Thursday, November 25, 2021

Selamat Hari Guru

Selamat Hari Guru, untuk semua Bapak dan Ibu Guru di seluruh Nusantara. Semoga ilmu yang Bapak dan Ibu berikan dapat menjadi pahala yang terus mengalir. Aamiin ...



Setiap tanggal 25 November, diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Sebenarnya, aku baru merasakan peringatan Hari Guru, sejak anak-anakku bersekolah. Pada hari tersebut, biasanya mereka diliburkan. 

Saat aku sekolah dulu, rasa-rasanya tidak pernah mengalami libur di Hari Guru. Usut punya usut, ternyata Hari Guru baru ditetapkan tahun 1994. Dan memang, tidak pernah diperingati secara khusus ketika aku sekolah dulu.

Hari ini, aku begitu terharu mengikuti acara live streaming peringatan Hari Guru di sekolah Kakak-Kakak. Meskipun murid-murid diliburkan, ternyata para ustaz dan ustazah tetap datang ke sekolah. Ada acara yang diselenggarakan murid kelas 4 beserta para wali, berupa persembahan bagi para ustaz dan ustazah.

Bagian paling mengharukan adalah saat para murid memberikan souvenir untuk ustaz dan ustazah. Ah, aku memang mudah tersentuh 😭❤.

Seharusnya, kegiatan menonton live streaming itu merupakan tugas anak-anak kala libur. Kenapa jadinya justru aku yang nonton, sih? 😌

Membahas tentang guru, aku selalu terngiang kalimat, "Guru iku digugu lan ditiru."

Digugu artinya dipercaya. 

Ditiru artinya diikuti.

Guru adalah sosok yang kata-katanya dipercaya dan tingkah lakunya diikuti.

Tumbuh besar di lingkungan keluarga yang kebanyakan guru, membuatku memiliki cita-cita menjadi seperti mereka. 

Ibu merupakan seorang guru agama Sekolah Dasar. Beberapa tahun sebelum pensiun, beliau menjadi pengawas.

Ketiga adik kandung Ibu, berprofesi sebagai guru SD. Bahkan, para suami mereka pun tidak jauh-jauh berkecimpung dalam dunia pendidikan.

Ada dua adik Embah Putri dari Ibu, yang menjadi dosen. 

Seingatku, adik Embah Putri dari Bapak pun, ada yang menjadi guru. Bahkan, kami memanggilnya dengan sebutan Mbah Guru. Mungkin karena profesi sebagai guru begitu mulia di mata masyarakat sana.

Benar-benar, aku sudah dikelilingi para guru sejak kecil. Tak heran jika menjadi guru, sudah menjadi cita-citaku. Ketika teman-teman lain bercita-cita sebagai dokter, aku tidak menginginkannya. Duniaku tidak dekat dengan profesi tersebut.

Namun, belum juga menapaki jalan, impian itu kandas. Atau mungkin, aku yang kurang gigih. Kemudian, aku justru terdampar menjadi apoteker. Meskipun itu tidak jauh dari profesi Mbah Buyut yang seorang peracik jamu tradisional.

Bagiku, guru merupakan profesi yang sangat mulia. Mengajarkan kebaikan kepada anak-anak, yang bahkan tidak memiliki ikatan darah dengan mereka.

Aku sempat terheran-heran ketika ada berita tentang orang tua yang menuntut guru karena mendapat laporan dari sang anak, bahwa ada guru yang bertindak tegas padanya. Si orang tua itu marah dan tidak terima.

Coba saja jika hal tersebut terjadi saat aku kecil dulu. Melapor kepada orang tua dimarahi guru di sekolah? Yang akan didapat, justru kemarahan tambahan dari orang tua kepada diri ini. Ah, jangan berani-berani.

Guru memang seseorang yang harus kita hormati. Mereka begitu ikhlas mengajari murid-muridnya. Kadang, mereka tidak menghitung, berapa gajinya dibandingkan dengan waktu bekerja.

Kesederhanaan guru begitu melekat. Dibesarkan di lingkungan guru, memudahkanku belajar tentang kesederhanaan. 

Ngomong-ngomong tentang guru, ada hal yang sungguh menggelitik. Menurut beberapa murid, wajah Ibu tidak pernah berubah sejak mengajar mereka SD, hingga sekarang, sudah beranak cucu. Sepertinya, berinteraksi dengan anak-anak memang membuat awet muda, ya 😁.

Sehat-sehat terus ya, Bapak dan Ibu Guru ... jasa kalian sungguh tiada tara ❤❤❤.



Merah Itu Aku

Jogja, 25 November 2021


0 comments:

Post a Comment