Saturday, March 12, 2022

Pendukung Pertama

Haiii ...

Keluarga merupakan entitas terkecil di sekitar kita. Dengannya, kita bisa menjadi diri sendiri dan mendapat dukungan serta masukan secara jujur.



Awalnya, aku tidak peduli bagaimana keluargaku mendukung setiap kegiatan yang kulakukan. Beberapa tahun belakangan, barulah aku sering berdiskusi dengan Mr. Right, tentang apa yang akan aku lakukan terkait dengan pengembangan diri.

Sebagai ibu rumah tangga yang pernah bekerja di ranah publik, merupakan hal yang membosankan ketika aku berada di rumah, tanpa melakukan kegiatan, selain yang rutin aku lakukan. Beberes dan menyiapkan makanan sudah menjadi hal yang kukerjakan sehari-hari. Kadang, seorang ibu seperti aku, juga perlu untuk me time.

Ada kegiatan yang sering kujadikan sebagai me time mudah, murah, dan meriah.

1. Menulis.

2. Crafting.


Aku menyukai kedua kegiatan tersebut karena dapat dilakukan di rumah, tanpa meninggalkan anak-anak, dan dengan peralatan yang sudah ada. 

Sebagai seseorang yang memiliki kepribadian intovert, aku memang membutuhkan waktu sendiri untuk meningkatkan semangat. Dengan kedua kegiatan tersebut di atas, aku sudah bisa mendapatkannya.

Bahagianya lagi, keluargaku tidak pernah menghalangi, bahkan sangat mendukung apa yang menjadi kegemaranku ini. Mereka, terutama Mr. Right, sudah tahu bahwa kegiatan tersebut sangat membahagiakan untukku. 

Keluarga juga banyak menjadi sumber inspirasiku dalam menulis. Pada awal-awal kembali ke dunia perblogan pun, aku banyak bercerita tentang keluarga. Bagaimana menyambut kehadiran anak pertama, kedua, kemudian disusul dengan keputusan berhenti bekerja karena alasan keluarga, dan seterusnya. Aku berasa menjadi buku terbuka yang bisa dibaca oleh siapa pun. 

Menulis kisah hidup, terkadang membuat kurang percaya diri. Apakah sepenting itu kehidupanku untuk dibagikan? Akan tetapi aku sadar, bahwa menulis merupakan kebutuhan untuk mengalirkan rasa. Bukan tentang bagaimana orang lain akan menyukai tulisanku atau tidak.

Bagiku, dukungan keluarga dapat memperlancar ide dan meningkatkan rasa percaya diri dalam melakukan maupun memutuskan sesuatu. Beberapa saat yang lalu, untuk pertama kalinya, aku meminta Mr. Right membaca tulisanku. Seperti yang sudah kuduga, komentarnya tidak panjang kali lebar. Akan tetapi, aku mendapat apresiasi yang mampu membuat tersenyum bahagia.

Selain menulis, Mr. Right juga mendukungku dalam meningkatkan kemampuan crafting. Beberapa kali, dia mendorongku untuk berani membuka kelas atau workshop. Selain untuk mengembangkan diri, dorongannya juga bertujuan untuk membuatku semakin melebarkan jangkauan. Sebenarnya, aku belum sepercaya diri itu. Melihat kepercayaan yang diberikan padaku, rasanya aku malu jika tidak melakukan saran darinya.

Beberapa kali aku mengisi workshop karena dukungan darinya. Tanpa izin dan rida dari Mr. Right, apa yang aku lakukan selama ini tidak akan mungkin berjalan lancar. 

Aku bersyukur sekali dengan semua kemudahan yang telah diberikan. Bahagia sekali karena dapat melakukan kegiatan yang aku sukai tanpa harus meninggalkan keluarga.


Merah Itu Aku

Jogja, 12 Maret 2022



Continue reading Pendukung Pertama

Monday, March 7, 2022

Jurnal Zona O (Pekan ke-2)

Haiii ...

Pada jurnal Zona O pekan ke-2 ini, aku akan bercerita tentang:

1. Aliran rasa Hexagon City Virtual Conference (HCVC).

2. Insight Talkshow Hexagon City Virtual Conference.

3. Keseruan Hexagon City Fair.


1. Aliran Rasa Hexagon City Virtual Conference

Sebenarnya, ini sudah aku tulis pada jurnal sebelumnya. Saat aku menulis tentang keseruan menjadi speaker, aku juga menyenggol-nyenggol tentang peran lainnya.

Hexagon City Virtual Conference memang sudah membuat banyak Hexagonia keluar dari zona nyaman. Aku lebih menekankan kepada peran speaker. 

Orang-orang yang tidak suka tampil dan berbicara di depan khalayak, mendadak harus menjadi pembicara untuk acara yang dibuat sendiri. Semua persiapan juga dilakukan secara mandiri.

Aku termasuk orang yang tidak suka dan merasa tidak bisa berbicara di depan umum. Aku juga tidak punya bakat mengajar. 

Menjadi speaker mengajarkan banyak hal. Rasanya harus mengatakan selamat tinggal pada kegaptekan. Sungguh campur aduk macam gado-gado.

Banyak tema menarik yang betebaran di semua sosial media Hexagon City. Pengen melahap semuanya. Namun, aku harus menahan diri dengan mantra, "Menarik tapi tidak tertarik." 😆

Setelah selesai HCVC, ternyata aku mendapat surat cinta berupa sertifikat speaker. Sungguh tidak menyangka.

Menjalani beberapa peran dalam satu pekan memang sangat menguras energi. Hingga akhir HCVC di hari Sabtu, aku masih menjalani peran sebagai Bumblebee untuk melengkapi jurnal peran.




2. Talkshow Hexagon City Virtual Conference

Jadwal Talkshow ini sangat mendadak aku dapatkan dari grup Co-House. Aku agak terlambat hadir saat live sehingga harus menonton kembali rekamannya.

Pada talkshow tersebut, ada beberapa hal yang disampaikan. 

- Pemaparan penelitian Mbak Syifa tentang gamifikasi di Hexagon City.

Keseruan HCVC, ternyata menggoda Mbak Syifa untuk melakukan penelitian tentang gamifikasi di Hexagon City.

Sebagai salah satu Hexagonia dan juga menjadi speaker yang terlibat di HCVC, cukup banyak yang membuatku mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju.


- Cerita di balik layar speaker dan tim formula HCVC.

Dari talkshow itu juga, aku mendengar banyak cerita tentang perjuangan yang dihadapi Hexagonia dalam HCVC. Ternyata banyak sekali dukungan keluarga untuk menyukseskan acara HCVC.


3. Hexagon City Fair

Setelah seminggu sibuk dengan HCVC, kami langsung lanjut ke acara besar selajutnya. Semula, aku berniat ikut meramaikan. Akan tetapi, pendaftaran yang berlangsung saat akhir pekan, membuatku tidak bisa berbuat banyak.



Aku sempat berjalan-jalan untuk melihat toko Hexagonia. Dari situ, aku berbelanja dua macam barang.

Belanjaan pertama adalah stiker untuk bullet journal yang dijual oleh teman satu co-house. Bahkan sebelum masuk Hexamarket pun, aku sudah bersemangat membelinya.

Aku sudah tidak sabar menunggu kiriman dari Mbak Novi sampai ke tanganku 😁.



Belanjaan kedua adalah baju yang dijual oleh a-mood, a.k.a jualan Mbak Aling. Selain berasal dari satu regional, ternyata baru kusadari kalau Mbak Aling juga satu cluster di Hexagon City 😆.



Belanjaan dari toko Mbak Aling sudah sampai. Masya Allah, bonusnya buanyak banget. Aku merasa sangat bersyukur karena tidak melewatkan kesempatan berbelanja di toko Mbak Aling.


Belanjaanku cuma baju pink itu dan yang datang serombongan begini. Ternyatanya lagi, di balik baju pink itu ada dress merah yang tersembunyi sebagai tambahan bonus, selain yang tampak di foto.

Gimana nggak ngrasa menang banyak, kan? Huehehehe ... Mbak Aling terlove pokoknya.


Semoga berkah dan lancar rezekinya, ya, para vendor ❤❤.


Demikianlah jurnal pekan kedua di zona O. Sudah hampir mencapai akhir perkuliahan. Semoga bisa menyelesaikan dengan baik.



Merah Itu Aku

Jogja, 7 Maret 2022


Continue reading Jurnal Zona O (Pekan ke-2)

Wednesday, February 23, 2022

Cerita Seru Menjadi Speaker

Bismillahirrohmanirrohim,

Kali ini, aku mau menceritakan pengalaman menjadi speaker di Hexagon City Virtual Conference.



Rasanya tidak menyesal karena masih bertahan di Hexagon City hingga saat ini. Setelah beberapa tantangan lalu sempat membuatku hampir menyerah karena oleng dan kehilangan arah.

Aku berterima kasih banget pada Mbak Arin selaku leader Co-House yang sudah memberi semangat untuk bertahan hingga akhir. Pun tetangga co-house yang selalu punya cara untuk saling menyemangati. Masya Allah Tabarakallah ... menjelang akhir-akhir zona, merasa semakin dekat dengan tetangga. 

Hexagon City Virtual Conference (HCVC) merupakan tahapan yang harus kami lalui untuk memenuhi persyaratan sebagai Mahasiswi Bunda Produktif. Pada zona ini, kami ditantang untuk mengambil lima peran dalam sepekan, 21-26 Februari 2022.

Peran tersebut adalah

1. Kaktwoo

Pekan sebelum HCVC, kami semua berperan sebagai Kaktwoo. Tugasnya adalah menjadi ambasador untuk memberitahu pada dunia tentang HCVC yang akan hadir.

Kami, para Kaktwoo memasang twibbon khusus sepanjang tanggal 18-19 Februari 2022. Selain itu, kami juga ditantang untuk membuat video singkat berisi informasi HCVC yang akan berlangsung.


2. Bumble bee

Seperti lebah, kami hinggap ke sana ke mari untuk mendapatkan sari pati dari acara-acara seru yang terselenggara selama sepekan.


3. Butterfly

Menjadi kupu-kupu cantik yang mengikuti acara HCVC dari awal hingga akhir. Paling sedikit, kami harus mengambil peran butterfly untuk empat acara.

Insya Allah, aku sudah bisa memenuhi peran sebagai butterfly, dengan mengikuti semua acara co-house. 

Sayangnya, aku terlewat acara tetangga co-house pada hari Senin. 


4. Speaker

Kami harus menjadi speaker untuk mendukung HCVC. Materi yang kami pilih, bebas. 

Tadinya sempat ingin menyerah. Akan tetapi, melihat antusiasme teman-teman satu co-house, aku jadi kembali bersemangat. 

Meskipun dengan salto-salto, aku berhasil memenuhi tantangan sebagai speaker.


5. Partisipan

Untuk peran ini, sepertinya, semua yang melibatkan diri dalam HCVC sudah bisa disebut sebagai partisipan.


Sebagai speaker, aku mengambil materi tentang macrame. Aku terinspirasi dari chat Mbak Arin di grup. Jadi, kuberanikan diri untuk mengambil tantangan ini.



Karena hanya 1 jam, aku pikir, membuat yang mudah saja. Gantungan kunci sempat masuk ke dalam pertimbanganku. Namun, sepertinya terlalu mudah jika dalam 1 jam hanya membuat itu saja. Akhirnya aku putuskan untuk membuat gantungan pot. Tingkat kesulitan cukup bersahabat.

Waktu yang diberikan kepada speaker untuk menyiapkan segalanya sangat singkat. Hanya dalam waktu kurang dari tiga hari, kami harus menyiapkan flyer, form pendukung, platform yang digunakan, dan juga pendaftaran (menentukan jam dan tanggal).

Aku yang awalnya berniat menggunakan instagram live, harus banting setir menjadi zoom. Ternyata ada banyak hal yang aku pelajari. Aku jadi berkesempatan untuk mengupgrade zoom (walau hanya sebulan) dan mencari tahu lebih banyak lagi tentang zoom.

Belajar menjadi host sekaligus moderator dan speaker. Haha ...

Alhamdulillah, teman-teman co-house sangat suportif. Curhatanku tentang tidak berhasil memutar video bumper zoom, ditanggapi dengan ajakan melakukan geladi bersih tadi pagi. Masya Allah ... dengan bantuan teman-teman, tadi pagi aku berhasil memutar video bumper dengan lancar.

Sayangnya, justru saat siang hari pada acara, video yang aku putar pecah-pecah dan tidak mulus. Ketika tadi aku ceritakan pada Mr. Right, ada kemungkinan disebabkan oleh Dek Lou yang sedang nonton youtube saat aku zoom, sehingga bandwidth tersedot banyak. Ah, mengesalkan 😪. 

Terlepas dari kegagalan memutar video bumper dengan lancar, acara HCVC yang aku selenggarakan siang tadi, cukup melegakan. Bantuan dari teman-teman co-house sangat terasa. Aku sungguh terharu dengan ketulusan mereka. Bahkan, aku terkejut karena tanpa kusadari, ada yang berbaik hati untuk pinned layarku agar lebih terlihat. Masya Allah 😍

Lagi-lagi, aku bersyukur karena masih bertahan bersama mereka hingga saat ini.

Para peserta juga tampak antusias dan bahagia mengikuti kelas macrame. Padahal awalnya, aku sempat khawatir jika materi yang aku ambil kurang menarik.

Alhamdulillah, acara hari ini bisa aku lewati juga. Setelah agak overthinking karena grogi yang melanda.

Besok, aku akan berganti peran sebagai butterfly bagi teman-teman co-house yang lain. Semangat, Bestie ❤❤❤


Merah Itu Aku

Jogja, 23 Februari 2022


Continue reading Cerita Seru Menjadi Speaker

Friday, January 14, 2022

Menulis Riddle

Bulan Januari ini, aku kembali mengikuti tantangan dari @ruang_nulis. Nama event-nya, Our January Writing Planner (OJWP).

Tantangan terbit setiap tanggal genap, dengan deadline hingga tantangan berikutnya muncul.

Minru, sebutan bagi admin @ruang_nulis, mengirim pesan melalui jalur pribadi kepada semua peserta. Alasannya, agar yang bukan peserta tidak bisa ikut, yang mana dapat mengganggu data admin. Kira-kira begitulah.

Media menulis menggunakan instagram dan disetorkan melalui google form.

Karena segala informasi diberikan secara langsung oleh Minru kepada peserta, maka gform untuk setoran pun tidak tersebar di muka umum seperti pada tantangan September Menulis. Ohiya, selain itu, di OJWP tidak menyediakan grup khusus peserta.

Wow, benar-benar mendapat treatment eksklusif.

Minru yang kirim tantangan pun sesekali membalas pertanyaanku tentang tantangan. Bahkan, dia juga menimpali kala aku mengomentari tantangan yang diberikan.

Dari lima belas tantangan yang rencananya diberikan, kami sudah sampai pada tantangan ke-6.

Semua tantangannya benar-benar menantang. Hanya tantangan pertama saja yang lumayan jadi zona nyamanku. Genre komedi romantis. Saat itu, temanya kompetisi.

Tantangan selanjutnya benar-benar keluar dari zona nyaman. Sebutlah, artikel di tantangan ke-2, lalu memoar, senandika, dan puisi, yang mana semua itu belum pernah aku tulis sebelumnya. Yah, puisi mungkin pernah. Zaman sekolah dulu. Haha ...

Dahlah ... yang pakai kata-kata setinggi langit hingga luar angkasa, aku lambaikan tangan ke kamera.

Aku dikejutkan kembali dengan tantangan dari Minru di tanggal 12 malam. Genre horor dan thriller memang tidak asing, meskipun bukan zona nyamanku juga. Apalagi horor. Aku benar-benar menghindari tulisan tersebut.

Riddle? Apaan sih, Min? 😆😆



Minru memberi clue tentang tantangan ke-6, terkait riddle. Ohiya, tantangannya itu, menulis horor/ thriller/ riddle. Boleh pilih salah satu.

Jadi, Gaes, riddle itu merupakan cerita yang menyembunyikan misteri. Semacam teka teki di dalam cerita. Pembaca yang diminta untuk memecahkan misteri, bahkan keanehan yang tersembunyi di dalam cerita.

Mungkin, kalau nggak ngerti, bakalan kayak plot hole. "Kok gini, sih?" "Kok bisa gitu, sih?"

Menurutku, kalau penulis tidak berhati-hati, bakalan terjebak dalam plot hole yang dibuat sendiri.

Aku mencari tahu lebih jauh lagi tentang riddle. Ternyata banyak sekali contohnya. Seperti terlihat dari namanya, riddle memang bukan dari Indonesia. Jadi, contoh yang aku baca juga banyak dari luar. Makanya agak loading, ya, kalau ceritanya terkait budaya dan kebiasaan setempat, atau peristiwa alam yang tidak terjadi di Indonesia.

Dari sekian tulisan tentang riddle, sebagian besar memang agak bergenre horor dan thriller. Kuberharap dapet yang lucu-lucu, tetapi nihil 😪.

Etapi, beberapa riddle versi Indonesia, lebih menjurus pada tebak-tebakan sih. Dan itu receh banget. Haha .... Ah, ini sih daerah kekuasaan Kakak Zidan. Yang sering kasih tebak-tebakan menggemaskan dan memancing emosi 😆.

Setelah aku mencari-cari, aku mencoba menulis riddle malam itu juga. Eh, pas udah jadi, aku baru sadar ada tema yang harus diikuti dan ternyata tulisanku tidak memenuhinya.

Jadi, aku putuskan untuk membaginya di sini saja.

Sudah berkali-kali aku menghilangkan kunci apartemen. Sebanyak itu pula aku menggantinya dengan yang baru.


Siang itu, aku memanggil tukang kunci untuk mengganti kunci pintu apartemenku dengan smart lock agar tidak perlu pusing menghadapi kehilangan lagi. Cukup dengan sidik jariku saja, pintu itu sudah bisa terbuka.


Setelah kunci terpasang dengan baik, aku pergi ke restaurant bawah untuk makan siang.

Aku sempat mampir ke minimarket sebentar untuk membeli beberapa kebutuhan.

Saat kembali, kedua orang tuaku sudah duduk di sofa apartemen sambil menonton televisi.


Ada yang aneh? Itu bukan plot hole, tapi emang disengaja untuk membuat pembaca menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi.


Entah bener atau engga maksud riddle di tulisanku. Aku mengikuti step by step dari sebuah artikel yang aku baca. Pertama, tentukan jawaban dari misteri yang akan dimasukkan dalam tulisan.

Yah, sekian cerita tentang riddle. Untuk memenuhi tantangan OJWP, sudah aku post di instagram. Silakan mampir, beri like dan komen, ya 😘.

Sebelum udahan, aku mau kasih tebak-tebakan yang aku dapet dari anak sulung.

Hewan apa yang selalu benar?



Merah Itu Aku

Jogja, 14 Januari 2022

Continue reading Menulis Riddle

Thursday, January 6, 2022

Mencari Sekolah Anak (Ketiga)

Aku sungguh merasa bersalah karena lupa kalau tahun lalu, Dek Lou sudah empat tahun. Pada usia yang sama, kedua kakaknya sudah mengenyam bangku Kelompok Bermain atau lebih dikenal dengan Playgroup.

Kemarin, aku mengajak Dek Lou untuk mengunjungi sekolah dekat rumah. Sebenarnya, aku sudah pernah berniat memasukkan kakak Athar ke sana. Akan tetapi, beberapa tahun yang lalu, aku belum berhasil menemukan lokasi TK-nya. Dulu, TK dan SD belum berada dalam satu lokasi. Yah, mungkin aku yang kurang berusaha atau memang tidak terlalu niat.

Akhirnya, kami ke sana dan ternyata Dek Lou sangat senang dan tampak nyaman.

Setelah berdiskusi dengan Mr. Right, kami memutuskan untuk mendaftarkan Dek Lou ke sana.

Ada alasan yang mendasari untuk memilih sekolah yang berbeda dengan kedua kakaknya. Dengan memisahkan mereka, maka Dek Lou terlepas dari bayang-bayang kakaknya. Hal ini juga menghindari ‘dibanding-bandingkan’.

Kami sudah berusaha untuk tidak membandingkan mereka bertiga, tetapi perlakuan orang lain, siapa yang bisa mencegah?

Cara yang kami tempuh adalah dengan memisahkan sekolah Dek Lou dengan kakak-kakaknya.

Kenapa dulu tidak memisahkan Kakak Zidan dan Kakak Athar?

Karena setelah mereka berada dalam satu sekolah dan mau tidak mau terlihat perbedaan di antara mereka, aku merasa perlu mengambil langkah ini.

Selain itu, menyatukan sekolah kedua anak kami, ternyata juga membuat anak kedua jadi banyak mengikuti peminatan kakaknya.

Aku pikir, dengan memisahkan anak ketiga ini, dapat menjadikannya mudah dalam menemukan minat dan bakat lebih luas lagi.

Aku jadi teringat bahwa aku dan kakakku tidak pernah berada dalam sekolah yang sama. Kami berdua terpaut dua tahun. Apakah pertimbangan yang sama juga menjadi dasar orang tua kami? Mungkin iya, mungkin juga tidak.

Dulu, aku pikir, takdirlah yang memisahkan kami. Saat TK, aku dan kakakku memang satu almamater. Akan tetapi, saat aku masuk TK, tentu saja kakakku sudah tidak bersekolah di sana. Kami mengenyam bangku TK hanya setahun. Sangat berbeda dengan anak zaman now yang bisa menghabiskan lebih dari dua tahun untuk pendidikan usia dini.

Sekolah dasar kami terletak dalam komplek yang sama, tetapi beda sekolah. Entah apa pertimbangan kedua orang tua kami dalam pemilihan sekolah yang berbeda. Alhamdulillah sih, aku tidak terintimidasi dengan kecerdasan kakakku karena guru kami berbeda.

Untuk kedua sekolah itu, tentu ada andil kedua orang tua untuk memilihkan. Nyatanya, di tingkat yang lebih lanjut, kami pun tidak pernah berada dalam sekolah yang sama. Inilah yang aku sebut sebagai takdir yang patut disyukuri.

Pada tingkat SMP, SMA, dan perguruan tinggi, ada banyak faktor penentu yang menyebabkan kami terpisah. Dengan terpisah, kami terselamatkan dari dibanding-bandingin. Aku pun tidak hidup di bawah bayang-bayang kesuksesan kakakku.

Kalau adikku, karena berbeda enam tahun, yang mana ketika dia masuk SD, aku lulus, maka meskipun kami satu almamater, tetap saja tidak pernah bersama.

Mungkin itu pula yang membuat orang tuaki memsukkannya ke SD yang sama denganku. Sayangnya, dikarenakan guru kami sama, mau tak mau, ada saja perbandingan yang keluar tanpa bisa dicegah. Pikirku sangat berat menjadi seorang adik yang dibayang-bayangi kakaknya.

Kata anak zaman sekarang, bisa kena mental 😜.

Pertimbangan memilih sekolah, meskipun berbeda, tetapi tetap sama secara kualitas. Semoga ya …


Merah Itu Aku

Jogja, 6 Januari 2022



Continue reading Mencari Sekolah Anak (Ketiga)

Wednesday, January 5, 2022

Lihat ke Dalam

Konon katanya, jari jemari nitizen itu maha benar. Ia seolah-olah paling mengetahui apa yang ada di lubuk hati orang lain.

Memang tidak semua. Akan tetapi, jumlahnya cukup banyak, hingga sanggup membuat orang yang diserang menjadi depresi.

Apakah hanya berlaku bagi para selebgram dan artis? Tentu tyda. Jari jemari itu, tidak pandang bulu jika sudah menyerang. 

Pada lingkungan yang lebih kecil, ucapan seseorang akan menjadi pisau bermata dua. Maksud dari orang yang mengucapkan maupun penerimaan orang yang mendengar pun bisa berbeda.

Jika hal yang dikatakan itu benar dan disampaikan dengan baik, bisa jadi akan memberi pengaruh baik pula bagi yang bersangkutan. Namun, jika penyampaiannya kurang baik, atau yang bersangkutan tidak bisa menerima, maka sebenar apa pun yang dikatakan, tidak akan berdampak sesuai dengan yang seharusnya.

Sebaiknya, kita cukup cerdas untuk menyampaikan maksud dan tujuan dengan baik. Secara lisan atau pun tulisan.


Ada sikap yang perlu kita jaga agar hubungan dengan orang lain tetap baik. 

1. Jangan sok tahu perasaan orang lain

Apa yang kita lihat, sebenarnya tidak selalu merupakan apa yang terjadi. Kita tidak pernah bisa menilai perasaan orang lain, pun apa yang ada di balik sikap yang ditunjukkan.

Belum tentu yang tampak bahagia memang benar-benar bahagia. Atau yang sedih, memang benar-benar sedih.

Ingat pencitraan? Ya, begitulah kira-kira.


2. Jangan ikut campur urusan orang lain

Kadang, ada rasa gemas untuk berkomentar padahal kita tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Kecuali jika orang tersebut menghendaki kita untuk mengetahui masalahnya dan berkenan mendengarkan pendapat kita.


3. Kalau hidup kita masih punya masalah, tidak usah menambah-nambah masalah dengan mencari-cari masalah orang lain 

Kecuali hidupmu sudah begitu sempurna, mungkin kamu perlu mencari masalah dengan memikirkan masalah orang lain.


Untuk menghadapi kemungkinan buruk yang menyerang, sebaiknya kita dapat membentengi diri dengan cara:

1. Berpikir positif

Melihat semua yang terjadi menggunakan sisi positif. Jika tidak bisa, maka abaikan saja.


2. Pikirkan kebaikan untuk diri sendiri

Tidak ada salahnya bersikap sedikit egois. Daripada kita sakit hati, lebih baik fokus pada diri sendiri.


Tidak perlu terlalu berusaha melihat ke dalam diri orang lain dan mencari-cari kesalahan mereka. Kita tidak pernah benar-benar tahu, apa yang sebenarnya dihadapinya.



Merah Itu Aku

Jogja, 5 Januari 2022


Continue reading Lihat ke Dalam

Monday, January 3, 2022

Jurnal X (Bagian 2)

Setelah liburan yang cukup panjang, ada jurnal yang harus dikumpulkan.

Jurnal X bagian kedua ini memuat tentang:

1. Parade project passion

2. Semarak Konferensi Ibu Pembaharu di kota

3. Cerita singkat tentang Konferensi Ibu Pembaharu.



1. Parade Project Passion

Parade ini dilakukan sebelum penyelenggaraan Konferensi Ibu Pembaharu. Untuk Co-house ArtaCraft, menampilkan video tentang filosofi desain, proses pembuatan desain, cetak kain, serta proses produksi OOTD.

Beberapa produk yang sudah jadi, membuat kami, para Hexagonia CH ArtaCraft, tidak sabar untuk memilikinya. Bahkan, saat kain baru selesai cetak, kami sudah sangat bersemangat untuk mengadopsi. 

Kami juga akan membuka kelas desain sebagai awalan untuk open order yang pertama.

Bismillah ... semoga diberi kelancaran untuk semuanya.


2. Semarak Konferensi Ibu Pembaharu (KIP) di kota

Beberapa hari menjelang pelaksanaan KIP, kebahagiaan sudah mulai terasa. Ada beasiswa berupa tiket gratis bagi teman-teman yang sudah berhasil terpilih. Untuk aku sendiri, tentu saja tidak mendapatkan. Hehe ...

Nama-nama narasumber sudah dirilis sejak jauh-jauh hari. Membuat para peserta tidak sabar untuk mengikuti perhelatan besar Ibu Profesional.


3. Cerita singkat tentang Konferensi Ibu Pembaharu

Aku sudah mendaftar sejak bulan Oktober 2021. Sempat kesulitan juga di awal karena antusiasme member IP untuk mengikuti KIP ini sangat besar. Atas bantuan teman-teman, akhirnya aku berhasil mendaftar dan mendapatkan e-tiket peserta KIP.

Konferensi Ibu Pembaharu dibuka pada tanggal 18 Desember 2021. Akan tetapi, sehari sebelumnya, sudah ada narasumber yang tampil. Acara awal itu aku ikuti melalui siaran youtube karena tidak berhasil masuk hall. Padahal beberapa jam sebelumnya, aku sudah berjalan-jalan mengunjungi beranda.

Alhamdulillah, untuk acara-acara selanjutnya, aku lebih mudah memasuki pintu-pintu yang ada.

Konferensi Ibu Pembaharu digelar tanggal 17 - 22 Desember 2021 dengan 14 narasumber yang sangat menarik. Sebagai narasumber penutup, Bu Septi Wulandani, founding mother Ibu Profesional, membawakan tema Saya Ibu Rumah Tangga dan Saya Bangga. Beliau benar-benar membuat KIP 2021 sangat membekas di hati.

Konferensi Ibu Pembaharu juga ditutup dengan Deklarasi Konferensi Ibu Pembaharu oleh Ibu Septi Wulandani.

Tidak semua acara KIP, aku ikuti sesuai jadwal. Bersyukur karena kami bisa mengikuti siaran tunda.

Acara KIP tahun ini memang yang kuikuti pertama kalinya. Karena dilaksanakan secara daring, maka semakin memudahkan kami untuk mengikuti, kapan pun dan di mana pun.

Dari Rumah Untuk Dunia, KIP menyajikan 22 sesi acara, dengan mengangkat enam tema utama, yaitu:

1. Saya Ibu Rumah Tangga dan Saya Bangga

2. Perempuan di Era Digital

3. Disabilitas Unggul

4. Ibu dan Anak Bahagia 

5. Aku Berdaya dan Aku Berkarya

6. Lingkungan dan Kehidupan yang Berkelanjutan.


Acara KIP tahun ini memang sangat meriah karena bertepatan dengan usia Ibu Profesional yang menginjak 1 dekade. Masya Allah, semoga semakin bermanfaat bagi para perempuan dan keluarga.



Merah Itu Aku

Jogja, 3 Januari 2022


Referensi: konferensiibupembaharu.id

Continue reading Jurnal X (Bagian 2)