumah.

Nothing to lose sih sebenernya. Maksudnya, kalaupun bukan itu yang akan aku pelajari di Bunda Cekatan, aku tetap akan belajar sampai akhir. Karena aku yakin, setiap ilmu pasti ada manfaatnya. 


Merah Itu Aku

Jogja, 13 November 2020



Continue reading Wahana Perahu Kano

Tuesday, November 10, 2020

Tempat Tissue Kering dan Basah




Hai...

Assalamualaikum,

Siapa yang udah kangen dengan tutorial DIY? 😁😁

Setelah mengumpulkan niat dan semangat yang sempat tercecer dan terserak, akhirnya aku bikin tutorial juga. 

Kali ini aku mau kasih tutorial pembuatan tempat tisu kering dan basah. Dulu... dulu banget, aku udah pernah bikin yang serupa. Kali ini, aku bikin yang new version dengan kain kanvas dan beberapa perbaikan biar lebih kece dan mantep 😌. 

Baiklah... mari kita mulai saja sebelum aku semakin memuji-muji diri sendiri, eh, maksudnya memuji-muji tempat tisu buatanku 😆.

Semoga mudah dipahami dan bermanfaat ya 🥰🥰

Oh iya, mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa ga bikin 3 in 1 (dengan tambahan tempat handsanitizer) kayak yang lagi hits itu? Jawabannya adalah engga pengen aja sih 😂. Kalo kalian mau nambahin kantong buat botol handsanitizer, silakan 😁.

Oke... berikut adalah langkah-langkah pembuatan tempat tisu 2 in 1.


Langkah 1.

Mari kita ucapkan niat supaya diberi kelancaran dalam membuat tempat tisu ini.


Langkah 2.

Siapkan alat dan bahan.


1. Kain kanvas ukuran 22 cm x 45 cm

2. Kain blacu ukuran 22 cm x 10 cm

3. Kain blacu ukuran 22 cm x 8 cm

4. Kancing

5. Karet

6. Tutup tisu basah

7. Lem tembak

8. Gunting dan alat jahit 


Langkah 3.

Lubangi kain kanvas (lihat gambar). Ukuran yang disesuaikan dengan tutup tisu basah. Kemudian jahit keliling lubang supaya rapi


Langkah 4.

Jahit bagian tepi kain kanvas dekat lubang yang telah dijahit pada langkah 3.



Langkah 5.

Satukan kain blacu, beri lubang di tengah.



Langkah 6.

Lipat kain kanvas yang berlubang ke arah tengah. Sisi baik berada di dalam. Jahit bagian kanan dan kiri hingga membentuk kantong.



Langkah 7.

Satukan kain blacu dengan kain kanvas. Sisi baik berada di dalam. Sisipkan karet di bagian tengah.

Jahit kanan dan kiri hingga membentuk kantong.


Langkah 8.

Balik kain hingga sisi baik berada di luar.



Langkah 9.

Jahit kancing kemudian tempelkan tutup tisu basah menggunakan lem tembak. 

Supaya lebih cantik, tempelkan kain kanvas pada tutup tisu basah.






Langkah 10.

Masukkan tisu kering dan tisu basah. Tempat tisu 2 in 1 siap diajak jalan-jalan 😁


Alasan kenapa aku pake kombinasi kain blacu adalah karena aku terkendala untuk mengepaskan motif di bagian dalam. Kalo motifnya aman, bisa menggunakan kain kanvas dengan motif yang sama.


Silakan bertanya jika ada langkah yang belum jelas.

Happy crafting 💕


Merah Itu Aku

Jogja, 10 November 2020



Continue reading Tempat Tissue Kering dan Basah

Thursday, November 5, 2020

Habit Tracker

Hai ... hai ...

Assalamualaikum,

Sejak bulan Oktober, aku mulai kelas Gemari Madya #2. Kelas yang udah aku tunggu pembukaannya sejak setaun yang lalu. Eh, malah lebih ya ....

Materi pertama dari Gemari Madya adalah menata jiwa. Pas banget nih ya buat mengurangi berbagai clutter jiwa yang mengganggu.

Banyak hal baru yang aku dapat dari kelas menata jiwa. Pada awal kelas, aku diperkenalkan dengan Brain Dumping. Sebenernya banyak istilah yang dipake untuk menamai kegiatan itu.

Brain dumping adalah suatu cara menuliskan semua yang kita rasakan, kita alami, dan kita rencanakan. Tuliskan semuanya. Setelah itu, kita kelompokkan ke dalam kelompok-kelompok tertentu. Hal ini penting untuk mengenali apa yang ada dalam pikiran dan perasaan kita.

Brain dumping, bisa dilakukan secara berkala untuk membawa beban jiwa ke level sadar, agar dapat kita regulasi dan tidak menjadikan kita overwhelmed. Aku langsung memasukkan brain dumping ke dalam salah satu agenda rutinku 😁.

Salah satu tugas di kelas Gemari Madya adalah membuat habit tracker. Satu habit saja untuk dilakukan selama empat belas hari. Setelah itu, boleh ditambahkan habit baru, dengan tetap meneruskan habit sebelumnya.

Mengenai habit trakcer, sebenernya aku sudah lama melakukannya. Sebelumnya, aku menuliskan habit tracker dengan banyak habit langsung. Yang terjadi, kadang aku jadi kurang fokus melakukan karena saking banyaknya habit yang mesti aku tracking. Akhirnya banyak yang bolong 😆

Bersama kelas Gemari Madya, aku mulai dari awal, dengan mentracker satu habit saja. Memang yang aku rasakan jadi lebih fokus dalam melakukannya. Semoga istiqomah.

Habit tracker bulan Oktober 2020


Habit pertama yang aku lakukan adalah membaca buku minimal sepuluh halaman sehari. Buku non-fiksi ya, Gengs. Soalnya aku masih mengalami kesulitan dalam membaca buku bergenre ini.

Dan ternyata, sejak bulan Oktober, KLIP bikin reading tracker lho. Kan aku jadi semakin semangat baca😁. Kalo reading tracker KLIP, membaca selama 15 menit. Hwaaa... berita baiknya, aku bisa baca lebih dari sepuluh halaman tiap hari 😍😍.

Setelah habit pertama dilakukan selama 14 hari, aku menambah satu habit baru, yaitu workout minimal 10 menit tiap hari. Walaupun pada kenyataannya, bisa lebih dari 10 menit 😂. 

Habit tracker bulan November 2020

Selain menuliskan habit, aku juga menuliskan perasaan dan kondisi tubuh. Dengan mengisi tracker ini, aku semakin mengenal emosi yang berkecamuk di dalam jiwa. Tsah 😆.

Setiap hari, ada form yang harus diisi untuk menyetorkan habit. Hihi... kalo udah begini, tingkat kerajinanku akan meningkat berkali-kali lipat 🤣🤣. Padahal dulu pernah bikin mood tracker tapi banyak bolongnya karena ga harus laporan 🤭.

Untuk template habit tracker ini, sebenernya sudah disediakan oleh tim Gemari Madya. Tapi mereka membebaskan kami untuk menuliskan dengan cara yang paling kami suka. Aku pun memilih membuat sendiri 😁.

Semoga aku semakin rajin, semangat, dan istiqomah dalam melakukan habit-habit baik 💕💕.



Merah Itu Aku

Jogja, 5 November 2020



Continue reading Habit Tracker

Wednesday, November 4, 2020

Berkunjung ke Desa Wisata Nglinggo



Hari Kamis kemaren, kami mengunjungi Desa Wisata Nglinggo di Kulon Progo. Acara sebenernya adalah nemenin Mr. Right ngliat lokasi yang mau dibikin jalan. Ya udahlah, daripada anak-anak nge-game dan nonton tivi melulu di rumah, akhirnya kami ikutan.

Karena hari libur, jadi kami ga ngrasa bersalah juga ngintilin sesebapak kerja 🤣. Eh, tapi kan emang diajak ya 😁.

Kami berangkat dari rumah sekitar jam 9 pagi. Ga menyengajakan buat mruput juga. Pokoknya santuy banget lah.

Perjalanan ke Desa Wisata Nglinggo dari rumah, tidak sampai 1 jam. Jalanan menuju ke sana lumayan bikin degdegan karena menanjak dan berliku. 

Kami semua baru pernah berwisata setelah pandemi. Lumayan khawatir juga karena libur panjang, lokasi wisata bakalan ramai. Alhamdulillah, lokasi wisata ga begitu ramai. 

Kami menuju ke kebun teh yang lumayan luas. Dari tempat parkir, kami berjalan kaki dengan jalan yang menanjak. Semakin merasa sudah berumur dan kurang olah raga karena napas jadi ngos-ngosan.

Kami sempet foto-foto sebentar di kebun teh. Sekalian mengatur napas dan mempersiapkan diri manjat lagi ke gardu pandang.

Foto di kebun teh tingkat pertama

Selanjutnya, kami meneruskan perjalanan menuju gardu pandang. Nampaknya desa wisata ini baru dibuka karena jalan menuju gardu pandang masih dalam pembangunan. 

Sebelum naik, kami mampir ke area kemping. Kurang tau juga sih, lokasi ini beneran untuk kemping atau properti foto aja. 

Camping area

Di area kemping ini, ada beberapa ayunan dan spot foto. Sebenernya ada tempat api unggun di tengah hamparan batu putih pada foto di atas. Tapi ternyata ga kefoto 🙈.

Salah satu ayunan di camping area 


Salah satu spot foto di camping area


Awalnya aku ragu buat manjat ke gardu pandang. Ngliat gardu dari bawah, udah bikin jiper duluan. Tapi tanggung ya, udah sampe sini kok ga naik. Akhirnya memantapkan diri buat naik.

Jalan menuju gardu pandang ada 2. Semuanya melewati tangga yang banyak. Jalan yang satu sudah jadi, sedangkan jalan satunya masih dalam tahap pembangunan. 

Kami naik melalui tangga yang belum jadi. Bukannya sengaja, tetapi karena salah jalan 😆. Aku pun kembali galau. Berdasarkan info dari Pak Tukang yang sedang bikin tangga, gardu pandang udah deket. Ya sudahlah, kami pun melanjutkan perjalanan kembali melalui jalan yang masih berupa tanah dan membelah semak-semak.

Tangga naik masih dalam pembangunan


Akhirnya kami sampai juga ke gardu pandang 😍😍

Gardu pandang Nglinggo, baru diresmikan tahun 2019

Foto di gardu pandang


Setelah puas foto-foto dan menikmati pemandangan dari gardu pandang, kami turun. Jalan yang kami lalui lebih manusiawi karena tangga sudah jadi. Tapi tetep ga berani jalan cepet 😆.

Penampakan gardu pandang dari bawah

Waktu udah di bawah dan ngliat gardu pandang begitu kecil, aku terharu banget karena berhasil naik ke atas bareng anak-anak 😍😍.

Sampe bawah, anak-anak menagih janji untuk ditraktir mie instan cup 😂. Anak-anak memang jarang banget makan mie instan. Jadi, aku dan Mr. Right membuatnya sebagai rewards karena mereka berhasil naik ke gardu pandang 😌

Di dekat tempat parkir, tersedia banyak warung makan berupa gubugan-gubugan makan lesehan. Jadi, kami bisa pilih tempat yang sekiranya lapang. Alhamdulillah, kami dapet tempat yang kosong 😁.

Rata-rata gubugan makan, menyediakan meja kecil tiga buah. Masing-masing bisa lah untuk 2 orang dewasa. 

Kami makan di sini

Nyicipin teh sangrai petani Nglinggo, dengan gula aren 💕



Spot foto di dekat tempat makan


Spot foto di dekat tempat makan

Setelah bersitirahat, makan, dan foto-foto, kami meninggalkan desa wisata Nglinggo. Kami melanjutkan perjalanan menjelajahi Kulon Progo. Melewati beberapa tempat wisata dan hutan pinus. Tapi lewat doang ya. Insya allah, kapan-kapan main ke situ 😁.

Desa wisata Nglinggo dapat menjadi salah satu tujuan wisata keluarga. Udara khas pegunungan dan hamparan kebun teh, bisa menyegarkan pikiran 🤗.


Desa Wisata Nglinggo

Lokasi:
Nglinggo Barat, Pagerharjo, Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta 55673

Tiket masuk:
Gerbang masuk: Rp. 6.000,-/ orang dewasa
Gardu pandang: Rp. 5.000,-/ orang dewasa


Merah Itu Aku

Jogja, 4 November 2020

Continue reading Berkunjung ke Desa Wisata Nglinggo