Tuesday, October 11, 2022

Games Passion 4 - Gauge -

Gauge merupakan salah satu cara untuk memperkirakan panjang benang yang dibutuhkan dalam membuat project merajut.

Gauge berukuran 10 cm x 10 cm. Dari luasan tersebut, dihitung jumlah tusukan dan baris.


Pada Games Passion 4 ini, kami diminta untuk membuat gauge dengan 3 macam tusukan, single crochet, half double crochet, dan double crochet.


Aku menggunakan benang yang sama untuk ketiga tusukan ini. Jenis benang polyester, ukuran tidak tahu 🥲.


1. Single Crochet



Pada single crochet, aku membuat gauge dengan:

Panjang benang: 18,4 m

Jumlah tusukan: 27 

Jumlah baris: 22


2. Half Double Crochet



Pada half double crochet, aku membuat gauge dengan:

Panjang benang: 18,5 m

Jumlah tusukan: 26

Jumlah baris: 16


3. Double Crochet



Pada half double crochet, aku membuat gauge dengan:

Panjang benang: 18,85 m

Jumlah tusukan: 26

Jumlah baris: 11


Membuat gauge tidak semudah yang dibayangkan. Meskipun hanya tusukan sejenis dalam setiap gauge, ternyata butuh waktu yang cukup lama untuk menyelesaikannya. Belum lagi, masalah tepian yang bergelombang. Duh, memang butuh jam terbang tinggi untuk menghasilkan karya yang apik.


Demikianlah cerita Games Passion 4 ini. Masih ada beberapa utang games untuk bisa lulus :)




Jogja, 11 Oktober 2022
Merah Itu Aku


Continue reading Games Passion 4 - Gauge -

Thursday, September 22, 2022

Apa yang Membuatmu Ingin Menulis?

 


"Apa yang Membuatmu Ingin Menulis?" 

Pertanyaan ini berputar-putar di kepalaku beberapa hari belakangan. Sebuah tantangan menulis yang diberikan pada Rumah Belajar Literasi (Rumlit) IP Yogyakarta yang memang selalu menantang 🙃.


Apa, sih, yang membuatku ingin menulis?

Mungkin, ceritaku beberapa pekan lalu di Rumlit, dapat menjawabnya.


1. Aku ingin menulis karena membutuhkan tempat untuk bercerita.

Menulis merupakan salah satu cara bagiku untuk bercerita. Menuangkan semua rasa dengan kata-kata pada lembaran kertas, tanpa perlu khawatir menyakiti orang lain.


2. Aku ingin menulis, untuk berbagi pengalaman.

Pada perjalanannya, tulisan yang hanya bisa dinikmati sendiri pun, mulai kubagikan melalui blog. Berharap dapat memberikan manfaat bagi pembacanya.


3. Aku ingin menulis, untuk melatih kemampuan berbahasa.

Setelah memutuskan untuk memublikasikan tulisan di beberapa media sosial yang dipunya, aku mulai banyak belajar tentang kepenulisan.

Aku berharap, semakin banyak menulis akan membuatku terbiasa memilih kata untuk dirangkai sebagai kalimat yang enak untuk dibaca serta mudah dipahami.


Itulah tiga jawaban yang mendasari keinginanku menulis. Kalau kamu, apa yang membuat ingin menulis?



Merah Itu Aku

Jogja, 22 September 2022


Continue reading Apa yang Membuatmu Ingin Menulis?

Saturday, July 23, 2022

Games Passion 2 KaBa #2



Ih, ujug-ujug aku datang dengan Games Passion 2. Yang satunya mana?

Haha ... tenang ... tenang ... Games Passion 1 memang tidak aku post di blog. Karena eh karena, aku pakai youtube buat nyetor tugas. Gaya pisan lah pokoknya 🤣.

Senapsaran sama suara aku? Iya ... yang tampak memang cuma tangan dan diisi dengan suara merdu akuuh 😌.

Teman-teman bisa lihat melalui tautan ini, ya ...

https://youtu.be/X0mwcvmY5u0

Jangan lupa, subscibe, like, dan comment, ygy ....


Kalau yang pertama bikin video, kenapa yang kedua ga bikin video lagi?

Ehem ... karena aku ga sejago itu bikin tusukan rajut. Sempat nyoba videoin, eh, malah keluar-keluar frame karena aku terlalu fokus ngliatin benang rajutnya. Yah, intinya sih, aku memang belom jago rajut. Jadi, cukup tau diri lah buat memosisikan diri ada di mana.

Cerita sedikit, ya. Saat ini, aku sedang mengikuti KaBa (Kampung Bakat) batch 2. Ada bermacam-macam kabin dan aku berada di kabin merajut dan macrame.

Titik awal kami mulai belajar tidaklah sama. Sehingga, harus mengukur sendiri kemampuan yang kami miliki. Tiap tingkatan, games yang diberikan juga berbeda. Disesuaikan dengan kemampuan.

Games passion 1, kami belajar tentang ikatan dasar macrame. Aku memilih peta belajar sebagai penjelajah. Sehingga aku membuat video tutorial lima ikatan dasar macrame.

Untuk games passion 2, kami belajar tentang tusukan dasar merajut. Aku memilih peran sebagai Peneroka. 

Dalam KBBI, Peneroka diartikan sebagai pembuka daerah atau tanah baru; pembuka jalan; perintis.

Sebagai peneroka, aku ditantang untuk membuat 4 tusukan dasar merajut, dan disetorkan dalam bentuk foto. 

Semua tusukan dimulai dari slipknot dan 15 rantai (ch).



Slipknot merupakan tusukan awal dalam merajut. Biasanya, aku mengikat tanpa menggunakan hakpen. Setelah melihat video dari Ayunda Fanny, aku jadi bisa membuat slipknot menggunakan hakpen. Happy banget rasanya. 



Selain slipknot, tusuk rantai (ch) merupakan tusukan dasar pada rajut. Biasanya, sebagai dasar untuk tusukan selanjutnya.






Single crochet merupakan tusukan dalam rajut yang menghasilkan rajutan paling rendah (setelah tusukan rantai). Disusul half double crochet, double crochet, dan triple/ trible crochet.



Pada foto di atas, kita bisa melihat perbandingan tinggi dari keempat tusukan dasar rajut yang aku buat.

Untuk tantangan dalam membuat tusukan dalam rajut adalah menghafal sebutannya. Jika melihat tutorial dalam bentuk video atau pola gambar, insyaallah, jika masih keempat tusuk ini, aku sudah cukup mampu. Cukup, ya, enggak sampai mahir 😁.

Sebagai motivasi, aku punya target untuk bisa membuat summer hat. Semoga, ketika bersandar di dermaga, aku sudah bisa membuat satu summer hat.

Berikut ini adalah foto summer hat dan pola yang aku dapat dari pinterest.



Agak gegayaan ga sih kalau pemula pengen bikin beginian? Agak kriting, ya, liatnya 😆.

Bismillah, yuk, bisa, yuk ...


Merah Itu Aku

Jogja, 23 Juli 2022

Continue reading Games Passion 2 KaBa #2

Friday, June 24, 2022

Pendakian Pertama Anyelir

"Anya!" Terdengar sebuah panggilan diikuti suara langkah mendekat. Tanpa perlu mengalihkan pandangan dari buku yang sedang dibacanya, gadis itu sudah mengetahui siapa yang memanggil. 

"Apa?" tanya Anyelir begitu Bara berdiri di sampingnya.


"Kamu serius, mau ikutan naik gunung?" 


"Iya. Aku udah bilang Mas Cikal dan dibolehin ikut."


"Ini ke Slamet, lho, Nya." Bara duduk di samping Anyelir yang tampak kesal. Dia sudah memperkirakan bahwa gadis keras kepala itu sanggup melakukan apa saja untuk bisa mencapai keinginannya. Naik gunung.


"Emangnya kenapa? Kamu pikir, aku nggak mampu?!" tanya Anyelir dengan nada tinggi. 


"Bukan gitu," kata Bara sambil memikirkan kalimat yang tepat agar tidak menyinggung gadis yang duduk di sampingnya.


"Mas Cikal udah bolehin," ulang Anyelir menantang Bara.


"Dia suka sama kamu dan akan mengiyakan semua permintaan kamu."


"Kamu nggak suka aku? Karena itu nggak pernah bolehin aku ikut naik gunung sama kamu?"


"Nggak gitu, Nya …," kata Bara menimbang-nimbang kalimat berikutnya. "Okay, kamu boleh ikut …."


"Tapi?" tanya Anyelir ketika Bara tidak juga melanjutkan kalimatnya.


"Jangan Slamet," kata Bara dengan nada penuh permohonan. Gadis keras kepala ini sudah berulang kali membuatnya kalang kabut dengan tindakan di luar nalar. "Kita coba yang gampang-gampang dulu aja."


"Setuju!" seru Anyelir cepat, sebelum Bara berubah pikiran. 

***

Bara agak menyesal dengan keputusan memperbolehkan Anyelir naik gunung. Akan tetapi, dia tidak mau ambil risiko dengan membiarkan gadis itu pergi bersama orang lain.


Bukan tanpa alasan, Bara melarang Anyelir ikut naik gunung bersamanya. Gadis itu memiliki penyakit asma, tetapi sangat keras kepala meskipun sudah diberi pengertian.


"Aku mau nyoba sesuatu yang kamu suka. Kalau memang aku bener-bener terbukti enggak mampu, aku enggak akan minta lagi," janji Anyelir pada suatu hari.


Bara masih belum mengizinkan hingga akhirnya Anyelir meminta sendiri pada Cikal, ketua Mapala, yang disinyalir menyukai gadis manis itu.


Sebelum pendakian, Bara meminta izin pada kedua orang tua Anyelir. Pada awalnya, sang ayah cukup sulit diyakinkan. Dengan berbagai bujuk rayu serta janji-janji yang dilontarkan, mereka diizinkan juga untuk mendaki gunung.


Mereka sudah bersahabat sejak kecil. Orang tua Anyelir pun sangat mengenal Bara yang seperti pelindung bagi putrinya. 


Seminggu sebelum keberangkatan, Bara melatih Anyelir dengan beberapa latihan fisik. Sedikit berharap gadis itu akan menyerah dengan serangkaian latihan yang diberikan. Nyatanya, dia mampu melewati semua dengan mulus. 


Tidak hanya latihan fisik, mereka juga menyiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan serangan asma saat pendakian. Udara dingin dan kelelahan dapat memicunya.




Bara memilih Gunung Prau sebagai tujuan pendakian pertama bagi Anyelir. Medannya cukup ramah bagi pemula.


Gunung Prau terletak di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah. Ketinggiannya 2.565 mdpl (meter di atas permukaan laut). 


Ada beberapa basecamp pendakian dan Bara memilih jalur Patakbanteng. Jalur ini merupakan favorit yang paling banyak dipilih karena rutenya paling singkat dan tidak terlalu sulit. 


"Bilang kalo kamu nggak kuat," kata Bara untuk kesekian kalinya.


"Iya, Bawel," sahut Anyelir yang tidak berhenti tersenyum sejak perjalanan menuju Wonosobo.


Bara mengecek semua barang bawaan Anyelir. Memastikan semua obat-obatan tidak tertinggal. Tidak banyak perbekalan yang dibawa. Mereka hanya akan mendaki sekitar empat jam jika perjalanan lancar.


Mereka mulai mendaki menuju Pos 1 Sikut Dewo. Bara memastikan kondisi Anyelir secara berkala. 


"Aman," kata Anyelir setiap Bara menanyakan kondisinya.


"Pos 1 udah keliatan. Kalo kamu mau udahan, nanti kita turun," kata Bara serius ketika melihat butiran keringat mulai membasahi wajah Anyelir.


"Nggak usah lebay!" seru Anyelir galak.


Bara memberi kesempatan Anyelir beristirahat cukup lama. Tidak penting berapa waktu yang dibutuhkan untuk sampai di puncak. Keselamatan sahabatnya jauh lebih penting.


Perjalanan menuju Pos 2, kondisi Anyelir cukup payah. Selain kelelahan, udara saat itu memang sangat dingin. Beberapa kali, gadis itu mulai batuk-batuk.


"Kita stop sampai sini aja," kata Bara begitu sampai di Pos 2.


Anyelir menghirup inhaler untuk meredakan sesak yang mulai terasa.


"Kita turun setelah kamu cukup istirahat," kata Bara lagi setelah napas Anyelir mulai teratur.


"Sialan, kamu benar. Aku memang nggak kuat," kata Anyelir cukup kesal dengan ketidakmampuannya.


"Hey, kamu bisa melakukan banyak hal. Tapi memang naik gunung nggak cocok buat kamu."


"Sorry, karena udah begitu menyebalkan akhir-akhir ini."


"Kamu memang menyebalkan, Anya!" kata Bara sambil menghindari pukulan sahabatnya.

***


Merah Itu Aku

Jogja, 24 Juni 2022


(Cerpen-Rumah Belajar Literasi IP Yogyakarta)

Continue reading Pendakian Pertama Anyelir

Monday, June 20, 2022

Liburan Hari Pertama

Libur parsial tlah tiba ... 

Disebut parsial karena Dek Lou yang beda sekolah belum libur. 

Disebut parsial juga karena Kak Zidan dan Kak Athar belum terima rapor. Jadi, meskipun judulnya udah ada yang libur, kami masih bertahan di Yogyakarta.

Tadinya sempat kepikiran buat ikutan Mr. Right ke Semarang sebelum terima rapor. Etapi kan anak bayi belum libur. 

Baiklah, demi memberikan kesibukan buat anak-anak, hari ini kami melakukan dua agenda. Satu berhasil selesai, sedangkan satunya masih on going. Mungkin akan dilanjutkan besok.



1. Masak bareng anak-anak.

Awalnya nggak ada rencana buat masak. Tiba-tiba, Kak Zidan menunjukkan video masak dari TikTok yang lumayan gampang. Ih, dasar anak sekarang. 

Aku tyda tau namanya apaan. Semacam scotel tapi pake nasi.

Aku iya in aja karena yakin bakalan bisa masaknya. Bahan-bahannya juga gampang.

Anak-anak semangat bantuin. Dari nyampur-nyampur bahan, mecahin telur, sampai kasih topping.

Untuk bagian masukin ke- dan ngeluarin dari oven, semua diserahkan pada emaknya.

Kalau mau cobain, aku bagi resepnya dengan sedikit improvisasi, disesuaikan dengan bahan yang ada di rumah.


Siapkan bahan-bahan berikut:

- nasi seikhlasnya

- kornet 1 kaleng (aku lupa berapa gram)

- keju (aku pake mozarella + cheddar)

- sosis 2 pcs, potong tipis

- telur 2 butir

- garam dan merica secukupnya

- daun bawang iris tipis


Langkah membuat:

- campurkan semua bahan (kecuali mozarella dan sebagian sosis), aduk rata.

- masukkan ke dalam aluminium cap.

- beri keju mozarella dan potongan sosis sebagai topping.

- panggang selama 15 menit.

- siap disajikan.


Alhamdulillah bisa jadi lima cup dan laris manis. Anak-anak suka. Emaknya nggak usah ditanya 😌.


2. Beresin meja belajar.

Sesungguhnya, agenda hari ini cuma beresin meja belajar beserta buku-buku kelas 3 dan 5. Karena bulan depan bakalan dapet buku-buku baru lagi, kami kosongkan beberapa bagian. Sekalian kasih kegiatan buat anak-anak.

Bisa ditebak sih, yang banyak kerja jelas emaknya. Anak-anak bantu dikit buat pisahin kertas-kertas yang enggak boleh dibuang. Kemudian, mereka cuma liat-liat, khawatir ada koleksi mereka yang ikut disingkirkan (baca: dibuang).

Setelah satu bagian berhasil dirapikan, kami pindah ke bagian lain. Dan taraaa ... ditemukan kembali rayap yang sudah menggerogoti sebuah buku koleksi anak-anak 🥲.

Sebagai orang Indonesia yang sering berpositif thinking, aku lumayan bersyukur karena ketauan lebih awal, sebelum menghabiskan lebih banyak buku.

Sedih sih karena buku itu tidak bisa diselamatkan dan terpaksa langsung dibuang.

Sorenya, kami main bulutangkis. Beres-beres diteruskan besok karena setelah menemukan rayap, aku langsung menyemprot dengan cairan khusus yang mana lumayan bikin hidung enggak nyaman.

Nantikan cerita liburan kami selanjutnya, ya ❤.


Merah Itu Aku

Jogja, 20 Juni 2022


Continue reading Liburan Hari Pertama

Tuesday, May 3, 2022

Lebaran Itu ...

Hari kedua lebaran, kami melakukan perjalanan ke arah timur. Tentunya bukan untuk mencari kitab suci, ya, Gaes.

Alhamdulillah, tahun ini, Idulfitri pemerintah dan Muhammadiyah jatuh bersamaan. Aku sempat agak khawatir karena awal Ramadan berbeda. Keluarga dari Ibu memang selalu mengikuti hisab dari Muhammadiyah. Aku besar dalam lingkungan itu. 

Ketika menikah dengan Mr. Right yang taat pemerintah, aku kerap kali berada di persimpangan. Ampun dah, berat amat bahasanya. Yah, intinya, secara naluri, aku lebih condong pada perhitungan daripada penampakan hilal. Namun, aku tidak bisa ngotot-ngototan untuk hal ini, mengingat ada anak-anak yang tidak mungkin kutempatkan pada kebingungan memilih ikut Ayah atau Bunda. Bukan sekadar ikut pemerintah atau Muhammadiyah.

Ah, sebenarnya bukan Muhammadiyah, sih, karena bukan pengikutnya pun, banyak yang ikut hisab dibanding menunggu sidang isbat pemerintah berdasarkan penampakan hilal.

Oke, mari kesampingkan itu semua. Yang terpenting, kami semua lebaran di hari yang sama.

Ada beberapa kebiasaan lebaran yang masih berlangsung hingga saat ini. Antara lain, silaturahmi mendatangi saudara dan bagi-bagi angpau.

Berdasarkan KBBI.web,

ang·pau Cn n 1 amplop kecil untuk tempat uang sumbangan yang diberikan kepada orang yang punya hajat (perkawinan dan sebagainya) dalam adat Cina; 2 hadiah atau pemberian uang (pada hari Tahun Baru Cina dan sebagainya)

Sepertinya terdapat pergeseran makna, ya ... atau masuk dan sebagainya? Atau memang tidak cocok disebut angpau lebaran? Yah, maksudnya gitulah.

Amplop lebaran dari tahun ke tahun, nyatanya mengalami perubahan. Selain itu, tahun ini, aku menemukan ada bentuk angpau yang baru. Makin bergeser aja makna angpau. Bukan hanya uang dalam amplop tetapi juga dalam bentuk lain.

Kekreatifan warna negara kita tercinta memang patut diacungi jempol. Permainan kata dan warna selalu membuatku terpukau.

Bentuk amplop yang awalnya putih bersih tak bernoda, beberapa tahun belakangan menjadi lebih beragam. Beraneka gambar bertema lebaran atau tokoh kartun yang disukai anak-anak, mulai banyak dijumpai.

Untuk bentuk pun bermacam-macam. Ada amplop mini, ada juga yang panjang seukuran uang kertas.

Ada yang dari kertas, ada pula dari kain flanel beraneka warna dan bentuk. Menarik dan lucu-lucu. 

Tahun ini, aku terpesona dengan permainan kata pada amplop lebaran. Warga Indonesia memang jago bikin plesetan macam begini 😅.


Dan yang paling bikin speechless, adalah ini!



Terlepas dari berapa nominalnya, bagiku, segala pemberian tersebut menunjukkan perhatian untuk berbagi kebahagiaan.

Dalam hal ini, sebagai ibu dari anak tiga, kadang merasa cukup merepotkan. Karena bagaimana pun, jumlah anak yang bisa dikatakan tidak sedikit, akan membuat mereka mengeluarkan lebih untuk anak-anakku.

Berdasar obrolan dengan adik tersayang, ternyata tradisi bagi-bagi angpau lebaran, tidak berlaku di keluarga istrinya. Wow, entah kenapa, aku menganggap itu lebih baik. Kadang tradisi bagi-bagi angpau ini, terasa memberatkan bagi beberapa pihak. Aku pribadi, kadang merasa kesulitan mencari uang lurus. Padahal ga wajib juga 😄. 

Sebagai penutup, berbagi kebahagiaan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Gunakan cara yang paling sesuai dengan kemampuan. Jangan memaksakan diri. Bagaimana kita bisa berbagi kebahagiaan kalau ternyata terpaksa?

Selamat berkumpul bersama keluarga. Stay healthy and always happy!


Merah Itu Aku

Cilacap-Kebumen, 3 Mei 2022

Continue reading Lebaran Itu ...

Monday, May 2, 2022

Idulfitri 1443 H

Taqabalallahu minna wa minkum

Mohon maaf lahir dan batin ❤



Idulfitri tahun ini, pemerintah memperbolehkan warga untuk mudik. Tiket mudik segala armada pun cepat sekali habis. Konon katanya begitu.

Alhamdulillah, kami sekeluarga bisa mudik hari terakhir Ramadan. Sempat terjadi salah pengertian karena kupikir, lebaran masih hari Selasa. Padahal, aku sudah berencana melakukan beberapa hal di hari Senin, untuk persiapan Idulfitri.

Entahlah, kenapa informasi kapan Idulfitri terlewat. Aku sudah tahu kalau Idulfitri 1443 H, diperkirakan terjadi tanggal 2 Mei 2022. Tapi kupikir, itu hari Selasa 😅.


Perjalanan mudik cukup lancar. Jalanan sedikit ramai, tetapi tidak macet. Hanya ada keramaian kendaraan di beberapa titik.

Kami berangkat dari Jogja pukul 12.30 dan sampai Cilacap 16.30. Sempat berhenti untuk beli titipan seseorang dan mampir untuk nganter titipan tersebut. Cukup lancar dan bisa ngebut.

Oiya, ini fakta penting dan cukup mencengangkan. Tahukah kalian, bahwa lagu tahun 2000-an sudah masuk dalam kategori lagu nostalgia?

Ya ampuuun ... itu baru sekitar 20 tahun yang lalu, lho ...

Eh, gimana? Udah berasa tuwa? 🤣🤣🤣.

Kenapa ujug-ujug bahas ini? Karena kemarin, kami dengerin lagu nostalgia itu di perjalanan 😌.

Baiklah ... setelah adanya kesalahpahaman pemikiran jatuhnya Idulfitri, aku langsung menyusun ulang rencana. Hidih ... padahal rencananya itu terkait dengan pencucian baju lebaran Kakak Zidan yang kelewatan (punya adek-adeknya dah beres semua). 

Baju lebaran Kakak Zidan, langsung kucuci sore hari begitu sampai Cilacap. Alhamdulillah, angin di rumah cukup bekerja sama untuk mempercepat pengeringan. Pagi hari sebelum salat ied, baju itu udah kering dan berhasil disetrika. 

Rencana awal, kami salat ied di Kebumen, tempat mertua. Aku sudah minta Fuad buat lebaran hari pertama di Cilacap supaya Ibu nggak sendirian. Perubahan rencana yang mendadak, bikin aku khawatir, Ibu bakalan berangkat salat ied sendirian tahun depan.

Aku cukup kepikiran sih. Tahun depan, jelas giliran kami salat ied di Kebumen. Kalau Fuad, mungkin nggak di Cilacap juga. Entahlah kalau tahun depan, dia bisa di sini lagi. Aku cuma kepikiran Ibu.

Yah, lebaran kami memang tak lagi sama. Kenangan bersama Bapa masih menari-nari. Tahun kedua dan semuanya masih terasa menyedihkan.

Aku masih sering bertanya-tanya,  Kalau ada Bapa, apa yang akan beliau lakukan?

Hal lain yang tidak lagi sama adalah acara memasak opor ayam dan membuat ketupat. Tanpa Bapa, mustahil Ibu bisa menyembelih ayam sendiri dan mengolahnya menjadi opor. Kalaupun itu terjadi, tetap saja tidak sama.

Memasak opor dan membuat ketupat lebaran, hanya akan menambah kesedihan di hati kami. Sudah pilihan paling tepat, untuk saat ini, memesan ke Mbah Nursin (adik dari ibunya Bapa). Seperti tahun lalu.

Pagi tadi, kami mengikuti salat ied di halaman masjid komplek Ibu. Kenangan demi kenangan, muncul begitu saja. Wajah Bapa masih ada di pikiran. Sedang tersenyum, sedang bersiap salat, sedang berkomentar betapa saleh cucu-cucunya. 

Wajah bahagia melihat cucu-cucunya berkumpul, meski tidak pernah terucapkan. I miss him so much.

Kami mengunjungi makam Bapa setelah silaturahmi ke rumah Mbah Nursin. Rasanya masih semenyedihkan itu. Aku tau, kami semua menyimpan segala duka dan berusaha memperlihatkan sisi terkuat untuk saling menguatkan. Ini berat. Benar-benar terasa berat.

Besok, kami berencana melanjutkan perjalanan ke Kebumen, sebagai salah satu rangkaian acara mudik selama seminggu ini. Insyaallah, cerita kami belum usai.

Selamat Idulfitri bagi yang merayakan 😘.

Selamat Hari Pendidikan (juga)!


Merah Itu Aku

Cilacap, 2 Mei 2022







Continue reading Idulfitri 1443 H

Saturday, March 12, 2022

Pendukung Pertama

Haiii ...

Keluarga merupakan entitas terkecil di sekitar kita. Dengannya, kita bisa menjadi diri sendiri dan mendapat dukungan serta masukan secara jujur.



Awalnya, aku tidak peduli bagaimana keluargaku mendukung setiap kegiatan yang kulakukan. Beberapa tahun belakangan, barulah aku sering berdiskusi dengan Mr. Right, tentang apa yang akan aku lakukan terkait dengan pengembangan diri.

Sebagai ibu rumah tangga yang pernah bekerja di ranah publik, merupakan hal yang membosankan ketika aku berada di rumah, tanpa melakukan kegiatan, selain yang rutin aku lakukan. Beberes dan menyiapkan makanan sudah menjadi hal yang kukerjakan sehari-hari. Kadang, seorang ibu seperti aku, juga perlu untuk me time.

Ada kegiatan yang sering kujadikan sebagai me time mudah, murah, dan meriah.

1. Menulis.

2. Crafting.


Aku menyukai kedua kegiatan tersebut karena dapat dilakukan di rumah, tanpa meninggalkan anak-anak, dan dengan peralatan yang sudah ada. 

Sebagai seseorang yang memiliki kepribadian intovert, aku memang membutuhkan waktu sendiri untuk meningkatkan semangat. Dengan kedua kegiatan tersebut di atas, aku sudah bisa mendapatkannya.

Bahagianya lagi, keluargaku tidak pernah menghalangi, bahkan sangat mendukung apa yang menjadi kegemaranku ini. Mereka, terutama Mr. Right, sudah tahu bahwa kegiatan tersebut sangat membahagiakan untukku. 

Keluarga juga banyak menjadi sumber inspirasiku dalam menulis. Pada awal-awal kembali ke dunia perblogan pun, aku banyak bercerita tentang keluarga. Bagaimana menyambut kehadiran anak pertama, kedua, kemudian disusul dengan keputusan berhenti bekerja karena alasan keluarga, dan seterusnya. Aku berasa menjadi buku terbuka yang bisa dibaca oleh siapa pun. 

Menulis kisah hidup, terkadang membuat kurang percaya diri. Apakah sepenting itu kehidupanku untuk dibagikan? Akan tetapi aku sadar, bahwa menulis merupakan kebutuhan untuk mengalirkan rasa. Bukan tentang bagaimana orang lain akan menyukai tulisanku atau tidak.

Bagiku, dukungan keluarga dapat memperlancar ide dan meningkatkan rasa percaya diri dalam melakukan maupun memutuskan sesuatu. Beberapa saat yang lalu, untuk pertama kalinya, aku meminta Mr. Right membaca tulisanku. Seperti yang sudah kuduga, komentarnya tidak panjang kali lebar. Akan tetapi, aku mendapat apresiasi yang mampu membuat tersenyum bahagia.

Selain menulis, Mr. Right juga mendukungku dalam meningkatkan kemampuan crafting. Beberapa kali, dia mendorongku untuk berani membuka kelas atau workshop. Selain untuk mengembangkan diri, dorongannya juga bertujuan untuk membuatku semakin melebarkan jangkauan. Sebenarnya, aku belum sepercaya diri itu. Melihat kepercayaan yang diberikan padaku, rasanya aku malu jika tidak melakukan saran darinya.

Beberapa kali aku mengisi workshop karena dukungan darinya. Tanpa izin dan rida dari Mr. Right, apa yang aku lakukan selama ini tidak akan mungkin berjalan lancar. 

Aku bersyukur sekali dengan semua kemudahan yang telah diberikan. Bahagia sekali karena dapat melakukan kegiatan yang aku sukai tanpa harus meninggalkan keluarga.


Merah Itu Aku

Jogja, 12 Maret 2022



Continue reading Pendukung Pertama

Monday, March 7, 2022

Jurnal Zona O (Pekan ke-2)

Haiii ...

Pada jurnal Zona O pekan ke-2 ini, aku akan bercerita tentang:

1. Aliran rasa Hexagon City Virtual Conference (HCVC).

2. Insight Talkshow Hexagon City Virtual Conference.

3. Keseruan Hexagon City Fair.


1. Aliran Rasa Hexagon City Virtual Conference

Sebenarnya, ini sudah aku tulis pada jurnal sebelumnya. Saat aku menulis tentang keseruan menjadi speaker, aku juga menyenggol-nyenggol tentang peran lainnya.

Hexagon City Virtual Conference memang sudah membuat banyak Hexagonia keluar dari zona nyaman. Aku lebih menekankan kepada peran speaker. 

Orang-orang yang tidak suka tampil dan berbicara di depan khalayak, mendadak harus menjadi pembicara untuk acara yang dibuat sendiri. Semua persiapan juga dilakukan secara mandiri.

Aku termasuk orang yang tidak suka dan merasa tidak bisa berbicara di depan umum. Aku juga tidak punya bakat mengajar. 

Menjadi speaker mengajarkan banyak hal. Rasanya harus mengatakan selamat tinggal pada kegaptekan. Sungguh campur aduk macam gado-gado.

Banyak tema menarik yang betebaran di semua sosial media Hexagon City. Pengen melahap semuanya. Namun, aku harus menahan diri dengan mantra, "Menarik tapi tidak tertarik." 😆

Setelah selesai HCVC, ternyata aku mendapat surat cinta berupa sertifikat speaker. Sungguh tidak menyangka.

Menjalani beberapa peran dalam satu pekan memang sangat menguras energi. Hingga akhir HCVC di hari Sabtu, aku masih menjalani peran sebagai Bumblebee untuk melengkapi jurnal peran.




2. Talkshow Hexagon City Virtual Conference

Jadwal Talkshow ini sangat mendadak aku dapatkan dari grup Co-House. Aku agak terlambat hadir saat live sehingga harus menonton kembali rekamannya.

Pada talkshow tersebut, ada beberapa hal yang disampaikan. 

- Pemaparan penelitian Mbak Syifa tentang gamifikasi di Hexagon City.

Keseruan HCVC, ternyata menggoda Mbak Syifa untuk melakukan penelitian tentang gamifikasi di Hexagon City.

Sebagai salah satu Hexagonia dan juga menjadi speaker yang terlibat di HCVC, cukup banyak yang membuatku mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju.


- Cerita di balik layar speaker dan tim formula HCVC.

Dari talkshow itu juga, aku mendengar banyak cerita tentang perjuangan yang dihadapi Hexagonia dalam HCVC. Ternyata banyak sekali dukungan keluarga untuk menyukseskan acara HCVC.


3. Hexagon City Fair

Setelah seminggu sibuk dengan HCVC, kami langsung lanjut ke acara besar selajutnya. Semula, aku berniat ikut meramaikan. Akan tetapi, pendaftaran yang berlangsung saat akhir pekan, membuatku tidak bisa berbuat banyak.



Aku sempat berjalan-jalan untuk melihat toko Hexagonia. Dari situ, aku berbelanja dua macam barang.

Belanjaan pertama adalah stiker untuk bullet journal yang dijual oleh teman satu co-house. Bahkan sebelum masuk Hexamarket pun, aku sudah bersemangat membelinya.

Aku sudah tidak sabar menunggu kiriman dari Mbak Novi sampai ke tanganku 😁.



Belanjaan kedua adalah baju yang dijual oleh a-mood, a.k.a jualan Mbak Aling. Selain berasal dari satu regional, ternyata baru kusadari kalau Mbak Aling juga satu cluster di Hexagon City 😆.



Belanjaan dari toko Mbak Aling sudah sampai. Masya Allah, bonusnya buanyak banget. Aku merasa sangat bersyukur karena tidak melewatkan kesempatan berbelanja di toko Mbak Aling.


Belanjaanku cuma baju pink itu dan yang datang serombongan begini. Ternyatanya lagi, di balik baju pink itu ada dress merah yang tersembunyi sebagai tambahan bonus, selain yang tampak di foto.

Gimana nggak ngrasa menang banyak, kan? Huehehehe ... Mbak Aling terlove pokoknya.


Semoga berkah dan lancar rezekinya, ya, para vendor ❤❤.


Demikianlah jurnal pekan kedua di zona O. Sudah hampir mencapai akhir perkuliahan. Semoga bisa menyelesaikan dengan baik.



Merah Itu Aku

Jogja, 7 Maret 2022


Continue reading Jurnal Zona O (Pekan ke-2)

Wednesday, February 23, 2022

Cerita Seru Menjadi Speaker

Bismillahirrohmanirrohim,

Kali ini, aku mau menceritakan pengalaman menjadi speaker di Hexagon City Virtual Conference.



Rasanya tidak menyesal karena masih bertahan di Hexagon City hingga saat ini. Setelah beberapa tantangan lalu sempat membuatku hampir menyerah karena oleng dan kehilangan arah.

Aku berterima kasih banget pada Mbak Arin selaku leader Co-House yang sudah memberi semangat untuk bertahan hingga akhir. Pun tetangga co-house yang selalu punya cara untuk saling menyemangati. Masya Allah Tabarakallah ... menjelang akhir-akhir zona, merasa semakin dekat dengan tetangga. 

Hexagon City Virtual Conference (HCVC) merupakan tahapan yang harus kami lalui untuk memenuhi persyaratan sebagai Mahasiswi Bunda Produktif. Pada zona ini, kami ditantang untuk mengambil lima peran dalam sepekan, 21-26 Februari 2022.

Peran tersebut adalah

1. Kaktwoo

Pekan sebelum HCVC, kami semua berperan sebagai Kaktwoo. Tugasnya adalah menjadi ambasador untuk memberitahu pada dunia tentang HCVC yang akan hadir.

Kami, para Kaktwoo memasang twibbon khusus sepanjang tanggal 18-19 Februari 2022. Selain itu, kami juga ditantang untuk membuat video singkat berisi informasi HCVC yang akan berlangsung.


2. Bumble bee

Seperti lebah, kami hinggap ke sana ke mari untuk mendapatkan sari pati dari acara-acara seru yang terselenggara selama sepekan.


3. Butterfly

Menjadi kupu-kupu cantik yang mengikuti acara HCVC dari awal hingga akhir. Paling sedikit, kami harus mengambil peran butterfly untuk empat acara.

Insya Allah, aku sudah bisa memenuhi peran sebagai butterfly, dengan mengikuti semua acara co-house. 

Sayangnya, aku terlewat acara tetangga co-house pada hari Senin. 


4. Speaker

Kami harus menjadi speaker untuk mendukung HCVC. Materi yang kami pilih, bebas. 

Tadinya sempat ingin menyerah. Akan tetapi, melihat antusiasme teman-teman satu co-house, aku jadi kembali bersemangat. 

Meskipun dengan salto-salto, aku berhasil memenuhi tantangan sebagai speaker.


5. Partisipan

Untuk peran ini, sepertinya, semua yang melibatkan diri dalam HCVC sudah bisa disebut sebagai partisipan.


Sebagai speaker, aku mengambil materi tentang macrame. Aku terinspirasi dari chat Mbak Arin di grup. Jadi, kuberanikan diri untuk mengambil tantangan ini.



Karena hanya 1 jam, aku pikir, membuat yang mudah saja. Gantungan kunci sempat masuk ke dalam pertimbanganku. Namun, sepertinya terlalu mudah jika dalam 1 jam hanya membuat itu saja. Akhirnya aku putuskan untuk membuat gantungan pot. Tingkat kesulitan cukup bersahabat.

Waktu yang diberikan kepada speaker untuk menyiapkan segalanya sangat singkat. Hanya dalam waktu kurang dari tiga hari, kami harus menyiapkan flyer, form pendukung, platform yang digunakan, dan juga pendaftaran (menentukan jam dan tanggal).

Aku yang awalnya berniat menggunakan instagram live, harus banting setir menjadi zoom. Ternyata ada banyak hal yang aku pelajari. Aku jadi berkesempatan untuk mengupgrade zoom (walau hanya sebulan) dan mencari tahu lebih banyak lagi tentang zoom.

Belajar menjadi host sekaligus moderator dan speaker. Haha ...

Alhamdulillah, teman-teman co-house sangat suportif. Curhatanku tentang tidak berhasil memutar video bumper zoom, ditanggapi dengan ajakan melakukan geladi bersih tadi pagi. Masya Allah ... dengan bantuan teman-teman, tadi pagi aku berhasil memutar video bumper dengan lancar.

Sayangnya, justru saat siang hari pada acara, video yang aku putar pecah-pecah dan tidak mulus. Ketika tadi aku ceritakan pada Mr. Right, ada kemungkinan disebabkan oleh Dek Lou yang sedang nonton youtube saat aku zoom, sehingga bandwidth tersedot banyak. Ah, mengesalkan 😪. 

Terlepas dari kegagalan memutar video bumper dengan lancar, acara HCVC yang aku selenggarakan siang tadi, cukup melegakan. Bantuan dari teman-teman co-house sangat terasa. Aku sungguh terharu dengan ketulusan mereka. Bahkan, aku terkejut karena tanpa kusadari, ada yang berbaik hati untuk pinned layarku agar lebih terlihat. Masya Allah 😍

Lagi-lagi, aku bersyukur karena masih bertahan bersama mereka hingga saat ini.

Para peserta juga tampak antusias dan bahagia mengikuti kelas macrame. Padahal awalnya, aku sempat khawatir jika materi yang aku ambil kurang menarik.

Alhamdulillah, acara hari ini bisa aku lewati juga. Setelah agak overthinking karena grogi yang melanda.

Besok, aku akan berganti peran sebagai butterfly bagi teman-teman co-house yang lain. Semangat, Bestie ❤❤❤


Merah Itu Aku

Jogja, 23 Februari 2022


Continue reading Cerita Seru Menjadi Speaker