Wednesday, June 24, 2020

Grup Keluarga

Sejatinya, pembentukan sebuah grup keluarga, entah menggunakan platform apapun, bertujuan untuk menyambung tali silaturahmi. Karena biasanya member grup keluarga tidak lebih dari 200-an orang, kebanyakan menggunakan whatsapp group (WAG). Pemilihan WAG juga karena hampir semua orang merupakan pengguna whatsapp. 

Coba kalian lihat, ada berapa WAG keluarga yang kalian ikuti? Kalau aku, ada lima. Haha... mungkin ada yang lebih banyak lagi ya... etapi ternyata ada juga lho grup keluarga yang ga aku ikuti. Mungkin karena aku merupakan cucu kesekian. Tak jadi soal 😁. Karena masuk di grup keluarga, kita harus siap dengan segala keriuhan di dalamnya.

Grup paling sedikit membernya adalah keluarga dari bapak ibu. Isinya cuma aku dan kakak adek, bersama suami atau istri. Mungkin akan bertambah ketika anak-anak dan keponakan bertambah besar. 
Grup keluarga inti Mr. Right malah lebih mini. Isinya cuma bersama para ipar, tanpa ada mamah dan bapak mertua 😁.
Jumlah member meningkat pada grup Bani Syatibi (anak keturunan mbah, orang tua ibu). Kemudian semakin banyak di grup mba buyut.
Percaya atau tidak, ada grup mbah sendiri dan mbah buyut sendiri. Member grup mbah, masuk juga di grup mbah buyut 😆😆😆. Duhduh... yang makin bikin heran, kedua grup itu aktif 😁.

Grup keluarga memang tempat untuk mempererat tali silaturahmi. Namun, terkadang ada saja masalah yang menyertai. Tips untuk bertahan di grup keluarga super besar hanya SATU: NO BAPER.

Beberapa keadaan yang lazim terjadi di grup keluarga:

1. Bertemu banyak orang dengan sifat yang beragam.
Haha... semakin banyak member grup, maka akan semakin beragam sifat dan tingkah lakunya. Ada yang jarinya lemes banget, pedes, ga ada perasaan, lebay, suka curhat, dkk, dll, dsb 🤣🤣.
Sementara itu, kalo tiba-tiba keluar dari grup, bisa-bisa dibilang durhaka 😂😂. Paling aman memang ga baper, kadang muncul, kadang diem di pojokan.

Tapi kalo jumlah member keluarga ga terlalu besar, biasanya ga terlalu banyak masalah. Karena biasanya, kita sudah lebih mengenal satu sama lain.

2. Banyak hoax yang bertebaran
Ini kebanyakan disebar sama kesepuhan. Gamang banget mau komennya. Mau dikasih tau khawatir tersinggung, dibiarin kok menyesatkan.

Kalo aku, biasanya japri ke orang terdekat. Tapi kalo udah deket banget, langsung japri ke beliau nya. Seringnya sih biarin aja sampe ada saudara lain yang ngasih tau. Atau pura-pura ga baca biar aman 😂😂. *jangan ditiru

3. Mendapat info terupdate tentang pernikahan, kelahiran, orang sakit, maupun kematian saudara.
Nah, ini privilege dari member grup keluarga. Selalu mendapat berita terkini. Dan tujuan mempererat tali silaturahmi pun tercapai.

Selamat mempererat tali silaturahmi di grup keluarga yaaaa... 🤗🤗🤗

Kalo kamu, berapa jumlah grup keluarga yang ada di henpon?


Merah Itu Aku
Jogja, 24 Juni 2020


0 comments:

Post a Comment