Thursday, March 14, 2019

Kidspreneur

Hari ini seperti biasa, Kakak Athar sibuk dengan hobby nya menggambar di kertas-kertas hvs. Yang mengejutkan adalah ketika dia bilang, sedang membuat Tuan Bintang pesenan temannya.
Tuan Bintang? Kemudian Kakak Athar menjelaskan (si)apa itu Tuan Bintang.

Tuan Bintang adalah nama dari gambar yang dia buat. Ada gambar hewan dan monster. Dia gambar dikertas sedemikian rupa sehingga menjadi nampak hidup. 
Penasaran kan?๐Ÿ˜

Terlepas dari semua itu, yang bikin aku lebih terkejut lagi adalah ternyata dia udah berhasil menjual 1 Tuan Bintang. Di usia dia yang belum 7 tahun, dia udah bisa memproduksi barang yang kemudian laku dijual. Keren banget ya anak jaman now๐Ÿ˜๐Ÿ˜.

Semoga rejekinya berkah ya, Kak๐Ÿ˜˜.


Merah Itu Aku
Jogja, 14 Maret 2019
Continue reading Kidspreneur

Wednesday, March 13, 2019

, , , , , , , , , , ,

Pilar Gemar Rapi (Part 1)

Pilar Gemar Rapi ada 8. Tapi supaya kami lebih mudah menyerap materi, dijadikan 2 kali pembahasan (masing-masing membahas 4 pilar).
Pemahaman terhadap pilar ini penting supaya kami memiliki pondasi yang kokoh dalam menjalankan metode Gemar Rapi.

Berikut ini 4 pilar Gemar Rapi part 1:
  1. Dilakukan oleh pemilik (owner)
  2. Penguatan mindset sebagai pondasi awal (Mindset Gemar Rapi)
  3. Perubahan kebiasaan sebagai tujuan (Habit)
  4. Pengurangan barang dengan prinsip Lagom (Decluttering)
Sebelum aku terjun langsung untuk berbenah, aku harus mempersiapkan diri dan pasukan. Setelah berdiskusi dengan partner tercinta, maka beginilah kira-kira hasilnya.

1. Apakah anggota keluarga Anda sepakat dengan prinsip pilar pertama? Tanyakan pada pasangan, anak, orang tua jika tinggal bersama mereka.
Seandainya mereka sibuk dan tidak berminat untuk melakukan berbenah bersama, upaya apa yang akan Anda usahakan ke depan jika jadwal berbenah dibuat nanti?

Kami sepakat bahwa berbenah harus dilakukan pemiliknya. Hal tersebut terkait dengan perbedaan rasa serta selera untuk memaknai setiap benda yang dimiliki. 
Meskipun aku didukung penuh untuk ikut kuliah Gemar Rapi, tapi aku yakin sebagian besar kegiatan berbenah akan ada dalam kendaliku (ini adalah kalimat keren dari 'hampir sebagian besar, aku yang beresin'๐Ÿ˜†). Tapi untuk barang-barang milik Mr. Right, harus dia sendiri yang memilih dan memilah, kapan pun dia ada waktu disela-sela kesibukannya๐Ÿ˜’. Kemudian aku yang membereskan ke tempat semestinya. 
Kalo untuk anak-anak, mereka mungkin tidak akan tertarik membereskan baju pun mainan. Tetapi nanti akan aku libatkan untuk berdiskusi, mana yang mau disimpan dan mana yang mau disingkirkan. Meskipun aku yakin, diskusi itu akan berjalan alot๐Ÿ˜….

2. Tuliskan pola pikir lama Anda dan keluarga, kemudian korelasikan dengan pola pikir baru setelah Anda membaca pilar kedua.

Awalnya aku pikir, rumah ini tidak akan pernah bisa rapi karena hanya aku yang hobi beberes. Sisanya...ah sudahlah. Namun setelah aku baca pilar kedua, aku yakin bahwa meskipun saat ini Mr. Right dan anak-anak masih berantakan menata barang-barang miliknya, mereka akan hepi ketika rumah ini tertata rapi nantinya. Aku yakin, dengan mengijinkan aku mengikuti kuliah ini, sebenernya Mr. Right berharap rumah kami lebih tertata dengan baik. Kami pasti bisa belajar bersama dan berubah ke arah yang lebih baik, rapi, dan tentunya lebih bahagia๐Ÿ˜๐Ÿ˜.

3. Tulis perubahan kebiasaan apa saja yang Anda dan keluarga Anda lakukan ke depan bersama Gemar Rapi

Tentu yang pertama adalah kebiasaan mengembalikan barang ke tempat semula. Ini memang perlu pembiasaan, dan aku yakin, kami bisa melakukannya bersama-sama๐Ÿ˜.
Yang kedua adalah hanya membeli barang-barang yang benar-benar kami butuhkan, bukan yang cuma kami inginkan.

4. Apa yang Anda pahami terkait pengurangan barang dengan indikator Lagom?

Declutter bersifat individual, tidak bisa disamakan antara seseorang dengan orang lain. Prinsipnya adalah tidak berlebihan dan juga tidak kekurangan. Cukup. Sesuai dengan kebutuhan. Sehingga kita akan memiliki barang-barang yang membuat hidup bahagia dan nyaman, tidak malah terbebani dengan barang-barang yang dimiliki.

Nantikan part 2 minggu depan yess๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜.


Merah Itu Aku
Jogja, 13 Maret 2019



Sumber: materi Pilar-Pilar Gemar Rapi (Bagian 1)

Continue reading Pilar Gemar Rapi (Part 1)

Tuesday, March 12, 2019

Hectic

Hari ini begitu terasa hectic sangat. Dari pagi sampe malem banyak banget yang mesti dikerjakan. Padahal ini baru pemanasan. Baru buka-buka kulit luarnya aja.

Mungkin bukan ide yang bagus ambil banyak kelas di waktu yang bersamaan. Tapi bukan ide yang bagus pula kalo kita menunda-nunda melakukan hal bermanfaat padahal ada kesempatan.

Konsekuensi yang harus dihadapi dari sebuah keputusan. Dan alhamdulillah Mr. Right selalu mendukung. Iihhh...jadi makin cinta deh ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜.

Aku pikir sih kehectican ini akan berakhir seiring berjalannya waktu. Karena capaian dari semua kelas yang aku ambil bisa diaplikasikan di kehidupan sehari-hari. Setelah teori-teori ini berlalu, nampaknya ga akan sehectic hari ini. Semoga๐Ÿ˜

Dapet salam dari mi goreng
yang hampir habis

Untuk menutup hari yang hectic ini dan untuk mengapresiasi diri sendiri, aku makan mi instan menjelang tengah malam. Meskipun telornya terlalu matang, tapi cukup membuat hepi dan tetap bersemangat๐Ÿ˜.



Merah Itu Aku
Jogja, 12 Maret 2019
Continue reading Hectic

Monday, March 11, 2019

Mainnya Jauh

Akhir-akhir ini, aku sering berkegiatan di luar rumah. Dan lokasinya lumayan jauh. Setidaknya menurutku. Udah gitu nyetir sendiri. Tentu sudah seijin Mr. Right ya, yang sangat mendukung aku berkegiatan di luar rumah. 

Rasa-rasanya, ijin dari beliau begitu mudah di dapat. Bahkan ketika aku merasa sudah terlalu sering keluar rumah dan sudah ga enak mau minta ijin. Contohnya kemarin waktu aku cerita ada acara bagus hari Sabtu, aku awalnya ga berniat ikut karena untuk bulan ini udah beberapa kali minta ijin ikut acara di luar, eh beliau bilang 'ikut aja'๐Ÿ˜๐Ÿ˜. Padahal aku cuma memberi tau, bukan minta ijin. Trus aku jadinya ikutan dong๐Ÿ˜†.

Sebagai anak rumahan, pergi jauh-jauh dari rumah bukan sesuatu yang mudah buatku. Tapi ketemu temen-temen yang sefrekuensi, menambah ilmu baru, membuatku lebih bersemangat. Sepertinya itu yang membuat Mr. Right begitu murah hati memberikan aku ijin. Sepertinya beliau bahagia melihat aku yang berbinar-binar belakangan ini. Emang suami paling pengertian๐Ÿ˜๐Ÿ˜. Semoga beliau ga pernah menemukan dan membaca tulisan ini...bisa kegeeran parah๐Ÿ˜Œ.

Merah Itu Aku
Jogja, 11 Maret 2019
Continue reading Mainnya Jauh

Sunday, March 10, 2019

Mini Me

Awalnya aku pikir, ketiga anakku mirip ayahnya. Ternyata ada satu yang mirip banget aku. Terutama sifat dan hobinya. Tak perlu sebut Assafir yang nomer berapa๐Ÿ˜‹.

Waktu masih kecil, dia suka nyanyi. Suaranya ga perlu dikasih nilai. Yang jelas, rasa percaya dirinya cukup tinggi ketika menyanyi. Kemampuan menggubah lirik lagu pun lumayan perlu diperhitungkan. Aku pikir dia mirip ayahnya yang suka nyanyi. Kalo aku, mmm...cukup tau diri, ngomong aja fals. Jadi ga hobi nyanyi sama sekali๐Ÿ˜….

Tapi waktu umurnya 3 tahun an, dia mulai pegang gunting. Aku percaya dia bisa pakai gunting secara bijak. Aku ga pernah melarang. Dia mulai suka menggunting dan menempel. Kalo ada gambar yang dia suka, dia gunting trus ditempel di buku, di tembok, di pintu, di mana aja yang menurut dia oke. Jangan ditanya seberapa cepat lem dan selotip ku habis untuk mensupport hobinya itu. Akhirnya aku belikan lem kiloan. Untuk selotip, aku belum menemukan edisi ekonomisnya๐Ÿ˜„. 

Tidak berhenti sampe kegiatan menggunting dan menempel kertas, dia merambah juga ke kain flanel. Beberapa kali ikut menggunting dan menjahit bersamaku. Meskipun hasilnya tidak jelas, tapi dia nampak menikmatinya.

Tapi ternyata, kemiripannya bukan cuma itu saja. Sifat keras kepala, pemarah, penuh emosi, sensitif, dan gampang ngambek pun ada padanya. Hhh...aku merasa bersalah. Kenapa bukan yang baik-baik saja yang dia dapatkan dariku?๐Ÿ˜”

Mini me, tumbuhlah menjadi pribadi yang kuat. Kendalikan emosi, lepaskan energimu yang berlebih itu untuk hal-hal yang bermanfaat. Jadilah pribadi yang jauh lebih baik dari aku๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


Merah Itu Aku
Jogja, 10 Maret 2019


Continue reading Mini Me

Saturday, March 9, 2019

Challenge

Hampir di setiap komunitas yang aku ikuti mengadakan challenge. Dan dari semua challenge yang ada, hampir semua aku ikuti. Bukan karena aku orang yang kompetitif ya... apalagi pengen menang. Ish... aku masih cukup tau diri๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†. Aku cuma mempunyai banyak waktu luang๐Ÿ˜.

Alasan kenapa aku berusaha mengikuti challenge, karena aku pengen mengukur, seberapa kemampuanku. Komunitas yang aku ikuti adalah yang sesuai dengan passion, jadi saat mengerjakan challenge, aku bisa happy. Etapi passion di sini diartikan suka aja, belum tentu ahli๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚. 

Mari niatkan untuk belajar hal baru, menguji diri sendiri, dan mengalahkan kemalasan supaya semangat mengikuti challenge๐Ÿ˜Ž๐Ÿ˜Ž.


Merah Itu Aku
Jogja, 9 Maret 2019
Continue reading Challenge

Friday, March 8, 2019

Kuaci

Pertama kali kenal kuaci biji bunga matahari, waktu masih SD. Dulu ada gosip kalo makan kuaci biji bunga matahari, kita bakalan pusing-pusing. Sekarang baru berpikir, sepertinya itu trik marketing kuaci yang sudah ada sebelumnya, yaitu kuaci biji semangka๐Ÿ˜….

Aku ga mau membahas lebih dalam tentang seberapa kompetitifnya kedua kuaci itu untuk mengambil hati dan lidah para konsumen kuaci. Tapi yang jelas, saat ini aku lebih mudah menemukan kuaci dari biji bunga matahari dibanding kuaci dari biji semangka. Mungkin karena promosi yang lebih gencar dari kuaci biji bunga matahari dibanding kuaci biji semangka. Atau aku aja yang ga tau kalo kuaci biji semangka masih banyak juga dijual di pasaran๐Ÿ˜„. Maaf karena tulisan ini tidak diawali dengan riset pasar๐Ÿ˜†.

Beberapa bulan belakangan ini, di rumah hampir selalu ada kuaci biji bunga matahari. Dan supplier ku adalah bapak dan ibu (ibu sih lebih tepatnya๐Ÿ˜‹). Ibu juga yang mempengaruhiku mengkonsumsi kuaci di waktu luang karena ibu pun terpengaruh temen-temennya yang suka makan kuaci juga. Haha...ibu nyari temen yaaaa...๐Ÿ˜˜.
Duh...kebayang kan betapa selow nya hidupku yang masih punya banyak waktu luang untuk makan kuaci. Kenyang kagak...cape iya. Tapi nikmat juga๐Ÿ˜‚

Kemaren malem, saat yang lain udah tidur, aku dan bapak, yang lagi di Jogja, makan kuaci berjamaah. Duduk berdua di ruang makan, berhadap-hadapan, dipisahkan oleh meja makan. Dalam diam, tanpa kata. Hanya suara-suara kulit kuaci terpecah dan rintik hujan yang terdengar. Begitu syahdu. Hingga masing-masing dari kami menghabiskan segenggam kuaci yang kami ambil. 

Kami dan kuaci, menutup malam itu dengan damai.

Merah Itu Aku
Jogja, 8 Maret 2019
Continue reading Kuaci