Wednesday, July 31, 2019

Aliran Rasa : Mengamati Gaya Belajar Anak

Alhamdulillah akhirnya gaya belajar Kakak Athar mulai terkuak😅😅. Sebelum menjalankan tantangan level 4 ini, aku menebak kalo gaya belajarnya auditori. Karena selama ini, dia memang suka banget berbicara😁. Dan ternyata setelah melakukan pengamatan secara intensif, dugaanku terkonfirmasi. Gaya belajar yang dominan adalah auditori. Beda tipis sih poinnya sama visual. Tapi memang sebagian besar gaya belajar kita merupakan kombinasi😉.

Bersyukurnya...aku bisa jadi mahasiswi bunda sayang batch #5. Banyak banget ilmu-ilmu baru yang bisa diterapkan ke anak dan keluarga. Salah satunya mengamati gaya belajar anak. 

Manfaatnya apa sih mengetahui gaya belajar anak?
1. Kita bisa memberikan instruksi sesuai gaya belajar anak supaya mudah dipahami.
2. Mengurangi stres saat membersamai anak belajar atau mengerjakan tugas sekolah.
3. Lebih memahami karakteristik anak.

Itu cuma sedikit dari banyak manfaat yang bisa kita dapat dari mengenal gaya belajar anak.

Mungkin seiring berjalannya waktu, gaya belajar anak bisa berubah. Tugas kitalah sebagai orang tua yang harus berusaha menyesuaikan dengan gaya belajar mereka.

Tetap belajar, wahai orang tua yang budiman. Sesungguhnya anak adalah guru sesungguhnya bagi orang tua. Selamat bertumbuh bersama anak-anak😘😘😘😘🤗🤗🤗.


Merah Itu Aku
Jogja, 31 Juli 2019
Continue reading Aliran Rasa : Mengamati Gaya Belajar Anak

Sunday, July 28, 2019

, ,

Berbenah Halaman Rumah (Klaster 3)

Akhirnya sampai juga di penghujung proses berbenah di Kelas Gemarrapi Pratama. Tapi proses berbenah masih akan dilakukan secara berkala. Dan kalo buatku pribadi, ada target untuk mengulang kembali dari klaster 1 supaya benar-benar mantap. Meskipun sudah banyak barang-barang yang dikeluarkan dari rumah, tapi masih ada saja barang-barang yang butuh untuk direview keberadaannya di rumah.

Tugas kali ini adalah terkait dengan berbenah halaman rumah atau area di luar rumah yang masih masuk di area rumah kita

1. Ceritakan pengalaman berbenah halaman rumah yang sudah dikerjakan. Jawab pertanyaan di bawah ini: 

A. Apa saja hambatan dalam berbenah halaman rumah? Bagaimana strategi dalam mengatasinya? 
Hambatan dalam berbenah halaman rumah adalah cara menyingkirkan beberapa karung pasir sisa pemasangan paving block. Karung-karung berisi pasir tersebut ada yang diletakkan di halaman belakang, dan ada yang diletakkan di halaman depan. Sungguh amat sangat mengganggu pemandangan.
Setelah dilakukan diskusi di kelas, ada beberapa ide untuk membuat sesuatu dari pasir yang tergeletak tersebut:
Dibuat pot
Ga kepikiran lho pada awalnya. Setelah muncul ide itu dari temen sekelas, akhirnya aku mencari-cari contoh dan tutorial pembuatannya. Selain bisa dipakai sendiri, pot-pot itu bisa dijual🤑🤑🤑.

Dibuat tempat duduk
Ini juga ga kepikiran. Setelah ditunjukkan gambarnya, aku baru terpikirkan. Dan memang butuh pasir yang banyak kalo bikin tempat duduk, serta semen😁 

B. Apakah ada dari checklist RASA yang belum terpenuhi saat berbenah halaman rumah? Sebutkan dan bagaimana solusi untuk hal tersebut?
Rapi:
Halaman rumah jauh dari rapi karena banyak rumput liar, berkarung-karung pasir, dan tanaman yang tumbuh tak tentu arah.
Solusi: mencabuti rumput-rumput liar, memanfaatkan sisa pasir untuk membuat pot (belum eksekusi), merapikan tanaman-tanaman agar tumbuh teratur.

Aman
Penutup lampu taman pecah sehingga menyisakan bagian yang tajam. Selama ini ditutup menggunakan baskom.
Solusi: segera mengganti penutup lampu taman.

C. Bagaimana cara teman-teman dalam mempercantik halaman rumah? 
Karena aku belum bisa merawat bebungaan, aku hanya menanam dedaunan. Sudah ada beberapa taman tersedia: daun sirih, daun pandan, sereh, dan beberapa tanaman yang aku tak tau namanya. Supaya cantik, aku harus rajin merapikan daun-daunnya agar tidak tumbuh liar ke segala arah, serta rajin mencabuti rumput liar.

2. Lampirkan hasil berbenah halaman rumah. Sebelum dan sesudah dibenahi (bila ada dan memungkinkan). 
Baru ada foto sebelum berbenah. Foto akan ditambahkan jika halaman sudah benar-benar fotoable🤭.


Mersh Itu Aku
Jogja, 28 Juli 2019

#Task15GP #GP1 #gemaripratama #angkatan1 #klaster2 #gemarihalaman #menatadirimenatanegeri #gemariclass #metodegemarrapi #indonesiarapi #serapiitu #segemariitu #RASA 


Continue reading Berbenah Halaman Rumah (Klaster 3)

Mengamati Gaya Belajar

Padahal sih periode tantangannya udah lewat. Tapi pengamatan kali ini dilakukan kepada Mr. Right😆. Sebenernya udah lama keliatan dari gelagatnya. Cuma dulu ga peduli aja gaya belajar dia mau gimana juga😅.

Gaya belajar Mr. Right dominan kinestetik. Dominan ya.. karena yang aku tau, hampir semua orang memiliki gaya belajar mix. Mungkin tergantung pada hal yang dipelajari atau suasana hati. Entah...ini ilmu ngawurologi kok...ga ada dasarnya🤭.

Beberapa ciri yang nampak dari gaya belajar kinestetik Mr. Right:

1. Kalo telpon, dia biasanya sambil jalan-jalan. Semakin penting pembahasan di telepon, semakin bolak balik aja jalannya.

2. Sering menggerak-gerakkan tangan ketika berbicara. Begitu pula saat berbicara lewat telepon. Aku sering komentar kalo dia gerak-gerakkin tangan pas telpon. "Biasa aja... orangnya ga liat juga kalo gerak-gerak gitu"😁

3. Ini yang sering bikin bete. Dia suka banget goyang-goyangin kaki kalo duduk. Kan ganggu ya kalo duduk sebelahnya jadi ikut goyang-goyang. Apalagi kalo di tempat umum, di kursi panjang yang banyak orangnya. Bisa goyang semua tu orang-orang yang ada di sampingnya. Belum lagi kalo kursinya bunyi😆😆. Semakin sulit tingkatan yang sedang dia pikirkan, semakin cepat gerakan kakinya. Biasanya aku ingetin kalo udah mulai ganggu😁.

Mungkin masih banyak yang luput dari pengamatan ya.. tapi cukup lah untuk ditarik kesimpulan bahwa gaya belajar yang dominan adalah kinestetik😎.

Tadinya aku pikir, gaya belajar Kakak Zidan yang dominan kinestetik karena dia suka liat ayahnya yang ga bisa diem. Children see, children do. Tapi kok Kakak Athar ga gitu, padahal sering liat ayahnya juga kan? 

Apakah memang gaya belajar bukan didapat dari pola asuh, atau ada tapi tidak banyak? Apakah justru lebih ke faktor genetik yang bisa diturunkan meskipun tidak diturunkan ke semua keturunannya? Yang pasti, gaya belajar setiap orang adalah sesuai dengan pribadi masing-masing😊😗. Yaiyalah...ya gitu deh...😅. Kesimpulan yang tidak menyimpulkan apa-apa☺️☺️.


Merah Itu Aku
Jogja, 28 Juli 2019
Continue reading Mengamati Gaya Belajar

Friday, July 26, 2019

Fase Anak Meguji Kesabaran

Pada setiap pembahasan tentang parenting, selalu ditekankan bahwa orang tua tidak boleh melabeli seorang anak dengan sebutan negatif. Pun ketika si anak sedang amat sangat menguji kesabaran, jika tidak boleh dikatakan menyebalkan. Ya.. fase inilah yang sedang terjadi. Entah ini terjadi pada semua anak, atau hanya pada anak dan orang tua pilihan saja. Dan rasanya sangat....entah😑😑.

Terhitung sudah lebih dari seminggu ini, si anak besar begitu senangnya bersebrangan pendapat dengan bundanya. Maksud orang tua, tentulah ingin yang terbaik untuk anaknya. Yaiyalah yaiyadong... 
Coba aku ingat kembali saat masih seusianya. Hmmm... ataukah karena kami berbeda gender sehingga aku tidak mengingat pernah begitu ingin bersebrangan dengan orang tuaku?
Setiap aku bahas dengan Mr. Right, dia cuma bilang "Memang sedang masanya, Bun". 🤨🤨
Trus aku kudu piye? 

Dari beberapa artikel yang pernah aku baca, ada beberapa penyebab dan tips mengatasinya.

1. Sebagai orang tua, aku terlalu otoriter.
Bhaique... kadang aku merasa serba tau apa yang terbaik untuk anak tanpa melihat kondisinya.

Cara mengatasi: komunikasi produktif. Mendengarkan dengan sabar apa maunya, kemudian diskusikan penyelesaiannya.

2. Ada keinginan yang tidak aku penuhi.
Ya.. semakin hari, dia pengen banget punya HP. Hellow... kasih hp ke anak 9 taun kan bukan penyelesaian yang masuk akal. Aku tau, teman-teman dia banyak yang udah punya hp. Kalopun ga punya, orang tuanya dengan berbaik hati meminjamkannya. Aku? Kalo cuma buat video call atau foto-foto cuma sebentar okelah. Tapi kalo buat nonton, main game, enggak!!

Cara mengatasi: beri pengertian dengan bahasa yang singkat, padat, jelas, tanpa emosi jiwa. Dan itu sulit, pemirsa... apalagi dengan kemampuan berjuta alasan nya yang pasti akan amat sangat menguji kesabaran.

3. Meniru perilaku orang tuanya.
Anak memang peniru ulung. Aku yang memang gampang banget meledak-ledak, sedikit banyak berpengaruh pada perkembangan jiwa nya.

Cara mengatasi: perbaiki perilaku diri sendiri sehingga lebih sabar menghadapi anak.

😥😥😥 ternyata andil orang tua terhadap perilaku anak begitu besar ya... Dan ternyata apa yang terjadi pada anak, banyak yang disebabkan oleh kesalahanku sebagai orang tua.
Semoga belum terlambat untuk membangun komunikasi yang lebih baik dengan anak. Karena kedekatan anak dan orang tua sangat penting untuk kesehatan dan perkembangan jiwa anak.



Merah Itu Aku
Jogja, 26 Juli 2019

Continue reading Fase Anak Meguji Kesabaran

Wednesday, July 24, 2019

Service atau Beli Baru?

Critanya aku lagi sok sibuk ngutak atik laptop yang baru dibenerin. Gaya amat lah pake benerin laptop segala. Padahal sehari-hari kalo nulis juga pake hp🤭. 

Sebenernya udah lama banget pengen bawa laptop jaman dulu itu ke tukang servis. Tapi kan aku jarang banget pake juga. Jadi buat apa gitu kan... lagian praktis aja nulis pake hape. 

Ternyata seiring berjalannya waktu, hobby menulisku semakin menuntut untuk pake laptop. Beberapa minggu terakhir, aku ikut kelas online menulis cerpen. Bisa sih pake hape, orang tugasnya juga masih disetor di WA group. Jadi keinget ada tugas yang belum dibikin padahal due date hari ini, kan....😑.

Kemudian beberapa saat kemaren, aku ditawari masuk jadi pengurus komunitas. Awalnya ga tau kalo bakalan diplot di mana. Ternyata aku masuk di bagian blog dan kearsipan. Makin-makin lah terdorong untuk benerin laptop. Lama-lama jereng juga kan copy paste dari chat di grup untuk dibikin resume😅. 

Waktu cerita sama Mr. Right aku mau benerin laptop, dia bilang beli aja yang baru. Jelas jiwa mentri keuangan ku bergejolak. Kalo bisa dibenerin dengan harga yang jauuuuhhh lebih murah, kenapa harus beli? Toh aku cuma butuh buat nulis dan bikin-bikin desain buat ikutan challenge rumbel desain grafis 😁.

Akhirnya Senin kemaren aku ke tukang servis yang udah sempet aku hubungi 2 minggu yang lalu😆😆. Setelah berkonsultasi sebentar, ternyata harus diganti hardisk nya. Ya udahlah aku manut aja. Yang penting laptop bener, ga lelet yang bisa bikin aku emosi jiwa. FYI, masalah laptopku sebenernya ada pada keleletannya yang ga masuk akal. Makanya aku males buka laptop. Bikin emosi. 

Kemaren pagi, mas service nya ngasih tau kalo laptop udah bisa diambil 💃💃💃. Bahagia lah aku. Kata masnya, batrenya masih bagus. Awalnya mau diganti karena kemaren pas dicek, ga bisa nyimpen daya. Mungkin saking kosongnya tu batre ya...😅 Dan tadi aku bisa pake hampir 3 jam kuat bertahan hidup😍😍😍.

Jadi, kalo masih bisa diservis, kenapa harus beli baru?💸💸💸💸 kekepin dompet


Merah Itu Aku
Jogja, 24 Juli 2019




Continue reading Service atau Beli Baru?

Sunday, July 21, 2019

, ,

Berbenah Kamar Mandi dan Toiletries (Klaster 3)

Sudah hampir selese aja nih kuliah Gemarrapi Pratama aku. Secara mindset sudah mulai terbentuk. Yang paling berasa adalah ketika melihat barang lucu nan menggemaskan, aku tidak serta merta membelinya. Butuhkah aku? Seberapa butuh? Apakah fungsinya bisa diganti dengan sesuatu yang sudah ada di rumah? Apakah ada tempat untuk menyimannya? Kira-kira pertanyaan itu harus mendapat jawaban, sebelum aku memutuskan untuk membeli dan membawanya pulang😆😆😆.

Berbenah kali ini adalah kamar mandi dan toiletries. Menurutku tidak terlalu sulit karena isi kamar mandi dan stok toiletries ku emang ga banyak. 

1⃣ Ceritakan pengalaman berbenah kamar mandi dan toiletries yang sudah dikerjakan. Jawab pertanyaan di bawah ini: 
A. Seperti apa gambaran kamar mandi ideal yang diidamkan? Apakah sudah tercapai? 
Kamar mandi ideal yang diidamkan adalah kamar mandi yang mudah dibersihkan dan tidak terlalu banyak barang di dalamnya.
Kamar mandi saat ini sudah ideal😁.

B. Apa saja hambatan dalam berbenah kamar mandi dan toiletries? 
Tidak ada hambatan yang berarti dalam berbenah kamar mandi dan toiletries. Hanya menyingkirkan beberapa botol shampo yang tidak cocok menurut kami, tapi masih ada di kamar mandi.
Untuk kamar mandi anak lumayan banyak yang disingkirkan, seperti pasta gigi yang masih tersisa sedikit tapi tidak pernah digunakan lagi, serta beberapa botol sabun dan shampo bergambar robot kesukaan yang sempat tidak boleh disingkirkan karena mereka masih sayang😅.

C. Apakah ada dari checklist RASA yang belum terpenuhi? Sebutkan dan bagaimana solusi untuk hal tersebut? 
Yang belum terpenuhi adalah ALAMI. Kamar mandi kami tanpa ventilasi. Solusi yang dilakukan adalah memasang exhaust fan di langit-langit kamar mandi dan menyalakan lampu setiap masuk kamar mandi.

D. Bagaimana kebiasaan yang selama ini dikerjakan dalam rangka menjaga kerapian kamar mandi dan toiletries? 
- Membersihkan kamar mandi seminggu sekali.
- Membersihkan langit-langit kamar mandi sebulan sekali.
- Mencuci handuk seminggu sekali.
- Menjemur handuk setiap habis mandi.
- Menyimpan stok toiletries untuk kebutuhan sebulan.

2⃣ Lampirkan hasil berbenah kamar mandi dan toiletries. Sebelum dan sesudah dibenahi (bila ada dan memungkinkan). 

Yang difoto before-after stok toiletries aja ya... mendadak ga pede nunjuk-nunjukin foto kamar mandi😆😆.


Continue reading Berbenah Kamar Mandi dan Toiletries (Klaster 3)

Saturday, July 20, 2019

Mengamati Gaya Belajar Anak Hari Ke-10

Sepagi tadi, anak-anak sudah menagih janji ayahnya untuk nonton bioskop. Ternyata anak-anak memang dijanjikan nonton sejak seminggu yang lalu😌😌. Sang Ayah pun segera mencari tiket nonton. Entah karena signal yang buruk atau bagaimana, awalnya tidak menemukan jam tayang film yang pengen anak-anak tonton. Anak-anak sempat kecewa. Namun setelah berulang kali mencoba, akhirnya muncul juga film yang anak-anak pengen tonton. Kemudian segeralah beli 3 tiket buat mereka untuk jam 1 siang.

Sebelum pergi nonton, anak-anak potong rambut --yang sempat tertunda seminggu, karena minggu kemaren antri parah--. Menjelang siang  kami berangkat ke lokasi bioskop. Sementara anak-anak dan ayahnya nonton, aku dan Dek Lou jalan-jalan dan nonton basket. Kebetulan di lokasi bioskop lagi ada pertandingan basket 3x3 yang disponsori oleh sebuah perusahaan ojek daring yang tersohor itu.

Lumayan pegel juga jalan-jalan sambil gendong Dek Lou. Dua jam lebih, gaessss😑😑. Dan yang digendong? Tidur😅.
Akhirnya aku duduk-duduk aja sambil nungguin yang nonton kelar. 
Jam 3 lebih, wajah-wajah sumringah itu datang mendekat. Sepertinya mereka puas dengan film yang mereka tonton. Kakak Athar langsung bercerita dengan semangat. Sambil sesekali mempraktekkan atau menjelaskan dengan gerakan-gerakan tentang film tadi, yang dianggap menarik🤩🤩.


Merah Itu Aku
Jogja, 20 Juli 2019

Continue reading Mengamati Gaya Belajar Anak Hari Ke-10

Friday, July 19, 2019

Mengamati Gaya Belajar Anak Hari Ke-9

Sebenarnya, gaya belajar auditori Kakak Athar sudah terdeteksi sejak belajar merangkai huruf di usia 5 tahun lebih. Berawal dari Kakak Zidan yang sering mengucapkan kata dengan menyebutkan huruf-huruf. Misalnya: 'Dek Athar, ayo main be-o-el-a (bola)' atau yang lebih greget adalah merangkai kalimat 'em-a-u er-o-te-i ge-a? (Mau roti ga?)'
Awalnya asli aku agak kesel karena kelakuan Kakak Zidan ini sering memicu kemarahan adeknya gegara ga ngerti maksud kakaknya. Siapa sangka, gara-gara kelakuan kakaknya, Dek Athar malah jadi cepet bisa baca. Memang sih, karena belajar dengan gaya auditori, Kakak Athar sempat missed beberapa huruf (secara visual). Agak butuh waktu untuk mengenalkan bentuk huruf tertentu yang jarang digunakan. Tapi bukan masalah besar.. saat itu usianya belum juga 7 tahun. Belum saatnya mengkhawatirkan kemampuan baca tulisnya😁.

Kesukaan Kakak Athar terhadap soal dikte mendikte terbawa sampe sekarang. Bahkan, dia suka minta dibuatkan soal menghitung dengan didikte😌😌.

Kali ini, dia menyiapkan buku halus dan pensil. Katanya mau nulis lagu😆. Dan ternyata lagunya pake bahasa Inggris dong (Lagu yang biasa didenger di mobil dan biasa dinyanyiin bareng kakaknya. Meskipun lyrics nya jadi entah). 
Jadilah dia sebutkan kata dalam bahasa Inggris, kemudian menuliskan sesuai ucapannya, bertanya ke aku, apakah sudah betul penulisannya😅. Aku bagian koreksi dan menyebutkan huruf-huruf yang seharusnya, jika kurang tepat. Gitu terus sampe berhasil nulis satu kalimat😄.


Merah Itu Aku
Jogja, 19 Juli 2019


Continue reading Mengamati Gaya Belajar Anak Hari Ke-9

Thursday, July 18, 2019

Mengamati Gaya Belajar Anak Hari ke-8

Hampir setiap sore, aku dan anak-anak bermain di luar rumah. Bareng sama anak-anak tetangga yang usianya ga jauh beda dengan kakak-kakak besar. Seru banget. Aku udah berasa jadi pengasuh semua anak-anak komplek😆😆. Dan kelakuan mereka sebelas duabelas lah sama Kakak Zidan dan Kakak Athar.

Kali ini, kami main bulu tangkis. Mainan ala-ala sih secara serve aja ga kena-kena😅😅. Beberapa kali dikasih contoh serve, tapi pas praktek masih meleset. Kalo untuk mengembalikkan serangan udah lumayanlah beberapa kali berhasil😁😁. 


Merah Itu Aku
Jogja, 18 Juli 2019
Continue reading Mengamati Gaya Belajar Anak Hari ke-8

Wednesday, July 17, 2019

Mengamati Gaya Belajar Anak Hari Ke-7

Sejak beberapa bulan yang lalu, depan komplek rumah kami ada warung sate kambing. Menunya macem-macem olahan kambing. Tapi yang paling sering kami pesen, sate dan tongseng kambing. Enak deh... menjadi penyelamat si saat aku tidak masak, atau saat ada tamu yang tiba-tiba berkunjung di jam-jam makan😁. Selain itu, anak-anak pun suka makan sate kambing. Dan karena deket, aku bisa minta tolong anak-anak buat beli. Gimana ga makin enak kan hidup hamba?😌😌

Yang sering aku andalkan dalam membeli sate di warung depan adalah Kakak Athar. Aku cukup menyebutkan pesanan dua kali, Kakak Athar bisa mengulang dengan benar dan bisa menghitung berapa harganya😍😍. 

Merah Itu Aku
Jogja, 17 Juli 2019
Continue reading Mengamati Gaya Belajar Anak Hari Ke-7

Tuesday, July 16, 2019

Mengamati Gaya Belajar Anak Hari ke-6

Seperti biasa, Kakak Athar mengaji Iqro' setelah shalat Maghrib, bergiliran sama Kakak Zidan membaca Al Qur'an. Kadang Kakak Zidan dulu, kadang Kakak Athar dulu. Tergantung kesepakatan dari mereka berdua. Sementara yang satu mengaji, yang satunya main-main. Kalo Dek Lou belum bobo, biasanya main-main sama Dek Lou.

Kali ini yang diamati adalah gaya belajar saat mengaji Iqro'. Kakak Athar tidak terganggu oleh keberisikan yang ditimbulkan oleh Kakak Zidan dan Dek Lou. Meskipun kadang tetep nimpalin karena Kakak Zidan yang sengaja ngajak ngobrol😆😆. Tapi so far, kalo berisiknya ga ngajak interaksi, Kakak Athar tetep fokus pada buku Iqro' nya😌😌.

Merah Itu Aku
Jogja, 16 Juli 2019
Continue reading Mengamati Gaya Belajar Anak Hari ke-6

Monday, July 15, 2019

Mengamati Gaya Belajar Anak Hari ke-5



Hari pertama masuk SD, Kakak Athar bersemangat sekali. Pagi tadi ga pake lama dan ga perlu nunggu diomelin, Kakak Athar langsung mandi dan siap-siap ke sekolah. 

Pulang sekolah, Kakak Athar cerita bahwa menjadi anak SD itu sangat menyenangkan. Dia cerita juga kalo punya teman-teman baru. Dia pun menyampaikan beberapa hal terkait apa yang harus dipersiapkan esok hari. Semuanya bisa Kakak Athar sampaikan dengan kalimat-kalimat sederhana yang mudah dipahami.

Merah Itu Aku
Jogja, 15 Juli 2019
Continue reading Mengamati Gaya Belajar Anak Hari ke-5

Sunday, July 14, 2019

Berbenah Kamar Tidur dan Ruangan Lainnya (Klaster 3)

Sehubungan weekend ini kami sekeluarga ada acara di luar kota, maka acara berbenah belum berhasil diselesaikan dengan baik dan benar. Baru berbenah kamar anak tapi belum cukup baik untuk difoto before after nya😁. Insya Allah akan disusulkan kemudian😘.

1. Ceritakan pengalaman berbenah kamar tidur dan ruangan lainnya yang sudah dikerjakan. Jawab pertanyaan di bawah ini:

a. Apa saja ruangan yang ada di rumah?
• Ruang tamu
• Ruang keluarga
• Kamar anak
• Kamar utama
• Ruang makan
• Dapur
• Kamar mandi

b. Apa saja hambatan dalam berbenah kamar tidur dan ruangan lainnya?
Hambatan yang utama karena berbenah klaster sebelumnya belum tuntas akibat libur yang terlalu panjang. Semoga segera terkejar ketertinggalan proses berbenah yang dilakukan.
Hambatan yang kedua adalah masih ada beberapa tumpuk clutter yang belum terdistribusikan, teronggok manja di pojok ruangan.

c. Sebutkan ruangan yang paling mudah dan yang paling sulit dibenahi? Mengapa?
Karena belum menyelesaikan berbenah Klaster 3 -- kamar tidur dan ruangan lainnya, maka jawaban ini berdasarkan pandangan dan perasaan.

Ruangan yang paling mudah dibenahi adalah ruang keluarga. 
Alasannya: ruang keluarga merupakan ruangan dengan barang paling sedikit😁. Hanya terdiri dari sofabed, televisi yang ditempel di tembok, meja panjang di bawah televisi (berisi beberapa majalah dan 2 kotak mainan), ambalan untuk meletakkan beberapa alat pendukung televisi, kipas angin.

Ruangan paling sulit dibenahi adalah ruang tamu.
Alasannya: ruang tamu menjadi ruangan serba guna, termasuk meja kerja dan workshop craft, dan tempat penyimpanan tas kerja Mr. Right. Memang kami jarang menerima tamu, jadi kami agak lengah untuk menjaga kerapiannya😅😅. Semoga segera bertaubat😌.

2. Adakah perubahan yang dirasakan setelah membenahi kamar tidur dan ruangan lainnya? Bagaimana perbedaannya?
Aku baru separuh perjalanan berbenah kamar anak. Perubahan yang dirasakan:
- Ruangan terlihat lebih rapi dan berefek luas (sebelumnya berantakan dan nampak sempit karena barang berserakan di mana-mana).
- Mudah mengambil dan mengembalikkan barang-barang dari dan ke tempat semula (sebelumnya sangat sulit mengambil apalagi mengembalikkan barang karena banyak kotak bertumpuk dan terlalu banyak barang).

3. Lampirkan hasil berbenah kamar tidur dan ruangan lainnya, sebelum dan sesudah dibenahi (bila ada dan memungkinkan)
Akan disusulkan kemudian😊.

Demikianlah laporan berbenah yang baru sedikit dilakukan. Doakan semoga dapat segera mengejar ketertinggalan. Aamiin.


Merah Itu Aku
Jogja, 14 Juli 2019

Continue reading Berbenah Kamar Tidur dan Ruangan Lainnya (Klaster 3)

Mengamati Gaya Belajar Anak Hari ke-4

Hari ini kami kembali ke Jogja. Rasanya lelah sekali. Padahal ada beberapa PR yang belum selesai. Rasanya tak sanggup mendengar candaan anak-anak besar di dalam mobil yang kadang menguji kesabaran😅😅.

Jadilah aku mencari kesibukan untuk mereka sepanjang perjalanan. Efektifnya saat mobil berhenti di lampu merah. Secara bergantian, kami memberi pertanyaan berupa tulisan yang ada di sekitar kami. Boleh di bangunan pinggir jalan atau kendaraan lain di sekitar kami.

🧕: Di mana ada tulisan 'sate kambing'?
Mereka celingukan mencari tulisan yang di maksud. Setelah tertebak, kami bergiliran memberi pertanyaan. Dan dari sekian pertanyaan, Kakak Athar berhasil menjawab paling banyak. Dia memang jeli mencari sesuatu😁😁.

Games ini lumayan banget untuk mengurangi keributan tidak jelas yang mereka lakukan akibat kelelahan. Boleh lho dicoba untuk anak-anak yang kelebihan energi di perjalanan😅.



Merah Itu Aku
Jogja, 14 Juli 2019
Continue reading Mengamati Gaya Belajar Anak Hari ke-4

Saturday, July 13, 2019

Mengamati Gaya Belajar Anak Hari ke-3

Pagi ini kami sekeluarga pergi ke Magelang. Critanya akan mengakhiri liburan sekolah bersama keluarga besar dari Mr. Right. Sempat tersesat karena salah koordinat GPS, hingga akhirnya kembali ke jalan yang benar dan sampai ke penginapan😌.

Perjalanan kami memang sepenuhnya bergantung pada GPS. Beberapa kali lewat Magelang waktu ke Semarang atau Salatiga. Jadi kami memang tidak begitu mengenal daerah Magelang. Eh, kami juga pernah ke Ketep Pass sih...tapi tetap saja kami buta arah😅😅.




Kali ini, Kakak Athar ikut membaca peta. Buatku, kemampuan navigasi itu penting. Dan kakak Athar cukup baik dalam memberikan arahan. 
"Sebentar lagi belok kanan"
"Wah, nanti macet tuh di situ" (ternyata Kakak Athar cukup baik mengingat tanda macet--warna merah atau jingga--yang pernah aku jelaskan).




Merah Itu Aku
Magelang, 13 Juli 2019

Continue reading Mengamati Gaya Belajar Anak Hari ke-3

Friday, July 12, 2019

Mengamati Gaya Belajar Anak Hari ke-2

Pagi tadi Kakak Athar sarapan roti tawar isi telur mata sapi. Udah lama banget ga sarapan roti tawar karena abang roti langganan yang lewat depan rumah baru beredar kembali kemaren malem. Mungkin si abang liburan juga 😁.

Sarapan roti tawar emang favorit kami banget. Favorit aku karena bikinnya gampang dan cepat. Favorit anak-anak karena mereka ga perlu makan nasi😅😅.

Biasanya Kakak Athar tau beres aja tinggal makan. Cuma rikues mau diisi apaan, dipotong jadi berapa, dan potongnya bentuk segi tiga atau segi empat.

Hari ini minta roti tawar diisi telur mata sapi, dikasih saos tomat, dipotong segi tiga jadi 4 potong😌😌. Ribet banget ya... moon maaf kalo ga bisa bayangin. Soalnya aku emang emak yang kurang sigap dalam menangkap momen😅. Apalagi karena tadi berhubungan dengan pisau.

Aku minta Kakak Athar mengiris sendiri roti tawarnya. Aku beri instruksi sambil mempraktekkan. 
'Irisnya gini, kak... pisaunya ditekan sampai nyentuh piring, baru ditarik ke ujung'
Kakak Athar melakukan pengirisan sesuai instruksi dan sekaligus mengulang kata-kata yang aku ucapkan. Selama ini, Kakak Athar memang sering melakukan apapun sambil berbicara. 

Merah Itu Aku
Jogja, 12 Juli 2019
Continue reading Mengamati Gaya Belajar Anak Hari ke-2

Thursday, July 11, 2019

Mengamati Gaya Belajar Anak Hari Ke-1

Haiii...kita ketemu lagi pada tantangan ke-4 kuliah Bunda Sayang. Kali ini, aku akan mengamati gaya belajar anak. Karena kami diminta fokus untuk mengamati gaya belajar satu anak saja, aku pilih untuk mengamati Kakak Athar. 
Untuk Kakak Zidan dan Dek Lou, akan fokus diamati setelahnya. Meskipun aku hampir yakin kalo gaya belajar kakak Zidan adalah kinestetik.

Hari ini aku tak memasak karena ada acara di luar rumah sampe siang. Nyampe rumah, anak-anak udah kelaperan😅. Akhirnya aku pesan paket "makanan bahagia" yang ada hadiahnya. Pas banget hadiahnya bisa buat alat untuk mengamati gaya belajar.



Mainannya ada di box bungkus makanan. Aku minta Kakak Athar untuk menyelesaikannya. Awalnya dia bilang bingung. Kemudian aku beri instruksi bahwa gambar hewan, dipasangkan pada tulisan yang merupakan ciri atau kemampuan hewan tersebut. Kakak Athar langsung berseru 'ah, kalo itu sih gampang' 🤣🤣🤣.



Merah Itu Aku
Jogja, 11 Juli 2019

Continue reading Mengamati Gaya Belajar Anak Hari Ke-1

Tuesday, July 9, 2019

Pengejar Kucing

Sebagai salah satu orang yang phobia terhadap segala jenis hewan, hobi Dek Lou akhir-akhir ini sering bikin aku jantungan. Hobinya sekarang ngejar-ngejar kucing, yang entah kenapa semakin bertambah saja populasinya di sekitaran rumah. Hingga sore tadi, tercyduct sudah ada 3 ekor kucing yang berkeliaran. Tentu saja itu mengganggu ketenanganku saat berjalan sore.

Ada 3 ekor kucing yang seakan-akan ikhlas pasrah ketika didekati oleh manusia. Malah mereka seperti sudah kenal lama🥴. Kucing hitam putih yang berdiam diri ketika di dekati dan sempat hampir mencakar Kakak Athar ketika sudah berhadap-hadapan. Kali-kali itu cara dia ngajakin main manusia ya... entahlah...
Tapi tetangga rumah kami, anak perempuan, seneng banget mainan sama kucing hitam putih itu. Meskipun kadan kucing itu begitu agresif.
Ada pula kucing abu garis-garis hitam yang manja. Kalo kita dekati, dia ikut mendekat kemudian mepet-mepet ke kaki. Horor? Banget. Meskipun yang dipepet jelas bukan kaki ku🤣🤣🤣.

Dek Lou tiap sore nyari kucing-kucing itu. Dan baru mau pulang ketika dikasih tau kalo kucingnya mau bobo. Ga bohong sih...
Yang Dek Lou lakukan tiap menempelkan wajahnya di kaca jendela ruang tamu adalah memanggil kucing😁. Gara-gara beberapa hari belakangan ini, kucing-kucing itu sering masuk ke pekarangan rumah kami.

Harapan yang aku gantungkan padanya adalah semoga dia tidak phobia hewan seperti ibunya😄😄.


Merah Itu Aku
Jogja, 9 Juli 2019


Continue reading Pengejar Kucing

Sunday, July 7, 2019

Berbenah Barang Kenangan (Kaster 2)

Ini bukan salah satu materi yang aku nantikan. Karena ini berat, seberat bobot tubuhnya. Tapi aku harus kuat melakukannya. Berbenah barang kenangan. Duh... mantan yang penuh kenangan aja sampe dijadiin suami saking sayangnya dibuang. Eh..apaan sih🤣🤣.

Memang belum banyak yang berhasil aku singkirkan meskipun aku tau bahwa barang itu ga bermanfaat. Tapi ada barang yang langsung aku singkirkan --bahkan sebelum sampe klaster ini-- karena begitu ngliat barangnya, langsung teringat peristiwa tragis.

Aku udah mulai berbenah barang kenangan nih..meskipun belum semua tersusun secara rapi.

1. Apa saja benda kenangan yang dimiliki?
Banyak😄😄. Tapi yang aku sebutkan di sini adalah yang masih dipertahankan setelah melalui beberapa kategori berbenah sebelumnya.

- Undangan dan souvenir nikah (awalnya nyimpen beberapa. Tapi akhirnya disimpen masing-masing 1 aja)

- Potongan rambut pertama anak-anak beserta berat timbangan rambut dan puputan tali pusat anak-anak (sementara ini yang ada di rumah cuma punya Dek Lou. Punya Kakak Zidan dan Kakak Athar ada di Cilacap. Tapi besok-besok mau di pindah ke sini biar disimpen bareng-bareng semuanya. Eh lho..kok malah nambah?😌)

- Kertas syukuran aqiqahan pemberian nama ketiga anak.

- Kertas yang ada foot step Kakak Zidan waktu baru lahir. Adek-adeknya ga punya☹.

- Gelang tangan identitas bayi punya Kakak Zidan dan Kakak Athar waktu baru lahir. Dek Lou ga punya.

- Foto USG kehamilan.

- Souvenir oleh-oleh dari orang-orang terdekat (suami, kakak, adek). Termasuk kartu pos yang dikirim kakak kalo lagi piknik ke luar negri. Eh, piknik?

- Buku diary yang isinya curhatan alay jaman pacaran sama Mr. Right, yang kalo sampe dibaca beliaunya, aku bakalan dibully abis-abisan😆😆.

- Kertas ucapan di buket bunga yang sekali-kalinya dikirim Mr. Right😌.

- Foto-foto: 
  • waktu aku masih kecil
  • bareng bff -- best friend forever (kok jadi alay gara-gara kenangan.. eaaa...)
  • pas foto Mr. Right yang aku ambil dari kartu ujian dan kartu mahasiswa (oke, aku jadi nampak tergila-gila padanya sejak dulu🤧)
(Aku tak menyimpan foto-foto pernikahan karena semua ada di rumah orang tua. Dan tak berniat membawa ke rumah ini atau memilih salah satu untuk di pajang di sini karena kami tim tembok tanpa foto😄)

- Passport yang udah kadaluarsa 

- Piala anak-anak (yang makin bertambah tiap tahun😁)

2. Apa saja hambatan dalam berbenah benda kenangan?
Sulit menemukan alasan kuat untuk membuangnya meskipun alasan untuk menyimpannya adalah masih sayang 🤭
Tidak tau harus disingkirkan ke mana.
Tidak tega menyingkirkan (meskipun sudah tak sayang).

3. Bagaimana proses memilahnya? Adakah kriteria seleksi tambahan? Seperti apa kriteria seleksi yang digunakan?
Barang kenangan dipilah berdasarkan:
- Link to the past
- Memory triggers
- Reminders of accomplishments

4. Apakah yang menjadi faktor pemberat dalam melepaskan kenangan yang dimiliki?
Karena takut menyesal
- Karena pemberian orang yang aku sayangi
- Karena kenangan

5. Bagaimana cara menata dan menyimpan barang kenangan?
Penataan dan penyimpanan barang kenangan, berdasarkan:
- Kegunaannya 
Berlaku untuk souvenir hasil oleh-oleh. Magnet kulkas, ditempel di pintu kulkas, gantungan kunci dipake di kunci atau di tas.

- Bentuk dan ukurannya 
Foto-foto, buku diary, undangan dan souvenir nikah, serta kartu pos disimpan dalam satu kotak.
Piala hasil lomba anak-anak diletakkan di atas lemari.


- Merujuk kepemilikan 
terkait barang-barang bayi anak-anak. Foto USG dan kertas pemberian nama disatukan dengan penyimpanan dokumen anak-anak. Potongan rambut dan tali pusat, disimpan dalam kotak penyimpanan.

Sesungguhnya masih ada barang yang mungkin masuk barang kenangan tapi karena masih berfungsi baik, masih aku simpan. Jadi bukan karena nilai kenangannya, tapi karena manfaatnya. Misalnya pan kado pernikahan. Aku yakin kalo udah ga bisa digunakan, aku ikhlas menyingkirkannya😁. Makanya ga masuk barang kenangan buatku.


Merah Itu Aku
Jogja, 7 Juli 2019
Continue reading Berbenah Barang Kenangan (Kaster 2)

Thursday, July 4, 2019

Persiapan Qur'an Camp

H-1 Qur'an Camp, Kakak Zidan bersemangat memilih baju-baju yang mau dibawa. Beberapa hal masih aku bantu. Alhamdulillah, semua list barang bawaan sudah tercentang😁.

Sebelum aku daftarkan Kakak Zidan ke Qur'an Camp, aku agak ragu. Konsultasilah ke Mr. Right. Menurutnya, kalo Kakak Zidan oke, maka daftar. Kalo ga oke, ga usah dipaksa. Bhaique...
Qur'an Camp ini diselenggarakan selama 3 hari 2 malam. Mengaji di alam terbuka dan ada outbound nya juga. Kupikir cocoklah buat mengisi liburan Kakak Zidan.
Ternyata Kakak Zidan mau. Aku bilang ada Ustadzah dari sekolahnya yang jadi pendamping. Dan ada panahan 😅.

Ohiya, Qur'an Camp ini bukan program sekolah. Jadi memang pesertanya berasal dari berbagai sekolah. Dan sepanjang pengalaman, Kakak Zidan adalan anak yang tidak mudah akrab dengan orang yang baru dikenal. Semoga saja dengan ikut Qur'an Camp, Kakak Zidan lebih mudah beradaptasi.

Melihat Kakak Zidan bersemangat, akupun ikut bersemangat. Bukankah orang tua yang terlalu khawatir akan berpengaruh negatif terhadap perasaan anak? Kuputuskan untuk ikhlas demi melatih kemandirian Kakak Zidan. 

Tapi tadi sebelum tidur, Kakak Zidan agak galau. Dia khawatir kangen bunda kalo nginep di sana. Aku jadi kebawa galau. Aku kasih dia semangat kalo acara di sana seru. Aku perlihatkan juga potongan video kegiatan yang tadi dikirim Ustadzah yang mendampingi Qur'an Camp.

Ini memang pertama kalinya aku akan melepas Kakak Zidan menginap lama tanpa keluarga. Semangat, Kakak😘😘😘.


Merah Itu Aku
Jogja, 4 Juli 2019
Continue reading Persiapan Qur'an Camp

Wednesday, July 3, 2019

Aliran Rasa Family Project (Meningkatkan Kecerdasan)


Family project di game level 3 ini membutuhkan konsistensi dan komunikasi antar anggota keluarga yang baik. Masih banyak kekurangan dalam melaksanakan family project ini. Tapi kami masih akan melanjutkannya meskipun game level 3 ini sudah berlalu. 

Kondisi kami saat melakukan tantangan kemaren memang jauh dari ideal. Kadang dilakukan bersama ketiga anak, kadang cuma bareng Dek Lou. Mr. Right bagian support semangat dan iya-iyain aja😌. Family project selanjutnya diusahakan menyeret Mr. Right lebih dalam lagi😆.

Dengan mengikuti tantangan kali ini, kami menemukan banyak sekali ide untuk family project selanjutnya. Semoga kami semua istiqomah membangun komunikasi sehingga bounding kami semakin kuat.

Ada quote yang menarik sekali dari review game level 3 ini, "Kita tidak akan pernah membanding-bandingkan anak-anak kita dan keluarga kita, dengan anak-anak orang lain dan keluarga orang lain. Karena diri kita sudah terlalu sibuk untuk mengamati diri sendiri, sehingga tidak ada lagi kesempatan untuk mengamati rumput tetangga".


Merah Itu Aku
Jogja, 3 Juli 2019
Continue reading Aliran Rasa Family Project (Meningkatkan Kecerdasan)

Tuesday, July 2, 2019

Mari Berolahraga

Sudah lebih dari 2 tahun ini, aku tidak berolahraga dengan serius. Terakhir olahraga serius adalah ketika hamil Dek Lou 8 minggu. Tiba-tiba aku mengalami flek setelah melakukan serangkaian menu olahraga pagi.  Menu aku saat itu: push up 15x, squat 50x, plank 1 menit, mountain climber both side 20x. Pantes aja kan bisa ngeflek. Dan cerdasnya aku, menu olahraga itu dilakukan karena aku gendutan. Maafkan Bunda yang ga nyadar lagi hamil ya, Dek☹.
Setelah melihat bukti yang terpampang nyata bahwa aku hamil, aku stop olahraga.

Niatnya, setelah 3 bulan lahiran, aku mau mulai olahraga lagi. Tapi ternyata aku lahiran melalu operasi sesar, sehingga lumayan trauma buat pecicilan. 
Mulai olahraga ringan setelah Dek Lou berusia setahun lebih. Cuma bertahan sekitar 4 bulan kemudian mandek lagi.

Aku pikir, sekarang adalah saat yang tepat untuk kembali ke jalan yang sehat. Pas awal bulan biar ngitungnya gampang. Dan momennya pas selese libur lebaran. Ih, kenapa sih aku sebegitu kepenginnya olahraga?

1. Usiaku semakin bertambah. Secara fisik, aku merasa lebih sering lelah. Dengan olahraga, diharapkan aku lebih setrong😁.

2. Meningkatkan percaya diri. Ini bukan body shaming ya... aku ga akan bilang kalo olahraga bikin langsing. Langsing itu bonus, yang penting dengan olahraga, badan jadi kenceng. Eh ini termasuk body shaming ga sih? Yang jelas, olahraga bikin sehat, kulit kencang dan bercahaya. Lampu kaliii...bercahaya😏.

3. Menjaga kesehatan dan meningkatkan stamina. Ini apa bedanya ih sama yang nemer satu?😅

4. Membahagiakan suami😍😍. Mr. Right itu seneng banget kalo aku rajin olahraga. Entah karena hasilnya ke tubuh, atau karena semangat yang terpancar dariku ketika rajin olahraga. Yang jelas, Mr. Right sudah terang-terangan bilang "Harusnya Bun olahraga lagi kayak dulu itu". Oke siyap, Pak🏋️‍♀️🏋️‍♀️🏋️‍♀️.

Jadi, alasan-alasan di atas memang sudah amat kuat untuk kembali ke jalan yang sehat. 

Selain olahraga, menjaga pola makan sehat juga penting. Tapi tetep lah ya, jangan menyiksa diri pantang makan makanan yang nikmatnya tak terbantahkan semacam gorengan dan mie instan. Itu berat, Rudolfo...🤣🤣🤣. Haha...bisa dijewer sama ahli gizi nih. Etapi buat aku, asal ga berlebihan masih oke lah. Iya kan😋😋😋.

Selamat memulai hidup sehat kembali. Selamat memulai olahraga dan menjaga pola makan yang sehat. Semangat bulan Juli!!! Udah tanggal 2😅


Merah Itu Aku
Jogja, 2 Juli 2019
Continue reading Mari Berolahraga

Monday, July 1, 2019

Rindu Sebelum Berpisah

Kakak Zidan emang sensitif banget perasaannya. Gampang melow dan tak jarang menangis. 
Seperti hari ini, sehari sebelum kami kembali ke Jogja, dia sudah menangis berurai air mata. Dia udah aja kangen sama Eyang Putri dan rumah eyang juga😁. Kenapa ga bilang kangen sama Eyang Kakung? Karena besok Eyang Kakung yang nganter kami ke Jogja. Sedangkan Eyang Putri ga bisa nganter karena malem ini berangkat ke Semarang☹.

Sebenernya ada kejadian yang bikin aku trauma kalo Kakak Zidan mulai menunjukkan gelagat sedih terlalu dalam.
Beberapa minggu setelah Dek Lou lahir, Eyang Kakung akhirnya harus pulang. Eyang Kakung sudah di Jogja sebelum Dek Lou lahir. Jadi memang berat buat Kakak Zidan berpisah dari eyangnya.
Singkat cerita, Eyang Kakung pulang juga. Aku pesankan taxi online karena memang kondisiku belum oke untuk nyetir. Beberapa menit setelah eyangnya pergi, Kakak Zidan mulai menangis dalam diam. Tiba-tiba, dia yang awalnya tidur di sofa, menggelinding jatuh ke lantai. Aku dekati ketika dia bilang, "Bun, ambilin minum. Aku ga bisa".
Dan seketika itu juga aku langsung panik melihat jari kaki dan tangan kakak yang kaku. Berkali-kali aku istighfar. Kemudian aku telpon Eyang Kakung untuk memintanya kembali. 
Selama aku menunggu Eyang Kakung datang, aku peluk dan usap jari-jari tangan dan kaki Kakak Zidan sambil istighfar dengan berurai air mata. Alhamdulillah saat Eyang Kakung sampai, jari tangan dan kaki Kakak Zidan sudah tidak kaku lagi.

Semenjak kejadian itu, aku minta Kakak Zidan untuk tidak memendam perasaan sedih dan kecewa. Aku khawatir kejadian jari kaku itu terulang kembali. Ternyata dampak tekanan batin buat Kakak Zidan bisa semengerikan itu. Aku harap, dengan berbagi dan mengekspresikan perasaan bisa membuat beban Kakak Zidan menjadi lebih ringan😊.


Merah Itu Aku
Cilacap, 1 Juli 2019
Continue reading Rindu Sebelum Berpisah