Friday, July 17, 2020

Generasi Sadar Kamera

Beberapa hari yang lalu, aku dan Mr. Right sempat membahas pembelajaran jarak jauh anak-anak yang masih berlanjut hingga saat ini. Sudah lebih dari empat bulan mereka 'dirumahkan'. Dan kondisi akhir-akhir ini bukannya membaik, malah justru semakin menyedihkan saja 😭

Senin kemaren, anak-anak sudah masuk tahun ajaran baru. Tapi mereka ga terlalu merasakan bedanya dengan tahun ajaran lalu. Ga kayak udah naik kelas aja. Biasanya kan kalo naik kelas, ruangan kelas mereka pindah. Kali ini ruangan kelasnya masih tetap sama. Di ruang tamu πŸ˜†πŸ˜†.

Uhuhu... aku mengkhawatirkan nasib seragam anak-anak juga. Kayaknya saat kondisi sudah memungkinkan untuk kembali belajar di sekolah, baju-baju itu sudah menyusut saking lamanya ga dipakai. Ah..anak-anak cepat sekali besar. Atau pandemi ini yang berlangsung terlampau lama? 🀧
Padahal ada sepasang seragam yang baru dibagikan dan belum sempat dipakai. Seragam pramuka yang ditunggu-tunggu oleh Kakak Zidan sejak lama. Karena dia merasa bakalan ganteng dan keren kalo pake baju pramuka. Astagaaa.... 

Kegiatan seminggu ini baru MOS (Masa Orientasi Siswa) daring. Mereka diperkenalkan dan saling memperkenalkan diri dengan ustaz dan ustazah yang memegang kelas. Dengan MOS daring ini, orang tua jadi lebih kenal ustaz dan ustazahnya. Hihi... karena yang nonton video bukan cuma anaknya, tapi orang tuanya juga.

Untuk kegiatan tahfiz, anak-anak masih setoran hafalan melalui voice note atau video. Kemudian, untuk Kibar (belajar membaca Al Quran), Kakak Zidan ber-video call dengan ustazahnya.

Semua kegiatan belajar daring membutuhkan support jaringan internet yang lancar. Selain itu, menuntut anak-anak untuk berani tampil, paling tidak di depan kamera. 
Kakak Zidan yang awalnya alergi banget untuk divideo, gara-gara setoran hafalan pake video malah jadi ketagihan πŸ˜‚πŸ˜‚.

Sebelumnya, anak-anak 'dipaksa' untuk sadar kamera untuk mengisi konten media sosial orang tuanya. Namun saat ini, pembelajaran jarak jauh 'memaksa' anak-anak menjadi sadar kamera karena memang tuntutan pembelajaran di sekolah.

Semoga selain menjadi sadar kamera, anak-anak menjadi lebih percaya diri. Asal tidak menjadi generasi narsis saja πŸ˜‚.



Merah Itu Aku
Jogja, 17 Juli 2020
Continue reading Generasi Sadar Kamera

Tuesday, July 7, 2020

Mudik

Setelah setengah tahun ga mudik ke Cilacap, -alhamdulillah- akhirnya kami mudik juga. Yieeeyyyy!!!! πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰

Rencananya awal, kami mudik dua minggu lalu. Tapi karena Mr. Right ada acara mendadak, mudik pun diundur Sabtu kemaren. 

Kenapa kami memutuskan untuk berani mudik?

1. Perbatasan antar daerah sudah terbuka untuk keluar masuk. 
Artinya, bepergian sudah dianggap aman. Atau,  masyarakat sudah dianggap mengetahui protokol kesehatan. Atau, masyarakat sudah dianggap mengetahui resiko bepergian di saat seperti ini. 
Memang tetap lah keputusan itu ada di tangan kami ya... mau pergi, atau tetap berada di rumah.

2. Beberapa minggu yang lalu, Eyang Putri dan Eyang Kakung sudah melakukan perjalanan Cilacap - Semarang - Jogja - Cilacap, yang alhamdulillah lancar, sehat, selamat.
Sebenarnya, sebagai orang yang termasuk beresiko karena usia sudah di atas 60 tahun, beliau-beliau sebaiknya di rumah saja. Daripada nanti beliau-beliau yang bepergian lagi, lebih baik kami tetap mudik.
Terlepas dari kemungkinan kami yang lebih muda membawa virus, akan lebih beresiko ketika para orang tua yang melakukan perjalanan.

3. Insya Allah kemungkinan kami membawa virus cukup kecil karena selama di Jogja pun kami di rumah saja. Dan jika ke luar rumah, mengikuti protokol kesehatan. Yang beresiko membawa memang Mr. Right yang sejak awal tidak pernah mengenal WFH.
Sempat mau rapid test dulu sebelum mudik. Tapi kami ga melakukannya. Kenapa? Ga ada alasan khusus sih... engga aja 😁


Kami berangkat setelah salat duhur dan makan siang. Sempet kesel karena menunggu Mr. Right yang belum juga pulang dari sepedaan. Saking lamanya, aku udah berniat mau nguras lautan dulu 😌😌. Menjelang duhur, beliau baru pulang cobak. 

Persiapan kami lakukan sebelum berangkat supaya ga perlu mampir ke mana-mana sepanjang perjalanan. Bawa air minum, maianan anak, masker cadangan, handsanitazer, tissue kering, dan tissue basah. Anak-anak disuruh ke toilet dulu sebelum berangkat biar ga mampir-mampir toilet juga.

Yang biasanya kami mampir ke minimarket buat beli jajanan, pada perjalanan kali ini, kami tidak berniat melakukannya. Pun tidak mampir di mie nyemek langganan, padahal aku sangat merindukannya 🀧🀧. Tak apalah...mie nyemek buatan Eyang Kakung tidak kalah enak kok 🀀🀀.

Alhamdulillah perjalanan lancar. Ohiya, kami terpaksa berhenti sekali di pom bensin karena mau ke toilet. Meskipun sudah diantisipasi, tetap saja ya ada hal-hal di luar kuasa kita. Setelah dari toilet, langsung bersihkan tangan pakai handsanitizer. Semoga kami terlindungi.

Sepanjang perjalanan, kendaraan sudah mulai ramai berlalu lalang. Tidak semua orang yang keluar rumah memakai masker. Aku sampai bertanya-tanya, apakah wabah corona tidak sampai ke daerah yang aku lalui tersebut. Sedih, heran, dan takjub menjadi satu.
Bahkan ada anak-anak yang sudah mulai latihan sepak bola. Duh..duh...


Bulan purnama di atas rumah Eyang

Kami sampai Cilacap menjelang maghrib. Alhamdulillah... akhirnya kami mudik juga... 


Merah Itu Aku
Cilacap, 7 Juli 2020

Continue reading Mudik

Wednesday, July 1, 2020

Semester Dua di Dua Ribu Dua Puluh

Haiii...

Memasuki semester baru, bulan baru, selalu punya rencana baru. Bukan rencana yang benar-benar baru sih... malah hampir selalu jadi rencana di akhir bulan, untuk bulan berikutnya. 

D.I.E.T πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

Berasa ga maju-maju kalau udah ghibahin si diet ini. Sebenernya, niat engga sih? Katanya    niat.. tapi mau menjalankannya selalu ada banyak alasan untuk lupa 🀭.
Awal bulan makannya dikit, tapi kalau lagi kesel, makannya sebakul 🀣🀣.

Selanjutnya..

O.L.A.H.R.A.G.A

Ini sebelas duabelas sama diet 😁. Di awal bulan rajiinnn...tar makin lama kendor πŸ˜‚. Padahal kan di masa pandemi macam sekarang, olahraga itu penting banget. 

Kalau yang selanjutnya lagi, 

Rajin masak, rajin bikin menu mingguan, rajin food preparation.

Kalau awal bulan, rajin bener bikin menu. Trus kulkas rapiii.. biar rajin masak. Semangat rajin masak karena evaluasi bulan lalu yang masih seimbang antara masak dan beli jadi πŸ˜†. Sejak ngikutin Rumah Belajar Boga, aku merasa menyedihkan kalo ga masak sendiri 🀭.
Btw, hari ini aku masak soto betawi lho (akhirnya ya...setelah minggu lalu ga jadi bikin πŸ˜†).

Rajin nulis

Targetnya bulan ini mau nulis 30. Hihi... padahal bulan kemaren, nulis 20 aja hampir ga sampai. Mepet banget. Bulan Juni kemaren, tulisan yang disetor di KLIP ada batas minimal yaitu 300 kata. Jadi, aku memaksa diri untuk memenuhi target 300 kata. Perjuangan banget ih..beneran deh... Kadang sampe malem belom ada ide mau nulis apaan yang bisa panjang lebar sampe 300 kata.
Postingan di instagram udah ga bisa membantu. Paling kalo ga nangkring di sini ya pindah ke gdrive untuk tulisan yang ga layak publish πŸ˜„. Kayak yang di sini udah layak aja... ya..menurutku sih udah.. ga tau Mas Anang *krikkrik.

Rajin journaling

Ah ya..bulan ini aku bikin jadwal harian baru yang disesuaikan dengan kondisi. Maksudnya biar semua bisa mendapatkan waktu dan perhatian yang adil dan bijaksana. Karena jadwal harian yang sebelumnya, sudah tidak bisa diaplikasikan secara baik dan benar.

Bulan ini, kabarnya anak-anak mulai awal tahun ajaran baru tanggal 13. Tapi pembelajaran masih di rumah saja. Mungkin jadwal harian akan menyesuaikan. Seperti refleksi akhir bulan kemaren, aku akan berusaha untuk menghabiskan banyak waktu untuk anak-anak.

Ah, banyak sekali keinginannya ya...

Tapi seperti biasa, nulis segala rencana di Bujo. Dipecah jadi rencana dan disertai target. Semangat di awal bulan, semakin mengendor seiring berjalannya waktu πŸ˜‚. Semoga bulan ini ada peningkatan ke arah yang lebih baik.

Yang pasti, aku selalu berusaha untuk tetap rajin dan konsisten. Karena konsisten itu berat, Jendral 😌😌.


Merah Itu Aku
Jogja, 1 Juli 2020
Continue reading Semester Dua di Dua Ribu Dua Puluh

Friday, June 26, 2020

Mendoan

Mendoan merupakan makanan khas daerah Banyumas dan sekitarnya. Iya, dan sekitarnya karena ternyata di Cilacap, mendoan juga merupakan makanan khas. Meskipun saat ini mendoan bisa diperoleh di hampir banyak kota, namun rasa mendoan di Cilacap begitu ngengeni 😁.

Sebagai orang yang sama-sama lahir dan besar di Cilacap, aku dan Mr. Right merupakan penikmat mendoan. Tapi kami berbeda style dalam memakan mendoan. Mr. Right merupakan tim sambal kecap, sedangkan aku tim cabe cigit. Eh, aku malah baru tau kalo mendoan bisa dimakan bareng sambal kecap setelah menikah dengan Mr. Right lho. Selama ini, aku taunya makan mendoan ya pake cabe aja.
FYI, cabe cigit dikenal sebagai cabe lalap (kata Pak Sayur langganan).

Mencari tempe untuk bikin mendoan di Jogja susah banget. Sekalinya nemu dan beli di warung deket sekolah anak-anak, ternyata berbeda dengan yang ada di Cilacap. Ciri tempe untuk membuat mendoan adalah tipiiiiiss dan lebar. Kalo di Cilacap, biasanya 1 bungkus bisa berisi 2 sampai 4 lembar tempe. Di antara tempe, diberi daun pisang. Malah pernah aku jumpai ada yang isinya sampai 6 tempe. Banyak banget ya...

Akhirnya, aku sering dibawain tempe untuk mendoan dari Cilacap. Kalau orang tua atau mertua dateng, biasanya bawain tempe untuk bikin mendoan. 

Mendoan artinya setengah matang. Jadi, kalo goreng mendoan, yang bener itu belom mateng sempurna. Tapi karena Mr. Right sukanya yang kriuk-kriuk, aku kalo bikin mendoan sampe mateng banget 🀣🀣. 

Mendoan buatanku ga seenak yang dijual di warung-warung mendoan di Cilacap. Tapi tetep favorit Mr. Right πŸ˜‚ (kalo ga favorit, besok-besok ga mau masak mendoan lagi 🀧😌). Kalo ga dapet tempe import dari Cilacap, aku pake tempe yang bungkusan panjang, trus dipotong tipis-tipis.


Mendoan dan sambal kecap.

Resep mendoan:
Bahan:
- Tempe (aku pake tempe panjang dan diiris tipis)
- Daun bawang iris tipis
- Tepung terigu
- Tepung beras
- Air
- Minyak goreng

Bumbu halus:
- Bawang putih
- Kemiri
- Ketumbar
- Kunyit 
- Garam

Bahan sambal kecap:
- Cabai iris tipis
- Tomat iris dadu
- Bawang goreng
- Kecap manis

(Takaran sesuai perasaan 😁)

Cara pembuatan:
1. Campur bumbu halus, daun bawang, tepung terigu, dan tepung beras. Tambahkan air hingga kekentalan yang diinginkan.
2. Panaskan minyak goreng.
3. Masukkan tempe pada adonan tepung.
4. Kecilkan api kompor, masak tempe dalam minyak panas. Masak hingga kematangan yang diinginkan.
5. Buat sambal kecap dengan mencampurkan semua bahan.
6. Sajikan mendoan hangat dengan sambal kecap.

Selamat mencoba 😘


Merah Itu Aku
Jogja, 26 Juni 2020

Continue reading Mendoan

Wednesday, June 24, 2020

Grup Keluarga

Sejatinya, pembentukan sebuah grup keluarga, entah menggunakan platform apapun, bertujuan untuk menyambung tali silaturahmi. Karena biasanya member grup keluarga tidak lebih dari 200-an orang, kebanyakan menggunakan whatsapp group (WAG). Pemilihan WAG juga karena hampir semua orang merupakan pengguna whatsapp. 

Coba kalian lihat, ada berapa WAG keluarga yang kalian ikuti? Kalau aku, ada lima. Haha... mungkin ada yang lebih banyak lagi ya... etapi ternyata ada juga lho grup keluarga yang ga aku ikuti. Mungkin karena aku merupakan cucu kesekian. Tak jadi soal 😁. Karena masuk di grup keluarga, kita harus siap dengan segala keriuhan di dalamnya.

Grup paling sedikit membernya adalah keluarga dari bapak ibu. Isinya cuma aku dan kakak adek, bersama suami atau istri. Mungkin akan bertambah ketika anak-anak dan keponakan bertambah besar. 
Grup keluarga inti Mr. Right malah lebih mini. Isinya cuma bersama para ipar, tanpa ada mamah dan bapak mertua 😁.
Jumlah member meningkat pada grup Bani Syatibi (anak keturunan mbah, orang tua ibu). Kemudian semakin banyak di grup mba buyut.
Percaya atau tidak, ada grup mbah sendiri dan mbah buyut sendiri. Member grup mbah, masuk juga di grup mbah buyut πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†. Duhduh... yang makin bikin heran, kedua grup itu aktif 😁.

Grup keluarga memang tempat untuk mempererat tali silaturahmi. Namun, terkadang ada saja masalah yang menyertai. Tips untuk bertahan di grup keluarga super besar hanya SATU: NO BAPER.

Beberapa keadaan yang lazim terjadi di grup keluarga:

1. Bertemu banyak orang dengan sifat yang beragam.
Haha... semakin banyak member grup, maka akan semakin beragam sifat dan tingkah lakunya. Ada yang jarinya lemes banget, pedes, ga ada perasaan, lebay, suka curhat, dkk, dll, dsb 🀣🀣.
Sementara itu, kalo tiba-tiba keluar dari grup, bisa-bisa dibilang durhaka πŸ˜‚πŸ˜‚. Paling aman memang ga baper, kadang muncul, kadang diem di pojokan.

Tapi kalo jumlah member keluarga ga terlalu besar, biasanya ga terlalu banyak masalah. Karena biasanya, kita sudah lebih mengenal satu sama lain.

2. Banyak hoax yang bertebaran
Ini kebanyakan disebar sama kesepuhan. Gamang banget mau komennya. Mau dikasih tau khawatir tersinggung, dibiarin kok menyesatkan.

Kalo aku, biasanya japri ke orang terdekat. Tapi kalo udah deket banget, langsung japri ke beliau nya. Seringnya sih biarin aja sampe ada saudara lain yang ngasih tau. Atau pura-pura ga baca biar aman πŸ˜‚πŸ˜‚. *jangan ditiru

3. Mendapat info terupdate tentang pernikahan, kelahiran, orang sakit, maupun kematian saudara.
Nah, ini privilege dari member grup keluarga. Selalu mendapat berita terkini. Dan tujuan mempererat tali silaturahmi pun tercapai.

Selamat mempererat tali silaturahmi di grup keluarga yaaaa... πŸ€—πŸ€—πŸ€—

Kalo kamu, berapa jumlah grup keluarga yang ada di henpon?


Merah Itu Aku
Jogja, 24 Juni 2020


Continue reading Grup Keluarga

Tuesday, June 23, 2020

5 Tips Mendongkrak Mood Saat di Rumah Saja

Aku sudah tidak lagi menghitung berapa lama kami di rumah saja. Memang sih beberapa kali tetap keluar rumah agak jauh kalo kepaksa. Perasaan di rumah aja sebenernya tidak terlalu menggangguku. Aku kan emang orangnya rumahan bangetπŸ˜†. Tapi anak-anak yang biasa ke sekolah, biasa main sama temen, biasa ke mana-mana dengan bebas, mulai bertingkah. Itulah yang bikin suasana hati emak di rumah aja jadi merosot drastis 🀧.

Beberapa kegiatan di rumah aja yang aku lakukan sebagai moodbooster :

1. Renovasi dapur
Ecieee...gaya bener bahasanya renovasi. Padahal cuma merubah suasana dapur biar rajin masak. Hihi... selama anak-anak SFH, kuantitas memasak mengalami peningkatan. Ga nyampe lima kali sehari sih macam emak-emak rajin di luar sana. Tapi lebih sering ngedapur dibanding sebelum anak-anak SFH. 

Bukan renovasi beneran ya... Aku cuma pasang wallpaper, ganti model keset, pasang tirai kolong (yang udah lama jadi wacana πŸ˜‚), dan geser-geser pernak pernik perdapuran. Oh iya, kecentilanku di dapur juga termasuk pasang stiker kulkas biar kece kayak punya selebgram-selegram ituh 😌.



Abaikan model yang nangkring sambil cuci tanganπŸ˜‚
Make over kulkas atas nama kewarasan πŸ˜†

2. Membuat macrame wall hanging
Kegiatan selanjutnya adalah mainan tali temali. Saking gabutnya, aku bikin macrame wall hanging yang besar. Memang belom melampaui tingkat kesulitan, keribetan, dan kepegelan membuat tirai macrame. Tapi ini menjadi hasil karya macrame yang kedua, yang berhasil nangkring di ruang pamer rumah a.k.a ruang tamu.


Uwuuuu

3. Beberes mainan anak-anak
Sebagai orang yang pernah agak perfeksionis, aku sering membuat standar yang terlalu tinggi untuk kerapian mainan. Sudah terbukti gagal pada penyimpanan lego. Aku menyerah kalah tidak bisa mempertahankan penyimpanan dengan pemisahan lego berdasarkan warna dan bentuk. Pada akhirnya, aku masukkan semua lego ke dalam sebuah kotak tanpa dipisahkan berdasarkan apapun.
Ternyata kegagalan pada penyimpanan lego, diikuti dengan penyimpanan mainan jenis lain. Atas dasar standar yang tinggi, aku pisahkan mainan berdasarkan jenis permainannya. Aku susun rapi dan memberikan penjelasan kepada anak-anak tentang tata cara penyimpanan mainan. Sama seperti prinsip penyimpanan lego yang terdahulu, tujuannya untuk mempermudah mereka dalam mencari mainan. Tapi sama juga seperti nasip lego, akhirnya aku masukkan ke dalam satu kotak besar untuk mainan.

Kegagalannya sama. Anak-anak ga mengembalikkan mainan ke dalam kotak yang tepat. Buat mereka, kalo membereskan mainan, yang penting semua mainan masuk kotak. Tak peduli mainan mana yang masuk kotak mana. Akhirnya saat mencari mainan, mereka kesulitan. Dan aku, sebagai emak yang pernah agak perfeksionis ini, sungguh amat selalu gatel pengen balikin mainan ke dalam kotak yang tepat. Kesel kan... 😌.

Kebayang gimana berantakannya rumah tiap hari karena mereka bongkar semua kotak mainan. Apalagi di rumah terus yekan... mereka mau ngapain lagi kalo ga bongkarin semuanya.

Dan tau ga, setelah aku jadikan satu dalam sebuah kotak besar, mereka jarang bongkar mainan lagi karena repot cari-carinya 🀣🀣🀣. Yaiyalaaahhh...
Biarlah aku jadikan satu aja. Biar kalo mereka bongkar lagi, mereka beresinnya gampang. Tinggal cemplung-cemplung. Dan aku ga perlu sakit kepala ketika melihat ada mainan yang salah masuk kotak πŸ˜‚.

4. Sortir baju anak-anak
Baru menyadari kalo anak-anak udah makin tinggi. Baju-bajunya sudah menuju kekecilan. Mr. Right udah bawel aja komentar baju dan celana para kakak yang makin kecil. Akhirnya kami singkirkan baju-baju kekecilan itu. Dan lemari kakak-kakak jadi kosong 🀣🀣.

Puas ya... mengurangi intensitas mengomel karena baju relatif lebih rapi dan anak-anak gampang menemukan baju yang dimaksud.

5. Beberes meja kerja
Nah..ini penting banget buat moodbooster. SFH memang membuat perhatianku pada crafting table sedikit teralihkan. Jadi, sudah banyak benda asing yang hinggap di atas meja kerjaku. Udah mulai bikin kesel karena kalo mau pake mesin jahit kurang nyaman dengan barang berceceran. Setelah rapih, aku siap mojok di crafting table 😌.
Istilah Crafting table didapet dari anak-anak yang lagi hobi nonton minecraft. Nonton ya..bukan ngegames 🀣🀣.


Huehuehehe.. ternyata moodbooster ku ga jauh-jauh dari beberes dan craftingπŸ˜„πŸ˜„.



Merah Itu Aku
Jogja, 23 Juni 2020
Continue reading 5 Tips Mendongkrak Mood Saat di Rumah Saja

Sunday, June 21, 2020

Mencoba Kefemesan Bersepeda Saat Pandemi

Sabtu dan Minggu pagi, biasanya jadwal Kakak Zidan gowes bareng Mr. Right dan Dek Lou. Dek Lou dibonceng Mr. Right, sedangkan Kakak Zidan naik sepeda sendiri. 
Sementara mereka gowes, aku dan Kakak Athar jalan mix jogging dengan jalur berbeda (yaiyalah).


Bersepeda dengan mengikuti protokol kesehatan (pake masker)

Pagi tadi, Kakak Zidan males-malesan aja gitu waktu disuruh siap-siap gowes. Aku yang udah mau berangkat jogging jadi keidean buat gowes bareng Mr. Right dan Dek Lou, memakai sepeda Kakak Zidan. Dengan rela dan ikhlas, Kakak Zidan memperbolehkanku memakai sepedanya. 
"Gapapa... sekali-kali Bunda pake sepedaku. Kasian," begitu katanya saat melepaskan sepedanya πŸ˜….

Maka pagi tadi, berbekal sepeda dan helm pinjaman, aku merasakan menjadi salah satu goweser yang menggelinding di atas jalanan Jogja. Untuk pertama kalinya sejak 24 tahun yang lalu, aku naik sepeda untuk jarak yang lumayan jauh. Menurut alat ukur jarak tempuh Mr. Right, jalur yang tadi kami lalui mencapai 7 km.

Separuh jalur gowes kami berupa tanjakan, dan separuh sisanya adalah turunan. Jadi inget paribahasa 


Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian

Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian

Setelah nyaris tidak bisa merasakan kakiku karena ternyata bersepeda di tanjakan begitu melelahkan, akhirnya jalur yang kami tempuh menurun juga. Yang tanpa perlu susah payah menggowes pun, sepeda sudah meluncur dengan cepat πŸ˜….

Kata Mr. Right, jalur yang kami tempuh adalah jalur yang biasa dilalui bersama Kakak Zidan tiap weekend. Wow...si kakak hebat sekali ternyata 😁.

Sepanjang perjalanan, kami bertemu dengan goweser lain. Dan mereka lebih kenceng jalannya. Ini cuma masalah jam terbang kok πŸ˜…. Aku udah ngos-ngosan banget di tanjakan yang cuma dicengirin aja sama Mr. Right.
"Baru juga segini, Bun," ngeselin ya kalimat pembakar semangatnya.

Tapi tentu aja aku ga bakalan minta balik di tengah-tengah perjalanan. Gengsi 🀣🀣🀣. Dan aku mengakui kalo gowes emang olahraga beneran deh. Haha... pantesan aja tiap pulang gowes, Mr. Right bisa mandi keringet. 

Ada beberapa catatan yang perlu aku perhatikan kalo mau ikutan gowes lagi. 

1. Pake celana yang bawahnya ada karetnya.
Tadi pagi, aku pake celana olahraga dengan model lurus. Beberapa kali ujung celana nyangkut di gear rantai. 

2. Pinjem celana berpadding punya Mr. Right.
Celana berpadding adalah celana gowes yang memiliki empuk-empuk di bagian pantat. Karena memang ya..sepedaan ini bikin pantat sakit. Meskipun ga sesakit yang aku bayangkan sebelumnya sih...
Iya..pinjem ajalah.. belom perlu beli. Lagian Mr. Right punya banyak. Gpp kalo aku culik satu biji seminggu sekali🀣.

3. Latihan ganti gigi.
Sepedaku 24 tahun yang lalu adalah sepeda mini merek phonix, berwarna hitam, memiliki boncengan di belakang, dan sebuah keranjang di bagian depan. Jadi, aku benar-benar tidak familier dengan sepeda dengan pilihan gigi. Padahal itu sangat membantu dalam melewati medan pergowesan. Seperti saat menanjak, sebaiknya pake setelan gigi yang enteng biar ga perlu mengerahkan energi berlebih buat gowes. Meskipun seenteng-entengnya gowes ditanjakan tetep berpeluh-peluh jugaπŸ₯΅πŸ₯΅.
Karena aku belum terbiasa, maka aku selalu khawatir ganti gigi. Takut jatoh 🀣🀣🀣. Haha... aku feel so old.

Sementara bikin tiga catatan ini dulu. Mungkin kalo kepikiran yang lain, bakalan aku tambahkan di lain waktu 😁.

Apakah setelah merasakan gowes aku langsung jatuh hati padanya? Tentu tidak, Matilda... aku masih akan kembali jogging besok. Mungkin akan gowes lagi seminggu sekali. Atau entahlah... hihi... 

Buat temen-temen yang hobi gowes, semangat berolahraga ya... tetap patuhi protokol kesehatan. Jangan bergerombol. Salam sehat 🚴‍♀️🚴‍♀️🚴‍♀️.


Merah Itu Aku
Jogja, 21 Juni 2020

Continue reading Mencoba Kefemesan Bersepeda Saat Pandemi