Saturday, October 16, 2021

Balada Diet

Berat badan, memang merupakan permasalahan klasik yang dialami hampir banyak perempuan yang aku kenal. Entah itu kekurangan berat badan atau pun karena kelebihan berat badan. Kalau dibuat perbandingan, tentu saja lebih banyak yang mengalami kelebihan berat badan, daripada sebaliknya. Aku pun selalu berkata bahwa golongan orang yang diet untuk menaikkan berat badan, merupakan public enemies yang sesungguhnya 🤣.

Ini berdasarkan circle pertemananku, ya... mungkin kalau temen-temennya model, lebih banyak yang kesulitan menaikkan berat badan. Nggak tahu juga sih, temen-temenku kebanyakan ibuk-ibuk 😆.

Sumber: google


Ngomong-ngomong soal diet, berarti kita membahas tentang pola makan. Aku sudah beberapa kali mengikuti kelas diet. Baik yang menggunakan suatu produk, maupun yang tidak. Jelas, aku lebih memilih melakukan diet tanpa produk pendukung. 

Dalam suatu percakapan dengan Mr. Right beberapa bulan yang lalu, kami sepakat bahwa tidak ada produk yang benar-benar berfungsi untuk menurunkan atau menaikkan berat badan. Produk tersebut hanya membantu. Jadi, kalau kita hanya konsumsi produk tersebut tanpa mengatur pola makan dan olahraga, tidak ada hasil yang tampak.

Aku akan mengerucutkan tulisan ini pada diet untuk menurunkan berat badan. Karena program inilah yang sedang aku lakukan.


TDEE dan BMR

Sebenarnya, prinsip dari diet adalah mengatur konsumsi kalori. Jika ingin turun berat badan, maka kita harus konsumsi kalori di bawah TDEE (Total Daily Energy Expenditure). TDEE merupakan jumlah kalori yang dibakar setiap hari, untuk melakukan aktivitas. Setelah mengetahui betapa pentingnya mengetahui jumlah kalori yang masuk, aku jadi rajin mencatat dan menghitung. Aku dibantu oleh sebuah aplikasi penghitung kalori. Mungkin ada perbedaan jumlah kalori dengan kondisi sesungguhnya. Akan tetapi, itu bisa jadi patokan untuk membuat diet tetap pada jalan yang lurus.

Pemangkasan jumlah kalori yang kita konsumsi setiap hari, tidak boleh di bawah BMR (Basal Metabolic Rate). BMR merupakan jumlah kalori yang dibutuhkan tubuh untuk menjalankan fungsi dasar tubuh, seperti mengedarkan darah, bernafas, dan mencerna makanan. Jadi, defisit kalori yang terlalu ekstrim, sangat tidak disarankan karena akan mengganggu fungsi dasar tubuh.


Pentingnya Olahraga

Dalam ilmu perdietan, persentase keberhasilan dalam mendapatkan berat badan ideal adalah 80% pola makan dan 20% olahraga. Meskipun mendapat porsi yang jauh lebih kecil dari pola makan, olahraga tetap penting untuk menjaga elastisitas kulit, membantu meningkatkan pembakaran kalori, dan berperan dalam pembentukan massa otot.

Pada program yang sedang aku jalani, olahraga dilakukan setiap hari, kecuali hari Minggu. Ternyata, kita memang butuh beristirahat dalam menjalani diet. Supaya kita senantiasa bahagia dan tidak tertekan.

Ohiya, olahraga juga dapat meningkatkan hormon endorfin yang membuat kita happy, lho ....


Menghilangkan Lemak, Bukan Air

Pernah nggak sih, baca atau nonton video yang menjelaskan tentang program menurunkan berat badan dengan cepat? Menggiurkan? Cukup membangun harapan yang indah bagi masa depan? Oh, tunggu dulu, Mantili ... Jangan buru-buru mengoptimis.

Penurunan berat badan yang wajar adalah 1 kg per minggu. Bahkan setengah kilogram dalam seminggu, sudah bisa dikatakan berhasil. Namun, penurunan berat badan masing-masing individu berbeda, ya. Bagi pemilik berat badan yang masuk kategori overweight, kemungkinan turunnya memang lebih banyak. Kalau yang enggak berat-berat banget, penurunannya cukup setengah hingga satu kilogram seminggu.

Penurunan berat badan yang terlalu drastis pada program tertentu, kemungkinan adalah menghilangkan air. Itulah kenapa, penurunan berat badan yang terlalu cepat, juga akan berpotensi meningkat dengan cepat pula.

Penurunan berat badan yang bertahap, biasanya akan lebih bertahan lama karena yang dikurangi adalah lemak. Kombinasi mengatur pola makan dan olahraga, dapat membantu kita dalam mengikis lemak-lemak jahat dari dalam tubuh.


Bukan Pemuja Angka Timbangan

Setelah mengikuti program diet ini, aku melakukan pengukuran lingkar badan, di samping melihat angka timbangan. Aku melakukannya seminggu sekali.

Coach diet kami selalu mengingatkan bahwa kita jangan menjadi pemuja angka timbangan. Boleh jadi berat badan kita tetap atau bahkan naik, tetapi lingkar tubuh kita menyusut. Hal tersebut juga merupakan indikasi kemajuan program yang kita lakukan.

Meskipun demikian, aku kok tetep terobsesi buat mencapai angka timbangan tertentu, ya 🤣🤣. Yah, walau tetep happy tatkala berat badan tidak turun, tetapi lingkar tubuh dan kadar lemak mengalami penurunan 😁.


Makan dulu, biar dietnya kuat

Sebelumnya, aku pikir Coach ini lagi ngelawak. Namun, setelah ikut hampir semua kelasnya, aku baru menyadari bahwa kalimat tersebut benar adanya. 

Diet itu tidak identik dengan kelaparan. Kami bahkan dianjurkan untuk makan sehari lima kali. Tiga kali makan berat dan dua kali snack. Aseli, ini beneran terjadi. Selama menjalani program, aku tidak kelaparan. Yang paling penting, aku tetap bisa minum kopi sehari dua cangkir. Yiey!!!

Bahaya dari kelaparan adalah ketika tubuh kita memberi sinyal untuk mengunyah demi menuntaskan rasa lapar tersebut. Biasanya, ketika kita lapar, justru makanan yang masuk menjadi tidak terkontrol jumlahnya.

Pentingnya mengatur jadwal makan juga mencegah kita merasa lapar dan ngemil sepanjang waktu. Ini pengalaman pribadi sih, pengennya ngurangin makan berat, tetapi makan snack dikit-dikit tiap saat. Hihi... pada akhirnya aku menemukan biang keladi dari kegagalanku dalam menurunkan berat badan selama ini.

Jadi, kalau temen-temen udah merasa rajin olahraga, tapi berat badannya segitu-segitu aja, coba telusuri makanan yang masuk ke dalam tubuh setiap hari 😁.


Sebenernya masih banyak ilmu-ilmu perdietan yang aku dapet dari program @beranilangsingkuy. Biar nggak penasaran, temen-temen bisa langsung kepoin akun instagramnya. Kalau belum puas, bisa banget langsung mencemplungkan diri biar semakin terpampang nyata.

Terima kasih aku ucapkan pada Coach @rossadorable yang sudah mendampingiku sebulan kemarin dan tiga bulan atau berbulan-bulan ke depan. Semoga ilmu-ilmunya menjadi amal jariyah, ya, Coach 😘


Merah Itu Aku

Jogja, 16 Oktober 2021





Continue reading Balada Diet

Sunday, September 26, 2021

Jurnal Pertama Bunda Produktif#2

Alhamdulillah, kami sudah memasuki perkuliahan Bunda Produktif batch 2.

Rasanya lega saat melihat namaku ada di passion crafting. Karena pada waktu pendaftaran, aku sempat galau menentukan pilihan. Seperti yang sudah dijelaskan oleh Kahima regional, pilihan yang dipakai adalah pilihan terakhir yang di-submit.

Kedua passion yang aku pilih memang memiliki porsi yang sama di hati. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya aku memilih berada di crafting.

Kami disambut oleh Tim Formula dan juga jajaran para pendukung perkuliahan Bunda Produktif. Metode gamifikasi masih mewarnai perkuliahan kali ini. Aura keseruan, bahkan sudah mulai terasa sejak pertama 'menginjakkan' kaki di FBG Bunda Produktif #2.

Aku adalah Hexagonia

Mahasiswi Bunda Produktif, tinggal di Hexagon City. Kami semua diberi sertifikat tanah dan juga ID card tanda penduduk.

Warga Hexagon City disebut dengan Hexagonia. Tugas awal banget yang kami dapatkan adalah membuat denah rumah. Ya iya lah ... masa mau tinggal di Hexagon City ga punya rumah? Apalagi udah punya sertifikat tanah 😁.

Kami dikelompokkan berdasarkan passion yang sudah dipilih pada awal pendaftaran. Aku masuk Co House 7 yang merupakan campuran dari Hexagonia pecinta craft dan art. Berdasarkan itu, kami menamai Co House dengan ArtaCraft. Keren ya ...

Co House ArtaCraft terdiri atas sembilan Hexagonia. Kami tinggal berdampingan di sebuah lingkungan yang asri.

Rumahku nomor 1 😁

Begitulah penampilan Co House ArtaCraft. Kami sepakat bahwa letak rumah kami berurutan berdasarkan nomor urut pada pembagian awal. Paling dekat dengan pintu keluar. Jadi, aku sekaligus berperan sebagai penjaga keamanan Co House. Hihi ...

Continue reading Jurnal Pertama Bunda Produktif#2

Monday, August 23, 2021

Berkebun

Pagi tadi, akhirnya aku tergerak juga buat mengurus kekacauan yang terjadi di taman seuprit depan rumah. Selama ini, memang yang serius mengurusnya adalah Bapak. Jadi, sudah bisa dipastikan, bagaimana tidak terawatnya bagian terbuka hijau rumah kami.

From Canva


Kami cukup beruntung tinggal di sini karena ada orang-orang baik yang bersedia membersihkan rerumputan dan daun-daun yang jatuh. Meskipun tidak menebang atau menghilangkan tanaman-tanaman utama, setidaknya halaman kami terbebas dari semak belukar.

Acara tadi merupakan berkebun paling sentimental yang pernah aku lakukan. Terlalu banyak sentuhan Bapak di sana. Beliau lah yang paling banyak berkontribusi dalam bersih dan terawatnya taman kami.

Aku bukan seseorang yang bisa merawat tanaman. Pengalaman membuktikan, hampir semua tanaman yang berada dalam pengawasanku akan berakhir menyedihkan. Bukti terakhir pun berkata demikian.

Pertama kali, aku punya pengalaman dengan satu pot kecil kaktus saat masih kuliah di Surabaya. Aku membelinya saat berjalan-jalan ke Gunung Bromo. Di sana, banyak sekali penjual kaktus, dan akhirnya aku tergoda untuk meminang salah satu. Konon katanya, merawat kaktus cukup mudah. Aku mulai curiga, ketika para menjual tanaman mengatakan bahwa merawatnya akan mudah, itu hanyalah sebuah trik marketing saja. Buktinya, semua tanaman itu dapat dengan mudah mati, jika berada bersamaku.

Awalnya, kaktus itu baik-baik saja. Aku menyiramnya sesuai dengan petunjuk dari penjual kaktus. Semua menjadi tidak baik-baik saja ketika aku harus pulang selama beberapa hari dan menitipkan kaktus pada teman kos. Beberapa hari setelah aku kembali, kaktusku busuk. Padahal, menurut teman yang aku titipi, dia sudah menyiram sesuai dengan pesan yang aku tinggalkan. Itu adalah kali pertama, aku membuat tanaman mati.

Sejak saat itu, aku memutuskan untuk menjaga jarak dengan tanaman. Selain karena belum punya tempat tinggal sendiri, jujur saja, ketertarikanku terhadap tanama, tidak besar-besar amat. 

Jauh sebelum menikah, Mr. Right pernah menyampaikan tentang keinginannya untuk menghijaukan rumah kami suatu saat nanti. Dengan tidak berperasaan, aku berkata bahwa aku tidak suka tanaman dan lebih memilih membiarkan halaman kami gersang daripada merawat berpot-pot tanaman. Toh, kami akan punya tetangga yang, semoga saja menyukai tanaman. Haha ...

Awal kami mengontrak, tentu saja tidak memungkinkanku untuk menghijaukannya. Kemudian kami pindah ke apartemen yang cukup minim lahan, dan sekali lagi, aku terbebas dari tuntutan memiliki tanaman. Ketika pindah ke Jogja, kami memiliki sedikit lahan terbuka yang sangat cukup untuk diolah sebagai taman kecil. Namun, keenggananku bercocok tanam, membuat sudut terbuka hijau itu, tidak berpenghunk dengan layak.

Bisa dibilang, taman di rumah kami merupakan tempat kreativitas Bapak dan juga rasa syukur beliau. Ketika kami pindah ke Jogja, beliau amat bersyukur karena akhirnya, kami punya tanah. Tentu saja hal tersebut sangat menyelamatkanku dari keharusan merawatnya selama ini. Kami sama-sama senang dengan alasan masing-masing. Aku jelas senang karena tamanku cukup terawat, dan Bapak juga senang karena selalu ada hal yang dilakukan ketika ke Jogja.

Setelah kepergian Bapak, aku belum mempunyai rencana untuk memperbaiki kekacauan yang terjadi untuk kesekian kalinya. Yang aku lakukan, hanyalah menebang beberapa batang pohon yang mengganggu dan beberapa yang mati. Semua tanaman yang aku beli sebelum kepergian Bapak, semuanya mati dan hanya meninggalkan tanah kering di dalam pot. Hanya beberapa tanaman yang ditinggalkan Bapak, yang masih hidup, meskipun tampak tidak terawat.

Setelah Bapak pergi, aku belum berkeinginan meneruskan perawatan taman di kemudian hari. Selain karena tahu diri atas kemampuanku, akan terlalu menyedihkan ketika aku berada di sana. Banyak kenangan yang tertinggal. Bahkan, aku masih bisa membayangkan Bapak sedang ada di sana sedang merawat tamanku. Ah, aku sangat merindukan Bapak.


Merah Itu Aku

Jogja, 22 Agustus 2021



Continue reading Berkebun

Thursday, August 19, 2021

(Dampak) Positif atau Negatif

Hai ... hai ... apa kabar Ibuk-Ibuk yang masih mendampingi anak-anaknya BDR (Belajar dari Rumah)? Semoga masih sehat lahir batin, ya ...

Ada yang udah garuk-garuk tembok?

Atau malah udah sampai tahap ngemilin rontokan tembok hasil digaruk?

Yang sabar, ya, Buk .... Sinih merapat dan saling puk-puk ....

Sebenernya enggak setragis itu sih kondisinya. Apalagi BDR sudah berlangsung lebih dari setahun. Udah biasa kita lah ... biasa memendam kekesalan.

Yah, apalagi sih yang bisa kita lakukan selain menerima dan ikhlas? Hibur-hibur dirilah dengan melihat kelucuan-kelucuan yang ada setiap hari. Hidup memang selucu itu kok 😆.

Ohiya, setelah beberapa waktu lalu aku sempat enggak bisa pulang ke Jogja karena penyekatan di mana-mana, akhirnya aku dan anak-anak berhasil juga. Alhamdulillah perpanjangan PPKM yang berkali-kali dilakukan, berbanding lurus dengan mengendornya penjagaan. Kami sudah berada di rumah selama tiga minggu.

Begitu sampai rumah, tentu hal yang paling ingin dilakukan adalah beres-beres. Kebayang dong gimana rupa rumah yang ditinggal selama lebih dari sebulan? Meskipun ada penyelamat kekacauan, sebut saja Bu Agus, tetapi ada lah hal-hal yang harus aku bereskan sendiri.

Acara beres-beres pun tidak berjalan mulus. Kegiatan sekolah anak-anak -- yang meskipun dilakukan dari rumah aja -- ternyata sungguh membuatku begitu senewen. Jadwal yang begitu padat, membuat hariku sejak bangun tidur hingga mau tidur lagi adalah berkutat dengan segala urusan persekolahan.

Usut punya usut, jadwal yang disiapkan sekolah, sejatinya merupakan jadwal yang semula diperuntukkan bagi pembelajaran tatap muka. Walaupun sudah ada penyesuaian, tetap saja masih terasa berat.

Alhamdulillah, mulai minggu ini, jadwalnya lebih manusiawi. Meski tetep aja ya, mulut hamba tak henti-hentinya mengomel agar ananda tercinta menyelesaikan semua tugasnya.

Mungkin terasa miris, ya ... dan mungkin merasa sedikit insekyur kala melihat anak-anak orang lain yang sudah bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, di usia yang sama. Eits ... buru-buru insyaf dan kembali ke jalan yang benar. Semua anak itu istimewa. Jangan dibandingkan dengan pencapaian anak orang lain.

Tapi susaaaahhhh ... iya ... iya ... aku ngerti kok ... sinih merapat dan saling pukpuk lagi 😌.

Beberapa kali, aku bahkan diingatkan langsung oleh Kakak. Jadi, ada suatu pelajaran, sebut saja tahfidz, yaitu belajar menghafal Al Quran. Sistem pembelajarannya, selain pertemuan online melalui google meet, para siswa diminta menyetorkan hafalan berupa voice note yang dikirimkan pada grup whatsapp. Satu halaqoh (kelompok tahfidz) berisi sekitar sepuluh anak.

Nah, karena ada di grup, maka kami bisa saling mendengar setoran temen-temen sekelompoknya. Setiap selesai rekaman hafalan, kami berdua mendengarkan beberapa voice note yang dikirim teman sekelompoknya. Kami pilih secara acak. Lebih sering, Kakak yang pilih, pengen denger punya siapa.

Beberapa hari belakangan, Kakak tidak terlalu bersemangat mendengar voice note yang dikirim teman-temannya. Pada suatu malam, aku sendiri yang memilih dan mendengarkan hafalan temannya. Tiba-tiba Kakak beranjak berdiri dan menyeletuk, "Udah deh ... mulai dibanding-bandingin ...."

Waktu denger kalimat itu, hati ini rasanya kayak ketusuk. Sakit yang nggak berdarah. Jadi, itu ya alasan dia kenapa nggak mau dengerin hafalan temen-temennya? Ah, sehina itu, ya, caraku menyakitinya?

Sadar nggak sadar, menjadi guru pendamping di rumah selama masa pandemi memang begitu banyak tantangannya. Mungkin sering kali kita berpikir bahwa kitalah yang merasa jadi orang paling tertindas. Namun, ada hati-hati kecil yang kerap kali lupa kita jaga. Kondisi ini bukan pilihan mereka juga kok. Marilah kita saling menahan diri untuk tidak menyakiti perasaan mereka. Iya, kita memang stres. Namun, melampiaskan kepada anak dengan kata-kata tajam juga bukan pilihan bijak.

*ini lebih ke selftalk sih ya... karena aku pun masih sering lupa menjaga perasaan mereka 🥺.

Selain kesedihan-kesedihan itu, ada juga hal-hal yang patut disyukuri. Bersama anak-anak dalam pengawasan kita, pasti lebih menenangkan. Kita bisa mengetahui pencapaian-pencapaian mereka secara langsung dan nyata adanya. Kadang, ada juga pikiran-pikiran polos nan jujur keluar dari mulutnya.

Pada suatu hari, aku mendampingi Kakak tertua menyelasaikan persoalan hidup. Ada sebuah pertanyaan mengenai dampak negatif dari letak geografis Indonesia.

🧕 Coba, dampak negatif itu, yang baik atau yang nggak baik?

👦 Baik dong. (Jawabnya mantep pisan)

🧕 Dampak negatif? (Aku mengulang pertanyaan dengen sedikit penekanan)

👦 Baik. (Mulai ragu-ragu)

🧕 Kalau kelakuannya negatif, minus. Nilai minus dibanding plus. Bagusan mana?

👦 Yang jelek? (Nampak tidak rela)

🧕 Negatif itu dampak yang nggak baik.

👦 Tapi kalau positif Covid kan ga bagus?

Meskipun aku sudah menyangka kalau dia akan mengarah ke sana, aku tetep aja gemes lho 😆.

Dalam istilah kesehatan, setauku, berita baik jika nilainya positif adalah merujuk pada kehamilan (kecuali kehamilan tidak diinginkan, tentu saja).

Ah, marilah bersyukur dan ikhlas menjalani hari-hari ini.

Semoga Indonesia lekas sehat dan anak-anak mendapatkan haknya untuk kembali bersosialisasi.


PS: Garuk-garuk tembok disadur dari curhatan bersama teman SMA beberapa hari yang lalu😆.


Merah Itu Aku

Jogja, 19 Agustus 2021


Continue reading (Dampak) Positif atau Negatif

Sunday, June 20, 2021

Jurnal 2 Tahap Kupu-Kupu

Kejutaaannnn ...

Huehehe ...

Tahap Kupu-Kupu ini memang penuh dengan kejutan. Setelah pekan sebelumnya dikejutkan dengan program mentorship, pekan ini, kami dibuat lebih terkejut lagi. Kami, mentor dan mantee, diberi kesempatan untuk lebih saling mengenal dengan  menggunakan video call.



Awalnya, aku merasa sedikit panik karena "Hah? serius? Aku belum pernah bertemu dengan ketiga kupu-kupu ini, lho. nanti harus gimana? Harus ngomongin apaan?"

Katakanlah, aku memang beberapa kali berhubungan dengan Mba Erna, karena kami sama-sama di KLIP, aku pernah juga saling berhubungan untuk pesan buku, dan terakhir, kami saling memberi potluck di tahap sebelumnya. Namun, tetap saja kan ya ... ini video call. Saling bertatap muka meskipun hanya melalui layar beberapa inchi saja. Apalagi dengan kedua mantee-ku yang benar-benar baru berhubungan setelah program mentorship ini.

Tujuan dari kegiatan di pekan ini, diharapakan, para mantee dan mentor dapat lebih saling mengenal dan mengetahui, sudah sejauh mana kami melangkah dalam topik yang kami ambil di program mentorship ini. Kalau buat aku pribadi, aku ingin lebih dekat dengan mentor dan mantee karena kami akan banyak berinteraksi selama enam pekan ke depan.

Hari Selasa, kedua mantee-ku, Mba Arin dan Mba Mel setuju untuk melakukan video call hari Kamis. Mba Mel Kamis pagi dan Mba Arin Kamis sore.

Aku masih menimbang-nimbang untuk membuat jadwal dengan Mba Erna sebagai mentorku. Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan sebelum dengan percaya diri menghubungi beliau. Akhirnya, Rabu pagi aku bertanya ke Mba Erna tentang kesediaannya untuk membuat VC. Mba Erna menawarkan jadwal sore itu, atau malam. Wow... secepat ituuuuhhh ... dan dengan pede-nya, aku menyetujui jadwal siang menjelang sore, hari itu juga.

Baiklah ... aku akan menceritakan perkenalan dengan video call, dengan urutan berdasarkan waktu kejadian.


Ngobrol Bareng Mba Erna

Setelah menyelesaikan beberapa hal dan mengirimkan pada Mba Erna, aku mempersiapkan diri. Rasanya degdegan banget.

Mendekati jadwal VC, Dek Lou mendadak minta pipis dan mandi. Iya, MANDI jam 2 siang, kurang dikit. Greget ga? Greget ga? Greget ga? Greget lah, masa enggak 😅. Makin degdegan lah aku. Akhirnya, aku minta izin ke Mba Erna untuk agak telat karena harus mengamankan situasi.

Meskipun kami berdua sudah berhubungan melalui wa, tetapi saat video call, kami memilih mencoba menggunakan FB. Hihi... ternyata bisa lho.

Dari 10-15 menit video call yang dikatakan Magika, ternyata kami bisa menghabiskan waktu satu jam lebih untuk ngobrol 😆. Kekhawatiran yang sempat menghantuiku, ternyata tyda terbukti, Saudara-Saudara. Ngobrol bareng Mba Erna serasa ngobrol bareng kawan lama. Kayaknya nyambung aja gitu.

Segala curhatanku, ditanggapi dengan masukan-masukan dari Mba Erna.

Aku banyak mendapat insight menulis dari Mba Erna. Sebagai penulis yang karyanya sudah terbit di penerbit mayor, Mba Erna sangat down to earth. Membuatku nyaman dan bahagia.

Melalui pembicaraan yang kami lakukan, akhirnya aku memutuskan untuk merevisi novel yang pernah aku buat di KBM, beberapa bulan yang lalu.

Aku setuju banget ketika Mba Erna mengibaratkan sebuah naskah sebagai anak. Jangan sampai naskah yang sudah kita buat terabaikan sebelum diselesaikan. Kapan selesainya? Tentu setelah naskah itu menjadi karya dan sampai ke tangan pembaca. Sungguh, aku langsung merinding denger kalimat itu.

Sebenarnya, aku masih kurang PD dengan naskahku yang lalu itu. Selain karena kurangnya riset, banyak plot hole, beberapa saat lalu, aku membaca sebuah novel yang ceritanya mirip dengan naskahku itu. Bedanya, novel itu jauh lebih rapi dan jelas risetnya enggak kaleng-kaleng.

Namun, aku teringat bahwa jangan sampai kita berhenti sebelum menyelesaikan apa yang sudah kita mulai. Aku juga teringat kata-kata Mba Deka, ide cerita bisa saja sama, tetapi pasti akan ada pembeda.

Setelah merenung beberapa hari, akhirnya aku satukan naskah-naskah yang terserak. Waktu aku baca, memang terlalu banyak hal yang perlu direvisi, tapi nanti saja aku revisi bersamaan dengan masukan dari Mba Erna.

Ternyata, naskah KBM-ku yang lalu, baru akan menuju konflik. Duh, ampun deh, memang kejar tayang itu enggak enak banget. Apalagi tanpa outline. Etapi, kata Mba Erna, tidak semua orang cocok dengan penulisan outline sebelum menulis. Sampai saat ini, aku belum tau masuk tipe penulis dengan outline atau bukan.

Pekan ini, aku menyerahkan sebagian naskah yang pernah aku buat untuk direview Mba Erna. Entah kejutan apa yang akan diberikan Magika untuk kami, tetapi aku berencana mematangkan outline supaya menjadi naskah utuh dan meminimalisir plot hole.


Ngobrol Bareng Mba Mel

Seperti saat bersama Mba Erna, kami melakukan video call menggunakan FB juga. Ini adalah kali pertama kami bertatap muka. Kenal juga baru tahap mentorship, tetapi mengejutkan bahwa kami bisa menghabiskan waktu lebih dari satu jam untuk ngobrol.

Mba Mel memilih macrame sebagai topik yang akan digeluti selama tahap kupu-kupu karena Mba Mel ingin merelease emosi dengan mengurai benang-benang yang dimilikinya. Peta belajar Mba Mel adalah tentang management emosi. Dengan macrame, Mba Mel ingin move on dari gulungan tali yang dimilikinya. Baiklah, topik macrame bisa dikatakan beririsan dengan peta belajar Mba Mel, berkenaan dengan managemen emosi 😁.

Mba Mel sudah punya basic dalam membuat hanging wall macrame. Kali ini, Mba Mel akan membuat hangging wall macrame dengan ukuran yang lebih besar, untuk menghabiskan tali yang dimiliki. Insya Allah, dalam enam pekan ke depan, kami berdua akan mewujudkannya.

Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan tentang pertemuan tatap muka virtual kami. Kejutan demi kejutan yang terpampang nyata, membuat kami berdua merinding, degdegan, dan entah perasaan apalagi. Pernah enggak sih, kalian bertemu dengan seseorang yang tanpa disangka-sangak memiliki begitu banyak kesamaan? Mungkin kejadian itu ada, tetapi sangat kecil persentasenya. Dan itulah yang terjadi pada kami.

Dimulai dari menyadari usia anak pertama yang sama, kami mulai bertanya-tanya, apakah usia kami juga sama. Haha... penting ya, dan ternyata kami memang seumuran. Okay, tuaan aku setahun, tapi tidak mengurangi kebahagiaan kami 😆.

Persamaan kami tidak berhenti begitu saja. Ternyata, kami berdua sama-sama ibu dari tiga orang anak, dengan gender yang sama. Mba Mel memiliki tiga orang putri, sedangkan aku punya tiga orang putra 😂😂.

Mari kita ungkap beberapa persamaan yang semakin bikin merinding. Ketiga anak kami, lahir di bulan yang sama. Bahkan, anak pertama dan kedua, lahir di tahun yang sama. Untuk anak ketiga, bulannya sama, tetapi tahunnya berbeda. Ya ampun, ya ampun ... bisa gitu banget ya 😂😂. Apa-apaan ini 😅😅.

Ternyata lagi, kami sama-sama menikah dengan teman sekolah 😂😂. Oh my oh my ...

Aku tau, bahwa tidak ada kebetulan yang terjadi di dunia ini tanpa seizin sang Pencipta. Namun, kesamaan ini benar-benar sesuatu yang di luar dugaan. Bahkan kami pun tidak menyangka bisa dipertemukan dalam tahap mentorship ini.

Ahya, saat video call pun, kami berdua sama-sama memakai hijab berwarna abu-abu. Padahal kami enggak janjian 😅.

Kesamaan lain yang nyata-nyata menyedihkan, kami berdua baru saja kehilangan ayah dengan sebab yang sama. Ayah Mba Mel berpulang bulan Desember tahun lalu, dan aku baru kehilangan Bapak bulan Februari tahun ini 🥺🥺.

Banyaknya persamaan yang kami miliki, membuat obrolan kami tidak ada habisnya. Banyak hal yang kami bicarakan, bahkan sampai akhirnya, aku mengetahui bahwa Mba Mel adalah sekretaris regional Balikpapan. Wow ... wow ... pantas saja obrolan seputar komunitas begitu nyambung dengan Mba Mel.

Obrolan pun bergulir menjadi kegiatan komunitas regional dan 3rum (Rumbel, Rumin, dan Rumba). Haha ... kami berdua memang serandom itu dan pembahasannya seseru itu.


Ngobrol Bareng Mba Arin

NAh, Mba Arin ini tampaknya yang paling kalem dan on track ya. Dari obrolan kami, Mba Arin ini paling to the point. Namun begitu, Mba Arin adalah orang pertama yang chatnya paling rame. Hehe ... kadang memang ada pribadi yang lebih nyaman bertegur sapa melalui jari jemari dibanding dengan bertatap muka secara langsung.

Mba Arin sudah pernah membuat karya macrame berupa hanging plant. Jadi, Mba Arin memang sudah menguasai beberapa jenis ikatan.

Rencana Mba Arin adalah membuat wall hanging macrame. Pada pekan ini, kami belum membuat rencana enam pekan ke depan. Kami akan mengikuti arahan Magika dengan segala kejutannya.

Kami sepakat bahwa ketika ada step yang perlu didiskusikan, maka akan langsung ditanyakan saja. 

Kemarin, kami sudah berdiskusi tentang bagaimana menghitung panjang tali agar tidak banyak yang terbuang.

Semangat ya, Mba Arin 💪.


Ada kesamaan antara aku dan mentor beserta para mantee. Ternyata kami sama-sama ibu dari tiga orang anak 😆😆. Duh, kenapa jadi cocoklogi begini ya 😂.

Ah, terima kasih kepada tahap kupu-kupu yang mempertemukanku dengan semua kupu-kupu muda hebat ini 😍😍.


Merah Itu Aku

Jogja, 20 Juni 2021



Continue reading Jurnal 2 Tahap Kupu-Kupu

Friday, June 11, 2021

Jurnal 1 Tahap Kupu-Kupu

Alhamdulillah ... aku sudah melewati tahap kepompong dan kini mulai memasuki tahap kupu-kupu sebagai kupu-kupu muda.

Tahap kepompong yang lalu, aku gagal masuk sebagai kepompong istimewa karena setoran 30 harinya bolong-bolong, ada rapel. Namun, alhamdulillah ya... tetep dapet badge karena meskipun bolong-bolong dan ada rapel, aku tetep maksain buat laporan jurnal 30 hari 😁.

Pada pekan pertama di tahap kupu-kupu, kami dikejutkan dengan program mentorship. Setelah berhibernasi, rasanya sedikit jetlag dengan perkuliahan.


Personal Branding

Kami, para kupu-kupu muda, mendapat tugas untuk membranding diri sebagai mentor. Sebagai orang yang agak kurang percaya diri, membranding diri cukup membuatku ketar ketir.

Setelah berpikir, memilah, dan merenung, di antara crafting dan menulis, aku lebih PD membranding diri sebagai crafter, dengan spesialisasi macrame. Memang belum wow ya kemampuannya, tetapi aku lebih kurang wow lagi kalau harus jadi mentor bidang kepenulisan.

Maka, dengan mengumpulkan keberanian, aku membuat flyer yang memuat branding sebagai mentor bidang crafting.



Mencari Mentor (Sebagai Mantee)

Pekan kedua, aku benar-benar dikejutkan lagi dengan rangkaian program mentorship. Setelah membranding diri sebagai mentor, pekan kedua ini, kami berusaha mencari mentor pada bidang yang beririsan dengan peta belajar.



Meskipun pada tahap ulat-ulat, aku belajar tentang managemen waktu dan bullet journal, untuk program mentorship ini, aku ingin menulis. Aku cukup yakin dengan pilihanku karena pada peta belajar, aku menulis targetku adalah menulis fiksi yang berkaitan dengan macrame. Aku bahkan sudah membuat penokohan, latar, dan draft cerita sampai bab 6.

Melihat flyer mentor yang sudah teman-teman upload di album, aku langsung tertarik dengan flyer Mba Ernawati. 

Aku sudah kenal dengan Mba Erna. Bahkan, kami sudah berbagi potluck pada tahap ulat-ulat. Rasanya kaan menyenangkan jika menjadi mantee seseorang yang sudah pernah berinteraksi sebelumnya. Selain itu, aku sudah mengetahui sepak terjang Mba Erna di kepenulisan. Mba Erna sudah pernah menerbitkan sebuah buku di penerbit mayor dan so far, aku sangat menikmati tulisan-tulisan Mba Erna. Ohiya, Mba Erna juga Ketua KLIP periode ini. Pasti akan sangat menyenangkan bisa menjadi mantee dari Mba Erna.

Alhamdulillah, Mba Erna menerimaku sebagai mantee. Aku benar-benar bahagia membayangkan bagaimana kegiatan menulisku di bawah mentoring Mba Erna. Bismillah, semoga Allah mudahkan prosesku dalam menulis.


Bertemu Mantee (Menjadi Mentor)

Melihat bidang mentor teman-teman, sempat membuatku mengkeret. Mereka kece-kece banget. Nampak menguasai bidang yang memang banyak dicari. Jadi, aku benar-benqr akan merasa legowo ketika tidak ada yang berminat untuk menjadi mantee-ku.

Bukannya gimana-gimana, memang aku pernah melihat peta belajar beberapa teman yang mencantumkan tentang craft, tetapi untuk yang beririsan dengan macrame, rasa-rasanya belum pernah aku lihat.

Aku jelas hampir tidak percaya, ketika ada seseorang kupu-kupu muda yang meninggalkan komentar di bawah flyer yang aku upload di album "Kenalkan, aku sebagai mentor." Pada akhirnya, aku mempunyai dua mantee. Bismillah.

Mba Mel adalah yang pertama menghubungiku untuk menjadi mantee. Mba Mel berasal dari IP Balikpapan Raya. Memang, mempelajari macrame tidak ada dalam peta belajarnya. Namun, Mba Mel mempunyai alasan kenapa memilih bermain tali bersama dalam tahap kupu-kupu ini.

Kemudian, ada Mba Arin dari Bali. Mba Arin memang tertarik dengan crafting sejak semula. Pernah mempelajari macrame juga sebelumnya. Aku sempat galau, jangan-jangan malah justru aku yang nantinya dimentorin mba Arin 🙈.


Alhamdulillah, pada pekan awal tahap Kupu-Kupu, sudah membuatku sangat-sangat excited. Apa yang sudah aku pelajari pada tahap telur, ulat, dan kepompong, memang sangat berguna saat ini. Sesuai banget dengan goal yang ingin aku capai dalam perkuliahan bunda cekatan. Sejalan dengan peta belajar yang disusun pada awal perkuliahan.

Bismillah, semoga delapan pekan tahap ini, bisa membuatku menjadi kupu-kupu cantik dan penuh percaya diri. Semangat 💪💪❤❤.


Merah Itu Aku

Jogja, 11 Juni 2021

Continue reading Jurnal 1 Tahap Kupu-Kupu

Friday, June 4, 2021

Tentang Antologi Descendants (Sebuah Kisah yang Tak Terungkap)

Beberapa hari yang lalu, aku mendapat berita yang menggembirakan. Aku terpilih menjadi penulis terbaik 2 dalam antologi ke-19-ku. Rasanya benar-benar bangga dan bahagia.

Setelah setahun lebih bergelut dengan dunia antologi, aku merasakan juga perasaan bahagia mendapat piagam seperti ini. 

Piagam kece dari Tim GRC

"Descendants (Sebuah Kisah yang Tak Terungkap)", merupakan antologiku yang ke-19, terhitung sejak tahun lalu, ketika aku mulai serius menulis. Untuk tahun ini, itu adalah antologi ke-6 yang sudah terbit. Ada 2 naskah yang masih menunggu kabar. Semoga segera nampak hilalnya.

Tahun ini, aku belum banyak mengikuti antologi. Beberapa buku yang terbit, sudah aku ikutkan naskahnya sejak tahun lalu. Buku antologi ke-19 yang baru saja terbit, merupakan naskah pertama yang aku ikutkan di tahun ini. Rasanya tidak seproduktif tahun lalu.

Memang, tahun ini aku benar-benar memilih tema yang akan aku ikuti. Jika tahun lalu, aku mengejar kuantitas, maka tahun ini, aku mencoba untuk memperbaiki kualitas tulisanku.

Aku terlibat dalam antologi Descendants bersama Tim Ghirah Rachita Community (GRC) secara tidak sengaja. Jika biasanya, aku masuk grup antologi dulu sebelum mengirim naskahnya, maka untuk kali ini, aku mengirim naskah lebih dahulu sebelum masuk grup antologinya.

Suatu hari, aku ditawari oleh seorang teman untuk ikut antologi dengan tema broken home (tema besar yang diangkat Descendants). Saat itu, aku tidak langsung meng-iya-kan atau pun menolak. Aku minta waktu sehari untuk mengirimkan naskah. Besok malamnya, aku kirim naskah ke temanku itu. 

Pembuatannya cukup kilat. Sejak ditawari untuk ikut, aku mulai mencari inspirasi. Broken home yang ada di pikiranku saat itu adalah hubungan dua orang tua yang tidak harmonis dan berdampak pada anak-anak.

Ada beberapa ide untuk cerita itu. Kehidupan anak remaja yang orang tuanya berpisah, atau dampak lebih lanjut pada pernikahan seorang anak, yang tumbuh dalam keluarga broken home. Akhirnya, aku memilih membuat cerita dari ide yang kedua.

Pada cerpen ini, aku menggunakan sudut pandang orang pertama 'aku', yang benar-benar tidak dimunculkan siapa namanya. Aku baru sadar lho, ternyata aku hanya menyebutkan satu nama dalam cerpen tersebut. Candra. Sebagai nama suami 'aku'. Ah, no wonder lah ya... secara bikin cerita dalam tempo sesingkat-singkatnya. Padahal, aku sering kali merenung lama, cuma untuk menentukan nama tokoh 😅.

Aku, diceritakan merupakan wanita karier yang lumayan sukses. Kehidupan rumah tangganya tidak berjalan dengan lancar. Tumbuh di keluarga broken home, membuatnya tidak yakin atas kehidupan pernikahan yang bertahan lama. Akankah dia menemukan laki-laki yang akan merubah pandangannya tentang pernikahan? Untuk mengetahui cerita lengkapnya, bisa dibaca di buku antologi Descendants (Kisah yang Tak Terungkap). Etapi sayangnya udah close PO 🙈.



Pada buku antologi ini, terdapat sekitar tiga puluh cerpen dengan tema broken home.

Kalau biasanya, aku kepikiran buat meneruskan ide cerpen ke cerita lebih panjang, untuk kali ini, aku belum kepikiran. Karena menurutku, genrenya lumayan dewasa dan terlalu dark 😂.

Atas pencapaianku kali ini, tentu membuatku semakin bersemangat untuk menulis.

Ohiya, mulai bulan ini, KLIP menaikkan jumlah kata minimal setoran menjadi 350 kata 😄. Dan setoran pertamaku bulan ini mencapai 1400an kata. Aku setor pakai private doc karena buat ikutan antologi. Kelebihan setengah halaman dan perlu diedit buat pangkas. Tapi buat setoran KLIP, aku pake versi panjang aja 😁.

Semangat!!


Merah Itu Aku

Cilacap, 4 Juni 2021






Continue reading Tentang Antologi Descendants (Sebuah Kisah yang Tak Terungkap)