Thursday, November 25, 2021

Selamat Hari Guru

Selamat Hari Guru, untuk semua Bapak dan Ibu Guru di seluruh Nusantara. Semoga ilmu yang Bapak dan Ibu berikan dapat menjadi pahala yang terus mengalir. Aamiin ...



Setiap tanggal 25 November, diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Sebenarnya, aku baru merasakan peringatan Hari Guru, sejak anak-anakku bersekolah. Pada hari tersebut, biasanya mereka diliburkan. 

Saat aku sekolah dulu, rasa-rasanya tidak pernah mengalami libur di Hari Guru. Usut punya usut, ternyata Hari Guru baru ditetapkan tahun 1994. Dan memang, tidak pernah diperingati secara khusus ketika aku sekolah dulu.

Hari ini, aku begitu terharu mengikuti acara live streaming peringatan Hari Guru di sekolah Kakak-Kakak. Meskipun murid-murid diliburkan, ternyata para ustaz dan ustazah tetap datang ke sekolah. Ada acara yang diselenggarakan murid kelas 4 beserta para wali, berupa persembahan bagi para ustaz dan ustazah.

Bagian paling mengharukan adalah saat para murid memberikan souvenir untuk ustaz dan ustazah. Ah, aku memang mudah tersentuh 😭❤.

Seharusnya, kegiatan menonton live streaming itu merupakan tugas anak-anak kala libur. Kenapa jadinya justru aku yang nonton, sih? 😌

Membahas tentang guru, aku selalu terngiang kalimat, "Guru iku digugu lan ditiru."

Digugu artinya dipercaya. 

Ditiru artinya diikuti.

Guru adalah sosok yang kata-katanya dipercaya dan tingkah lakunya diikuti.

Tumbuh besar di lingkungan keluarga yang kebanyakan guru, membuatku memiliki cita-cita menjadi seperti mereka. 

Ibu merupakan seorang guru agama Sekolah Dasar. Beberapa tahun sebelum pensiun, beliau menjadi pengawas.

Ketiga adik kandung Ibu, berprofesi sebagai guru SD. Bahkan, para suami mereka pun tidak jauh-jauh berkecimpung dalam dunia pendidikan.

Ada dua adik Embah Putri dari Ibu, yang menjadi dosen. 

Seingatku, adik Embah Putri dari Bapak pun, ada yang menjadi guru. Bahkan, kami memanggilnya dengan sebutan Mbah Guru. Mungkin karena profesi sebagai guru begitu mulia di mata masyarakat sana.

Benar-benar, aku sudah dikelilingi para guru sejak kecil. Tak heran jika menjadi guru, sudah menjadi cita-citaku. Ketika teman-teman lain bercita-cita sebagai dokter, aku tidak menginginkannya. Duniaku tidak dekat dengan profesi tersebut.

Namun, belum juga menapaki jalan, impian itu kandas. Atau mungkin, aku yang kurang gigih. Kemudian, aku justru terdampar menjadi apoteker. Meskipun itu tidak jauh dari profesi Mbah Buyut yang seorang peracik jamu tradisional.

Bagiku, guru merupakan profesi yang sangat mulia. Mengajarkan kebaikan kepada anak-anak, yang bahkan tidak memiliki ikatan darah dengan mereka.

Aku sempat terheran-heran ketika ada berita tentang orang tua yang menuntut guru karena mendapat laporan dari sang anak, bahwa ada guru yang bertindak tegas padanya. Si orang tua itu marah dan tidak terima.

Coba saja jika hal tersebut terjadi saat aku kecil dulu. Melapor kepada orang tua dimarahi guru di sekolah? Yang akan didapat, justru kemarahan tambahan dari orang tua kepada diri ini. Ah, jangan berani-berani.

Guru memang seseorang yang harus kita hormati. Mereka begitu ikhlas mengajari murid-muridnya. Kadang, mereka tidak menghitung, berapa gajinya dibandingkan dengan waktu bekerja.

Kesederhanaan guru begitu melekat. Dibesarkan di lingkungan guru, memudahkanku belajar tentang kesederhanaan. 

Ngomong-ngomong tentang guru, ada hal yang sungguh menggelitik. Menurut beberapa murid, wajah Ibu tidak pernah berubah sejak mengajar mereka SD, hingga sekarang, sudah beranak cucu. Sepertinya, berinteraksi dengan anak-anak memang membuat awet muda, ya 😁.

Sehat-sehat terus ya, Bapak dan Ibu Guru ... jasa kalian sungguh tiada tara ❤❤❤.



Merah Itu Aku

Jogja, 25 November 2021


Continue reading Selamat Hari Guru

Wednesday, November 24, 2021

Non-Scale Victories

Dalam sebuah perjalanan diet, non-scale victories ini penting, lho ... Apa sih, non-scale victories?

Berdasarkan pemantauan, non-scale victories, bisa diartikan sebagai pencapaian yang tidak dapat diukur dengan alat. 

Sumber: Google


Kebanyakan dari kita, menganggap bahwa penurunan atau kenaikan angka pada timbangan menjadi tolak ukur keberhasilan program diet atau olahraga. Begitu pula dengan pengurangan atau penambahan lingkar tubuh.

Sudahlah, ini bukan tentang berapa persen lemak tubuh, berapa usia sel, berapa lingkar perut, paha, ataupun lengan. Bukan tentang itu.

Karena sesungguhnya, tidak semua keberhasilan dari suatu program, dapat diukur menggunakan alat berupa angka-angka pasti. Ada banyak hal yang dapat kita lihat. Inilah yang disebut sebagai non-scale victories.

Sumber: Google


Setelah lebih dari dua bulan mengikuti program diet tanpa pantangan, berikut ini non-scale victories aku:

1. Melatih habit baik

Sejak memutuskan istiqomah dalam menjalankan hidup sehat, ada kebiasaan-kebiasaan baik yang aku lakukan setiap harinya.

- Rajin olahraga

Sebelumnya, aku udah lumayan rajin olahraga sih. Tapi jenisnya suka-suka dan tidak terprogram. Setelah mengikuti kelas, aku lebih disiplin dan teratur dalam menjalankan olahraga.

Program workout yang sudah disusun sedemikian rupa, membuatku merasa lebih kuat dengan cara yang tidak membosankan.


- Disiplin makan

Bukan disiplin dalam konteks yang menakutkan dan menegangkan. Setelah mendapat ilmu tentang kalori, aku jadi rajin menghitung kalori masuk.

Kenapa sih repot-repot ngitung makanan? 

Karena aku belum mampu menghitung secara manual. Dan memang cara ini sangat efektif untuk mencukupkan kebutuhan kalori harian. Dengan menghitung, aku jadi dapat lebih mengontrol asupan yang masuk ke dalam tubuh. Tidak berlebih, tetapi juga tidak kekurangan. Pas.

Aku juga sudah mulai disiplin dalam makan sesuai jadwal.

Terbukti, hal ini dapat menghindarkan dari ngemil berlebihan. Dengan mematuhi jadwal tersebut, sebelum merasa lapar, kita sudah tiba pada jam makan selanjutnya.

Ini adalah jadwal makan harianku:

Sarapan 07.00 - 09.00

Camilan pagi 10.00

Makan siang 12.00 - 14.00

Camilan sore 16.00

Makan malam 18.00 - 20.00


Peningkatan yang aku lakukan dalam hal makan adalah menuju makanan sehat. Aku mulai mengurangi memasak menggunakan minyak, seperti gorengan dan kawan-kawan. 

Dengan berbagai macam godaan makanan yang menerpa, aku bisa mengapresiasi diri karena cukup hebat dalam menahan keinginan. Seperti halnya berbelanja, dalam hal makan, kita juga harus bisa memilah mana yang masuk sebagai keinginan dan kebutuhan.


- Rajin minum

Setiap orang, memiliki kebutuhan air minum yang berbeda. Berdasarkan berat badan, aku membutuhkan minum, minimal 2.7 liter per hari.

Sejak menyetorkan laporan jumlah air minum yang dikonsumsi setiap hari, aku jadi lebih tertantang untuk minum dengan jumlah yang sesuai dengan target.

Tak mengapa jika saat ini, aku melakukan karena tantangan. Semoga, aku akan terbiasa.


2. Lebih berbahagia

Hormon yang dihasilkan tubuh setelah berolahraga adalah endorfin yang merupakan hormon kebahagiaan. Tak heran ketika kita selesai berolahraga, rasa bahagia itu meningkat.

Bahagia itu, kita sendiri yang menentukan. Kita tidak bisa menggunakan standar orang lain untuk mengukur kebahagiaan kita.

Bahagiaku adalah ketika bisa menaklukkan tantangan workout pada hari itu. Tantangannya bukan hanya jumlah set yang dapat aku lakukan, tetapi lebih kepada seberapa konsisten dapat workout setiap hari.


3. Lebih percaya diri

Kebahagiaan itu akan memancarkan percaya diri. Tidak usah menunggu body goal untuk bisa tampil percaya diri. 


4. Mendapat banyak teman perjuangan

Berkumpul dengan orang-orang yang memiliki visi dan misi sama memang sangat menyenangkan. Kami dapat saling menyemangati dan juga introspeksi diri.

Bentuk lain dari rezeki adalah teman-teman baik yang ada di sekeliling kita.


5. Ilmu kesehatan dan kebugaran dari Coach maupun teman sekelas

Dalam obrolan yang random, seringkali terselip ilmu-ilmu baru yang dapat menambah pengetahuan perdietan dan kebugaran.

Selain itu, kami juga mendapat ilmu seputar kebugaran dari Coach. Sejauh ini, banyak sekali ilmu-ilmu penunjang yang dapat mendukung program yang sedang aku jalankan.


Merah Itu Aku

Jogja, 24 November 2021



Continue reading Non-Scale Victories

Sunday, November 21, 2021

Jurnal Zona 4E

Dua pekan ini, kami berada di zona 4E (Easy, Enjoy, Excellent, Earn). Kami diminta untuk menuliskan aktivitas yang selama ini dilakukan sebagai Hexagonia. Baik untuk diri sendiri, maupun co-house, terkait dengan project passion.

Masuk ke zona 4E, bukan berarti berhenti menjalankan habit yang sudah dibuat pada zona sebelumnya. Habit adalah kebiasaan baik yang harus dilakukan terus menerus. Sebagai crafter, aku selalu melakukan sesuatu yang berhubungan dengan crafting setiap hari. Baik yang berhubungan dengan project passion co-house, maupun terkait passion pribadi.

Jika menilik dari yang dilakukan, maka aku masuk yang identity based habit. Semoga memang benar begitu, ya 😁.

Sebelum melangkah lebih lanjut, aku melakukan check in. Saat check in, aku kembali merenung, apakah yang dilakukan selama menjadi Hexagonia, sudah benar-benar sejalan dengan passion yang aku ambil? Atau justru semakin jauh?

Bagaimana perasaanmu?

- Galau. Entahlah, semakin ke sini, aku makin merasa jauh dari apa yang ingin aku capai. Satu sisi, aku berkomitmen untuk melakukan project passion co-house. Namun, sisi yang lain, hal tersebut agak jauh dari yang aku bayangkan sebelumnya. 

Aku memutuskan untuk melanjutkan project passion co-house, dengan melatih habit baik sebagai crafter dan menjalankan tanggung jawab sebagai warga co-house.


Untuk ice breaker, ada beberapa pertanyaan yang aku jawab:

1. Sejak menjadi warga Hexagon City, kegiatan rutin apa yang baru darimu?

Berdiskusi project passion di wag.


2. Coba sebutkan tetangga yang paling berkesan di co-housing-mu?

Mbak Siti. Beliau yang paling bersemangat dan menularkan kepada tetangga.


3. Hal apa yang paling challenging yang kamu temukan dalam project passion ini?

Banyaknya macam produk yang direncanakan untuk diproduksi. Karena kemampuanku sebatas crafting, aku ambil bagian yang kecil-kecil saja.

Di sini, kadang aku merasa sebagai penghambat. 


4.  Siapakah tetangga favoritmu?

Semua favorit 😆.


5. Habit apa yang paling kamu sukai saat ini?

Membuat scrunchie 😂.


Nah, sekarang kita masuk pada jurnal yang terkait dengan 4E.



Aktivitasku sebagai Hexagonia:

1. Mengikuti diskusi dalam FBG Bunda Produktif -- Easy

2. Mengikuti diskusi co-housing ArtaCraft -- Enjoy


Aktivitas prioritas untuk tim:

1. Menjahit masker -- Earn

2. Menjahit aksesoris -- Earn

3. Copywriting -- Enjoy


Aku memilih copywriting sebagai prioritas. Akan tetapi, aku juga akan tetap mendukung produksi.

Semua aktivitas yang aku jalankan, tidak ada yang kuberi label excellent. Karena memang belum merasa sampai seperti itu 😁.


Kami juga melakukan brainstorming terkait aktivitas yang dilakukan masing-masing warga.


Aktivitas kami, dibagi menjadi 3 action.

Action 1 (Fokus pada desain)

Desain: 

Gambar icon: Novi, Reni, Ayu

Printing: Novi


Action 2 (Fokus pada produksi)

Menjahit baju: Siti

Menjahit topi: Arin, Indy

Menjahit pouch/ masker kain: Arin, Indy, Firda

Menjahit slingbag: Indy

Menjahit aksesoris: Ais, Ayu, Riska, Firda


Action 3 (Fokus pada pemasaran)

Free class: (diselenggarakan sebagai awalan pengenalan produk)

- Fasilitator : Novi (Textile Printing), Reni (Seamless Pattern)

- Moderator : Ayu, Riska

Marketing:

- Flyer: Reni

- Copywriting: Firda

- Admin PO: Arin

- Bendahara: Ais


Banyak dari kami yang memutuskan untuk double, triple, maupun multijob. Meskipun demikian, kami tetap memutuskan untuk fokus pada satu aktivitas. Misalnya, aku yang akan fokus di action 3, tetapi tetap terlibat dalam produksi di action 2.





Dari ketiga aktivitas tersebut, ada yang kami sepakati sebagai aktivitas yang kami butuhkan, tetapi belum kami miliki. Meskipun justru aktivitas itu yang menjadi fokus untuk kukerjakan.



Merah Itu Aku

Jogja, 21 November 2021






Continue reading Jurnal Zona 4E

Tuesday, November 16, 2021

Drama Korea 2021

Hai ... hai ...

Kalau ada yang menyangka bahwa aku akan me-review drakor-drakor sepanjang tahun 2021, Anda salah 😁. Ya iyalah ... aku baru nonton satu drakor di tahun ini. Mmm ... dua sih, kalau Full House yang aku tonton ulang, masuk hitungan. Atau tiga, dengan Hometown Chachacha yang baru aku tonton 1 episode.

Ngomong-ngomong tentang Full House, ya, aku baru selesai nonton ulang 16 episode beberapa hari yang lalu. Ceritanya, aku lagi lihat-lihat film di Vidio, sebelum akhirnya menemukan bahwa ada drakor di sana. 

Mataku langsung tertuju pada Full House. Dulu, aku nonton drakor itu, tentu saja akibat diracuni oleh Mr. Right. Aku tonton ulang karena kayak-kayaknya, aku kurang inget dengan ceritanya. Hihi ... penting, ya ... padahal 16 episode, Buk ...

Untuk Hometown Chachaca, aku diajakin nonton bareng Mr. Right. Mungkin dia penasaran karena drakor itu masuk dalam jajaran yang banyak ditonton. Namun, baru 1 episode, rasa-rasanya butuh alasan yang kuat untuk meneruskannya.

Nah, aku mau cerita tentang drakor yang baru aja aku tamatkan dengan maraton delapan episode dalam semalam. My Name.

Sumber: Google


Alasan aku nonton

Jelas saja, yang pertama adalah diracuni Mr. Right. 

Alasan yang kedua, jumlah episodenya cuma delapan 😁.

Biasanya, aku nonton drakor itu karena pemainnya ganteng dan cantik versi aku. Pemain di My Name, engga ada yang aku banget. Kalau bukan karena Mr. Right, drakor ini jelas bukan pilihan yang akan kutonton.

(Dih, biasanya ... kayak yang aku rajin nonton drakor aja 😆.)

Awalnya, dia tanya-tanya ke aku, udah nonton atau belom. Tentu saja belum. Tau drakor itu aja engga, pada saat itu.

Ternyata, malam itu juga, dia nonton tanpa mengajakku. Sampai episode keempat, barulah kami nonton bareng. Selama nonton, aku bertanya-tanya karena belum nonton gimana awalnya dan memang engga cari sinopsisnya. Sowry, aku no spoiler spoiler club, ya ...

Nonton loncat tiga episode memang sesuatu banget. Beneran engga nyambung dan mengganggu karena jadi banyak tanya.

Besokannya, aku belum lanjut nonton. Mr. Right pulang malam dan aku males nonton sendirian. Beberapa malam selanjutnya, waktu aku ajakin Mr. Right nonton, ternyata dia udah kelar dong.

Ih, aku benar-benar merasa dikhianati. Aku pun ngambek beberapa malam enggak tergerak buat nonton.

Barulah kemaren malam, aku selesaikan secara maraton delapan episode. Sendirian.

Gosah nanya siapa aja pemainnya. Aku engga hafal 😆.


Bagus ga?

Karena no spoiler spoiler club, aku engga akan kasih tahu ceritanya di sini 😁.

Menurut penilaian orang yang engga terlalu suka drakor, aku cukup puas dengan ceritanya. Meskipun ada beberapa cerita yang aku sesali.

My Name, memang masuk genre action yang lumayan sadis. Banyak banget adegan berantem yang begitu jelas diperlihatkan. Darah ada di mana-mana dan kesadisan-kesadisan lain.

Karena itu, tidak disarankan menonton di siang hari, ketika anak-anak berpotensi menonton secara tidak sengaja.

Untuk ceritanya, banyak banget kejutan-kejutan. Plot twist-nya dapet. Bener-bener dipelintir ke sana ke mari. Aku merasa dipermainkan 😌. 

Justru itu yang membuat penilaianku terhadap My Name, cukup memuaskan.

Sampai menjelang episode terakhir, barulah misteri-misteri yang ada, mulai terkuak satu per satu.


Apakah setelah nonton My Name, aku akan meneruskan Hometown Chachaca?

Belum tahu. Sampai saat ini, aku belum tergerak buat nerusin nonton. Entah esok atau lusa 😆.


Sekian cerita tentang menonton My Name, sebagai drakor baru yang aku tonton pertama kali di tahun 2021.

Kalau tahun lalu, aku nonton dua drakor, tahun ini belum keliatan hilalnya 😂.

Yah, aku sih bakalan rajin nonton, asal ditemenin Mr. Right 😅. Haha ... dasar tidak punya pendirian. Eh, malah justru berpendirian, ya ...

Kalau kamu, udah berapa drakor yang ditonton sepanjang tahun 2021?


Merah Itu Aku

Jogja, 16 November 2021

Continue reading Drama Korea 2021

Sunday, November 7, 2021

Jurnal Zona Habit Pekan 1

Setelah libur setor jurnal pekan kemarin, akhirnya aku kembali menjurnal lagi. 

Hexagonia co-house ArtaCraft melakukan perkenalan lebih mendalam. Dari perkenalan yang dilakukan, ternyata ada beberapa yang merupakan alumni sebuah universitas negeri di Jogja. Ah, rasanya kami semakin dekat saja sebagai tetangga. Yang paling mengharukan, ternyata ada yang seangkatan sama aku loh 🙌.

Libur pekan kemarin, sebenarnya adalah untuk melakukan habit yang sudah kami pilih, dua pekan yang lalu. Aku memilih habit: Konsisten Crafting, termasuk menjahit masker sesuai pola yang sudah diberikan, sehari minimal 30 menit.



Selama dua pekan, kami semua melatih kebiasaan baik yang sudah dipilih, sesuai dengan pembagian peran yang dilakukan sebelumnya. Tentu saja, peran yang kami ambil, sesuai dengan passion masing-masing.

Habit masing-masing Hexagonia co-house ArtaCraft, akan mendukung passion project WISE (Wonderful Indonesia Signature). Masing-masing dari kami, berusaha untuk memberikan terbaik yang bisa dilakukan. 



Dalam melaksanakan habit yang aku pilih, ternyata masih mengalami kendala. Pada pekan pertama, aku fokus pada persiapan workshop macrame. Jadi, sebenarnya aku tetap melakukan crafting, hanya saja bukan merupakan hal yang mendukung project passion.

Untuk pekan kedua, aku juga masih belum menemukan ritme yang pas. Bekerja dengan mesin jahit memang memerlukan dukungan bagi orang sekitar. Karena setiap aku mulai menjahit, ada supporter yang setia berada di sampingku dan ikutan sibuk.



Mudah-mudahan, semakin hari, habit pendukung project passion yang aku lakukan lebih konsisten lagi.

Dari habit yang sudah kami pilih, kami berdiskusi menentukan milestone untuk memudahkan kami dalam melaksanakan passion project.

Kami berdiskusi dan memutuskan untuk membagi menjadi tiga milestone. Rencananya, untuk masing-masing milestone, akan dilakukan selama dua bulan.



Berikut adalah milestone passion project Wonderful Indonesia Signature dari co-house ArtaCraft:

Milestone 1

Desain 

Kami sudah mendiskusikan elemen apa saja yang akan dimasukkan ke dalam desain dan juga pemilihan warna dasar. Tim desain sudah mulai bergerak.

Produksi untuk pengenalan produk (membuat contoh produk) 

Rencananya akan menggunakan kain dengan desain yang sudah jadi. Kain dipesan dengan minimum order, atau sesuai dengan kebutuhan minimal kami.


Habit baik: 

- konsistensi belajar 

- saling urun ide untuk desain 

- atur waktu untuk praktek produksi 

- mulai membuat contoh produk (bisa dibagi-bagi siapa yang bikin contoh bucket hat, contoh masker, baju dll) 


Penghambat: 

- tidak konsisten


Solusi: 

- atur waktu lebih baik 

- saling mengingatkan 

- pekan depan bisa disetorkan contoh produk yang sudah dibuat. 


Milestone 2

Promosi 

Promosi diperlukan untuk menarik pembeli. Sepanjang masa promosi, kami akan sekaligus membuka pra pesan.

Free Class Digital Drawing & Printing 

Kegiatan workshop secara daring dilakukan sebagai salah satu bentuk promosi produk ArtaCraft.


Habit baik: 

- konsisten promosi di sosial media 

- diskusi menyusun acara workshop 

- membuat personal branding projek ArtaCraft 


Penghambat: 

- tidak berkontribusi 


Solusi:

- saling support 


 Milestone 3 

Pra produksi (pencetakan dan pemesanan kain sesuai jumlah PO) 

Setelah pemesanan ditutup, kami akan mulai order kain. Jika memungkinkan, kami bisa melakukan pemesanan kain di tengah masa PO untuk mencicil produksi.


Produksi 

Pembagian tugas sudah dilakukan pada awal perencanaan project passion. Jadi, jika ada perubahan, pasti tidak terlalu signifikan.


Penjualan 

Setelah semua pesanan jadi, kami akan mengirimkan secara serentak.


Habit baik: 

- pembagian tugas produksi 

- menyelesaikan tugas sesuai jadwal 


Penghambat:

- tidak bisa membagi waktu dengan baik 

- ketidakselarasan waktu penyelesaian tugas antar anggota team 


Solusi: 

- pembagian tugas produk yang jelas dan deadline produksi (siapa yang bikin baju siapa yang bikin masker dll) 

- koordinasi yang baik


Milestone yang sudah kami susun, sejatinya menuju pada goal project passion co-house ArtaCraft, Wonderful Indonesia Signature, yaitu:

- mencipta produk

- konsumen puas dan nyaman dengan produk

- pemesanan berulang

- produk bisa meluas dan menebar manfaat tidak hanya di Hexagonia tapi juga ke luar Hexagonia.

Diskusi dalam co-house, dilakukan melalui whatsapp group. Awalnya akan digunakan zoom, tetapi ada beberapa Hexagonia yang tidak bisa mengikuti, termasuk aku. Alhamdulillah, aku tidak banyak ketinggalan karena bisa mengikuti meskipun terlambat.


Merah Itu Aku

Jogja, 7 November 2021



Continue reading Jurnal Zona Habit Pekan 1

Sunday, October 31, 2021

Berbahasa Indonesia secara Lisan dan Tulisan

Dalam percakapan sehari-hari, biasanya kita lebih banyak menggunakan bahasa daerah. Apalagi jika kedua orang yang sedang berkomunikasi tersebut berasal dari daerah yang sama. Kalau pun berbahasa Indonesia, maka akan ada beberapa bahasa daerah yang turut dimasukkan ke dalam percakapan.

Beberapa hari yang lalu, aku tergelitik dengan pembahasan di Kelas Literasi Ibu Profesional tentang acara literasi yang diadakan di sebuah kota. Meskipun aku tidak ikut menanggapi pembahasan tersebut, tetapi cukup membuat kepikiran. 

Duh, maafkan aku yang masih sering ketinggalan pembahasan di grup dan bingung mau menanggapi dari sebelah mana.

Wah, kalau di sebuah kota di Jawa Barat memasukkan bahasa Sunda dalam percakapannya, apakah di kota lain dengan bahasa daerah tertentu, juga akan memasukkan bahasa daerahnya? Ini dalam konteks acara besar, ya, bukan sekadar kumpul arisan. 

Jawabannya, tentu saja iya. Pasti kita sering menemui acara, di mana pembicaranya memasukkan bahasa daerah dalam pidatonya. Bahkan mungkin, kita sendiri yang menggunakannya.

Mungkin, dengan menyisipkan kata dalam bahasa daerah, akan lebih akrab dan dapat diterima oleh pemirsa.

Tak lama berselang, aku pun menghadapi sebuah acara yang cukup besar, di mana aku menjadi salah satu narasumbernya. Hal tersebut tentu saja membuatku banyak berbicara. Entah saat memaparkan materi, atau pun menjawab pertanyaan dari peserta.

Berbahasa Indonesia secara lisan memang cukup menantang. Menurutku, dalam tulisan, penggunaan bahasa baku lebih bisa diterima pembaca. Berbeda dengan bahasa lisan. Selain terdengar aneh, ada kalanya bahasa yang baik dan benar, justru tidak dimengerti oleh pendengar. Oleh karena itu, penggunaan bahasa daerah dapat menjadi solusi agar komunikasi mudah dipahami.



Kesulitan berbahasa Indonesia dalam bentuk lisan, bukan hanya dialami oleh pendengar. Namun, bagi pembicara pun, hal tersebut cukup menantang. Seperti yang terjadi padaku saat menjelaskan langkah-langkah dalam membuat ikatan makram di sebuah acara. Aku sempat bingung menggunakan kata 'menekuk' pada kalimat '... menekuk tali sama panjang.' Apakah kata menekuk dapat diganti dengan 'melipat'?

Padahal, setelah aku cek di KBBI, kata menekuk merupakan kata baku dan memang digunakan untuk tali. Kenapa saat itu aku merasa ragu? Ya, karena orang-orang tampak aneh saat mendengarku mengucapkannya. Jika menulis, kita dapat mengecek KBBI saat ragu. Namun, dalam bahasa lisan, hanya mengandalkan ingatan dan rasa percaya diri saja. Haha ...

Kadang, kekayaan bahasa daerah tidak dapat digantikan dengan bahasa Indonesia. Akan tetapi, bahasa tersebut belum masuk dalam KBBI sebagai bahasa serapan. Sedangkan bahasa tersebut jauh lebih populer dibanding bahasa baku. Duh, pelik banget, ya ... sepelik tata bahasa yang aku gunakan dalam menjelaskannya. Atau sepelik perasaan wanita? 😌

Menilik kejadian yang kerap kali terjadi, penting bagi kita, para penulis yang lebih dahulu memahami tata bahasa, agar memopulerkan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Apa yang bisa kita lakukan?

1. Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar ketika menulis pesan. Kalau bisa, gunakan huruf miring pada kata asing atau serapan bahasa daerah. Termasuk juga cara penulisan sesuai PEUBI.

2. Hindari menyingkat kata dalam menulis pesan. Biasakan menulis dengan kata yang utuh.

3. Baca ulang pesan sebelum dikirim untuk menghindari salah ketik.

4. Sebisa mungkin, gunakan bahasa lisan yang baku saat berbicara dengan teman atau anak. Mungkin pada awalnya terdengar aneh. Akan tetapi, sesuatu yang baik memang perlu dibiasakan agar terbiasa, bukan?

5. Bergaul akrab dengan KBBI dan PEUBI agar kita terbiasa. 


Semoga dengan beberapa tips di atas, kita dapat lebih menyebarluaskan penggunaan bahasa Indonesia di lingkungan sekitar.

Bahasa tulisan dan lisanku pun masih belum sempurna, tetapi aku berusaha untuk terus belajar. 

Jika bukan kita, siapa lagi. Jika tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi?


Merah Itu Aku

Jogja, 31 Oktober 2021



Continue reading Berbahasa Indonesia secara Lisan dan Tulisan

Friday, October 29, 2021

Tantangan SaGuSaKa

Akhir September, aku melihat ada info tantangan menulis di akun instagram @ruang_nulis. Memang sepanjang bulan September, aku mengikuti September Menulis yang diselenggaran oleh @ruang_nulis. Jadi, aku cukup rajin memantau feed-nya.

Belum juga selesai mengikuti September Menulis, aku tertantang untuk mendaftar SaGuSaKa (Satu Minggu, Satu Karya). Event yang diselenggarakan @ruang_nulis ini, berlangsung selama bulan Oktober. 

Seperti namanya, SaGuSaKa merupakan event menulis dengan menghasilkan karya setiap minggu. Cukup menantang, kan?

Ternyata, SaGuSaKa sudah dilaksanakan sebanyak tiga kali. Bulan Oktober 2020, bulan Maret 2021, dan yang sekarang. Alhamdulillah, aku banyak belajar dri event ini.

Hal paling menantang dari SaGuSaKa adalah, tidak semua nsakah yang masuk, bisa terpilih. Misalnya pada tantangan minggu pertama, hanya 50 naskah yang terpilih. Jadi, jika semua naskah kita lolos, ada empat buku antologi yang bisa kita dapat. Menggiurkan banget kan? Tentu saja juga menantang. Cocok banget buat yang menyukai tantangan.

Tantangan yang diberikan pada event ini juga nggak kaleng-kaleng. Minggu pertama, kami ditantang menulis kisah yang renyah, dengan tema kukis. Ada syarat dan ketentuan yang harus diikuti. Dari jumlah kata, ukuran halaman, margin, jenis dan ukuran huruf, judul, serta bionarasi. Baiknya, pihak penyelenggara memberikan template word untuk memudahkan peserta dalam menulis. Biar gampang, memang lebih aman pakai template yang sudah dikasih.

Alhamdulillah, naskah minggu pertamaku lolos.

Minggu kedua, tema rumah sakit dan kami harus memilih tokoh utama sebagai tenaga kesehatan. Ada beberapa jenis profesi yang ditawarkan. Masing-masing profesi hanya boleh diisi oleh beberapa orang saja. Dengan nekat, aku pilih apoteker. 

Sebagai apoteker, aku justru belum pernah membuat cerita tentang profesi ini. Pertama kali menuliskan tokoh utama seorang apoteker, aku agak gamang. Bener kayak gini, ga, yah? Khawatir aja kalau nggak logis. Hihi ... kan memalukan ya ...

Keuntungannya, aku nggak perlu banyak-banyak riset tentang profesi yang aku pilih itu. Cukup membayangkan teman-teman apoteker yang kerja di rumah sakit. 

Asli sih, sebenarnya aku merasa kurang percaya diri bakalan lolos. Peserta yang lain nampak sudah lebih berpengalaman karena pernah mengikuti SaGuSaKa sebelumnya. 

Alhamdulillah, naskahku di tantangan kedua juga lolos. Udah ketar ketir aja bawaannya setiap hari Kamis. Karena pengumuman naskah lolos dilakukan di hari itu.

Tantangan ketiga semakin challenging saja. Kami diberi tiga kondisi untuk dijadikan cerita. Dua di antaranya amat sangat sungguh fantasi sekali. Aku belum punya pengalaman menulis fantasi. Tadinya pengen mencoba untuk menuliskannya. Namun, saat aku konsultasi pada Mr. Right, dia pilihkan kondisi yang tidak fantasi. 

Kondisi yang dipilihkan itu sebenernya bergenre thriller. Memang nggak fantasi, tetapi dalam imajinasiku, bermain-main cerita psikopat sadis. Meskipun saat eksekusi, aku nggak sampai memberi kesan itu. Hanya akhir yang mengajak pembaca untuk menentukan akhirnya bagaimana.

Alhamdulillah lagi, naskahku di tantangan minggu ketiga juga lolos.

Tantangan minggu keempat, sebagai penutup, kami diminta menulis berpasangan. Padahal aku nggak kenal satu pun peserta yang lain. Aku sempat menghubungi dua orang di grup dan ditolaknya. Haha ... penolakan pertama karena beliau sudah ada pasangan, sedangkan yang kedua karena ternyata sudah menyerah.

Namanya jodoh memang tidak bisa kita ketahui dari mana datangnya. Aku justru menemukan pasangan menulisku di grup finisher September Menulis. Haha ... karena grup SaGuSaKa dikunci setelah arahan mencari pasangan, ternyata pesertanya menempuh jalan ninja cari pasangan di grup sebelah. 

Untuk tantangan terakhir ini, belum ada pengumuman. Naskah aja belom disubmit 😂. Pengumuman hari Kamis depan.

Apa pun hasilnya, mari kita syukuri. Karena proses yang sudah kita lalui di SaGuSaKa sungguh mengayakan.

Aku yang biasanya mengikuti event nulis bareng, merasakan jantung yang berdegup kencang setiap membaca tantangan dan pengumuman naskah lolos. 

Semoga semuanya semangat sampai akhir, ya ... dengan menyetorkan naskah, sebenarnya kita sudah menjadi pemenang bagi diri sendiri.


Merah Itu Aku

Jogja, 29 September 2021

Continue reading Tantangan SaGuSaKa