Wednesday, May 29, 2019

Solo...lo...lo..lo...

Ceritanya, kemaren malem kami ke RS untuk vaksinasi Dek Lou. Sebelumnya sudah diskusi dengan Mr. Right mengenai jadwal dokter yang pas buat kami. Diputuskan untuk daftar dokter Sp. A. jam 19.00. Pertimbangannya, kami semua udah buka puasa di rumah, udah sholat Maghrib, jadi ga buru-buru ke rumah sakit. Meskipun pada prakteknya sih tetep gedubrakan memastikan kesiapan 3 bocah ganteng gemash itu.

Ternyata kondisi antrian pasien malem kemaren tidak masuk akal. FYI, aku udah daftar lewat telpon jam 9 pagi. Dapet no. 18. Tapi kata mba bagian pendaftaran, pasien akan dipanggil per kedatangan. Oke sip, jadi kami berangkat jam 18.00 lewat dikit. Sampe menjelang jam 21.00, Dek Lou belum dipanggil juga. Ah...ini pasti tetep berdasarkan antrian pendaftaran awal. Sudahlah, akhirnya kami memutuskan untuk daftar ulang untuk keesokan harinya, yaitu hari ini. Alamat aku bakalan bawa bocah-bocah tanpa pendampingan suami.

Sebagai mantan pelaku LDM, mestinya pergi bareng anak-anak tanpa Mr. Right sudah biasa. Nyatanya tidak semudah itu, Esmeralda... Ternyata, lebih dari setahun beliau pindah Jogja, aku malah jadi manja😆😆. Atau aji mumpung mungkin ya🤭. 
Yang bikin agak pening sebenernya ketika menghadapi anak-anak yang sudah merasa bosan. Kalo ada Mr. Right kan lumayanan ada yang ngajakin anak-anak jalan-jalan keliling RS sementara aku memantau pergerakan pasien. Dan yang terpenting ada yang nyetirin🤣🤣🤣. 

Tips ala aku untuk para emak yang terpaksa bersolo membawa beberapa anak untuk antri dokter:
1. Jelaskan kemungkinan tidak menyenangkan yang bisa terjadi jika ikut ke RS.
Aku jelaskan ke Kakak Athar kalo kemungkinan, kami akan lama berada di rumah sakit. Kalo sekiranya dia lebih memilih main bareng temennya dan ga ikut ke RS, boleh-boleh aja. Tapi kalo mau ikut, harus sabar nunggu antrian.

2. Bawa mainan atau peralatan kesukaan anak.
Tadi aku mengijinkan Kakak Athar bawa buku mewarnai dan pastel karena dia emang hobi mewarnai.

3. Bawa makanan dan minuman.
Aku siapkan biskuit dan air mineral buat Dek Lou. Kakak Athar puasa, jadi ga aku siapkan.

4. Bawa peralatan perbayian standard.
Tisu kering dan basah, diapers, baju ganti.

5. Bawa gendongan.
Lelah ya kalo harus ngikutin Dek Lou ke sana kemari. Kalo sekiranya jalan Dek Lou udah mulai oleng, mainkan gendongan. Sekalian juga biar encok emak ga lepas dari engselnya 😆😆😆.

Sekian tips standar dari aku, semoga bermanfaat. Oh iya... libur panjang sudah di depan mata. Selamat mudik bagi yang menjalankannya. Kalo aku nunggu Mr. Right bener-bener beres kerjaannya😁😁.


Merah Itu Aku
Jogja, 29 Mei 2019








Continue reading Solo...lo...lo..lo...

Tuesday, May 28, 2019

Yayasan Barkasmal

Proses decluttering barang-barang di rumah masih gencar kami lakukan. Semakin hari, barang-barang yang akan kami keluarkan dari dalam rumah semakin banyak. Beberapa ada yang sudah dititipkan ke bapak security, untuk diberikan ke orang yang biasa mencari ke perumahan tempat kami tinggal.

Beberapa kardus pakaian, sepatu, dan tas sudah siap diantar ke tempat yang sudah aku rencanakan. Semua barang yang keluar dari rumah, merupakan tanggung jawab kami dan sebisa mungkin tidak menjadi beban bumi. Kami berharap, barang-barang tersebut akan bermanfaat di tempat lain.

Ternyata aku terlambat mengirimkan ke tempat yang sudah aku rencanakan sebelumnya. Karena sudah menumpuk terlalu banyak, akhirnya aku mencari tempat lain yang sekiranya dapat memanfaatkan barang-barang tersebut. Alhamdulillah aku menemukan sebuah yayasan yang sepertinya cocok. Langsung aku hubungi yayasan tersebut. Dan ternyata kami memang berjodoh.

Pagi tadi, aku dan anak-anak (Kakak Zidan ga termasuk karena sekolah) mengunjungi Yayasan Barkasmal. Lokasinya di deket GOR Klebengan. Alhamdulillah, lokasinya mudah ditemukan. Aku tak tersesat😁😁. Dan ternyata daerah Klebengan sudah berubah banyak. Ih...aku kan terakhir masuk situ sekitar 13 taun yang lalu😆😆😆 (Selamat! Anda TUA).

Buat yang sedang decluttering, aku ada referensi tempat penyaluran barang-barang yang akan keluar dari rumah. Insya Allah akan lebih bermanfaat jika barang-barang itu bertemu dengan pemilik baru. Lokasinya di Jogja, tapi menerima sedekah dari luar Jogja juga. Oh iya, mereka menyebut barang-barang itu sebagai sedekah. Adem ya😍

Yayasan BARKASMAL
https://www.barkasmal.com

IG: @barkasmal https://instagram.com/barkasmal?igshid=19u0ooxe6ggj

Alamat: 🏠 Jl. Manggis Blok CT8, Karanggayam, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281 
Telp: 0878-3935-0674 

 📌Google maps : https://goo.gl/maps/W67T3dDEKyJ2

➡️ GOR Klebengan, utara Fakultas Peternakan UGM, ke utara terus ikuti jalan utama, sampai mentok ketemu pertigaan yang ada warung makan Pak Topo. Setelah mentok, belok kiri, ke barat, rumah cat pink.

Hibah yang barkasmal kelola: 
~ Uang tunai ( Zakat, infak, sedekah, dll) 
~ Barang bekas layak pakai bisa barang elektronik, perabot rumah tangga, barang-barang perlengkapan kos, pakaian layak pakai, sepeda, motor, dll 
~ Kertas bekas (kertas HVS, koran, pamflet, kardus, dll) 

Semua hasil penjualan akan digunakan untuk beasiswa anak-anak binaan dan operasional yayasan.

Cakep banget kan... hampir semua bisa mereka terima lho... aku langsung semakin semangat decluttering🤩🤩

Selamat menjalankan ibadah 10 malam terakhir di bulan Ramadhan. Tak terasa sudah menuju penghujung bulan suci yang penuh rahmat ini😭😭.


Merah Itu Aku
Jogja, 28 Mei 2019





Continue reading Yayasan Barkasmal

Monday, May 27, 2019

Sahur

Pagi ini, kami bangun kesiangan. Akhirnya, kami merasakan tidak sahur seperti yang hampir semua orang pernah alami😅.
Oke, aku yang bangun kesiangan dan berimbas pada bangun kesiangannya kami semua. Sebenernya aku sudah bangun jam 2 pagi, kemudian aku tidur lagi karena terlalu pagi untuk menyiapkan makan sahur. Jam 3 pagi, alarm hp bunyi. Setelah mematikan alarm, Dek Lou bangun minta nyusu. Busui pasti tau banget gimana nikmatnya menyusui. Saking nikmatnya, aku kembali tertidur bersama Dek Lou. Dan jam 4.45, aku terbangun kembali. Sholat subuh dan bangunin Mr. Right cuma kasih tau kalo kita ga sahur😅😅 (ga guna juga sih sebenernya).

Tidak sahur buat kami sih ga terlalu masalah. Apalagi Mr. Right udah makan indo*ie goreng sebelum tidur. Cuma rugi aja kan ya karena sahur itu sunnah😔. Yang aku pikir akan berat adalah anak-anak.

Bangunin anak-anak buat sholat subuh, aku ga nyebut-nyebut lupa bangunin sahur🤭. Begitu bangun, anak-anak semacam jetlag. Aku cuma bilang "Ayo semangat puasa hari ini ya😁".
Kakak Zidan yang agak-agak curiga, "Bun, aku sahur ga?"
"Lha tadi Kakak ngrasa sahur ga?" Aku balik tanya licik 😌.
"Aku juga ga sahur, Bun?" Kakak Athar ikutan curiga😆😆.
Akhirnya aku meminta maaf karena bangun kesiangan. Dan menjelaskan bahwa semuanya ga sahur termasuk Ayah dan Bunda🤧🤧.

Alhamdulillah anak-anak besar masih kuat puasa sampe Maghrib🤩🤩.

Tips menghadapi anak-anak (dengan usia tertentu ya) ketika kelewat sahur:
1. Beri semangat untuk tetap puasa meskipun tidak sahur.
2. Yakinkan bahwa meskipun tidak sahur, mereka tetap kuat berpuasa.
3. Tawarkan menu buka puasa yang mereka suka.
4. Kondisikan mereka dalam suasana yang bahagia sejahtera.

Semoga ini untuk pertama dan terakhir merasakan puasa tanpa sahur ya😘😘.

Selamat berbuka puasa, gaes....


Merah Itu Aku
Jogja, 27 Mei 2019

Continue reading Sahur

Sunday, May 26, 2019

Manajemen Emosi


Aku dapet challenge enam hari untuk memantau level emosi jiwa. Meskipun sudah ditahan-tahan, ternyata aku masih lemah dalam mengelola emosi. Dari 6 hari tersebut, hanya 3 hari sanggup menjaga tetap sabar, sedangkan 3 hari lainnya gagal.

Manajemen emosi memang sangat penting untuk dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan. Saking pentingnya, dari beberapa kuliah online yang aku ikuti, hampir semua memberi materi tentang manajemen emosi, di samping manajemen waktu. Dua ilmu manajemen yang sangat sulit, tapi bukannya tidak mungkin untuk dipelajari dan diamalkan.

Tidak mudah memang, apalagi untuk aku yang punya anak-anak lucu nan menggemaskan. Kalau pagi udah berhasil menahan emosi, belum tentu sampai sore akan bertahan. Alangkah indahnya jika semudah itu bersikap bak ibu peri yang sanggup berkata halus lembut sepanjang hari. 
Ketika anak yang satu sudah bisa diatasi, belum tentu yang dua anak lagi bisa dikondisikan. Menantang sekali memang. Kalau kata Mr. Right, ini memang lagi umur-umurnya anak-anak itu ngeselin🤣🤣🤣. Ya tapi kan...aku ingin bisa jadi ibu yang penuh kasih sayang, yang tidak perlu menaikkan oktaf setiap berbicara pada anak-anak🤧. Apa kabarlah komunikasi produktif yang jika anak-anak mulai bertingkah, emaknya mudah sekali terpancing😌😌😌.

Jadi inget materi parenting dua hari yang lalu. Menohok sekali ketika Pak Ustadz bilang, 'Bagaimana kita bisa minta anak bicara lembut, sedangkan kita berbicara saja masih penuh emosi?'
Berkaca dari semua yang terjadi, seharusnya aku bisa menahan diri untuk tidak reaktif terhadap kelakuan anak-anak. Selama ini, aku memang mudah terpancing. Dengan alasan apapun, mestinya aku bisa lebih bisa sabar dan tabah menghadapi mereka. Bukan cuma 6 hari challenge aja, tapi berhari-hari yang akan datang. 

“Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, sungguh orang yang kuat adalah yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Merah Itu Aku
Jogja, 26 Mei 2019
Continue reading Manajemen Emosi

Thursday, May 23, 2019

Belajar Kalah

Pada suatu hari, aku bertemu dengan seorang nenek yang bercerita dengan bangganya tentang masa lalu. Dia bercerita bahwa pada jaman dahulu kala, setiap anaknya ikut lomba, dia selalu siapkan hadiah dari rumah yang dititipkan ke panitia. Jadi, tak peduli si anak menang atau kalah lomba, pasti si anak dapet hadiah di atas panggung.
Menurutnya, itu biar si anak ga kecewa ikut lomba. Biar besokannya kalo ada lomba, tetep semangat ikut.

Aku manggut-manggut ajalah demi kesopanan. Tapi di dalam hatiku, aku tidak setuju.

Kalo pengen anaknya ga kecewa, semangat ikut lomba lagi besokannya, mungkin si nenek berhasil. Tapi apakah hidup di dunia ini begitu indahnya? Bagaimana jika pada suatu saat, si anak mengalami kekecewaan? Apakah si anak sanggup mengatasi kekecewaan yang sesungguhnya?

Buatku, mengenalkan rasa kecewa kepada anak itu penting. Mereka harus tau bahwa hidup ini tidak selalu sesuai dengan keinginan mereka. Kalah dan menang dalam lomba adalah hal biasa. Kalo menang, harus bersyukur. Kalo ga menang, kecewa boleh, tapi jangan berlebihan.

Memang setiap orang tua mempunyai cara masing-masing untuk mendidik anaknya. Kalo menurut kalian gimana?😁


Merah Itu Aku
Jogja, 23 Mei 2019
Continue reading Belajar Kalah

Tuesday, May 21, 2019

Decluttering

Mulai minggu ini, kuliah Bunda Sayang IIP dan Gemari Pratama libur. Kuliah Bengkel Diri kurang 3 materi lagi. Yiey!!! 
Kami memanfaatkan untuk decluttering beberapa kategori barang. Kenapa kami? Iyesss...dengan bangga, aku kabarkan bahwa proses decluttering ini melibatkan seluruh personil rumah (Dek Lou jadi penggembira saja🤭).

Sebenarnya, aku tidak terlalu berharap akan mendapatkan sambutan berupa antusiasme yang amat positif, terutama dari Mr. Right.
Decluttering yang aku lakukan pertama memang dapur. Tempat kerjaku yang ga ada sangkut pautnya dengan beliau. Jadi wajar aja kalo dia ga ikutan. Tapi di dalam prosesnya, aku merasakan dukungan luar biasa dari Mr. Right. Ooohhh...love you😍😘.
Bentuk dukungan adalah menjadi pendengar setia yang kadang memberi masukan saat aku galau harus menyingkirkan suatu barang😅. 

Saat decluttering buku, Mr. Right mulai sedikit terlibat pada sesi pemilihan bukunya. Sebagian besar buku di lemari kami, memang buku milikku. Dan buku-buku beliau yang berhubungan dengan kerjaan, dibawanyalah ke kantor. Aseekkk... makin lapang aja kan ya😉.

Yang paling terasa adalah saat decluttering kategori pakaian. Aku yang awalnya ragu bakalan bisa mengurangi banyak, ternyata mendapat kejutan yang membahagiakan. Dukungan Mr. Right semakin terasa nyata. 
Di awal minggu kemaren, aku sounding kalo sudah saatnya decluttering pakaian. Yang akan diurus: baju, tas dan sepatu. Beliau menyanggupi untuk declutter saat weekend. Oke sip.. aku mulai duluan.
Kami sempat berdiskusi untuk merotasi beberapa lemari dan mengurangi beberapa rak portable serta ambalan.
Dan....kami berhasil 💃💃💃.

Kami sepakat, bahwa ketika ada barang tidak berguna yang sudah kita keluarkan dari rumah, maka kami akan merasa lega luar biasa.

Apakah rumah kami sudah instagramable? Tentu saja belum😏. Kan baru klaster 1😅. Tapi udah berasa nampak lega di beberapa sudut😌.

Yang penting, cintai dulu prosesnya, maka hasil akhir adalah bonus yang menyenangkan.
Selamat berbenah😘😘😘.


Merah Itu Aku
Jogja, 21 Mei 2019
Continue reading Decluttering

Sunday, May 19, 2019

Posesif

Beberapa hari belakangan ini, kami baru menyadari betapa Dek Lou sangat posesif terhadap bundanya. 
Beberapa hari lalu, Kakak Zidan yang merasa lemes, tiduran dengan posisi kepala di pangkuanku. Tiba-tiba, Dek Lou mendekatiku dan minta pangku😆.

Di hari yang lain, sambil tiduran, kaki Kakak Athar nempel di lututku. Tiba-tiba Dek Lou mendekat dan menyingkirkan kaki kakaknya untuk dijauhkan dariku😅.

Begitu pula ketika Mr. Right a.k.a ayahnya, menempel ke aku, dengan teriakan lebay dan histeris, Dek Lou ngusel-ngusel di antara kami🤣🤣🤣.

Tak ayal keposesifan Dek Lou menimbulkan keisengan kami semua. Kakak-kakak dan ayahnya, sering dengan sengaja menempel-nempel padaku untuk menarik perhatian Dek Lou sambil bilang 'ini kan bukan cuma bunda Dek Lou' 😅😅😅

Tips mengurangi keposesifan anak terhadap emaknya:
1. Beri pengertian kalau bunda itu bukan cuma milik dia seorang.
2. Sering lakukan aktivitas fisik bersama, misal kruntelan.
3. Tunjukkan bahwa kita semua saling menyayangi.

Semoga seiring bertambahnya usia, tingkat keposesifan Dek Lou terhadap emaknya, bisa dikendalikan. Tapi pasti akan aku rindukan masa-masa diperebutkan begini😘😘😘


Merah Itu Aku
Jogja, 19 Mei 2019




Continue reading Posesif