Thursday, May 7, 2020

Aku -- Perempuan, Istri, dan Ibu

Perempuan kerap kali menjalani 3 peran sekaligus. Yaitu sebagai diri sendiri, istri, dan juga ibu. Ketiganya memiliki tantangan tersendiri. Mari kita lihat bagaimana kita berinteraksi dengan teman-teman dalam komunitas: kita sebagai diri sendiri, sebagai istri di lingkungan kantor atau keluarga besar suami, dan sebagai orang tua murid. 

Sebagai diri sendiri, menurutku akan lebih mudah dijalani. Karena kita berperan, berpikir, dan bertindak apa adanya kita, sebagai diri sendiri. Bukan social make up - yang terpampang dalam potret bahagia social media 😁. Kita cukup menerima kelebihan dan kekurangan diri sendiri. Tidak perlu menetapkan standar yang terlalu tinggi terhadap diri sendiri, yang pada akhirnya justru membuat kita tertekan dan tidak bahagia. 

Kemudian bagi perempuan yang telah menjadi istri, tantangan yang dihadapi akan sedikit berbeda. Sebaiknya, kita tetap menjadi diri sendiri, menghargai dan mencintai diri sendiri. Namun, kadang menjadi diri sendiri ketika berperan sebagai istri, membuat kita khawatir. 
Apakah hal yang kita lakukan akan mempermalukan suami di lingkungan kantor? Atau akan mempengaruhi karir sang suami di kantor? 
Atau jika dalam keluarga besar suami, apakah akan membuat suami dianggap salah memilih istri? 
Haha...kekhawatiran yang kadang tidak penting, tetapi nyata adanya. Kalau suami, pasti lah sudah mengenal dan menerima istrinya apa adanya. Tapi orang di sekitar suami? Kan belum tentu πŸ˜….

Sebagai ibu, kita dituntut untuk berperangai pantas dan tidak pecicilan. Pasti akan ada batasan-batasan untuk berperilaku. Masa iya kita berkata ceplas-ceplos seperti saat bersama teman sekolah, di grup wali murid. Selain tidak pantas, itu bisa mempermalukan anak-anak kita πŸ˜†.

Sebenarnya, ada satu lagi peran perempuan yaitu sebagai anak. Tapi semenjak menikah, biasanya seorang perempuan akan lebih dikaitkan dengan suami dan anak-anaknya. Apalagi jika kehidupan perempuan itu sudah jauh dari lingkungan tempat tinggal orang tuanya.

Peran apapun yang kita jalani, semestinya tetap membuat kita nyaman. Batasan-batasan yang ada, bertujuan untuk memantaskan diri kita. Tidak ada salahnya berubah ke arah yang lebih baik. Kita yang harus bisa menempatkan diri dalam berbagai peran yang kita jalani. Semangat wahai para perempuanπŸ’ƒπŸΌπŸ’ƒπŸΌπŸ’ƒπŸΌ.


Merah Itu Aku
Jogja, 7 Mei 2020

0 comments:

Post a Comment