Monday, January 11, 2021

Latihan Membuat Tunik Bersama Rumah Belajar Crafting

Setelah bulan lalu, kami membuat pola tunik, tugas rumah belajar (Rumbel) Crafting bulan ini adalah menjahit tunik dari pola yang sudah dibuat.

Ini adalah kali pertama, aku menjahit tunik untuk diriku sendiri. Sebelumnya? Aku sudah berkali-kali menjahit tunik sih... tapi untuk boneka 🀣🀣🀣.

Pola tunik yang aku buat bulan lalu adalah tunik dengan model asimetris, bukaan depan. Aku terinspirasi dari salah satu tunik menyusui yang aku punya. Tentu saja aku membuat yang versi sederhana, yang ternyata saat aku buat, tidak sederhana juga 😌😌.

Pola tunik yang aku buat bulan lalu

Untuk orang yang baru pertama kali jahit tunik, aku tampak terlalu mempersulit diri sendiri karena membuat tunik dengan model begini 😝. Ga bisa ya bikin tunik yang gampang-gampang aja. #ngomongkedirisendiribukanngomongketembok

Eksekusi menjahit tunik, diawali dengan menggambar pola pada kain. Kesalahan pertama yang aku lakukan pada penjiplakan pola adalah bagian menambah kampuh. Karena aku tidak punya mesin obras dan tidak bermaksud mengobras ke tukang obras, aku berniat menjahit pinggiran kain menggunakan stik balik.
Kampuh yang aku ukur ternyata terlalu lebar sehingga menyulitkanku pada bagian melengkung, yaitu pada kerung lengan, leher, dan bagian depan bawah.

Bagian lengan kiri

Bagian belakang

Bagian depan kiri dan lengan kanan

Untuk bagian depan kanan keskip difoto ternyata πŸ˜…. Tapi nanti aku tunjukkan ketika sudah dipotong yes... ga usah sedih gitu dong 😌.

Ohiya, aku sengaja mengombinasikan kain batik dan kain polos karena dua alasan. Pertama, kain batikku cuma segitu-gitunya. Kedua, seandainya masih lebar pun, aku tetep kombinasi pake kain polos untuk menghindari ketidakmatchingan pertemuan pola kain. Bahasa kecenya, ga sanggit. Gemes kan, booo... kalo liat ada baju batik yang motifnya ke sana sini... kalo aku sih gemes, ga tau Mas Anang 😁.

Siap dipersatukan dalam hubungan yang halal

Urutan menjahit, aku mengikuti petunjuk Cikgu Tiut. Namanya juga pemula, yekan... ngikut jalan yang lurus aja belom tentu berhasil. Apalagi sok berimprovisasi 😝.

1. Menjahit bagian bawah lengan dan bagian bawah baju. 
Kesulitan pertama sudah aku rasakan saat menjahit bagian bawah yang melengkung. Agak tricky buat jahit bagian melengkung itu supaya ga keriting πŸ˜….

2. Menjahit lapisan kerung leher.
Aku menyatukan bagian leher dengan potongan kain yang bentuknya disesuaikan dengan lengkungan leher. Sebelum disatukan dengan kain bagian badan, potongan tersebut sudah dilapisi dengan vislin, yang direkatkan ke kain dengan cara disetrika.

Ini penampakan pelapis kerung leher

Kesulitan yang aku hadapi serupa dengan tahap pertama karena ini jahit melengkung. Sesuai petunjuk Cikgu Tiut, setelah menyatukan kedua kain itu, bagian tepi dalam dipotong agar ketika dibalik, bentuknya cantik seperti saya.

Setelah dibalik, aku rapikan tepi luar kain dengan cara disum (bener ga ya namanya 🀣).

Tepi luar lapisan leher, disum agar rapi

3. Menjahit bagian bahu.
Sebelum menjahit bagian bahu, aku hamparkan bagian depan dan belakang agar panjangnya sama. Aku gunakan jarum pentul sebagai pembantu. 
Karena aku menggunakan stik balik, maka pertama-tama, aku menjahit dengan posisi kain buruk di dalam. Kemudian aku jahit lagi dengan posisi bagian baik di dalam. Kebayang ga yah πŸ˜….

Aku sempat beberapa kali mendedel karena setelah selesai proses menjahit kedua bahu, ternyata panjang bagian bawah tidak sama. Huhu... padahal udah dibantu jarum pentul. Alhamdulillah setelah dua kali mendedel, mereka dapat bersatu dengan paripurna 😌.

4. Menyatukan bagian lengan.
Sebelum melakukan ini, sebaiknya kita banyak-banyak berdoa. Karena bagian ini horor banget bagi pemula semacam aku, Gaes... padahal aku sudah mengikuti saran Bucin terzhayeng, yaitu menjelujur kedua bagian itu sebelum jahit pake mesin agar dapat menyatu dengan harmonis. Tetep aja dong, aku mengalami beberapa kali mendedel karena setelah dijahit kok bentuknya kurang oke πŸ˜…. Haha... bukan sarannya yang salah. Tapi itu murni karena kurangnya ketrampilan dan ketangkasan yang aku miliki.

Usut punya usut, setelah berkonsultasi dengan pihak-pihak terkait, hal tersebut terjadi karena kampuh yang aku sediakan terlalu lebar. Bhaique...

Bagian lengkung-lengkung sebaiknya diberi kampuh sempit-sempit seikhlasnya agar tidak keriting. Apalagi jika menggunakan stik balik.

Setelah melalui jalan terjal dan berkelok-kelok, aku berhasil menyatukan lengan kanan dan kiri dengan lumayan memuaskan.

Sebagai catatan, aku sempat gemes karena memilih model ini. Bagian depan kiri, ada dua lapis yang harus aku jahit bersama lengan. Itu asli PR banget, mengingat aku ga pake obras, tapi pake stik balik.

5. Menjahit bagian tepi lengan dan tepi badan.
Ini bagian antiklimaks. Setelah permasalahan bahu dan kerung lengan, menjahit lurus tepi lengan dan tepi badan terasa was wes wos #nggaya. Tingkat kesulitan udah menurun secara signifikan.

Bagian yang lumayan menantang adalah ngepasin bagian ketek dan tepi badan kanan karena ada pertemuan tiga lapis kain.

6. Memasang kancing jepret.
Ini cimpirili lah ya... udah bisa pasang kancing jepret semua kan... πŸ˜‰

Tara.... perjuangan weekend kemaren pun sudah tampak hasilnya. 

Sekalian bikin masker yang serasi
(gemes banget deh akutuu)


Penampakan tunik tanpa model


Penampakan ketika bagian depan disingkap

Alhamdulillah aku sudah menaklukkan tantangan membuat tunik yang dapat dipakai manusia. Yiey!! Tepuk tangan untuk diri sendiri..

Terima kasih atas ilmunya, Cikgu Tiut..
Terima kasih Bucin Zhayeng yang sudah berbagi tips dan trik beserta nerimo untuk aku pameri 🀣🀣.

Buat temen-temen member Rumbel Crafting, "Njenengan sampun setor, Yugaes?"
Tertawa puas karena udah punya Surat Izin Menagih atau Meneror? (SIM).


Merah Itu Aku
Jogja, 11 Januari 2021
Continue reading Latihan Membuat Tunik Bersama Rumah Belajar Crafting

Sunday, January 10, 2021

Kopi Seek, Menjaga Kewarasan

Tanggal 6 Januari 2021, temen nongkrong seperjuangan, baru aja buka kafe. Sebelumnya, Bundie, temen nongkrong aku itu, udah jualan kopi juga, tapi online. Nah, sekarang ceritanya mau merambah juga ke dunia offline. Nama kafenya Kopi Seek, tidak ada perubahan dari nama awal.

Sehubungan dengan sibuknya aku mendampingi putra-putra calon penerus perjuangan bangsa, belajar dari rumah (BDR), maka aku tidak bisa datang saat pembukaan Kopi Seek. Padahal seru kan ya kalo bisa ikutan 😁.

Aku pun janjian mau ke sana hari Jumat. Lha, ternyata Dek Lou bobo. Ga enak juga mau pergi kesorean. Tar ngrumpinya ga lama 🀣.

Hari Sabtu pun aku batal ke sana. Berharap hari Minggu, Mr. Right bisa nganterin ke sana, sekalian anter pesenan ke deket bandara Adi Sucipto, dan beli buku buat anak-anak.

Ternyata hari Minggu, Mr. Right belom pulang juga. Karena khawatir besok susah pergi ke mana-mana karena mulai PSBB Jawa - Bali, akhirnya aku pergi juga.

Sempat galau mengenai urutan pergi ke mana dulu, trus ke mana selanjutnya, dan selanjutnya. Halah... kebiasaan ya mengatur jalur biar enak jalannya.

Aku berangkat dari rumah jam setengah tiga sore, dari rencana awal, pergi jam 10-an. Adaaa aja yang harus disiapkan. Sampe mendekati jam makan siang, aku putuskan untuk nyiapin makan siang kakak-kakak dulu.

Beres semua jam setengah tiga lewat. Udah langsung berangkat aja daripada ada kerjaan baru yang bikin batal pergi lagi.

Sampai di Kopi Seek, aku disambut sengan sangat ramah oleh owner nya 😁. Langsung ditawari matcha latte. Haha... dengan senang hati. Untuk Dek Lou, aku pesen cokelat hangat. Ohiya, begitu sampe di Kopi Seek, hujan turun dereeesss banget. Jadi alasan buat berlama-lama ngobrol di sana πŸ˜†.

Penampakan matcha latte pesenanku


Penampakan cokelat panas Dek Lou


Aku dan Bundie ngobrolin beberapa proyek kolaborasi. Bundie memang sudah mendesain kafe ini lebih kepada perempuan. Untuk dekorasinya, Bundie mau yang feminin dan yang penting, bisa menjadi wadah untuk menampilkan karya-karya wanita kreatif. Aku terpanggil untuk menggantungkan beberapa macrame wall hanging di tembok yang masih mulus di beberapa sisinya 🀣🀣.


Gemes pengen nyantolin macrame di situ😁


Keseriusan Bundie dalam menggarap kafe yang berpihak pada wanita adalah membuat jadwal women only pada hari dan jam tertentu. Seru banget kan buat rumpi khusus wanita 🀩.

Aku bilang, ide women only untuk cafe terbilang unik. Seru banget ya bisa ngopi cantik di mana pengunjungnya cewek semua 😍.

Foto diambil dari IG @prihantinindie0904 sang owner Kopi Seek

Kopi Seek juga sangat menerima reservasi untuk acara komunitas. Selain fasilitas women only yang bikin para perempuan bisa jejingkrakan, Kopi Seek juga menyediakan wifi dan sound system untuk kegiatan yang dilakukan di sana. Mau bikin IG live? Bisa banget 🀩

Ayo kita tandai untuk ancang-ancang bikin acara setelah semua aman terkendali. Aku juga berencana mengadakan acara di sana dengan peserta terbatas. Duh, sedih banget kalo inget pandemi yang membuat kegiatan-kegiatan offline rutin menjadi terhambat. Katanya anak rumahan... ya... ga sampe setaun lebih juga kaliiii...

Pembangunan cafe Kopi Seek belum rampung. Rencananya akan ada bagian outdoor agar bisa menampung pengunjung lebih banyak lagi. Untuk area indoor bisa menampung sekitar delapan belas orang pengunjung.

Buat kamu yang suka ngopi, bisa datang ke Kopi Seek yang terletak di 

Jl. Stadion, Karangsari, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, DI. Yogyakarta.

(Sebelah timur Stadion Maguwoharjo, sebelum patung elang jawa)

Bisa juga kepo akun instagram Kopi Seek @kopi_seek.

Kopi Seek, menjaga kewarasan. Tetap patuhi protokol kesehatan ya... 😘


Merah Itu Aku

Jogja, 10 Januari 2021


NB: kami tetap bermasker ketika ngobrol, buka masker saat foto dan makan minum. Kami juga tidak bersalaman. Sedih ya... tapi di saat seperti ini, menjaga jarak adalah bukti kita peduli terhadap orang lain dan diri kita sendiri.


Continue reading Kopi Seek, Menjaga Kewarasan

Saturday, January 9, 2021

Buku Antologi 2020

Alhamdulillah, hari ini buku antologiku yang ke-12 mendarat dengan mulus di rumah. Buku ini adalah antologi ke-12 yang dicetak tahun kemarin. Karena terhalang libur akhir atau awal tahun, akhirnya baru dikirim awal tahun ini.

Aku benar-benar tak menyangka akan memiliki koleksi buku antologi hingga sejumlah ini. Masya Allah Tabarakallah... mimpi pun aku tak pernah.

Semua berawal dari buku antologi bersama komunitas Gemar Rapi. Saat itu, aku benar-benar tak ada pengalaman menulis antologi sekali pun. Modalnya nekat. Hanya punya keinginan untuk membukukan tulisanku. Pengen merasakan punya buku, di mana ada namaku sebagai salah satu kontributornya.

Aku berterima kasih kepada komunitas Gemar Rapi, terutama kepada Mbak Nik tentu saja, yang sudah memberi kesempatan dan membimbing kami dalam menulis. Tak menyangka, menulis bersama komunitas Gemar Rapi adalah gerbang menuju antologi-antologi berikutnya.

Setelah buku antologi Membangun Budaya Gemar Rapi terbit pada bulan Januari 2020, aku jadi ketagihan untuk menulis antologi lain. Alhamdulillah, puji syukur tak henti-hentinya aku panjatkan, atas jalan yang ditunjukkan melalui orang-orang yang peduli kepadaku.

Antologi kedua terbit pada bulan Mei 2020. Aku masih menulis non-fiksi. Kali ini tentang pengalamanku menjalani operasi caesar. Bersama Indsript, kami menulis antologi Pejuang Caesar. Aku merasakan writing for healing ketika menulis di buku ini. Aku mencoba untuk memaafkan diriku dengan menulis.

Buku antologi ketiga dan keempat, aku tulis bersama teman-teman di @nulisbarengrobi. Untuk pertama kalinya, aku menulis cerita fiksi. Buku antologi ketiga berjudul Jangan Khawatir, Semua Akan Baik-Baik Saja, terbit bulan Juni 2020. Sedangkan buku antologi keempat yang berjudul Jadilah yang Terbaik Menurut Versimu Sendiri, Bukan Versi Orang Lain, terbit sebulan setelahnya, yaitu bulan Juli 2020.

Bersama @nulisbarengrobi, aku mendapat banyak ilmu tentang kepenulisan. Bagaimana menulis awalan, akhiran, dialog, dan kata-kata yang sering salah karena sudah terbiasa. Setelah ikut kelas menulis tersebut, aku semakin haus mencari ilmu tentang kepenulisan.

Aku berkenalan dengan @nuliskeroyokan saat Ramadan. Kemudian aku mengikuti proyek antologi Ramadan di Tengah Pandemi, yang terbit bulan November 2020, sebagai buku antologi yang kesembilan. Pada buku antologi ini, masing-masing kontributor menulis sepuluh cerita mini dengan tema seperti judul buku. Aku kembali menulis cerita fiksi.

Antologi kelima yang terbit bulan Oktober 2020, merupakan proyek bersama teman-teman Upload DIY Jogja. Dalam buku Upload DIY Jogja Bagiku ... kami bercerita tentang awal mula mengenal Upload DIY Jogja, bagaimana bisa tertarik dengan crafting, dan keseruan-keseruan apa yang kami rasakan selama bergabung bersama komunitas ini. Baby Dinata sebagai founder komunitas pun, ikut menjadi salah satu kontributor bersama kami.

Pada bulan yang sama, buku antologi keenam yang ditulis bersama Nulis Pengalaman Hidup (NPH) terbit. Awalnya, aku mengikuti postingan IG NPH tentang menulis gratis dengan persyaratan tertentu. Kemudian aku mengirimkan persyaratannya melalui email. Agak lama aku baru mendapatkan balasan yang mengabarkan bahwa kuota untuk antologi yang aku daftar, sudah habis. Aku pun ditawari untuk mengikuti proyek antologi lainnya. Tanpa pikir panjang, aku menyanggupi dan terbitlah buku antologi berjudul Seseorang yang Berarti.

Buku antologi ketujuh dan kedelapan, terbit di bulan yang sama dengan Ramadan di Tengah Pandemi, yaitu pada bulan November.

Parentouch, buku antologi ketujuh, aku tulis bersama @nulisyuk. Aku mengenal nulisyuk melalui IG. Mereka sering lho membuka pendaftaran proyek buku antologi.

Buku antologi kedelapan ini penuh perjuangan panjang dan berliku. Buku antologi ini digarap bersama teman-teman Kelas Menulis Online (KMO) batch 26. Kami berangkat bersama-sama di awal hingga seribuan peserta. Ohiya, KMO ini gratis, dan kami mendapat banyak ilmu kepenulisan. Karena gratis, memang banyak orang yang tertarik untuk ikut. Namun, di KMO ada sistem gugur. Bagi peserta yang tidak berkomitmen mengerjakan tugas yang diberikan, maka akan gugur. Hingga akhir kelas, kelompok kami, tersisa kurang dari separuh jumlah awal.

Buku antologi Enigma Virus Cinta, memberiku kesempatan mencicipi jadi editor cabutan. Masya Allah, ilmu mengedit itu benar-benar membekas. Bahkan ketika aku menulis chat pesan singkat, otomatis aku mengetik dengan minimal kesalahan ejaan πŸ˜…πŸ˜….

Candrawama (Antara Aku dan Luka) merupakan buku antologi yang kesepuluh, terbit pada bulan November. Bersama Ghirah Racita Comunity GRC), aku belajar lebih banyak lagi ilmu kepenulisan. Aku mengakui bahwa editor di GRC sangat luar biasa teliti dan tegas. Pertama kali menerima pengembalian naskah, aku langsung terhenyak melihat berbagai warna yang tertoreh di naskahku. Dari mereka, aku belajar semakin banyak lagi.

Pada bulan Desember, buku antologi bersama @nuliskeroyokan terbit lagi. Buku antologi kesebelas, berjudul Bintang dan Mentari

Buku terakhir yang terbit di tahun 2020 adalah buku antologi keduabelas berjudul Aku Ingin Jadi Anak Berbakti. Ini adalah cerita anak pertama yang aku tulis. Aku menulis buku antologi ini bersama teman-teman di BPOT.

Pojok display buku-buku yang memuat tulisanku 

Foto di atas adalah penampakan pojok display buku-buku yang memuat tulisanku. Sengaja dipisahkan dari rak buku bacaan yang lain, untuk memberi semangat agar terus menulis.

List judul buku antologi yang aku tulis, beserta bulan terbit, pada tahun 2020:

1. Membangun Budaya Gemar Rapi (Januari)

2. Pejuang Caesar (Mei)

3. Jangan Khawatir, Semua Akan Baik-Baik Saja (Juni)

4. Jadilah yang Terbaik Menurut Versimu Sendiri, Bukan Versi Orang Lain (Juli)

5. Upload DIY Jogja Bagiku ... (Oktober)

6. Seseorang yang Berarti (Oktober)

7. Parentouch (November)

8. Enigma Virus Cinta (November)

9. Ramadan di Tengah Pandemi (November)

10. Candrawama (Antara Aku dan Luka) (November)

11. Bintang dan Mentari (Desember)

12. Aku Mau Jadi Anak Berbakti (Desember).


Pengalaman menulis buku antologi di tahun 2020 sangat mengesankan. Bertemu editor dengan berbagai tipe, tetapi sama-sama mau memberi masukan yang membangun. Aku semakin butuh untuk belajar literasi. Mengasah kemampuan menulis dengan tata cara penulisan yang benar. Alhamdulillah... aku bertemu dengan orang-orang hebat.


Merah Itu Aku

Jogja, 9 Januari 2021



Continue reading Buku Antologi 2020

Monday, January 4, 2021

Masih Belajar Dari Rumah

Hari ini, anak-anak udah mulai semester baru. Kegiatan hingga empat hari ke depan adalah orientasi siswa secara daring menggunakan platform google meet. Lama pertemuan hanya dua jam, dengan istirahat selama lima belas menit. Namun karena hanya berhadapan dengan layar, mereka sudah tampak lelah dan bosan.

Mungkin, di banyak sekolah lain, kegiatan pembelajaran menggunakan google meet atau zoom cloud meeting sudah dilakukan sejak awal pandemi. Tidak demikian dengan sekolah anak-anak. Pertimbangan tentang latar belakang orang tua siswa yang memiliki gap terlalu lebar, membuat pihak sekolah menggunakan cara-cara konvensional di awal-awal pembelajaran daring. Pihak sekolah begitu fleksibel dalam hal waktu belajar, cara pengumpulan tugas, dan jenis interaksi yang dipilih.

Pertimbangan kedua orang tua murid yang harus bekerja, menyebabkan sulit menentukan waktu untuk melakukan video conference. Beberapa kali, pertemuan secara daring dilakukan sore hari. Dan memang tidak semua anak mengikuti.

Mengingat anak-anak masih SD, memang tidak disarankan untuk meninggalkan mereka dengan gadget tanpa pengawasan. Bukannya tidak percaya, hanya berjaga-jaga.

Pada akhirnya, di awal pembelajaran semester genap ini, pihak sekolah memutuskan untuk melakukan pembelajaran dengan video conference dengan waktu yang sudah ditentukan. Pastilah pertimbangan sudah dipikirkan secara matang. Pihak sekolah masih memberikan keringanan bagi anak yang tidak bisa mengikuti kegiatan menggunakan google meet dengan alasan yang bisa dipertanggungjawabkan.

Sejujurnya, sebagai orang tua dengan dua anak SD, aku lebih suka jika waktu belajar sudah ditentukan dengan pasti. Adanya pertemuan daring menggunakan google meet sudah sangat membantu untuk membuat anak-anak lebih disiplin dan bertanggung jawab. Aku pikir, pada usia SD seperti mereka, kesadaran untuk berdisiplin dalam kondisi seperti sekarang masih sangat kurang.

Anak-anak sudah terbiasa bertatap muka langsung dengan teman-temannya. Kondisi pandemi yang datang tanpa permisi, membuat semua pihak tidak siap. Tetapi, bagaimana pun juga, semua harus dihadapi dengan bijaksana. Meskipun banyak pihak yang dirugikan, hak belajar anak-anak harus tetap terpenuhi. 

Perubahan strategi yang dilakukan oleh pihak sekolah anak-anak sudah sangat baik. Semoga ke depannya semakin baik lagi. Dan semoga pandemi ini segera berlalu agar semua dapat kembali berputar sebagaimana mestinya. Aamiin…


Pembagian wilayan belajar:

Kakak Zidan di dalam kamar.




Kakak Athar di ruang tamu.





Merah Itu Aku

Jogja, 4 Januari 2021

Continue reading Masih Belajar Dari Rumah

Sunday, January 3, 2021

Reward and Punishment

Pada suatu malam yang dingin dan gelap sepi, Mr. Right ngliat aku yang lagi sibuk dengan buku dan aneka warna pen bergeletakan di sekelilingku. Dengan perhatiannya, dia bertanya, "Ecie... yang lagi ngerjain tugas. Rajin bener."

Merasa diperhatikan, aku geer dong ya... padahal tuduhan dia tidak sepenuhnya benar🀭. Iya sih, aku lagi bikin tugas pribadi, nulis bujo untuk persiapan tahun 2021.

Percakapan absurd suami istri pun berlanjut, di suatu malam 30 Desember 2020.

Mrs. Always Right: "Bukan tugas-tugas banget sih. Lagi persiapan 2021. Mau menyusun resolusi" (pas ngomong begini, aku beneran berasa sok kece banget 🀣). Trus aku terpancing buat tjoerhat.

"Taun ini banyak yang meleset. Jadi, taun depan harus meningkatkan prestasi, nih."

Mr. Right: "Kalo meleset gitu, ada punishment-nya ga?"

Mrs. Always Right: "Ga ada lah... orang bikin-bikin rencana sendiri kok. Paling ya konsekuensinya, targetnya ga terpenuhi."

Mr. Right: "Lha kok enak bener begitu. Trus ngapain dibikin rencana-rencana gitu?"

Mrs. Always Right: "Ya biar bisa ngukur aja sih. Dan biar inget terus kalo ada sesuatu yang dikejar. Emangnya, Ay ga pernah bikin beginian?"

Mr. Right: "Ga pernah. Adanya rencana kerja."

Dan percakapan pun berakhir πŸ˜….

Setelah itu, aku jadi teringat tentang reward dan punishment. Apakah memang perlu? (Jadi inget pembahasan CoC Ibu Profesional juga, ga sih? 😁).

Reward bisa kita artikan sebagai hadiah atas sesuatu yang telah berhasil kita lakukan. Aku pernah memberikan hadiah berupa bintang kepada diri sendiri ketika men-challenge diri sendiri untuk mandi pagi. Iya... aku terinspirasi dari tulisan Teh Shanty tentang mandi. Jadi, ada tingkatan jumlah bintang tiap kita berhasil menaklukkan challenge. Begitu pula di KLIP yang memberikan reward berupa badge.

Sedangkan punishment dapat diartikan sebagai hukuman terhadap tindakan yang salah atau tidak sesuai. Hukuman lebih mengarah pada tindakan negatif.

Untuk punishment, aku merasa tidak perlu. Tanpa adanya punishment, aku sudah menanggung konsekuensi terhadap apa yang aku lakukan. Bagiku, melihat habit tracker yang bolong-bolong atau list buku bacaan yang sepi udah ngeslin. Jadi ga perlu pake hukuman segala. Karena aku sudah merasa terhukum dengan sendirinya πŸ˜‘.

Mari semangat memperbaiki diri. Berikan reward yang bisa meningkatkan semangat seperti memberi bintang atau badge atau pujian untuk diri sendiri. Ga perlu yang wah, tapi cukup bikin diri kita happy πŸ˜πŸ’•.


Merah Itu Aku

Jogja, 3 Januari 2021

Continue reading Reward and Punishment

Saturday, January 2, 2021

Keseruan Milad IP Jogja

Tanggal 22 Desember 2020, Ibu Profesional Yogyakarta genap berusia empat tahun. Untuk memperingati Milad IP Yogyakarta yang keempat, digagaslah sebuah Parade Webinar.

Mba Septi Yuwana yang pertama kali melontarkan ide untuk membuat acara Milad IP. Setelah menggoyang Balik Layar dengan rencananya, panitia pun dibentuk dengan secepat kilat. Para Srikandi, dengan sukarela mengajukan diri untuk mengisi posisi dalam kepanitiaan.

Tema yang diusung pada Milad IP Yogyakarta yang keempat adalah Self Love πŸ’•. Uwuu banget kan... Sesuai dengan kebutuhanku dalam menghadapi resolusi di 2021😍.

Meskipun aku terlambat bergabung di kepanitiaan, alhamdulillah aku bisa terlibat bersama teman-teman dalam mempersiapkan acara untuk IP Yogyakarta tercinta. Aku juga bersyukur bisa bekerja sama dengan Mba Septi, sebelum beliau seleh dari Tim Balik Layar. Antara terharu dan bangga aku tu bisa bareng-bareng Mba Septi di kepanitiaan agenda besar IP Yogyakarta 😘.

Parade Webinar Milad IP Yogyakarta, dilaksanakn selama tiga hari, yaitu mulai tanggal 20 Desember 2020 dan berakhir pada tanggal 22 Desember 2020. Platform yang digunakan adalah Zoom Cloud Meeting.

Rangkaian Webinar Milad IP Yogyakarta

Keseruan Parade Webinar Milad IP Yogyakarta πŸ’•πŸ’•

20 Desember 2020 

Hari pertama Parade Webinar dibuka dengan penampilan Mba Devi. Beliau merupakan praktisi self love dan telah merasakan sendiri bagaimana perubahan setelah melakukan self love. Cinta yang Mba Devi berikan untuk diri sendiri sampai tumpah ruah dan dapat dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya.

Mba Devi membagikan pengalamannya selama melakukan self love. Bagaimana memulai hari dengan tersenyum dan memberi afirmasi positif. Kemudian menutup hari dengan berterima kasih serta memberi pujian terhadap apa yang sudah dilakukan sepanjang hari.

Kami pun berkesempatan untuk mempraktekkan butterfly hug untuk merasakan keberadaan tubuh dan diri, serta mengucapkan terima kasih kepada diri sendiri.


21 Desember 2020

Pada hari kedua Parade Webinar Milskincaread IP Yogyakarta, kami bertemu dengan dokter kecantikan yang memang beneran cantik, dr. Zhara Vida Zhubika. Beliau adalah member IP Yogyakarta yang juga seorang dokter umum yang praktek di sebuah klinik kecantikan di Jogja.

Webinar hari kedua diawali dengan sedikit materi tentang make up sehari-hari, yang langsung kami praktekkan setelahnya. Mba Zhara memberikan tips bagaimana make up minimalis untuk sehari-hari di rumah. Sebelum webinar, kami sudah diberitahu untuk menyiapkan make up untuk praktek. Seru banget dah dandan rame-rame meskipun secara online. Tetep rumpi lah ibu-ibu... dan bagian yang susah, tetep bagian bikin alis πŸ˜†.

Materi selanjutnya adalah tentang skincare. Wah, aku benar-benar tercerahkan setelah ikut webinar bareng Mba Zhara. Aku dikenalkan dengan double cleanser, yang ternyata sangat disarankan untuk dilakukan sebelum tidur, bahkan meskipun kita tidak keluar rumah.

Selain itu, aku baru tau kalo di atas 25 tahun, para wanita sudah membutuhkan krim anti aging. Ooohhhh tidaaaakkk... aku masih pake krim pagi dan malam biasa aja padahal udah di atas 25 tahun banget πŸ˜†πŸ˜†. Beberapa hari setelahnya, aku beli krim anti aging dong πŸ˜…. Trus aku merasa sayang karena krim lama masih ada kan... eh, pas konsul wapri ke Mba Zhara, ga apa-apa diselang seling aja pakenya sampe krim lama abis. Aseeekkk... ga jadi rugi 🀭.

Ilmu baru lainnya yang aku dapatkan di hari kedua Parade Webinar adalah penggunaan toner untuk mempersiapkan wajah dalam menerima krim selanjutnya agar bekerja lebih efektif. Jujur saja, sebelum ikut webinar ini, aku pikir, guna toner adalah sebagai pembersih wajah. Ya ampuuunnn...aku benar-benar sesat πŸ˜…πŸ˜….

Banyak lagi info seputar per skincare an yang aku dapat dari parade webinar hari kedua.


22 Desember 2020

Parade Webinar Milad IP Yogyakarta ditutup dengan kelas menggambar untuk anak-anak oleh Pakde Toro. Beliau adalah suami dari Mami Afa, Leader Kampung Komunitas IP Jogja.

Pakde Toro memberikan cara mudah menggambar hewan. Berbagai hewan yang digambar Pakde Toro, antara lain: ikan, unggas, dan hewan berkaki empat. Anak-anak tampak antusias mengikuti tutorial menggambar dari Pakde Toro. Bahkan, di akhir webinar, ada peserta yang mengusulkan untuk mengadakan acara serupa secara rutin. Wah, bisa jadi ide pembentukan Rumah Bermain (Rumin) di Kampung Komunitas IP Jogja nih 😍.

Puncak Parade Webinar IP Yogyakarta, juga bertepatan dengan hari Ibu. Ada persembahan dongeng dari suami Mba Ari. Dongeng tersebut bercerita tentang seorang anak yang sedang marah kepada ibunya, hingga tidak dapat melihat kebaikan yang sudah dilakukan oleh beliau selama ini. Anak tersebut bertemu dengan seseorang yang menyadarkan bahwa sang ibu sudah melakukan banyak hal untuk anaknya. Tidak sepantasnya seorang anak melupakan kebaikan ibunya hanya karena kesal.


Parade Webinar Milad IP Yogyakarta sudah selesai digelar. Semua peserta mendapat kado sebagai bentuk apresiasi dan menebarkan kebahagiaan. Ada harapan-harapan baik yang menyertai untuk kemajuan IP Yogyakarta di tahun-tahun mendatang. Semoga semakin memberikan manfaat kepada semua orang. 

Terima kasih kepada Mba Septi atas gagasan-gagasannya. Terima kasih juga kepada Tim panitia Milad IP Yogyakarta yang keempat. Kalian semua kereeennn.... terima kasih kepada seluruh peserta yang sudah ikut memeriahkan Parade Webinar Milad IP Yogyakarta. Tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada semua narasumber yang sudah berbagi ilmu dan inspirasi. Semoga menjadi amal jariyah yang tak pernah putus. Aamiin...



Merah Itu Aku

Jogja, 2 Januari 2021





Continue reading Keseruan Milad IP Jogja

Friday, January 1, 2021

Hey 2021



Hai.. hai... setelah libur akhir tahun, hari ini mulai nulis lagi😁.

Sudah masuk hari pertama di 2021. Rencana yang sudah dibuat sejak akhir tahun kemaren, mulai disiapkan. Haha... kebanyakan rencana, PR banget eksekusinya.

Jadi, tahun 2021 ini, aku mau fokus pada self love. Uhuk...

Seperti yang pernah aku bahas tipis-tipis tahun lalu, bahwa untuk menerima diri, kita harus bisa mencintai diri sendiri. Ah, kebetulan itu beneran ada ga sih? Setelah mengikuti suatu kuliah online tentang mencintai diri, aku beberapa kali dipertemukan dengan materi serupa. 

Laluuuu.... Apa sih yang akan aku lakukan di tahun ini? Beberapa habit baik, masih aku teruskan dari tahun lalu. Nanti, bertahap akan aku tambahkan.


1. Membaca

Target membaca di tahun ini adalah dua puluh empat buku. Terlalu optimis? Haha... bahkan reading tracker ku lebih ganas dari target yang aku tetapkan.

Optimisme 2021


Tahun lalu, aku gagal mencapai target minimal membaca buku. Sebenernya banyak buku yang aku baca, tapi ga kelarπŸ™ˆ.

Tahun ini, aku memantapkan niat untuk fokus membaca hingga kelar. Lebih baik lagi kalau setelah baca, aku tulis review-nya. Lumayan buat content. Eh...

Ohiya, tujuanku memasukkan membaca dalam habit yang aku latih, karena ternyata membaca itu merupakan salah satu bentuk cinta terhadap diri sendiri. Dengan membaca, berarti kita sudah memberikan asupan bergizi bagi otak kita. Euuhhh...cakeeepp...


2. Workout

Eheemm... ini jelas banget merupakan bentuk mencintai diri sendiri. Berolah raga akan menghasilkan hormon bahagia, sedangkan bentuk tubuh ideal adalah bonus. Haha... fokus ke mencintai diri sendiri ya... kalo cinta ke diri sendiri, pasti pengen tubuhnya sehat dan bugar. Iya kan? 😌

Target workoutku adalah sesuai dengan rekomendasi WHO yaitu 150 menit seminggu. Aku membagi dalam 3 hari, dengan durasi workout 50 menit per hari. Jadwalnya Selasa, Rabu, dan Jumat. Tapi fleksibel bisa geser-geser hari. Hihi... biar ga jadi beban jiwa 😁. Kan pengennya happy...


3. Minum air mineral 

Per hari ini, aku berusaha untuk menghentikan kebiasaan minum kopi instan πŸ’ͺπŸ’ͺ. 

Aku punya target minum tiga sampai empat liter per hari. Selama ini, mentoknya tiga liter. Tapi kadang cuma dapet dua liter. Berdasarkan perhitungan kebutuhan air untuk berat badan xx kg, aku harus minum air mineral tiga koma sekian liter per hari.

Habit ini masih harus aku latih karena aku sering sok ga mau ngaku kalo ngukur kadar air tubuh hasilnya jelek πŸ˜†πŸ˜†. Yaelah... sama diri sendiri aja ga mau jujur ih... yaudahlah...mending dicatet biar disadarin sama data-data yang terpampang nyata 🀣.


4. Skincare

Uwuuu... mantep banget ga sih resolusinya 🀣. 

Ini udah aku latih sejak tahun lalu. Eh, atau dua tahun lalu ya... lupa ah. Tapi yang jelas, tahun lalu udah aku masukkan ke habit tracker

Sejak dapet ilmu per-skincare-an, aku jadi lebih rajin memakai skincare dengan cara yang baik dan benar. Haha... udah sebanyak ini umurnya, aku baru tau lho kalo pake skincare ada urutannya. Aku pikir cukup oles-oles krim pagi dan malam doang. Jebulnya ada tahap cleansing, toning, moisturizing, dan kalo pagi ditambah sunscreen. Oh iya, pake sunscreen juga ada aturannya. Ga boleh cuma seuprit. Tapi harus sebanyak dua ruas jari. Haha... pantesan sunscreen ku awet.

Thank you, dr. Zhara Vida yang sudah mengedukasi per-skincare-an di Milad IP Jogja kemaren 😘.

Seperti habit sebelumnya, pake skincare juga termasuk perwujudan self love lho, gais...


5. Menulis

Aku ga bikin target menulis buku antologi di tahun ini. Kalo harus melebihi pencapaian tahun lalu, aku kurang optimis. Dan sepertinya, aku kurang happy dikejar-kejar PJ buat setor naskah 🀭.

Tahun lalu, ada dua belas buku antologiku yang terbit. Sepuluh di antaranya sudah ada di pelukan, dua sisanya baru dikirim setelah libur tahun baru.

Ada beberapa buku antologi juga yang insya Allah akan terbit awal tahun ini.

Untuk menulis buku antologi, aku akan mengikuti yang benar-benar sreg di hati. Macam drakor yang hingga akhir tahun lalu cuma dua yang aku tonton. Ehlho... πŸ˜…

Menulis, aku masih melatih untuk konsisten ngisi blog ini. Untuk konten, aku memilih untuk suka-suka dulu aja. Entah jika di dalam perjalanan tahun ini, aku mendapat hidayah untuk lebih memperhatikan kaidah-kaidah blogging yang baik dan benar.


6. Bullet journaling

Nah, nge-Bujo ini penting buatku. Aku merasa happy saat menorehkan tinta di atas kertas. Menulis rencana, target, dan pencapaian. 

Aku masih harus memperbanyak jam terbang untuk bisa menemukan style bujo yang sesuai denganku. 


7. Crafting

Konon berdasarkan challenge untuk menemukan bakat, aku condong pada menulis dan crafting. Tahun ini, aku fokuskan pada keduanya.

Untuk crafting, aku berencana untuk mengadakan pelatihan-pelatihan dengan peserta terbatas. Pengennya sih rame-rame, tapi melihat kondisi saat ini, aku masih belum PD. Semoga saja pandemi Covid segera berakhir.


8. Jadi sahabat anak-anak

Diletakkan di akhir, bukan berarti ga penting. Selama ini, aku merasa masih terlalu banyak memberi aturan. Tahun ini, aku pengen menjadi sahabat ngobrol anak-anak.

PR terbesarku mungkin adalah menghadapi kakak pertama. Mempersiapkan dia untuk menghadapi akil baligh. Duh, aku mendadak degdegan.

Aku mengalokasikan waktu tiga puluh menit sehari untuk benar-benar ngobrol dengan anak-anak tanpa gangguan. Dan ternyata, itu tidak mudah, sodara-sodara 😭. 


Baiklah... kiranya delapan poin ini merupakan fokusku tahun ini. Semoga diberi kmudahan dan kelancaran dalam menjalankannya. Aamiin..



Merah Itu Aku

Jogja, 1 Januari 2021





Continue reading Hey 2021